
Hari berganti, dan hari ini adalah hari terakhir Dika berada di kapal pesiar itu. Dika bersama dengan Silvya mendatangi kamar Frederik untuk berpamitan. Namun sebelumnya ia melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
" Alhamdulillaah… semuanya baik. Tidak ada reaksi penolakan tubuh terhadap organ baru mu. Tapi kau tetap harus banyak istirahat Erik. Dan patuhilah dokter yang merawatmu. Dan jika sudah sembuh jauhilah barang barang laknat yang merusak tubuhmu."
" Oh ya Tuhan dokter Dika. Ucapanmu sangat pedas seperti Silvya. Aku sekarang yakin kalian berdua memang jodoh, kalian memang mirip. Tapi terimakasih dokter atas kerja kerasmu. Aku akan mentransfer bayaranmu nanti."
" Tidak perlu, aku akan meminta hal lain nanti. Jadi kau tidak perlu membayar ku."
" Apa itu yang kau minta mas?"
" Entah, belum tahu. Saat ini belum terpikirkan. Baiklah Erik. Kami pamit. Jagalah kesehatanmu setelah ini oke."
" Terimakasih dokter. Jika dokter sudah tahu apa yang dokter minta maka beritahukanlah segera kepada ku. Oh iya dokter, bisakah aku berbicara pribadi dengan istrimu?"
" Tentu… gunakan waktumu dengan baik. Aku tunggu diluar sayang."
Dika keluar dari kamar Frederik dan meninggalkan Silvya untuk berbicara pribadi.
" Ada apa Erik? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dalma hatimu?"
" Q… Aku sungguh mohon maaf atas perilaku ku."
" No problem. Aku cukup bisa memahami. Tapi aku tidak segan segan bergerak jika putrimu itu membuat masalah."
" Huft…. Itu terserah padamu Q."
" Baiklah, aku pergi dulu. Seperti kata suamiku jaga baik baik kesehatanmu. Kau harus segera pulih."
Silvya melenggang keluar kamar. Fredeeik pun membuang nafasnya. Pet yang masih di kursi roda mendekat ke arah tuannya.
" Tuan…"
" Sudahlah Pet. Kita tidak bisa menyentuh Q. Membuatnya marah sama halnya menghancurkan diri kita sendiri. Bahkan dia bisa menghancurkan bisnis kasino ku dengan sekali tepuk. Meskipun Q seorang wanita namun kekejamannya bisa melebihi orang tua itu. Bahkan jujur aku lebih takut kepada Q ketimbang pria tua itu."
Pet terdiam. Jika sang tuan sudah berbicara serius begitu berarti apa yang dikatakan bukanlah omong kosong belaka. Meskipun Pet belum pernah menyaksikan aksi Silvya, namun dari kabar yang beredar wanita itu memang begitu kejam saat menghabisi lawannya. Dia bisa melakukan hal yang di luar nalar.
***
Berada di mobil keduanya tengah membicarakan pernikahan mereka di KUA besok.
" Mas besok kita menikah jam berapa?"
" Pagi sih… jam 8 lah jadwalnya."
" Astaga mas… aku ada rapat jam 10 an."
" Aku juga ada jadwal operasi jam 9. Huft… niatnya cuti seminggu tetap saja belum ada seminggu sudah disuruh balik. Dasar om lucknut."
" Maksud mas Dika?"
Dika menepikan mobilnya sejenak. Ia memang belum bercerita banyak mengenai keluarganya kepada Silvya.
__ADS_1
" Direktur rumah sakit tempatku bekerja itu adalah om ku. Adik bunda."
" Apa???? Sebenarnya berapa banyak aset keluargamu itu mas. Tck tck tck."
" Hahaha jangan pedulikan itu. Itu milik keluargaku."
" Huft…. Aku jadi minder."
" Hei hei hei… kau ini hebat. Istriku ini jagoan. Hanya kamu yang bisa memukul wajahku hingga lebam."
" Mas….".
Silvya ikut terkekeh geli mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat Dika memintanya membuat wajahnya lebam. Sedangkan Dika sedikit meringis mengingat betapa sakit pukulan sang istri.
" Oh iya mas, terus apa reaksi mereka malam itu?"
" Panik lah… Dokter tampan mereka dibuat lebam wajahnya."
" Haish…."
Dika kembali melajukan mobilnya. Kali ini mereka akan kembali ke rumah pribadi Dika. Sebelumnya mereka sudah mengabari kedua keluarga tentang jadwal pernikahan mereka di KUA. Jadi Dika dan Silvya akan bertemu dengan orang tua mereka langsung disana.
🍀🍀🍀
Drake merasa gelisah akan sesuatu. Entah apa itu tapi ada hal yang terasa begitu menghimpit dadanya sehingga menimbulkan rasa sesak.
" Huft…. Sebenarnya akan ada kejadian apa. Mengapa perasaanku tidak enak sekali. Ya Tuhan."
" Drake, are you ok?"
" No Ge… I feel so bad, but I don't know about this."
