
Paulo memerintahkan para anak buahnya untuk melepaskan tembakan dengan segera.
Dor… Dor… Dor….
Drtttt ... Drrrr ... drr ... Dor ...
Paulo menyeringai. Ia sungguh tidak sadar jika anak buahnya di belakang mulai berjatuhan.
" Paulo!!"
Teriakan salah satu anak buahnya berhasil membuatnya menengok ke belakang.
" Apa!! Kau merusak konsentrasi ku. Yang lain segera masuk ke villa."
" Stop!! Kalian jangan masuk dulu. Paulo lihatlah. Orang orang kita di belakang banyak yang terjatuh!"
Paulo memicingkan matanya, ia sungguh terkejut saat melihat banyak orangnya yang tumbang.
" Apa? Bagaimana bisa?"
Dor...dor...dor
Dor...
Dor...
Dor...
Dari arah depan suara berondongan tembakan sungguh menggema. Paulo sungguh terkejut, saat orang orang yang ia pikir sudah mati itu bangun dan mengacungkan senjatanya ke arah kelompoknya.
Dor…
Dor…
Bruk … bruk…
" BERLINDUNG!!!"
Teriakan salah seorang anak buah Paulo berhasil menyadarkannya dari keterkejutan. Paulo pun berusaha berlindung di balik pohon besar.
Para anak buah Silvya dan Arduino merangsek maju mendekati pasukan Paulo yang kalang kabut bersembunyi.
" Sial… mereka belum mati ternyata. Kita tertipu."
Paulo menggertak kan gigi giginya karena begitu kesal. Ia mencengkeram kuat senjata laras panjangnya, berjaga jaga jika orang orang Arduino atau Silvya mendekat.
Dari dalam Villa, Arduino dan Silvya keluar diikuti oleh Ian dan Roki. Arduino mengangkat senjatanya dan membidik lawan begitu juga dengan Silvya. Keduanya melepaskan tembakannya bersama saat menemukan mangsa.
Dor…
Dor…
Dor….
Ceklek… Dor...Dor...Dor…
Bruk...bruk…
Satu per satu orang orang Paulo terjatuh. Anak buah Black Wolf dan Wild Eagle sengaja menyingkir saat pemimpin mereka ingin bermain.
Dor…
__ADS_1
Dor…
Dor…
Arduino menghentikan kegiatan menembaknya. Begitu juga dengan Silvya. Silvya sungguh tampak gagah memanggul senjatanya di bahu. Sedangkan Arduino, ia meminta sebuah pengeras suara yang tadi sudah disiapkan oleh Roki.
" Ekhem...tes…. Tes… 1, 2, 3… haii Paulo apa kabar. Hahaha kau masih ingat padaku bukan? Bagaimana apakah masih ingin lanjut bermain? Aah… iya dua rekanmu sudah kabur duluan. Sebenarnya itu bagus karena mereka masih sayang nyawa."
Paulo sungguh marah dengan ucapan Arduino. Ia pun menggenggam erat Senjatanya lalu berteriak dengan keras.
" Bajingan kau Arduino. Aku akan menghabisi mu. Dengarkan kalian jika kalian takut tetaplah bersembunyi tapi jika kalian masih ingin bersamaku dan setia kepada pimpinan maka ikutlah denganku. Tembak!!!"
Arduino menyeringai, memang itulah yang dia inginkan.
Dor… Dor… dor….
" Kau sangat senang Ar."
" Tentu Si. Ini termasuk hari yang ku tunggu yakni menghabisi mereka sampai ke akarnya."
Silvya tersenyum, ia pun juga mulai menggerakkan tangan nya untuk mulai membidik lawan dan menajamkan matanya untuk membidik mangsa.
Dor…
Dor…
Dor…
Bruk ...bruk…
Satu persatu orang di kubu Paulo dan juga Arduino + Silvya jatuh ke lantai. Namun beruntung orang orang Silvya dan Arduino memakai jaket anti peluru jadi paling tidak organ vital mereka terlindungi. Namun tetap luka pada kaki dan lengan tidak bisa dielakkan.
Dor…
Dor…
Dor…
Silvya dan Arduino hanya mengangguk mendapat pertanyaan dari Ian. Queen dan King itu benar benar menikmati semua ini. Mereka berdua menyeringai puas saat tubuh lawan memuncratkan darah segar.
Tembak menembak itu terus berlangsung hingga orang orang di kubu Paulo semakin sedikit. Paulo beringsut menyembunyikan tubuhnya kembali.
