
Argh…. !!!"
Dalam keadaan tubuh yang masih polos Jeff berteriak kesakitan. Ia menggelinting kesana kemari sambil mendekap juniornya yang terkulai. Dipastikan bahwa juniornya tidak akan pernah berdiri selamanya. Silvya tersenyum melihat Jeff yang kesakitan tersebut. Namun tampaknya Silvya masih belum puas bermain. Baginya ini belumlah apa apa.
Silvya kembali menyeringai, kali ini ia membelai wajah Jeff dengan sebilah pisau di tangannya.
" Q… kau mau apa lagi hah. Dasar jal*ng."
" Tck...tck...tck…. Jangan merengek Jeff. Katanya kau mau menikmati tubuhku ini hmm… lakukanlah kalau bisa. Ups sorry. Benda kebanggaanmu ini sudah tidak bisa memuaskanku."
" Bedebah Kau Silvya. Aku yakin kau akan menyesali perbuatanmu kepadaku. Argh….."
Disela sela kalimat yang dilontarkan Jeff, Silvya menggoreskan pisaunya di dada pria itu.
" Oh astaga… aku salah… bagaimana ini… Seharusnya kau menggores di wajah tampanmu itu ahahahahha."
Silvya tertawa keras melihat Jeff yang ketakutan. Sungguh ia sangat senang bermain kali ini. Ketiga saudaranya yang lain hanya bisa bergidik melihat Silvya. Meskipun mereka kerap melihat Silvya berperilaku kejam, namun saat salah satu dari mereka yang jadi target bersenang senangnya Silvya membuat mereka pun menelan salivanya dengan susah payah.
" Gila… gadis ini benar benar gila. Aku benar benar kagum padamu Q." Batin Drake.
" Heh… Gadis kecil ini ternyata kekejamannya melebihi ayah kita. Kali ini kau pasti habis Jeff." Gumam Geoff.
" Hahahah rasakan dasar bajingan tengik. Q sudah menggila maka dipastikan kau akan menderita." Ian menyeringai.
Silvya masih asyik memandangi wajah Jeff yang meringis kesakitan. Ia benar benar menikmati momen ini.
" Berapa banyak yang sudah kau ambil Jeff?"
" Brengsek kau Q, aku tidak mengambil darimu. Itu juga milikku. Atas dasar apa aku harus selalu mematuhi perintahmu. Cuih…."
Silvya tidak marah dengan ucapan Jeff, ia hanya menyeringai dna melanjutkan pertanyaannya, " Kemana saja kau mengedarkan obat-obatan itu?"
" Hahahah jangan sok suci Q. Obat obatan itu sudah beredar di negara ini dengan sangat mulu. Kau saja yang bodoh baru menyadarinya sekarang."
Geoff sungguh murka kakinya sudah melangkah maju hendak menendang Jeff namun dihalangi oleh Q. Q meminta Rake mengambilkan dua kursi. Untuk nya duduk dna untuk Jeff duduk.
" Q… apa kau tidak memintanya berpakaian. Sungguh aku sangat jijik melihat tubuh telanj*ng nya itu." Keluh Ian.
" Betul Q… apalagi belalai gajahnya yang tak lagi bisa berdiri… iuuuuh… sangat menggelikan." Imbuh Drake.
Silvya hanya tertawa mendengar protes kedua saudaranya itu.
" Biarkan saja, aku belum puas dengan belalai gajahnya. Aku sepertinya berencana untuk menghabiskan biar dia menjadi seorang wanita."
__ADS_1
" Brengsek Kau Q… dasar jal*ng, bedebah, bajingan. Lihat saja aku akan membunuhmu saat ini juga."
Silvya mendekat da ia menginjak kaki Jeff lalu menekannya. Terdengar suara tulang tulang telapak kaki yang patah di bawah sana.
Kretek… kretek… argh……
Jeff lagi lagi berteriak sekencang mungkin.
" Ge… Bawa dia ke markas dalam keadaan begitu. Ikat tangan dan kakinya dalam posisi berdiri. Biarkan dia telanj*ng. Huft… aku akan bermain lagi nanti dengannya. Oh iya kalau kalian mau bermain dengannya silahkan tapi jangan dulu hilangkan nyawanya."
" Siap Q."
" Hoam… aku ngantuk. Aku akan pulang dulu."
