
Beberapa hari menuju ke pernikahan, Dika masih disibukkan di kapal pesiar milik Frederik. Ia membawa sebuah tas berisi pakaiannya selama 3 hari untuk berada di sana.
" Terus siapa nanti yang akan memantau mu pasca operasi Erik?"
" Tenang saja dok… aku memiliki dokter pribadi untuk itu."
" Huft….. Dokter bedah itu tidak serta merta mengoperasi lalu meninggalkan pasiennya Erik. Kau membuatku menjadi dokter yang tidak bertanggung jawab. Carilah sebuah rumah di kota J ini dan aku akan memantaumu sampai kamu dinyatakan pulih pasca operasi."
" Maaf dokter tidak bisa, semua alat medis berada di sini. Aku tidak mungkin meninggalkan kapal."
Hah….. Dika membuang nafasnya kasar. Menyepakati Frederik menjadi dokter bedahnya berarti mengambil sebuah keputusan untuk merawatnya juga.
" Baiklah Erik… kau menang aku akan memantaumu setelah 2 minggu pasca operasi. Namun aku tidak bisa tinggal. Rumah sakit membutuhkanku juga. Jadi kau akan datang paling tidak dua hari sekali."
" Terimakasih dokter... seperti rumor yang beredar. Kau memang dokter hebat.
" Jangan membuat mas Dika kerepotan dan kebingungan Erik. Atau aku akan….."
Silvya datang dengan menarik sebuah koper. Ia akan menemani Dika selama tiga hari di kapal pesiar ini.
" Woaaah… kau sangat suka sekali mengancam Q?"
" Terserah apa katamu."
" Tck… tak ku sangka seorang ratu mafia yang kejam luluh juga oleh pesona dokter Dika. Kau hebat dokter bisa menaklukkan betina satu ini."
" Erik...shut up!"
Dika hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi dua orang berbeda umur dan berbeda gender ini. Dia baru tahu sisi lain dari istrinya itu.
" Ok Erik… kau harap mulai saat ini kau berpuasa."
Erik mengangguk. Ia pun dibawa kembali oleh Pet menggunakan kursi roda. Sebelumnya Dika sudah berdiskusi oleh tim medis yang diberikan oleh Frederik. Dika tampak tidak kesulitan dengan mereka. Ia juga sudah membagi tugas dan memilih siapa yang akan jadi asistennya saat melakukan operasi.
" Apakah semua sudah siap mas?"
" Iya sudah… tinggal pelaksanaannya saja nanti malam?"
" Apa lama prosesnya?"
__ADS_1
" Iya… ini termasuk operasi besar membutuhkan waktu sekitar 6-12 jam."
" Baiklah… istirahatlah sekarang."
" Iya, tapi nanti dulu. Oh iya kamu kok bawa koper? Memangnya kamu mau ikut menginap di sini?"
Silvya mengangguk. Ia memang berencana untuk menemani sang suami.
" Baiklah… kalau begitu mari istirahat."
" Lho, katanya nanti dulu."
Dika menyeringai, ia lalu membawa sang istri menuju ke kamarnya. Silvya hanya tersenyum melihat tingkah Dika.
Dika membuka pintu kamarnya lalu merebahkan Silvya dan ikut berbaring. Ia memeluk sang istri.
" Mari kita tidur. Jarang jarang kan kita mendapatkan libur di tengah tengah padatnya pekerjaan."
Silvya mengangguk membenarkan ucapan Dika. Memang ini adalah hal yang langka, dan dia juga akan menikmatinya.
30 menit berlalu, tampaknya Dika sudah tertidur dengan pulas. Suara dengkuran halusnya terdengar. Silvya yang memang tidak tidur mencoba bangun. Ia melepaskan pelukan tangan Dika dengan hati hati agar Dika tidak terbangun. Silvya lalu bangkit dari ranjang dan menarik selimut lalu menyelimuti suaminya. Ia pun berjalan keluar kamar dengan hati hati.
Silvya tahu. Sebagai Queen Mafia inting dan feel nya sangat kuat. Sudah dari kemarin Erik mengawasi interaksi Silvya dan Dika. Bahkan tadi pun juga, meskipun Dika tidak menyadari akan hal tersebut. Namun Silvya sungguh peka. Dan ia memang berencana menanyai Frederik saat Dika sudah tidur.
