
Pagi ini senyuman Dika mengembang sempurna. Rasa lelahnya kemarin terbayarkan dengan rasa bahagia tadi malam.
" Mas… kenapa kamu ketawa ketawa gitu."
" Lagi seneng aja. Badanku terasa lebih segar. Siap melakukan banyak operasi hari ini."
" Haishh…."
Silvya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sang suami. Ia pun menyiapkan sarapan yang sudah ia buat.
" Oh iya sayang apakah 'itu' sudah baik baik saja? Apakah masih sakit?"
Silvya merona mendengar pertanyaan sang suami. Ingatannya kembali ke percintaan mereka tadi malam.
" Su-sudah tidak apa apa kok mas. Tenang aja"
" Benarkah.. Sini aku lihat."
" Mas, jangan aneh aneh."
Dika mengernyitkan keningnya. Ia benar benar khawatir dan ingin melihat apakah 'itu' baik baik saja atau tidak.
" Apanya yang aneh aneh. Aku hanya ingin melihatnya."
" Tidak perlu suamiku sayang. Sungguh aku sudah tidak apa apa."
Dika tersenyum mendengar jawaban sang istri. Mereka pun memulai memakan sarapan mereka dengan hikmad hingga semuanya tandas.
'" Mas, hari ini aku mau ke markas. Ehmmm aku mau mulai melakukan penyelidikan."
" Baiklah, lakukanlah. Mas berharap semuanya tidak seperti yang kita pikirkan. Jika semuanya buntu lebih baik kamu tanya mereka baik baik. Mas harap semua akan baik baik saja."
Silvya tersenyum, ia memeluk suaminya itu. Dika pun membelai kepala istri nya dengan lembut. Ia tahu istrinya itu berat dan takut mengetahui fakta yang tersembunyi. Namun Silvya berusaha terlihat tangguh.
Keduanya kini sudah berada di mobil masing masing dan akan menuju lokasi tujuannya masing masing.
🍀🍀🍀
Silvya sampai di markas Wild Eagle. Ia langsung masuk ke dalam dan mulai mencari apa saja yang bisa ia temukan di sana. Silvia lalu membuka satu persatu komputer yang biasa digunakan Drake. Tapi nihil tidak ada apa apa di sana. Bahkan tidak ada sesuatu yang rahasia karena Drake tidak mengunci file sama sekali.
Akhirnya Silvya pindah mencari ke kamar-kamar semuanya. Mencoba mencari sebuah petunjuk namun semuanya bersih. Hingga Silvia teringat dengan Jeff. Ia kemudian menemui Jeff di tempat tahanannya.
Jeff tersenyum melihat Silvia datang menemuinya. Ia pun segera berdiri untuk menyambut sang Queen.
" Hello my Queen, congratulations for your wedding."
" Tck, tidak usah berbasa-basi Jeff. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu hal."
" Woaaah… beginikah caramu minta tolong?"
" Jangan banyak ngomong atau aku ledakkan kepalamu."
" Hahahha baik baik. Apa yang ingin kau ketahui?"
Silvya mengambil kursi lalu duduk di hadapan sell tahanan Jeff.
" Kasus penembakan di taman bermain 8 tahun lalu. Siapa dalang dibalik semuanya."
__ADS_1
Jeff terdiam mendengar pertanyaan Silvya. Jeff sendiri heran mengapa Silvia bisa tahu tentang hal tersebut. Pasalnya Silvia saat itu belum bergabung di organisasi. Sebenarnya memang tidak ada yang tahu alasan Silvia bergabung yang tahu hanyalah ayah dan juga Geoff.
" Bagaimana kau tahu tentang kasus penembakan di taman bermain 8 tahun yang lalu? Apa kau berada disana waktu itu? Sedangkan kau belum bergabung di organisasi."
Bukannya menjawab pertanyaan Silvya, Jeff malah bertanya kembali kepada Silvya.
" Aku ada di sana dan orang yang tertembak meninggal di depanku dia adalah saudara kembarku Zion."
