
Beruntung alamat tinggal Silvya ada dilaman pencarian. Sehingga Aryo dan sang putra sulung bisa langsung menuju ke rumah Silvya.
Tok...tok….tok…
" Assalamualaikum…."
" Waalaikumsalam…."
Ceklek...pintu rumah tersebut dibuka. Muncul pria paruh baya berwajah bule. Aryo meyakini dia adalah ayah dari Silvya.
" Masyaallah… tuan Aryo Dwilaga?"
" Lho… anda mengenal saya?"
" Siapa yang tidak kenal anda. Mari silahkan masuk."
Aryo bernafas lega. Ternyata sang besan sudah mengenalnya dan tampaknya sangat welcome.
" Silahkan duduk, maaf kami belum sempat mengunjungi anda… ini putra sulung anda?"
" Iya ini sulungku. Bukan… Seharusnya kami yang minta maaf. Sebagai pihak pria seharusnya kami yang datang ke rumah pihak wanita. Kami sungguh minta maaf."
" Jangan seperti itu tuan Aryo… baiklah… Ada apa gerangan yang membuat anda kemari?"
Aryo dan Radi saling pandang. Mereka sama sama berpikir bahwa sepertinya orang tua Silvya belum tahu kabar hilangnya Dika.
" Begini… sejak siang tadi Dika belum muncul ke rumah sakit dan mobilnya ditemukan di sebelah rumah sakit tapi Dikan ya tidak ada?"
" Astagfirullah… nak Dika hilang. Tapi bagaimana bisa. Tadi siang dia baru saja dari sini."
" Iya… kami juga bingung. Kami kemari mau bertanya nomor ponsel Silvya siapa tahu Dika bersama Silvya."
Harold mengangguk lalu berlari ke belakang untuk mengambil ponselnya. Di sana dia bertemu dengan Fatimah. Fatimah bertanya mengapa suaminya tampak terburu-buru.
" Mom nak Dika hilang, sampai sekarang dia belum terlihat di rumah sakit ataupun di rumah. Itu ada Tuan Aryo orang tuanya Dika ke sini untuk bertanya nomor telepon Silvia barangkali Dika bersama dengan Silvia.
" Apa…. Nak Dika hilang… tapi bagaimana mungkin."
Fatimah mengekor suaminya menuju ke ruang tamu untuk menjumpai Aryo.
" Maaf tuan… Bagaimana bisa anak Dika hilang. Maaf perkenalkan saya Fatimah ibu dari Silvya."
Fatimah mengatupkan kedua tangannya didepan dada memberi salam kepada Aryo. Aryo dan Radi membalas dengan hal yang sama.
" Kami juga tidak tahu Nyonya makanya saya mencoba kemari siapa tahu ada petunjuk."
" Apakah tidak lapor ke polisi saja?"
__ADS_1
" Belum 24 jam tante kita tidak bisa melaporkannya."
Kali ini Radi yang angkat bicara. Hal tersebut mendapat anggukan oleh Fatimah.
Harold mencoba menghubungi Silvya namun nihil. Silvya tidak juga mengangkatnya. Bahkan di percobaan kedua ponsel Silvya sepertinya mati.
Harold memberikan nomor ponsel Silvya kepada Aryo agar Aryo juga mencoba untuk menghubungi putrinya itu.
Aryo pun menekan nomor telepon Silvya. Ia mencoba untuk menghubungi namun sama nihil juga.
" Bagaimana yah." Tanya Radi.
Aryo hanya menggelengkan kepalanya. Kini kedua keluarga tersebut sangat panik pasalnya kedua putra putri mereka tidak ada yang bisa dihubungi. Tadi Harold menyempatkan diri untuk menghubungi Ian, namun Ian pun juga tidak tahu ke mana Silvia pergi.
" I'm so sorry Dad. Aku juga tidka tahu Silvya kemana. Soalnya tadi saat rapat dia buru buru keluar dan tidak mengatakan apapun."
Sebenarnya Harold juga merasa panik. Meskipun selama ini Silvya pergi untuk beberapa hari, Ian pasti tau di mana Silvya berada. Namun untuk tidak membuat sang besan tambah panik maka Harold berusaha untuk tetap tenang.
" Dad… gimana ini. Aku khawatir mereka kenapa napa."
Fatimah terlihat panik. Baru kali ini dia merasakan sebuah kepanikan memikirkan sang putri. Biasanya Silvya tidak pulang berhari hari pun Fatimah akan terlihat biasa saja.
" Baiklah Harold.. Sebaiknya aku pulang dulu. Kita berkabar saja jika ada informasi dan kabar mengenai putra putri kita."
" Ya Aryo… Sebaiknya begitu. Semoga mereka segera kembali."
" Dad…. Di mana putri kita ya, aku taku silvya kenapa napa, nak Dika juga.?"
" Jangan berpikiran buruk mom. Kita berdoa saja semoga putri dan menantu kita tidak mendapati hal yang buruk."
