Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 81. Kembar Gila


__ADS_3

Drake memberikan hasil dari pekerjaannya kepada Silvya melalui Ian. Karena memang Silvya lah yang memegang kemudi mobil, jadi Ian bertugas menerima seluruh informasi.


" Hallo Ian."


" Yoi Drake… langsung laporkan."


" Semua sudah berhasil di retas. Dan semua aman."


" Baiklah Drake, sekarang ku beri kau tugas tambahan. Awasi rumah sakit. Arduino selalu merasa akan ada kejadian besar nanti."


" Siap Q… laksanakan."


Drake menutup panggilannya dan Ian kembali fokus ke peta digital yang ada di ponselnya.


" Apakah sudah dekat?"


" Sebentar lagi Q. Sekitar 1 km lagi."


Silvya mengangguk paham. Ia pun menghubungi saudara kembarnya.


" Ar… dan semuanya. 1 km lagi kita akan sampai lokasi tujuan. Satu mobil siapa saja silahkan minggir untuk membeli semua keperluan kita di villa dari bahan makanan sampai kebutuhan yang lain."


" Apa kalian sudah mendengar perintah Queen?"


" Siap sudah King"


" Laksanakan."


" SIAP LAKSANAKAN KING!!"


Tanpa banyak bertanya, salah satu mobil dari rombongan mereka menepi ke supermarket untuk membeli apa yang diperintahkan Silvya. Sedangkan yang lain, kembali melanjutkan perjalanan.


Mereka akhirnya sampai di sebuah Villa yang terletak di tengah kebun sayur. Silvya takjub, villa tersebut benar benar tidak berada di pemukiman warga. Bahkan villa itu merupakan satu satunya bangunan yang berada di lokasi tersebut.


Semua mobil masuk ke pekarangan. Villa milik Dika sangat luas. Bahkan pekarangannya mampu menampung 10 mobil.


" Si.. Suamimu beneran sangat kaya."


" Bukan suamiku Ar. Tapi keluarganya.


" Ya… ya… ya… whatever. Bagiku sama saja. Baiklah ayo pindahkan si tua bangka itu."


Beberapa anak buah Silvya dan Arduino langsung menempatkan diri berjaga mengitari Villa dan juga ada yang di atas. Roki dan Ian membantu Menurunkan Rodriguez. Seorang dokter dan 2 perawat yang dipilih sendiri oleh Arduino pun ikut masuk ke dalam villa.


Tim medis yang berjumlah 3 orang itu langsung memeriksa keadaan Rodriguez.


" Bagaimana Jas…"


" Semua aman Ar. Hanya tinggal menunggunya bangun."


" Baiklah kalau begitu. Kau istirahatlah."


Jason mengangguk, ia dan dua orang perawat lainnya memasuki kamar di sebelah kamar rodriguez. Jason adalah teman Arduino yang ia percaya. Lebih tepatnya Jason adalah dokter pribadi Arduino.


Arduino juga meminta Jason untuk memilih perawat pria agar mudah mengaturnya. Jadi disana Silvya adalah perempuan satu satunya.


" Apakah akan aman Ar?"


" Untuk sementara ini iya."

__ADS_1


" Aku merasa kau punya maksud lain Ar."


Arduino menyeringai. Ia lalu membawa Silvya masuk ke sebuah kamar kosong. Lalu mengunci pintu kamar itu dengan segera.


" Huft… kita memang kembar. Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari mu Si."


" Cepat katakan apa rencanamu."


Silvya sudah tidak sabar dengan rencana Arduino. Saudara kembarnya itu terkadang memang tidak bisa ditebak.


" Begini Si. Aku sengaja membawa Rodriguez kesini karena menghindari orang orang dari bahaya."


" Aku tau kalau yang itu."


" Tck… Sabar… dengarkan dulu aku sampai selesai. Yang lainnya yakni, aku sengaja memancing pengikut setia pria tua itu kemari. Lalu aku akan memusnahkan mereka semua."


Silvya tersenyum lebar dengan rencana Arduino. Ia mengangguk setuju.


" Hahahah… aku sudah tahu kau tidak mungkin memindahkan Rodriguez jika tidak ada maksud lain."


" Iyalah.. Mana bisa selalu membiarkan pria tua yang sudah membuat hancur keluarga kita hidup dengan bebas. Tidak bisa… aku harus menghancurkan dia hingga ke akar akarnya. Rodriguez tanpa pengikut setia nya bukanlah apa apa.."


" Ya kau benar… Baiklah kalau begitu. Kita lihat apa reaksi pria tua itu setelah bangun dari pengaruh obat tidur nya."


" Oke.. Mari kita lihat pertunjukan."


*


*


" Woi….ini dimana dasar sial." Rodriguez terdengar berteriak.


" Apakah sudah dari tadi?"


" Lumayan Q."


