
Markas Wild Eagle tengah sedikit sibuk. Geoff yang mendengar Silvya berpamitan kepada kedua orang tuanya akan pergi perjalanan bisnis sungguh dilanda kekhawatiran.
Belum habis rasa sesalnya melihat sang kakak pingsan dan dirawat di rumah sakit. Kini pikiran Geoff dipenuhi dengan rasa kekhawatiran terhadap keponakannya yang pergi mencari Black Wolf.
" Dimana Silvya Drake?"
" Sabar Ge… aku sedang mencarinya. Kalau dari pelacak yang aku berikan di ponselnya, ini terlihat masih terus berkendara ke arah barat."
" Apakah ke pulau sebrang Drake?"
" Sepertinya ia Ge."
Geoff membuang nafasnya kasar. Silvya benar benar pergi menuju arah markas Black Wolf.
" Mengapa dia tidak memilih memakai pesawat ya Ge?"
" Entahlah Drake, aku sama sekali tidak tau jalan pikirannya."
Geoff kembali terdiam dan mencoba menghubungi orang orangnya di kota P pulau S.
" Hallo… aku ingin kalian menjaga keselamatan Queen. Tapi jangan sampai dia tahu. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi yang aku inginkan kalian harus menjaga Queen tanpa disadari olehnya."
Drake menatap ke arah Geoff.
" Siapa yang kau hubungi Ge?"
" Orang kita yang berada di sana. Aku minta mereka menjaga keamanan Q."
Drake mengangguk dan memfokuskan kembali matanya ke arah sinyal pelacak yang terus bergerak tersebut.
Di sisi lain, Silvya tengah bersiap masuk ke kapal untuk menyebrang. Dia amat santai dengan perjalanan kali ini.
Tring…
Sebuah pesan berturut turut masuk ke ponsel dan tablet yang ia bawa.
Sudah dimana sayang, jangan lupa istirahat. Ingat kabari aku kalau ada apa apa. Love you istriku (Dika)
Silvya tersenyum membaca pesan dari sang suami. Ia pun mengetik sebuah balasan.
Sampai di pelabuhan mas, lagi nunggu giliran masuk ke kapal. Iya aku akan terus ngabari mas. Love you too suamiku (Silvya)
Sedangkan pesan yang satu nya lagi berasal dari Mr. Sun
Q, aku telah mendapatkan rekaman tersebut. Aku juga telah menyatukannya menjadi satu video. ( Mr. Sun)
Thank you Mr. Sun. Aku sungguh berterima kasih. ( Silvya)
Silvya langsung membuka video kiriman dari Mr. Sun. Di sana tampak jelas seorang pria yang menembak Zion itu jatuh tersungkur ke lantai. Ia tampak gemetar, namun oleh seorang pria paruh baya dia langsung di papah.
"Apakah ini Arduino. Ya Allaah… mengapa bisa. Aku harus segera menemuinya harus."
Silvya bergumam pelan sambil terus memutar video tersebut.
Silvya pun juga melihat Albern yang sedang berjalan tidak jelas. Namun ada yang aneh dengan Albern. Gerak geriknya sangat mencurigakan.
__ADS_1
" Apa yang dilakukan oleh si tua itu. Mengapa dia bergerak sembarangan namun tampak seperti terarah. Ada apa sebenarnya ini. Aku harus menemui si tua itu. Siapa tahu ada petunjuk."
Silvya kembali berpikir, mau tidak mau dia harus menghubungi Drake untuk mencari keberadaan Albern.
" Hallo Drake."
" Syukurlah Q, akhirnya kau menghubungi ku juga. Kau dimana kau?"
Drake berpura pura menanyakan keberadaan Silvya. Padahal dia sudah tahu Silvya saat ini tengah berada di pelabuhan. Tepatnya di sebuah kapal ferry yang sedang menyebrang.
" Aku tidak kemana mana. Oh iya Drake, coba kau cari tahu dimana Albern berada saat ini. Setelah itu berikan informasinya kepadaku."
" Baik Q. Ta…"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, panggilan teleponnya sudah dimatikan terlebih dahulu oleh Silvya.
" Huft… dasar anak ini."
" Sudahlah, yang penting dia masih mau menghubungi kita. Memangnya dimana Albern sekarang?"
" Sebentar Ge, aku akan mencari pria tua si pembuat onar itu."
Geoff kembali menatap layar monitornya dan tangannya mulai menekan tuts tuts keyboard untuk mencari keberadaan Albern. Memang saat ini Tiger Fangs sudah kehilangan cakarnya. Organisasi dibawah naungan Albern itu hanya seperti cangkang kosong karena sang putra Darrius tak ingin terlibat di organisasi bawah. Darrius lebih memilih memilih membesarkan perusahaannya.
" Dapat!!"
***
Triiiing…
" Baiklah, saatnya bersilaturahmi dengan orang tua itu dulu."
Silvya tersenyum di mobil Rubicon biru miliknya. Bak sekali dayung dua pulau terlampaui, perjalanannya kali ini tampaknya mendapat kemudahan. Pasalnya Albern tengah berada di kota P juga. Kegemarannya bersenang senang membuat pria tua itu masih suka menjelajah rumah rumah bordil yang ada di penjuru kota.
