
Sehari berlalu dengan kegiatan mendistribusikan semua serum ke anak buah Black Wolf dan Wild Eagle. Kini mereka sudah terlindungi dari dalam dan luar. Mereka bersiap untuk menyambut para musuh.
Sedangkan di kubu Paulo, juga sudah mulai berdatangan kelompok demi kelompok. Saat ini mereka tengah mengecek persenjataan mereka. Dari senjata api sampai senjata rahasia klan mereka. Yakni jarum beracun. Senjata tersebut memang diciptakan oleh Rodriguez. Senjata tersebut menjadi senjata menakutkan karena bisa langsung melumpuhkan musuh saat mengenai kulit.
" Bagus, kapan semua akan lengkap berkumpul di sini Lim, Greg?"
" Mungkin nanti malam, paling lambat besok."
" Baiklah Greg terus berkoordinasi dengan mereka. Dan Lim terus pastikan bahwa orang kita cukup untuk menghadapi mereka."
Lim mengangguk mengerti. Setelah memberi instruksi, Paulo meninggalkan mereka untuk pergi entah kemana.
" Apa yang kau pikirkan Lim."
" Aku ingin pergi dari sini Greg. Aku memiliki feeling bahwa kita akan kalah."
Greg terdiam, sebenarnya apa yang dikatakan Lim ia juga merasakannya. Namun dia sendiri bingung harus bagaimana.
" Aku sepemikiran denganmu Lim. Tapi kita harus menyelesaikan ini sampai akhir. Bersabarlah paling lama 2 - 3 hari lagi semua ini akan berakhir Lim."
Lim mengangguk, ia menyadari bahwa semua ini akan berakhir. Tapi berakhir yang bagaimana. Berakhir dengan dia bisa lolos atau berakhir dengan kematian.
🍀🍀🍀
Harold, Greg, dan Clark masih berada di satu ruangan di sebuah rumah sakit. Dika sengaja melakukan itu atas permintaan Silvya agar mudah untuk menjaga ketiganya.
Mereka terlihat berangsur angsur pulih namun masih dalam pengawasan dokter.Â
Arga sebagai penanggung jawab untuk memantau ketiga orang dewasa itu merasa senang. Terlebih di sana ada Fatimah, ia yang yatim piatu merasa memiliki keluarga.
" Assalamualaikum semuanya, selamat pagi."
Arga menyapa semua orang di ruang rawat tersebut dengan senyum yang begiti lebar.
" Waalaikum salam, dokter Arga."
" Selamat pagi juga Dok."
Arga segera melakukan pemeriksaan. Dibantu beberapa perawat mereka langsung mengganti perban pembalut luka pada tubuh pasien.
" Baiklah bapak bapak alhamdulillah semuanya sudah semakin baik. Saya permisi dulu ya."
" Terimakasih dokter."
__ADS_1
Arga bersama para perawat keluar. Dan ketiga pasien di dalam terasa sungguh senang dengan perawatan Arga.
" Haish… kalau aku masih punya anak perempuan aku nikahkan dia."
Ucapan Harold disambut tawa semua orang di sana tak terkecuali sang istri.
" Sayangnya anakmu sudah Sold Out kak. Oh iya Clark apakah kamu sudah menghubungi Albern tentang kondisimu."
" Ya Tuhan…. Aku lupa. Tuan Albern pasti kebingungan. Aku sungguh lupa, nyonya Fatimah terimakasih telah mengingatkanku."
Fatimah tersenyum mengangguk. Ia sendiri juga sebenarnya ingin mengucapkan terimakasih kepada Albern atas apa yang telah ia lakukan kepada dirinya dan suaminya.
" Hubungi dia Clark. Dan ucapkan terima kasih kepadanya."
" Kau sungguh tidak sopan Harold. Mengucapkan terimakasih melalui orang lain. Memangnya kau tidak punya mulut untuk mengucapkannya sendiri."
Suara seorang pria yang begitu mereka kenal muncul dari pintu. Ya Albern datang ke rumah sakit untuk mengunjungi temannya itu.
Semuanya benar benar terkejut melihat Albern di sana. Mereka tidak menyangka orang yang baru saja diingta sudah ada di depan mereka.
" Panjang umur kau Albern. Baru saja kami mengingat dan membicarakan mu, kau sudah berdiri di depan kami."
Ucapan Geoff sukses membuat semua orang tertawa.
Ya, setelah mendapat telepon dari Paulo, Albern langsung menghubungi Silvya.
