
" Assalamualaikum mom… dad…"
" Waalaikum salam… nak kapan kamu sampai rumah. Mommy sama daddy nggak lihat kamu pulang?"
Fatimah dan Harold terkejut melihat putrinya yang menuruni tangga dengan pakaian kerja yang sudah begitu rapi. Sedangkan Silvya ia hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan mommy nya. Ia mendekat lalu memeluk Harold dan kemudian memeluk Fatimah dengan erat. Kemudian Silvya mencium pipi Fatimah dengan sayang.
Fatimah yang melihat putrinya tampak lain hanya mengedipkan matanya menatap sang suami.
" Ada apa hmmmm? Kenapa sepertinya putri mommy terasa sangat manja."
Silvya melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Fatimah.
" Huft…. Sisi hanya sedikit merasa minder."
Sesaat Fatimah terkejut mendengar Silvya menyebut dirinya dengan Sisi. Pasalnya itu adalah panggilan kesayangan Zion. Namun segera mungkin Fatimah tersadar dari keterkejutannya. Ia pun memanggil Silvya dengan sebutan Sisi juga.
" Memangnya Sisi minder kenapa?"
" Iya, apa yang membuat Sisi minder. Anak daddy juga hebat. Seorang pebisnis muda yang hebat."
Fatimah mengangguk menyetujui ucapan sang suami.
" Mas Dika itu beneran dokter hebat mom dad… fans nya banyak banget di tempat kerjanya."
" Emang Sisi pernah ke rumah sakit?"
" Pernah… Nah waktu itu orang orang pada ngeliatin Sisi sinis gitu. Berasa Sisi merebut benda berharga mereka. Oh iya kemarin mas Dika ngajak Sisi ke rumah."
Harold yang mendengar hal tersebut terlihat antusias. Pasalnya dia sendiri sudah lama penasaran dengan keluarga Dwilaga yang cukup terkenal itu.
" Si… Bagaimana keluarga mereka Si. Apakah tampak dingin seperti di media."
" No Dad, mereka sangat humoris dan menyenangkan. Ayah, bunda, mas Radi, Andra, dan Jani sungguh welcome terhadap Sisi."
Fatimah bernafas lega mendengar hal tersebut dari mulut putrinya. Ia bersyukur jika keluarga mereka menerima Silvya dengan baik.
Silvya melihat jam di tangannya." Oh God, mom dad, I'm late. Sisi berangkat dulu ya assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Harold dan Fatimah hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan putrinya.
" Dad… aku bersyukur Sisi bisa mendapatkan suami yang baik seperti nak Dika."
" Yes mom… I agree with you. Mom… apakah kau tidak ingin berdamai dengan papamu? Ini sudah lebih dari 20 tahun. Sampai kapan kamu akan terus bermusuhan dengannya."
__ADS_1
" Stopped dad… aku bukan nya memusuhi papa. Aku hanya tidak bisa menerima apa yang papa kerjakan itu saja. Sudah Dad. Stop untuk membahas ini."
" Oke oke honey… baiklah. Astaga… istriku kalau marah begitu menakutkan."
" Kau yang mencari masalah itu kak."
" Woohoo aku rindu panggilan itu sayang. Bisakah aku mendengar sekali lagi."
" Dad, kita sudah bukan anak muda lagi."
" Oh ayolah honey… sekali lagi."
" Baiklah… Baiklah… kak Harold."
Harold langsung memeluk Fatimah. Ia tersenyum lebar mendengar panggilan itu. Namun sebenarnya hatinya juga gundah, sudah hampir 20 tahun Fatimah belum juga bisa berdamai dengan sang papa. Hingga saat ini pun mereka tidak tahu dimana gerangan sang papa.
🍀🍀🍀
Silvya pagi ini tidak langsung ke perusahaan. Ia menyempatkan mampir dulu ke rumah sakit untuk membawakan baju dan sarapan untuk Dika. Ia tahu bahwa suaminya kali ini tidak pulang ke rumah jadi Silvya tadi mengambil pakaian Dika di rumah.
Silvya memarkirkan mobilnya di halaman dan memasuki gedung rumah sakit. Ia berjalan begitu anggun. Semua terpesona melihat kecantikan Silvya. Wajah bule blasteran itu sungguh terlihat cantik dengan mata berwarna coklat dan rambut dengan warna yang sama.
Silvya menggunakan setelah baju kerja berupa celana bahan warna hitam dan blazer warna senada sungguh kontras dengan kulit putihnya. Penampilannya tampak sempurna dengan sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi sungguh membuat kaki jenjangnya tampak indah membuat iri para wanita.
