Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 48. Obsesi Tania


__ADS_3

Dua bab untuk hari ini ya readers... Yuk Jangan lupa like dan sawerannya ya hehehe. Terus dukung karya Othor ya.... Semoga yang like sebanyak yang baca juga. Untuk silent readers... Yuk tinggalkanlah jejak. Agar kami para Author semangat menyajikan bacaan yang lebih bagus lagi. Terimakasih...


Happy Reading


...****************...


Tania yang berada di rumahnya kembali membuat keributan. Ia berteriak saat baru sampai ke rumah dan melemparkan tas kerjanya ke sembarang arah.


" Bibi…. Aku haus. Ambilkan minum!!"


Seorang art datang dengan langkah seribu menghampiri sang nona dengan membawa segelas air mineral.


" Ini non…."


Glek...glek...glek… 


" Bi… papa nggak pernah pulang emang?"


" Tidak non. Tuan tidak pernah pulang. Apa tuan tidak pernah memberi kabar kepada nona?"


" Yaelah bi kalau aku tahu aku nggak bakalan nanya."


Tania kemudian melenggang pergi menuju ke kamarnya. Art yang bernama Bi Inah itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah Nona nya.


" Bi… Kok bisa ya seorang yang mempunyai temperamen seperti itu menjadi dokter?" Tanya seorang art yang lain.


" Hustt… Ijah. Jangan bicara sembarangan. Nanti kalau Nona denger kamu bisa diamuk."


Seorang art yang bernama Ijah itu langsung menutup mulutnya dan menguncinya rapat.


Di rumah ini semua orang tahu bahwa Tania adalah gadis yang mempunyai temperamen buruk. Namun bagai punya dua sisi sesaat di rumah sakit atau saat dia sedang bekerja Tania menjadi pribadi yang ramah dan lembut. Lisa sendiri sebagai sahabat Tania tidak pernah tahu sifat asli Tania saat berada di rumah. Yang Lisa tahu Tania adalah gadis periang yang baik ramah dan lembut terhadap para pasiennya.


Sifat temperamen Tania hanya keluar saat dia berada di rumah. Entah mengapa Gadis itu seperti mempunyai dua kepribadian. Mungkin karena dia tidak pernah merasakan memiliki seorang ibu membuat Tania tumbuh jadi gadis yang keras. Tania tidak pernah tahu siapa ibunya, sedari kecil dia hanya bersama sang ayah.


Kami sempat bertanya kepada Bi Inah. Tapi Tania tidak mendapatkan informasi apapun karena Bi Inah juga tidak tahu. Saat dia mulai bekerja di rumah ini untuk merawat Tania, Bi Inah tidak pernah mengetahui dan melihat sosok istri dari Tuannya. Pernah tanya mencari album foto siapa tahu ada foto ibunya di sana tapi tetap nihil dia tidak menemukan apapun juga. Ketika bertanya kepada sang ayah, ayahnya pun hanya bisa bungkam.


Di dalam kamar Tania berteriak sekencang mungkin.

__ADS_1


"Argh…… kenapa sih… kenapa… kenapa dia nggak pernah bisa melihat ku. Apa dia tidka tahu aku menyukainya sejak lama. Apa kurangnya aku ketimbang wanita itu. Argh……"


Tania mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia melihat foto Dika yang ia tempel di dinding kamarnya satu persatu. Bukan hanya satu dua foto melainkan puluhan foto. Dalam foto-foto tersebut menampilkan berbagai macam ekspresi Dika. Dan yang menjadi favorit Tania yakni saathika tersenyum bukan senyum untuknya tapi senyum untuk. Dika yang terkenal datar dan dingin tidak pernah tersenyum dengan sesama karyawan di rumah sakit tempat mereka bekerja.


Seketika Tania menyeringai. Iya tersenyum dan kemudian tertawa terbahak bahak.


" Hahahah…. Lihat saja… Aku pasti bisa mendapatkanmu. Aku Tania Ereina Thomson pasti mendapatkan apa yang ku inginkan. Dari dulu aku selalu mendapatkan semua yang kuinginkan. Jadi aku tidak akan menyerah kali ini juga. Bahkan jika kamu tidak bisa aku miliki maka kamu juga tidak akan bisa dimiliki oleh orang lain sayang."


Tania mencium foto Dika dengan seringai yang mengerikan. Mungkin jika ada yang tahu kelakuan Tania saat berada di rumah, tidak akan ada satu pasien pun yang berobat kepadanya.


🍀🍀🍀


Kapal pesiar tepat pukul 20.00, Dika tengah bersiap bersama tim untuk melakukan operasi. Dika memberikan briefing singkat kepada timnya.


" Baiklah… Sebelumnya Saya tidak mengenal Anda semuanya tapi saya yakin anda adalah orang yang berkompeten dalam bidang masing-masing. Saya ingin kita bisa bekerja sama dengan baik dan menyelesaikan operasi ini dengan lancar. Saya merasa anda semua sudah tahu operasi transplantasi hati ini membutuhkan waktu sekitar 6 sampai 12 jam. Akan ada dua tim yang bergantian dalam operasi untuk meminimalisasi kesalahan. Tapi saya akan tetap memimpin operasi sebagai dokter utama. Baiklah Apakah ada pertanyaan?"