" Dasar pria tua sampah, beruntung Darrius tidak mengikuti jejak ayahnya yang busuk itu."
Silvya kembali menatap layar tablet nya. Menyaksikan potongan demi potongan kejadian memilukan beberapa tahun silam.
" Tunggulah Zion. Kak Sisi akan mengungkap semuanya meskipun nyawa yang jadi taruhannya. Aku yakin misteri di balik ini semua pasti akan terungkap. Meskipun ini bukanlah kejadian yang disengaja tapi aku tetap akan mengusutnya hingga tuntas."
🍀🍀🍀
Di sebuah kastil di tepi laut seorang pemuda tengah menghisap sebatang rokok sambil melihat ke arah laut lepas. Beberapa kali ia mengambil nafasnya yang terasa begitu berat.
" Huft……"
Pemuda itu berdiri di balkon kamarnya dangan bertelanjang dada. Padabal waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Angin laut yang berhembus lumayan kencang namun tidak sedikitpun membuat kulit tubuhnya meremang karena hawa dingin tersebut.
Seorang wanita cantik nan seksi datang mendekat dengan perlahan ia memeluk pemuda itu dari belakang sambil menempelkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.
Wanita tersebut menciumi punggung sang pemuda sambil menggesek gesekkan benda kenyal miliknya ke punggung sang pemuda. Namun sang pemuda tersebut tampaknya sedang enggan bermain. Ia bahkan tidak bereaksi apapun dengan tingkah si wanita.
" Arduino apa yang kau pikirkan hmm… bahkan kau tidak bereaksi dengan sentuhan tubuhku?"
Wanita itu mulai meraba tubuh Arduino hingga ia menemukan benda favoritnya. Wanita itu mulai menyusupkan tangannya ke sana. Namun dengan sigap Arduino mencengkram pergelangan tangan wanita tersebut dengan erat lalu kemudian berbalik dan menatap nyalang ke arah si wanita.
__ADS_1
" Jangan bertindak diluar batasanmu Celia. Aku membiarkanmu naik ke ranjangku bukan berarti kau bisa berlaku sesuai keinginanmu."
Brak….
Arduino melempar tubuh Celia ke lantai dengan kencang.
Auch……
Celia meringis kesakitan. Kini wajahnya tampak ketakutan saat melihat mata nyalang milik Arduino. Wanita itu bergetar ketakutan melihat sisi Arduino yang kejam tengah keluar.
" Ma-maafkan aku Ar… aku tidak akan mengulanginya lagi."
" Cuih… pergi dari kamarku sekarang juga dan jangan pernah muncul di sini lagi kecuali atas perintahku."
" Ba-baik Ar."
Celia memunguti kembali semua pakaiannya dan berlari keluar kamar Arduino. Tubuhnya yang bergetar hebat masih begitu terlihat. Arduino tetaplah pria yang kejam namun ketampanan nya membuat Celia melupakan fakta itu.
" Dasar jal*ng. Wanita wanita itu sungguh tidak bisa dikasih kesempatan sedikitpun. Mereka benar benar spesies yang sangat menjengkelkan bila dibaikin sedikit. huft... Sungguh merepotkan. Ini adalah yang dinamakan diberi hati minta jantung."
Pria itu bermonolog, lebih tepatnya mengomel pelan. Ia mengeluhkan semua wanita yang mendekat ke arahnya. Pria berusia 25 tahun yang memiliki wajah blasteran itu memang tampan. Kulitnya yang putih dan mata coklatnya menambah daya tarik tersendiri. Warna rambut yang senada dengan warna bola matanya mempertegas bahwa dia bukanlah orang pribumi murni.
Tok… tok… tok…
" Siapa??? Kalau wanita jal*ng lagi jangan pernah masuk!"
" Huft… Saya tuan. Roki "
Pria yang bernama Roki itu membuang nafasnya kasar. Dia sudah terbiasa dengan ucapan sarkas sang tuan.
" Ooh kau rupanya. Masuk!!" Ada apa Rok?"
" Ya Tuhan tuan, bisa tidak memanggil nama ku yang komplit. Rak.. Rok...rak...rok...Aku bukanlah pakaian bawahan untuk wanita."
" Suka suka aku."
Lagi lagi Roki membuang nafasnya kasar. Apa yang dikatakan tuannya menjadi hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
" Terserah kau lah tuan. Ini aku melihat dia sedang mencari tuan."
" Hmmm biarkan dia menemukan aku, tetap awasi saja."
" Tapi dia sedang menemui si brengsek Albern tuan."
" Tak apa, aku yakin dia bisa menghadapinya. Dia memang kejam namun dia masih memiliki hati. Aku yakin dia akan berhati hati."
" Baik tuan."
Roki segera keluar dari kamar tuannya. Sedangkan Arduino, ia kembali menatap ke lautan lepas. Namun kali ini ia mengenakan baju nya. Tampaknya hawa dingin mulai ia rasakan.
Arduino tersenyum, senyum yang tidak pernah ia perlihatkan oleh siapapun setelah kejadian 7 tahun silam itu.
" Selamat datang Silvya….."
TBC
__ADS_1