
Dika dibawa ke ruangan Pak Direktur, namun sebelumnya dia meminta izin dulu untuk menghubungi keluarganya. Pasalnya ponselnya hilang dan dia tidak bisa menghubungi siapapun.
" Baiklah dokter…. Memang sebaiknya anda menghubungi keluarga anda terlebih dahulu. Saya yakin mereka pasti akan sangat khawatir."
" Terimakasih pak direktur saya kebagian CS dulu meminjam telepon."
Direktur rumah sakit tersebut berjalan kembali menuju ruangannya dan Dika berjalan ke bagian CS untuk meminjam telepon.
" Sus… Saya pinjam teleponnya ya."
" Iya dokter Dika silahkan."
Dika menekan nomor ponsel sang kakak. Tak berselang lama pun telepon Dika pun tersambung.
" Hallo kak Radi…."
" Dika… ini beneran kamu."
Diseberang sana semua orang tampak lega mendengar Radi yang menyebut nama Dika. Radi pun mengatur panggilan tersebut dengan mode loudspeaker agar semua orang di rumah bisa mendengarnya.
" Kak…Dika nggak apa apa… semuanya baik baik saja. Sekarang Dika ada di rumah sakit. Setelah menemui pak direktur, Dika akan pulang ke rumah. Udah dulu ya kak… Assalamualaikum"
"Waalaikum salam…"
" Alhamdulillaah…"
Keluarga Dwilaga mengucapkan rasa syukur mendengar kabar anggota keluarga mereka baik baik saja. Kini semua dapat bernafas lega.
Di rumah sakit, Dika langsung menuju ke lantai dimana ruang Direktur rumah sakit berada.
Tok...tok...tok…
" Selamat malam Pak."
" Oh… dokter Dika... Selamat malam ayo mari masuk. Apakah luka kamu sudah diobati."
" Sudah Pak tadi saya minta bantuan teman untuk mengobati luka saya."
" Baiklah mari silahkan duduk."
" Saya sungguh minta maaf Pak karena kejadian hilangnya saya semua jadi kacau."
" Tidak apa-apa dokter Sebenarnya ada apa. Coba dokter Dika jelaskan."
" Begini pak direktur... saat saya kembali dari rumah tiba-tiba saya dihadang oleh sebuah mobil muncul 4 orang berbadan besar. Saya berusaha melawan tapi kekuatan saya tidak sebanding dengan mereka. Saya dibawa ke suatu tempat tapi saya tidak tahu tempat tersebut di mana. Saat mereka ingin memindahkan saya ke tempat lain saya berhasil kabur namun saya dikejar oleh satu orang. Beruntung pak cuma satu orang jadi saya bisa mengalahkannya."
" Huft…. Untuk kamu nggak pa pa Dika. Kalau sesuatu terjadi sama kamu… om nggak ngerti lagi harus ngomong apa sama ayahmu."
__ADS_1
" Hahaha… aku nggak apa apa kok om. Om Bisma tidak perlu khawatir. InsyaaAllaah aku nggak apa apa. Oh iya Om… Dika mau izin sekitar seminggu boleh?"
" Mau apa… kalau kamu tinggal seminggu terus pasien pasien gimana."
Direktur rumah sakit tersebut ternyata adalah om Dika dari pihak ibu. Dengan kata lain Bisma adalah adik dari Sekar.
" Om… masih banyak dokter lain yang hebat juga. Nggak harus aku… lagian selama ini aku nggak pernah cuti kan...kan…"
" Ya...ya...ya… kau menang. Baiklah dokter Dika. Cuti anda saya acc."
" Terimakasih pak direktur. Hahahah…."
" Ya sudahlah… Buruan pulang. Bunda dan ayahmu pasti khawatir."
" Baiklah Om… Aku pamit ya..Om nggak pulang."
" Nanti… Sepertinya aku menginap."
" Makanya nikah om… nggak nginep nginep di rumah sakit mulu."
" Sialan… dasar ponakan durhakim"
Dika tertawa sambil keluar dari ruangan sang paman. Memang usia Bisma dan Dika tidak terlalu jauh. Dika berusia 26 tahun sedangkan Bisma 32 tahun. Dari kecil mereka sudah akrab. Dan sampai usia saat ini Bisma belum juga memiliki pasangan. Hal tersebut membuat Bisma menjadi bahan olokan oleh Dika.
Bisma lega, ponakannya itu tidak kenapa napa. Meskipun dia merasa sedikit janggal dengan cerita Dika. Bagaimana tidak, dia baru saja menghilang tapi tiba tiba minta cuti setelah nya. Namun Bisma sendiri tidka mau berburuk sangka. Benar apa yang dikatakan Dika bahwa dia selama ini memang tidak pernah libur. Jadi tidka ada salahnya untuk Dika ambil cuti yang merupakan hak setiap karyawan.