" Apa maksudmu Drake."
" Entahlah Ge, aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Semoga bukan apa apa. Semoga hanya sekedar perasaanku saja."
" Istirahatlah Drake, mungkin kau merasa kelelahan. Kau sepanjang hari melihat monitor monitor itu hingga matamu terlihat merah."
" Ya… mungkin kau benar."
Drake pun bangkit dari duduknya. Dan menuju ke kamarnya.
" Ge… bangunkan aku jika ada hal yang penting."
Geoff mengangguk dan mengangkat jempolnya.
"Entah apa yang kau pikirkan Drake, tidak biasanya kau terlihat begitu gelisah. Semoga hanya perasaanmu saja."
Geoff bergumam, ia kembali mengingat beberapa tahun silam saat ayah meninggal. Drake juga yang mempunyai firasat. Waktu itu saat pagi hari Drake juga merasakan akan ada hal yang buruk, dan sore nya ayah meninggal.
" Sudah lah… semoga kali ini firasat mu salah Drake."
__ADS_1
Geoff melenggang menuju tempat Jeff ditahan. Selama beberapa hari ditahan di markas hanya Geoff lah yang masih berkunjung. Jika Ian dan Drake sungguh sudah merasa muak dengan Jeff, Drake masih memiliki sedikit simpati mengingat kedekatan mereka saat Jeff masih berada di Wild Eagle.
" Woaaah my bro… ada kabar apa sehingga membawamu kemari."
" Jangan basa basi. Aku hanya sedikit kasihan denganmu Jeff. Aku masih selalu tak habis pikir. Apa yang membuatmu berkhianat dan begitu membenci Silvya."
" Hahahha…. Kau menyebut namanya Ge… apa kau juga menyimpan rasa padanya."
" Jangan bicara omong kosong. Dan hati hati akan ku robek mulutmu."
" Oh ayolah, aku yakin kau juga menginginkan tubuhnya."
Plak… bugh…
Geoff berhasil mencengkram dagu Jeff dan melayangkan sebuah pukulan. Geoff pun berteriak marah.
" Sudah kukatakan… jangan pernah menghina Silvya!!!"
Jeff sedikit mundur ke belakang. Selama ini dia tidak pernah melihat Geoff semarah itu. Dan Geoff benar benar mengerikan saat marah. Jeff bergidik ngeri.
Sedangkan Geoff, ia mengatur kembali nafasnya yang memburu. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sebuah kursi.
" Jangan pernah mulut busukmu itu menyebut namanya lagi. Oh iya perlu kau ketahui, Silvya besok akan menikah dengan seseorang yang tak kalah hebatnya."
Kali ini Jeff yang terkejut, ternyata rasa sukanya terhadap Silvya masih ada.
" A-apa, s-silvya menikah. Tapi dengan siapa. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa..?"
" Hahaja bisa lah, dia cantik, pintar, kuat, banyak pria hebat yang menginginkannya jadi istri."
" Brengsek kau Ge… kau pasti membohongiku kan. Kau berbohong. Kau pasti bohong!!!"
" Hahahah… ngapain aku bohong padamu. Tidak ada gunanya."
" Tidak… tidak mungkin dia menikah. Dia tidak pernah mengenal pria. Dia hanya mengenal kita. Jangan jangan kau berbohong padaku hanya karena ingin memiliki tubuh Silvya seorang diri."
" Badjingan …. Dia keponakanku Jeff… dia cucu kandung ayah… jika ayah masih hidup kau pasti dicincang habis olehnya bajingan…!!!"
Duar……
Jeff jatuh ke lantai. Ia menggelengkan kepalanya berkali kali. Ia berharap apa yang didengarkannya salah. Tidak mungkin Silvya adalah cucu dari 'ayah' mereka.
" Jadi…. Ibunya Silvya, Fatimah itu adalah…."
" Dia adalah kakakku. Puas kau sekarang. Kau tahu aku begitu menjaganya, dan kau malah ingin menghancurkannya. Dasar bedebah. Memang sebaiknya kau membusuk di sini."
Geoff berjalan keluar meninggalkan Jeff yang masih termangu.
Geoff mengetahui bahwa Silvya adalah keponakannya saat Ayah nya memintanya menjaga Silvya dengan seluruh nyawanya. Dan mulai hari itu ia selalu menjaga Silvya. Sungguh Geoff ingin sekali bertemu dengan Fatimah. Mereka memang saudara seayah namun beda ibu. Fatimah adalah hasil pernikahan ayah Geoff dengan orang pribumi, dan Geoff sendiri adalah hasil pernikahan sang ayah dengan wanita Irlandia.
Dan Geoff ingin sekali bisa meminta maaf kepada Fatimah. Geoff selalu merasa karena dialah ayahnya bertikai dengan sang putri. Bahkan sampai ayah meninggal Fatimah tidak mengetahuinya. Sesal Geoff berlipat lipat saat tahu Silvya sebagai keponakannya masuk ke dunia bawah yang hitam dan gelap.
__ADS_1
TBC