" Hallo Queen…"
" Hallo… oh Si Tua Albern. Ada apa kau mencariku. Tumben sekali."
" Aku baru saja mendapat telpon dari Paulo Q. Dia adalah pengikut setia Rodriguez. Dia baru saja memintaku untuk membantunya menyerang mu dan Arduino."
" Ooh begitu. Baiklah aku akan memberi Arduino soal ini. Mungkin dia tahu siapa Paulo itu."
" Ya kalian berhati hatilah. Oh iya bagaimana kabar orang tuamu?"
" Daddy di rumah sakit Mitra Harapan bersama dengan Geoff dan juga Clark. Mereka mendapat beberapa luka tembak atas ulah Rodriguez."
" Astaga… baiklah aku akan berkunjung ke sana. Kalian berhati hatilah."
" Ya terimakasih untuk informasinya Pak Tua."
Albern membuang nafasnya kasar. Ia tidak akan mengatakan mengenai rencana penyerbuan anak buah Rodriguez kepada orang orang di depannya itu. Dalam hatinya ia berdoa agar anak anak Harold dan Fatimah baik baik saja.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan kalian?"
" Seperti yang kau lihat Al. Masih di atas tempat tidur dengan perban dimana mana."
Jawaban Harold diikuti anggukan kepala Clark dan Geoff. Mereka akhirnya berbicara dengan santai. Meskipun begitu Albern sedikit gelisah saat kembali mengingat ucapan Paulo.
" Clark, kau begitu banyak mendapatkan luka? Oh iya aku dengar Rodriguez dibawa Arduino dan Silvya."
" Ini semua ulah Rodriguez tuan. Dia memberi kami banyak tembakan. Beruntung tidak mengenai organ vital kami. Iya Rod dibawa oleh Ar dan Q ketempat lain. Mereka khawatir pengikut setia Rodriguez akan menyerang rumah sakit."
Albern terperangah mendengar penuturan dari Clark. Ternyata mereka juga sudah mengetahuinya. Aku pikir mereka tidak tahu.
" Bahkan kemarin mereka menyerang lantai 17 dengan membawa banyak Heli."
Ucapan Harold menambah keterkejutan Alber. Ia sungguh tidak menyangka anak buah Rodriguez begitu nekat.
" Ya Tuhan. Mereka sungguh nekat."
" Ya kau benar Al. Mereka memang nekat. Beruntung Arduino memiliki rencana untuk memindahkan kami semua. Jika tidak mungkin kami sudah jadi sasaran empuk bagi mereka."
Fatimah yang melihat suasana ruangan tersebut menjadi tegang segera mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ia tidak mau membicarakan hal seperti itu karena hanya akan menambah rasa kekhawatiran terhadap putra putri nya.
" Oh iya kak Al apakah kau kemari sendirian. Ku dengar kau punya seorang putra."
" Iya Fat, aku sendirian. Putraku Darrius sungguh sibuk di perusahaan kami. Kami memiliki sebuah perusahaan minuman bersoda. MoonDrink."
" Waaah itu milik kalian. Hebat kak."
" Haish… putrimu tak kalah hebat Fat. Di usianya yang masih sangat muda sudah menjadi seorang bisnis women dan sukses membawa Linford Transportation ke ranah internasional."
Fatimah tersenyum, ia sendiri bangga dengan sang putri.Â
" Bahkan lebih maju di tangan putriku dari pada saat aku yang jadi pimpinannya Al."
" Hahaha kau benar Har. Anak anak muda memang lebih aktif dan produktif. Oh iya putramu Arduino juga seorang CEO perusahaan pengolahan minyak sawit besar lho."
" Benarkah begitu."
Fatimah dan Harold saling pandang dan melempar senyum. Mereka sungguh lega sang putra memiliki kegiatan lain selain menjadi seorang mafia.
" Ya benar, bahkan perusahaan pengolahan minyak sawit nya menjadi target buruan pertama bagi para petani kelapa sawit untuk. Mereka berebut untuk menyetok sawit ke perusahaan Arduino karena harga yang ditawarkan lumayan tinggi."
Lagi lagi Fatimah tersenyum, ia sungguh lega putra putrinya memiliki hal lain yang dikerjakan saat mereka nanti memutuskan berhenti menjadi seorang mafia. Meskipun entah kapan itu akan terjadi. Namun dalam hati Fatimah ia yakin bahwa Arduino dan Silvya akan segera berhenti.
__ADS_1
TBC