Beberapa orang berbisik melihat Silvya. Agaknya dengan tampilannya saat ini tidak ada yang tahu bahwa dia adalah si cupu yang waktu itu mereka gosipkan.
" Silvya CEO Linford Transportation???"
" Iya… dia dikenal sebagai pebisnis wanita muda yang sukses lho."
" Benar benar… namanya pernah ada di majalah bisnis 'WAKTU', ia menjadi cover depan majalah itu."
" Wuiiih hebat."
Silvya berlalu saja tanpa menggubris orang orang yang melihatnya. Hingga ia melihat suaminya baru keluar dari kantin masih menggunakan setelan baju operasi dan jubah dokternya. Silvya tersenyum lalu melambaikan tangannya. Dika sedikit terkejut melihat istrinya itu datang namun dia tamoak senang. Dika pun berjalan cepat ke arah Silvya lalu memeluk sang istri.
"Mas…. Malu diliatin banyak orang?"
" Biarin.. Aku malah pengen ngarungin kamu. Sepintas aku lihat kamu banyak yang merhatiin. Huftt… kamu kelewat cantik."
" Astaga suami dokter kulkasku ini semakin pintar ngegombal."
" Hahahaha… ya sudah mari ke ruanganku. Aku sangat risih diliatin begitu."
Seketika rumah sakit heboh dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Seorang dokter hebat bertemu CEO wanita yang tak kalah hebatnya. Mereka pun menciut dan merasa patah hati berjamaah. Bahkan mereka melupakan fakta bahwa beberapa hari yang lalu dokter Dika membawa seorang gadis cupu ke rumah sakit ini juga.
__ADS_1
Di ruangannya, Dika belum juga melepaskan tangannya dari pinnggang Silvya. Ia malah semakin mengeratkan tangannya dan memeluk sang istri.
" Mas… aku harus segera ke kantor."
" Sebentar saja...biarkan seperti ini sebentar saja."
" Baiklah."
Silvya pun membalas pelukan Dika. Ia menepuk nepuk punggung Dika. Silvya merasa sepertinya suaminya itu baru saja mengalami malam yang buruk. Silvya pun membiarkan Dika seperti itu hingga 10 menit lamanya.
" Sudah?"
" Ya cukup… terimakasih Sisi."
" Ada apa mas? Kamu bisa cerita."
Dika menghempaskan bokongnya ke sofa diikuti oleh Silvya.
" Huft… kamu ingat semalam aku video call kamu?"
" Iya mas. Katanya kamu mau operasi."
" Ya setelah itu aku memiliki satu pasien untuk dioperasi. Dia seorang pria berusia 65 tahun. Pria itu menderita penyakit jantung koroner. Sebenarnya sudha tidak rekomen untuk dioperasi tapi dia dan anak cucunya memaksa untuk operasi. Ya sudah aku mengoperasi nya dengan resiko yang sudah dijelaskan sebelumnya. Huft…."
Dika menghentikan ceritanya. Silvya sudah paham apa yang terjadi setelahnya.
" Tidak usah diteruskan aku paham. Mas… dokter itu hanya perantara. Semua Tuhanlah yang memutuskan. Dan ada kalanya seorang yang dianggap hebat juga memiliki kelemahan. Mungkin itu cara Allaah memperlihatkan kuasanya yang sesungguhnya. Bahwa Dialah yang Maha Hebat."
Dika sejenak tertegun dengan ucapan Silvya. Ia pun tersenyum dan merasa senang bahwa ia beruntung mendapatkan istri seperti Silvya. Silvya bisa menenangkan hatinya yang tengah gundah.
Cup… Silvya mencium bibir Dika sekilas.
" Baiklah suamiku… istrimu ini juga akan berangkat bekerja. Ini baju dan sarapanmu."
Dika menyingkirkan paper bag yang diberikan Silvya lalu menyeringai.
" Aku ingin sarapan yang lain."
Tanpa aba aba Dika langsung menyesap bibir Silvya. Silvya membelalakkan matanya mendapat serangan dari Dika. Cukup lama mereka saling menghisap hingga Dika melepaskan pagutannya.
" Huftt apakah pernikahan kita tidak bisa dipercepat. Besok gitu… atau kalo nggak macam sinetron dan novel yang diberi tulisan seminggu kemudian. Biar cepet pas hari H nya."
" Hahahah kamu ada ada aja mas. Sabar… tinggal seminggu lagi kok. Dan aku akan jadi milikmu seutuhnya."
Silvya mengedipkan matanya nakal membuat Dika gemas dan ingin menerkam istrinya itu. Namun Silvya sudah berhasil berdiri dan berlari keluar dari ruangannya.
__ADS_1
" Awas kau, kalau sudah resmi nanti takkan ku biarkan kau istirahat."
TBC