Silvya menyeringai ia masih bisa melihat kaki Paulo dengan jelas. Ia pun membidik kaki tersebut dan dor ... Silvya menembak kaki Paulo.
"Argh…. Bajingan…."
Paulo berteriak kesakitan. Ia menarik kakinya dengan kedua tangannya mencoba untuk berjalan menjauh. Namun naas di belakang Paulo sudah ada orang orang dari Wild Eagle. Tubuhnya pun langsung ditangkap oleh mereka. Paulo semakin memberontak.
" Tck...tck...tck… tidak usah memberontak begitu kau akan kesakitan. Aah… Aku tahu agar orang ini tidak banyak bergerak."
Dor…. Argh…..
Silvya menembak kaki Paulo yang sebelah lagi sehingga membuat pria itu tersungkur.
"Aku sungguh ingin bermain denganmu tapi saudara ku lebih berhak atas nyawamu. Ar…. This is for you!!!"
Silvya memanggil Arduino untuk membereskan Paulo. Ia pun segera berbalik, namun Paulo masih memiliki kekuatan di tangannya. Ia pun mengambil sebuah pistol dan melepaskan tembakannya ke arah Silvya.
Dor….
" Sisi….!!!"
__ADS_1
Arduino berteriak saat melihat Arduino menembakkan pistolnya ke arah Silvya. Beruntung Sylvia segera menghindar, namun timah panas itu berhasil mengenai lengan Silvya.
Melihat hal tersebut Arduino sangat marah, ia kemudian menembak tangan Paulo berulang kali.
Dor…
Dor….
Dor…
Dor….
" Argh…..!!! Bunuh aku Arduino. Dasar anak tak tahu terimakasih. Bajingan kau!"
" Apa… bunuh.. Tidak semudah itu."
Dor...dor...dor….
Arduino kembali menembaki Paulo namun ia masih memberikan nafas untuk Paulo. Sylvia mendekati Arduino ia menegaskan dirinya tidak apa apa meskipun darah terlihat mengalir di lengannya.
" Are you ok Si?"
" Yeah… i'm ok. Ini sudah biasa Ar."
Arduino mengangguk, ia tahu hal tersebut memanglah sudah biasa. Namun melihat Silvya tertembak mengingatkan dia akan Zion yang tertembak juga dan meninggal.
" Dasar kau bajingan Paulo."
" Cuih… kau lah yang bajingan Ar. Kau sungguh tak tahu terimakasih sudah dibesarkan dan di beri kekuasaan malah berkhianat."
" Hahaha siapa yang minta dibesarkan oleh orang seperti pria tua brengsek itu. Dia lah yang menghancurkan keluarga ku"
" Sialan Kau Ar. Dasar kau….."
Dor….
Arduino sudah muak dengan ocehan Paulo. Ia pun menembak kepala Paulo dengan sekali tarikan.
" Finish. Rok bereskan sisanya. Kalau mau bunuh… bunuh saja jika tidak terserah mau kau apakan jangan minta pendapatku soal ini."
Roki mengangguk paham dan Arduino pum melenggang pergi menyusul Silvya masuk ke villa.
" Jas… kemari… obati Sisi."
Jason berlari saat dengar suara Arduino.
" Apakah parah?"
" Tidak… hanya terserempet saja kok. Ar jangan berlebih."
" Bukan berlebih Sisi, aku tidak mau ya nanti di teror oleh kakak ipar kalau kau kenapa napa."
Huft….
Silvya membuang nafasnya kasar. Tampaknya wibawa Queen mafia dihadapan adiknya itu tidak ada apa apa dibandingkan dokter Dika.
Di dalam kamar Rodriguez hanya terdiam. Pandangannya begitu kosong. Baru kali ini ia merasa hidupnya sudah berakhir. Meskipun tidak melihat apa yang terjadi di luar namun ia cukup tahu bahwa pengikutnya sudahlah habis tak bersisa.
" Selesai… Semuanya selesai. Tamat sudah… Semuanya sudah tamat. Hahahah…. Aku benar benar kalah… Semuanya sudah berakhir dan benar kata kedua bocah sial itu.. Aku kalah… hahahaha semuanya tamat hu...hu...hu… aku kalah. … Aku tamat… Semua berakhir… sungguh tak bersisa… hu...hu...hu…"
Rodriguez tergugu, ia tidak menyangka semuanya berakhir tidak sesuai dengan keinginannya. Selama ini apa yang menjadi ambisinya pasti terwujud. Namun ia baru sadar sekarang ia dikalahkan oleh ambisinya sendiri.
__ADS_1
TBC