" Huft…. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari mu Q. Sungguh awalnya aku tidak tahu jika dokter Dika adalah orang mu karena saat aku meminta anak buah ku menyelidiki informasi tentangnya, semua datanya bersih. Dia tidak berhubungan dengan organisasi bawah. Makanya aku sungguh terkejut waktu kamu datang mencarinya."
" Erik… Dia bukan sekedar orangku. Dia suamiku."
" Apa… ???"
Frederik tampak benar benar terkejut mendengar fakta tersebut. Jika masih hanya sekedar kekasih Frederik berani untuk meminta Silvya memberikan Dika namun ini sudah jadi suami maka Frederik tidak bisa melakukan apapun.
" Iya aku sudah menikah dengan mas Dika 2 bulan ini dan setelah operasi selesai aku akan mendaftarkan pernikahan ke KUA. Erik… aku tahu kau melakukan semua ini untuk putrimu. Tapi sungguh aku dan mas Dika saling mencintai. Sebuah nasehat untukmu Erik. Jangan terlalu memanjakan Tania. Dia akan menjadi gadis yang ambisius tapi tidak tepat pada sasaran. Aku khawatir dia bukannya cinta dengan suamiku, tapi dia hanya terobsesi. Dan itu bahaya."
Frederik diam mendengar semua yang diucapkan Silvya. Semua yang dikatakan oleh Silvya memang benar. Selama ini Tania yang manja ingin segala hal yang dia inginkan dipenuhi.
" Kau tidak mungkin memintaku menceraikan suamiku dan memberikannya kepada putrimu kan? Erik… sampai mati pun aku tidak akan melepaskan suamiku."
Silvya berjalan menjauh dari Frederik. Ia kembali ke kamarnya bersama Dika.
__ADS_1
" Tuan…."
" Pet, apa yang dikatakannya memang benar. Selama ini aku kelewat memanjakan Tania. Bahkan sebagai seorang dokter Tania pun abai terhadap penyakitku karena selalu mengejar obsesinya. Dia hanya bisa menuntut. Dan lagi, aku tidak bisa membiarkan hubungan ku dengan Q memburuk. Selama ini dia sudah banyak membantuku. Aku tidak mungkin menusuknya dari belakang. Kau pasti paham kan Pet?"
" Iya tuan. Sebagai seorang pemimpin Wild Eagle dia termasuk sangat baik dengan kita.meskipun dia tidak menyukai judi tapi dia tetap mau memberikan orang orangnya untuk melindungi kasino kita."
Frederik kembali diam. Ia ingat betapa Silvya membenci arena judi. Bahkan dia pernah menghancurkan meja judi saat dipaksa menjatuhkan taruhan. Silvya sangat marah waktu itu dan memporak porandakan kasino milik Frederik. Sejak saat itu Silvya selalu menolak undangan Frederik.
" Lalu tuan…. Bagaimana dengan nona Tania?"
" Sepertinya aku harus menariknya pulang. Dia memang membutuhkan psikolog untuk menangani dirinya. Ambisinya terlalu besar dan aku takut akan mengalahkan hati dan akalnya."
" Tapi sepertinya tidak mungkin dalam waktu dekat ini, bukankah tuan harus pemulihan pasca operasi?"
" Kau benar pet… paling tidak 3 bulan… ya… Aku harap Tania tidak membuat ulah selama tiga bulan kedepan."
***
Di kamar kini Silvya yang memeluk Dika dari belakang. Ia mencium aroma khas maskulin dari tubuh Dika.
" Mas… aku tidak akan memberikanmu kepada siapapun. Aku akan menjaga pernikahan kita sampai nanti kita menua bersama."
Dika menggeliat, ia kemudian tersenyum kecil melihat Silvya yang pura pura tertidur.
" Memangnya siapa yang memintaku hmmm…."
"Mas… kamu nggak tidur?
" Tidur kok, tapi pas kamu ngomong tadi aku sudah melek."
Silvya bernafas lega, berarti Dika tidak tahu dia pergi ke luar untuk berbicara dengan Frederik.
" Ya sudah kalau gitu… tidur lagi aja yuk…"
" Oooh…. Tidak bisa. Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkanku."
Hap… Tanpa aba aba Dika sudah melahap bibir milik Silvya. Silvya sedikit terkejut namun kemudian ia pun menikmati sesapan demi sesapan yang diberikan oleh Dika. Dan seperti yang sudah sudah, Dika pun telah menjelajahi tubuh bagian atas sang istri. Kalau kata readers, mereka nyicil dulu sebelum malam pertama mereka nanti 5 hari lagi.
TBC
__ADS_1