" Apa…. Tapi bagaimana mungkin. Kau pasti mengarang cerita. Bagaimana mungkin saudaramu yang tertembak. Saat itu yang tertembak adalah…."
"Tutup mulutmu Jeff!!!"
Geoff muncul dari belakang Silvya. Jeff terkejut namun Silvya tidak. Dia sudah tahu bahwa Geoff pasti akan curiga dengan perintahnya.
" Huft… kau sudah kembali Ge?"
" Q apa yang kau lakukan! Kau sengaja menyuruh kami pergi kan?"
" Aku memang tidak bisa memanipulasi mu Ge. Iya aku memang sengaja menyuruh kalian pergi."
Geoff menghembuskan nafasnya kasar. Sesampainya di gudang tadi Geoff baru menyadari ada yang aneh dari perintah Silvya. Silvya tidak akan pernah membiarkan markas kosong. Dan Drake juga tidak pernah berhubungan dengan gudang ataupun stok barang. Job desk mereka sudah sangat jelas masing masing. Jadi akan aneh jika Silvya memerintah mereka untuk pergi bersama.
" Apa kau mencurigai kami soal kematian saudara mu Q."
" Ge aku hanya mencari keadilan untuk Zion, ayah bilang akan membantuku untuk mencari tahu siapa pembunuh Zion. Tapi mana…. Semua terlihat buntu. Dan kau Jeff… kau tahu kan siapa yang waktu itu menembak Zion. Cepat katakan!?"
" I-itu… i-tu… dia…."
" Jefff tutup mulutmu!"
" Silvya….. Cukup… cukup kataku!!"
Silvya terkejut mendengar teriakan Geoff. Bukan hanya Silvya, Drake yang sedari tadi diam pun terkejut. Selama ini Geoff tidak pernah memanggil nama Silvya. Geoff selalu memanggil Silvya dengan inisial Q atau Queen.
"Huft… ayolah kalian om dan keponakan jangan ribut. Sebaiknya kalian bica dengan kepala dingin.
" Om dan keponakan? Apa maksudmu Jeff?"
" Kau tanya saja pada om mu itu, Geoff."
Silvya memicingkan matanya ke arah Geofd, mencoba meminta penjelasan. Geoff hanya bisa pasrah sekarang. Semua sudah terungkap. Silvya pasti akan terus mengejar Geoff untuk mengetahui dalang dibalik meninggalnya Zion. Hal yang selama ini ditutup rapat akan terbongkar juga.
Geoff merasakan sebuah ketakutan yang luar biasa. Meskipun penembakan iti bukanlah kesengajaan namun Silvya pasti akan membalaskan dendamnya. Hal inilah yang ditakutkan, pasalnya nyawa Silvya bisa saja terancam.
" Ge jelaskan padaku?!"
Geoff beranjak berjalan meninggalkan ruang tahanan itu dan kembali ke ruang utama diikuti oleh Drake dan juga Silvya.
" Ge… apa kau yakin akan mengungkap semuanya saat ini?"
" Entahlah Drake, tapi kau tahu gadis itu sangat keras kepala. Persis seperti ayah bahkan melebihi sifat keras nya ayah."
" Huft… kau benar Ge."
Mereka bertiga kini duduk di meja panjang itu dengan saling berhadapan. Dalam hati Silvya sendiri harap harap cemas. Om ? Keponakan ? Dua kata ini masih menjadi tanda tanya besar.
" Apa aku masih ada hubungan keluarga dengan Geoff. Oh ya Ampun kenyataan macam apa ini!" Silvya berbicara dalam hati.
__ADS_1
" Apa yang kau pikirkan itu benar. Kau adalah keponakan kandungku, ayah adalah kakekmu, dan Fatimah adalah kakakku lain ibu."
" Apa??? yang benar saja. Tapi aku tidak pernah melihat kakek ku selama ini. Bagaimana mungkin ayah bisa jadi kakekku dan jadi ayah dari mommy ku?"