Semua orang menggeleng. Mereka sudah siap untuk melakukan operasi ini.


" baiklah jika tidak ada pertanyaan Mari kita berdoa sebelum melakukan operasi. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing berdoa dipersilahkan…. Selesai."


" Bismillaah…. Nest…"


" Reaktor…. Irrigation...apakah di sebelah sudah hampir selesai?"


" Sudah berjalan setengahnya dokter.."


" Baik… mari kita ambil jaringan yang rusak  harus hati hati."


Dika benar benar fokus melakukan tugasnya. Di luar Silvya berkali kali melihat arloji di tangannya dan  menghitung waktu. Sudah berapa lama sang suami ada di dalam. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Berarti sudah 7 jam sejak pertama Dika memulai operasi.


" Apakah pekerjaannya begini? Menyelamatkan nyawa orang ternyata bukan hal yang mudah, huft….sungguh sangat lama. Lebih cepat menghilangkannya. Sekali klik….hilang tuh nyawa orang."


Silvya bergumam tidak jelas. Dia bukannya mengkhawatirkan Frederik yang tengah berjuang hidup, tapi malah khawatir dengan kondisi sang suami yang menurutnya sudah bekerja sangat lama.


" Lagi lagi aku mikir, kita itu bagai bumi dan langit. Mas Dika sekuat tenaga menyelamatkan nyawa orang. Gillaaa 12 jam, bukan waktu yang singkat. Dia nggak makan juga kaya orang puasa. Lha sedangkan aku, aku sekuat tenaga membunuh untuk menghilangkan nyawa orang paling paling cuma butuh waktu 5 menit kalau pakai senjata api. Tinggal tembak kepalanya saja doooor… mati. Kalau pakai senjata tajam, paling setengah jam lah. Hufttt….. Apa iya aku bisa selamanya menjadi istri mas Dika."


Silvya kembali memikirkan profesi keduanya yang sangat bertolak belakang. Silvya si pembunuh keji dan Dika si penyelamat nyawa.

__ADS_1


Tiga jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 5 pagi, Silvya ternyata tertidur di kursi depan ruang operasi. Ia sengaja meminta anak buah Frederik untuk menempatkan kursi di sana untuk dia bisa menunggui sang suami. Selain itu juga agar Silvya segera tahu saat Dika selesai melakukan operasi.


Cekleek….


Pintu ruang operasi terbuka. Dika keluar dari sana dan membuang masker, sarung tangan serta jubah operasinya ke tempat sampah. Silvya pun berdiri menghampiri Dika.


" Mas… kamu apa kamu capek?"


Dika tersenyum melihat sang istri yang begitu khawatir kepadanya. Dika lalu membelai lembut kepala sang istri.


" Apa kamu menunggu sepanjang malam disini?"


Silvya mengangguk. Ia lalu menggamit lengan Dika dan membawa Dika untuk duduk di kursi. Ia berlari ke pantry dan membawakan air mineral untuk sang suami.


Dika menerima air pemberian Silvya dan meminumnya hingga habis.


" Terimakasih sayang, kamu tidak penasaran dengan operasi temanmu?"


" Oh iya bagaimana operasi Erik."


" Alhamdulillaah lancar, tapi harus dipantau terus. Semoga tidak ada penolakan dari tubuhnya."


"Syukurlah kalau begitu. Apa mas sangat capek. Apakah mau tidur dulu?"


" Lumayan… nanti. Aku mau sholat subuh dulu baru rebahan sebentar. Aku belum bisa tenang jika pasien belum sadar."


" Astaga… jadi dokter ternyata begitu syulit. Menyelamatkan nyawa tidak semudah menghilangkannya."


" Maksud kamu??"


Silvya tergagap. Ia keceplosan di depan sang suami. Ia pun secepat kilat membawa Dika ke kamar agar suaminya itu tidak bertanya lebih banyak lagi.


" Udah… mas sholat dulu. Nanti waktunya habis."


Dika mengangguk. Silvya pun menghembuskan nafasnya lega. Ia beruntung Dika tidak memperpanjang ucapannya tadi. Namun sebenarnya Dika penasaran dengan perkataan sang istri.


Dika pun bergumam pelan, "Si… apa kamu juga membunuh seperti cerita mafia mafia dalam film itu?"

__ADS_1


Rasa penasaran Dika terhadap apa yang dikerjakan Silvya sebagai pemimpin mafia semakin mencuat.ingin sekali Dika menanyakan kepada istrinya itu namun ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat. Dika kembali memendam sejuta pertanyaannya. perkenalan singkat dengan Silvya membuat Dika belum tahu siapa Silvya sebenarnya. Akan tetapi Dika meneguhkan hatinya bahwa Silvya adalah pelabuhan pertama dan terkahir cinta nya. Seperti apa istrinya dan fakta apa mengenai Istrinya sebagai Ratu mAfia akan Dika terima. Bukanlah cinta itu menerima kelebihan dan kekurangan? Bukankah cinta itu saling melengkapi?


TBC


__ADS_2