" Aamiin ya Allaah…. Lindungilah putra putri kami."
***
Sesampainya di rumah Aryo dan Radi sudah disambut oleh wajah-wajah penasaran Sekar, Andra, dan Jani. Namun dengan melihat ekspresi Aryo mereka mengambil kesimpulan bahwa tidak ada hasil yang memuaskan.
" Ternyata Silvya juga tidak bisa dihubungi bund. Dia pergi meninggalkan kantor dari siang Bahkan dia meninggalkan rapat penting tidak ada yang tahu dia pergi kemana."
" Astagfirullaah… ya Allaah… Ada apa ini. Kenapa mereka menghilang tanpa ada kabar sama sekali."
Sekar semakin lemas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Sibungsu Jani yang biasanya cuek pun terlihat sedih melihat kondisi sang ibu yang amat syok.
" Terus… ini bagaimana kak… yah… mas Dika sama Silvya sama sama menghilang. Nggak mungkin mereka ngeprank kita."
" Hust… kamu ini ngawur."
" Habisnya mereka bisa ilang barengan gini kak." Ujar Andra.
__ADS_1
" Apa Silvya mengetahui sesuatu mengenai Dika lalu dia buru buru bahkan meninggalkan rapat yang penting?"
Analisa Radi kali ini sepertinya masuk akal. Tapi juga mereka saat ini belum bisa bergerak lebih dan hanya bisa menunggu kabar dari anak anak mereka. Dalam hati Aryo sebenarnya mengatakan bahwa anak anak mereka baik baik saja.
🍀🍀🍀
Sedangkan itu di kapal pesiar nan mewah Dika dan Silvya tengah duduk di dek atas sembari menikmati laut malam dna langit berbintang. Setelah memeriksa keadaan Erik yang menurut Dika lumayan serius membuat Dika bertanya kepada sang istri mengenai siapa Erik sebenarnya.
" Erik itu bisa dibilang sebagai salah satu pengusaha kasino terbesar di Asia. Dia bahkan memiliki beberapa kasino di Las Vegas. Tapi aku sendiri juga heran dia bisa punya penyakit hati."
" Sirosis Hati nya lumayan parah. Mengapa dia tidak melakukan perawatan di rumah sakit saja, mengapa ia memilih tinggal dan dirawat di kapal pesiar seperti ini."
" Mungkin dia punya alasan tersendiri mas."
" Terus mengapa kamu bisa mengenalnya."
" Dia mah minta perlindungan dariku di beberapa negara."
Dika kembali terkejut mengenai side job istrinya yang sebagai mafia. Dika belum mengetahui sepenuhnya bahwa istrinya bukan hanya sekedar anggota mafia melainkan dia adalah pemimpin Mafia.
" Mas apa kamu pernah mendengar nama nama organisasi mafia?"
" Tidak… hmmm belum."
" Coba kamu searching. Akan muncul beberapa nama. Dan biasanya itu merupakan organisasi manusia terbesar."
" Apakah mereka tidak takut ketahuan sama pihak berwajib?"
" Beberapa dari mereka ada yang berada dibawah naungan mafia, bahkan ada juga yang merupakan anggota."
Glek…. Dika menelan salivanya dengan kasar. Ia pun membuka sebuah tab yang diberikan Erik tadi. Ia mulai mencari nama nama organisasi Mafia yang disarankan snag istri.
" Nah… ketemu… ada beberapa… apakah organisasimu ada?"
Silvya mengangguk ia pun menunjuk sebuah nama. Dika lalu mengklik nama yang ditunjuk istrinya tersebut.
" Wild Eagle. Organisasi Mafia yang telah berdiri 50 tahun yang lalu. Tapi disini tidak disebutkan siapa pendirinya. Merupakan sebuah organisasi dunia bawah yang mempunyai banyak anggota yang tersebar di seluruh dunia. Saat ini Wild Eagle menjadi salah satu yang disegani di bawah pimpinan Queen."
Dika berhenti sampai disitu. Otaknya mencoba berpikir. Dia sepintas familiar dengan sebutan Queen itu. Sedetik, 2 detik, 3 detik, hingga 1 menit akhirnya jika menemukan sesuatu.
" Ya Allaah sayang… Apakah kamu Queen ini. Apakah kamu pemimpin Wild Eagle?"
Silvya mengangguk membenarkan ucapan keterkejutan suaminya. Dika menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Ya Allaah… hal gila apa yang terjadi dalam hidupku. Istriku adalah seorang Queen Mafia. Dia adalah pemimpin organisasi Mafia. Sebenarnya aku hidup di dunia macam apa. Aku pikir mafia itu fiktif hanya rekaan semata tapi…. Ini real, bahkan wanita cantik dan lembut disampingku ini adalah seorang pemimpin mafia yang disegani. Pantas saja ilmu bela dirinya begitu luar biasa.
TBC
__ADS_1