Namun di luar dugaan semua orang disitu. Silvya bukan nya langsung pergi keluar dari kamar. Ia malah kembali lagi menghampiri Jeff dan melakukan sesuatu yang tak terduga.
Sreet… sreet… arghh….
Silvya mengarahkan belatinya di paha Jeff dan membuat beberapa sayatan disana. Membuat kulit putih Jeff terlihat merah karena lumuran darah. Meskipun tidak setajam tusukan, sayatan tersebut malah menimbulkan sensasi nyeri yang luar biasa.
Drake, Geoff, dan Ian hanya melongo melihat kelakuan Silvya. Setelah menyayat Jeff Silvya berjalan santai keluar sambil bersenandung kecil.
" Ge… Adik kecilmu benar benar mengerikan."
" Betul Drake. Dia sungguh iblis wanita yang kejam."
Drake dan Geoff menggeleng mendengar pertanyaan Ian.
" Hih…. Aku jadi ngeri sendiri. Pria ynag jadi suaminya harus benar benar ekstra waspada dan tidak boleh melakukan kesalahan jika tidak bisa habis olehnya nanti."
" Benar katamu Ian. Aku khawatir gadis kita itu tidak akan pernah bisa menikah. Laki laki mana yang bisa menakhlukannya."
Ketiga pria itu malah ngerumpi asik melupakan seseorang yang tengah menjerit dan berteriak kesakitan.
" Brengsek kalian semua… awas saja kalian ya."
Ian menutupi telinganya menggunakan kedua tangannya. " Haish… berisik. Ge… kita sumpal saja mulutnya."
Geoff hanya menggeleng pelan, ia mengambil selimut lalu menggulung tubuh Jeff dengan selimut tersebut dan menyumpal mulut Jeff dengan dalam*n milik Jeff sendiri. Geoff membopong Jeff untuk dibawa ke markas.
🍀🍀🍀
Silvya sampai di rumahnya sudah larut malam. Ia langsung memasuki kamarnya dengan memanjat tembok.
__ADS_1
Hap….
Beruntung jendela kamarnya tidak terkunci sehingga Silvya dengan mudahnya bisa masuk. Ia langsung menuju kamar mandi menyalakan air hangat dan merendamkan tubuhnya di sana.
Silvya menyandarkan tubuhnya di bath up dan memejamkan kedua matanya. Ia mengingat apa yang sudah dia lakukan baru saja. Tapi tiba tiba bayangan Dika muncul ditengah memori kekejamannya terhadap Pablo dan Jeff.
Hah….
Silvya membuang nafasnya kasar. Ia pun mengambil ponselnya dan membuka nomor Dika. Silvya ingin sekali menghubungi Dika saat ini. Namun ia urung, ia kembali meletakkan ponselnya dan menikmati air hangat plus sabun aromaterapi yang tuangkan tadi.
Kring……
Ponsel Silvya berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya dan ternyata itu adalah panggilan video dari Dika.
" Astagfirullaah …. Sisi, kamu mau menggodaku malam malam begini."
Silvya tidak mengerti apa yang dimaksud Dika.
" Menggoda apa mas. Aku juga nggak ada di dekatmu kok."
" Itu ….. Squishy mu menantang minta di isep."
Silvya mencerna kalimat Dika. Sedetik, dua detik, dan setelah beberapa detik dia baru paham bahwa dirinya melakukan video call dengan berendam di bathup.
"Astaga… maaf mas."
Silvya pun kembali menyandarkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan busa busa sabun. Kali ini hanya kepalanya saja yang terlihat.
Dika menggeleng pelan melihat tingkah istrinya yang sembarangan.
" Sisi… lain kali jangan bawa ponsel ke kamar mandi. Untung yang telpon aku, kalau orang lain gimana coba."
" Iya mas.. Iya… maaf nggak diulang lagi."
" Good girl. Kok jam segini baru mandi."
" Oh… itu… tadi agak sibuk di perusahaan jadi nglembur dan baru sempet mandi."
" Ya sudah kalau gitu. Buruan berendamnya jangan lama lama dan pergi tidur. Aku ada operasi sebentar lagi. Assalamualaikum."
" Iya mas… waalaikumsalam."
Silvya membuang nafasnya kasar, ia sungguh merasa bersalah telah membohongi Dika. Dia berjanji suatu hari nanti dia akan mengatakan semuanya dengan sejujur jujurnya.
__ADS_1
" Maafin aku mas."
TBC