" Mommy mu membenci apa yang dilakukan ayah jadi dia memutus hubungan dengan ayah."
Silvya membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya untuk menahan keterkejutannya.
" Jadi mommy pun tidak tahu ayah sudah meninggal?"
Geoff menggeleng. Ada rasa kasihan juga dalam diri Silvya terhadap ibunya. Entah bagaimana jika ibu nya itu tau kalau satu satu nya orang tua yang dimiliki telah tiada.
" Apakah ayah sudah tahu aku ini cucu ayah sehingga dia merekrut ku?"
Geoff kembali menggeleng. Dia membuang nafasnya kasar.
" Tidak, ayah tidak tahu. Dia baru tahu setelah 6 bulan kamu bergabung. Dan dia sangat menyesal akan hal itu. Hal yang dibenci putrinya kini dilakukan oleh cucunya. Namun dia tidak bisa menghentikanmu karena obsesimu menemukan pembunuh Zion sangat besar."
" Ya Allaah… kebenaran macam apa ini. Trus mengapa kalian menyembunyikan siapa pembunuhnya, apa kematian Zion ada hubungannya dengan kalian?"
Silvya kini kembali marah, dia sampai menggebrak meja. Geoff masih terdiam hingga Drake yang berbicara.
" Demi Tuhan Q, semua tidak ada hubungannya dengan Wild Eagle. Memang waktu itu beberapa organisasi mafia bertemu di sana dengan cara membaur dengan warga sipil. Dan saat terjadi adu tembak kami baru datang. Saat kami datang, kami sudah melihat sebuah keluarga tengah berkerumun memeluk seorang remaja yang tertembak."
" Itu kami Drake.. Itu aku, Zion, dan kedua orang tuaku. Itu adikku Drake… Adikku… Satu satunya saudaraku. Argh… bajingan… kalian semua brengsek… argh… hu hu hu.!!!"
Silvya berteriak histeris mengingat kejadian tersebut. Drake dan Geoff yang tidak pernah melihat Silvya begitu hancur sangat terkejut. Geoff pun memberanikan diri mendekati Silvya dan memeluk keponakannya itu.
Silvya terus memberontak sambil menangis.
" Kalian semua sungguh jahat. Kalian membunuh adikku. Adikku yang polos, dia yang baru 17 tahun, dia sangat senang saat bisa keluar ke taman bermain… hu...hu...hu…"
Silvya terus memukul mukul dada Geoff. Sakit, ya… tenaga Silvya meskipun sedang menangis tetaplah kuat. Geoff bahkan sampai meringis setiap kali Silvya melancarkan pukulannya. Namun ia tahu rasa sakit itu tidak seperti rasa sakit Silvya saat ini.
"Ya Allaah, aku ini sangat berdosa. Adikku meninggal di tangan mafia dan aku sekarang malah menjadi ketua dari mafia. Argh…. Zion… Zion maafin kak Sisi, Zion… hu… hu...hu…."
Silvya terus berteriak dan menangis. Geoff membiarkan hal itu, dan Drake hanya bisa menatap iba. Gadis yang selama ini kuat, kejam, dan mandiri. Kini terlihat lemah tak berdaya.
" Aku akan membunuh kalian semua, aku akan menghancurkan kalian semua."
Ternyata Silvya sudah tertidur di pelukan Geoff. Ia terus bergumam meski matanya sudah terlelap. Geoff pun mengangkat Silvya ke kamar dan merebahkannya di sana.
" Maafkan aku Silvya. Maafkan aku ayah. Maafkan aku kak Fatimah. Aku sungguh minta maaf."
Geoff keluar dari kamar dan sudah dihadang Drake.
" Ge… gimana, apakah kita akan memberitahu Q?"
" Ya harus…"
" Tapi keselamatan Q."
" Huft… aku akan menjadi tameng Silvya nanti."
" Tidak Ge, kita semua akan menjadi tameng Q nanti jika memang pertempuran itu terjadi."
TBC
__ADS_1