Kedua pemimpin mafia itu masuk ke kamar Rodriguez dengan menutup telinga mereka.


" Kau sangat berisik… daddy…."


" Dasar anak tak tahu diuntung. Anak sialan. Percuma aku membesarkanmu tapi kau sungguh tidak berguna. Argh…. Brengsek."


Silvya duduk di sebuah kursi yang ada di sana diikuti Arduino. Silvya melipat kedua tangannya di dada, sedangkan Arduino ia memainkan rambut Silvya. Arduino menyisir rambut Silvya dengan jari jari tangannya lalu membuat kepang di rambut saudara kembarnya itu.


" Woaah Ar… bagaimana kau bisa mengepang rambut."


" Tck… tidak ada yang tidak bisa kulakukan si."


" Ooh ini sangat cantik Ar…"


" Ya kau memang cantik Sisi."


Roki dan Ian hanya terheran heran melihat kelakuan pemimpin mereka.


" Roki… apa benar dia adalah King Mafia yang kejam? Mengapa bisa bersikap begitu?"


" Entahlah Ian. Aku rasa mereka mkkb, masa kecil kurang bahagia. Lihatlah dua pemimpin mafia yang kejam dan ditakuti tengah bermain salon salonan begitu. Astaga Ian aku sungguh malu. Jika para anak buah tahu entah apa yang ada dipikiran mereka."


Ian dan Roki menggelengkan kepala melihat perilaku Silvya dan Arduino. Sedangkan Rodriguez tampak geram ia sungguh marah.

__ADS_1


" Hai kalian bocah tengik beraninya bermain dan mengabaikanku. Brengsek kalian berdua."


Silvya bangun dari duduknya diikuti Arduino. Mereka menghampiri Rodriguez.


" Ar, sepertinya ada yang berisik. Dia sungguh mengganggu kita."


" Apa perlu aku membuatnya diam kakak ku?"


Silvya mengangguk manja kepada Arduino. Dengan cepat Arduino mengambil sebuah kain dan menyumpalkan ke mulut Rodriguez.


" Apakah begini lebih baik Sisi."


" Ya… Aku rasa begitu Ar.. Ar… Apakah kita perlu bermain dokter dokter an juga."


" Hmmm boleh juga."


Kedua saudara itu mendekati Rodriguez. Pria itu melototkan matanya, ada rasa takut yang menghinggapinya saat melihat Silvya dan Arduino mendekat.


"Hmmmppppp….!!!"


Rodriguez berteriak tanpa suara saat kakinya yang terkena luka tembak di tekan oleh Silvya dengan keras sehingga darah kembali keluar. Arduino pun tak kalah kejam, ia juga menekan lengan Rodriguez dengan sangat kuat.


"Hmppp…!!!"


Rodriguez kembali berteriak tanpa suara. Pria itu menggelengkan kepalanya. Saking sakitnya ia sampai mengeluarkan air mata.


" Yaah…. Pasiennya mengeluarkan darah Ar."


" Oh iya Si… Ayo kita obati."


Rodriguez menggeleng kencang. Ia tidak ingin lagi disakiti oleh kedua bocah gila itu.


Roki dan Ian menelan saliva mereka dengan susah payah.


" Ian… aku tarik kata kataku yang tadi. Mereka memang kejam dan gila."


" Kau betul Rok.. Aku setuju dengan mu. "


Silvya dan Arduino kembali bermain main dengan Rodriguez. Sedangkan Roki dan Ian hanya bisa bergidik ngeri melihat dua saudara kembar itu tengah mempermainkan mangsanya.


" Ar… Aku lelah. Udahan yuk."


" Oke Sisi… kita selesai. Roki… panggil Jason untuk mengobati Rod."


" Siap Ar."


Silvya dan Arduino melenggang keluar dari kamar Rodriguez dan tak berselang lama Jason dan dua perawatnya masuk. Jason sungguh terkejut melihat keadaan Rodriguez. Pasalnya tadi dia masih baik baik saja dan sekarang sungguh membuat Jason terperangah.


" Astaga… Apa yang terjadi… mengapa perbannya berhamburan dan darahnya merembes kemana mana. Ya Tuhan…"


" Ulah temanmu dan saudara kembarnya Jas."


" Gila… Astaga… tak kusangka ada sepasang saudara yang benar benar gila seperti mereka. Mengapa keduanya bisa sama gilanya."


Roki hanya menaikkan bahunya tanda ia tak mengerti. Jason lalu meminta dua perawatnya untuk membantu. Kedua orang tersebut pun begitu ngeri dengan kondisi Rodriguez.


" Lihatlah apa yang King dan Queen mafia itu lakukan. Kalian jangan pernah berbuat macam macam jika ingin nasib kalian baik baik saja."


Jason memberi peringatan kepada dua perawat itu, dan mereka hanya menelan saliva mereka masing masing dengan susah payah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2