Silvya yang sudah sampai di rumah, membuat kedua orang tuanya bernafas lega.
" Alhamdulillaah… kamu baik baik saja nak."
" Ada apa memangnya mom…"
Silvya pura pura tidak tahu. Ia bersikap tenang saat berbicara dengan mommy dan daddy nya.
" Tadi orang tua nak Dika kesini. Sebenarnya ayahnya dan kakak nya. Mereka mencari nak Dika. Karena dari siang dia menghilang. Lalu nomor ponselmu mati. Kami semua panik. "
" Apa… ?? terus sekarang sudah ada kabar belum?"
Silvya lagi lagi berpura pura. Ia menampilkan ekspresi wajah yang penuh kekhawatiran.
" Saat ini belum ada kabar apapun. Tenang ya nak… nanti jika nak Dika kembali pasti mereka berkabar."
Kring….. Kring…..
Ponsel Harold berbunyi. Ia pun langsung menjawabnya. Mendengar berita dari seberang sana Harold pun tersenyum lebar.
" Alhamdulillaah… nak Dika sudah di rumah."
__ADS_1
" Alhamdulillaah."
Silvya dan Fatimah begitu lega mendengarkan ucapan Harold. Silvya pun izin ke kmaar terlebih dahulu. Nmaun sebelumnya ia melakukna basa basi agar kedua orang tuanya tidka menaruh curiga.
" Syukurlah kalau begitu. Huftt... Aku sudah panik aja. Ya sudah mom...dad...silvya mau ke kamar dulu, mau ngecarger hanphone dan menghubungi mas Dika. Oh iya mom...dad...beberapa hari kedepan Silvya harus ke luar kota. Ada pekerjaan."
" Baiklah nak… tapi hati hati dan jaga kesehatan jangan lupa kabari nak Dika."
Silvya tersenyum dan mengangguk. Ia pun berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
🍀🍀🍀
Di ruang bawah tanah markas Wild Eagle, Jeff yang ditahan di sana tampak tidak bertenaga sama sekali.
Jeff yang masih telanj*ng itu tampak menggigil kedinginan. Bibirnya terlihat membiru. Geoff yang sedang menjenguknya pun melemparkan selimut kepada Jeff.
" Ge…. Berikan aku baju Ge… aku kedinginan."
" Cuih…. Kau sendiri yang menginginkan bertelanj*ng. Jadi jangan sok memelas memohon begitu. Aku sungguh jijik kepadamu."
" Ge… kita kan saudara… apakah kau setega ini."
Geoff sungguh marah dengan ucapan Jeff yang seakan akan dia adalah korban disini. Rasanya Geoff ingin segera merobek mulut pengkhianat di depannya.
" Hahahha… jangan melawak. Saudara kau bilang??? Jika kau menganggap kami saudara, kau tidak akan tega menyerang Q untuk membunuhnya. Dan jika kau mengatakan kami saudara maka kau tidak akan pernah berkhianat. Kau sungguh menjijikan Jeff."
Geoff menggeretakkan gigi giginya menahan kekesalannya. Ika bukan karena Silvya ia sudah membunuh Jeff waktu itu di Tristhy Bar.
" Heh… dasar kalian semua pecundang budak wanita. Kalian semua banci yang berlindung di bawah kaki seorang wanita!"
Geoff sudah habis kesabarannya. Ia menghampiri Jeff dan menendang dada Jeff sehingga pria itu terjungkal ke belakang.
Duagh… bruk….
" Jaga mulutmu, jika sekali lagi kau menghina Q. Maka akan ku pastikan disinilah nerakamu. Seharusnya kau bersyukur Q masih berbelas kasih kepadamu. Jika dia mau kau bisa lebih dibuat menderita daripada si Mocito itu."
Geoff berjalan menjauh keluar dari tempat itu. Ia mengatur nafasnya dan menetralkan emosinya. Sungguh dadanya seperti dibakar bara api mendengar Silvya di hina.
"Bahkan aku bisa merobek mulut siapapun juga jika dia berani mengatai Silvya. Amanat Ayah tidak akan pernah aku abaikan. Silvya maafkan kami nak… kamu harus mengikuti jejak buruk kami."
Geoff tergugu, ada rasa sesal melihat Silvya saat ini. Gadis kecil itu tumbuh jadi wanita perkasa yang bisa bersikap bengis dan kejam. Sungguh Geoff tidak menyangka Silvya bisa berada di jalan gelap seperti ini.
Tak terasa air mata Geoff keluar. Ian yang tanpa sengaja melihat Geoff menangis menepuk pundak Geoff.
" Sudah… nasi sudah jadi bubur. Kita tidak bisa mengembalikan lagi apa yang sudah Tuhan takdirkan."
Geoff mengangguk dengan ucapan Ian. Sungguh jika waktu bisa diputar kembali ia akan menentang keras Silvya menjadi anggota Wild Eagle.
__ADS_1
TBC