
Paulo tersenyum puas saat jalannya menuju ke arah persembunyian Rodriguez berjalan dengan mulus. Ia merasa penyerbukan kali ini sungguh diberkati. Dia tidak tahu saja anak buah Silvia telah menyebar di sepanjang jalan dan memberikan informasi akan kedatangannya.
" Hahaha, sepertinya ini akan mudah. Lihatlah tidak ada satu orangpun di sepanjang jalan ini."
Ucapan Paulo disambut anggukan oleh semua orang pengikutnya.
Di sisi lain anak buah Silvia memberi kabar kepada sang Queen.
" Queen mereka sudah datang."
" Baiklah biarkan mereka masuk, Welcome to the game."
Silvia menyeringai diikuti oleh Arduino. Keduanya tersenyum sangat lebar, mereka sudah menanti kedatangan sang musuh.
Paulo meminta anak buahnya untuk mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai di villa. Namun saat ingin mendekat ke Villa ternyata mereka sudah disajikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Para anggota Black Wolf dan Wild Eagle Idol sudah siap di luar Villa dengan menyandang senjata.
" Sial tampaknya tidak akan semudah yang kupikirkan. Kalian Bersiaplah!!!"
Semua mengikuti perintah Paulo. Mereka mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya ke depan.
Dor…
Sebuah tembakan melesat ke arah Villa. Ya tampaknya Paulo memulai pergerakan.
Tap tap tap
Beberapa dari mereka turun dari kendaraan dan menyebar ke seluruh lokasi untuk mengepung Villa.
" Habis kau !!!"
Dor…
Dor…
Dor…
Drttt ... drtttt ... drttt ...
Paulo dan orang-orangnya menembak membabi buta.
Bruk... Bruk... Bruk…
Satu per satu orang orang yang menjaga di luar villa terjatuh. Paulo tertawa terbahak bahak.
" Ha ha ha ha. Hanya segini saja kemampuan kalian. Cuih… butuh seratus tahun lagi kalian bisa berhadapan denganku."
Pria paruh baya itu berjalan pelan ke depan mendekati villa. Ia pun menghubungi Lim untuk segera mendekat.
" Lim bergeraklah maju aku sudah melumpuhkan bagian depan."
" Baik Paulo aku akan segera datang."
Lim yang berada di belakang segera menyusul Paulo. Namun lagi lagi hatinya meragu. Ingin sekali ia melompat dari mobil dan lari sejauh mungkin.
__ADS_1
" Huft. Baiklah. Ini akan jadi yang terakhir."
Sedangkan di depan Paulo yang sudah tidak sabar ingin menyerbu Vila langsung menghubungi Greg untuk segera menyusul juga. Greg pun patuh, ia akhirnya menyusul Lim yang sudah jalan terlebih dahulu.
15 menit kemudian kelompok Greg dan Lim sudah sampai. Paulo tersenyum senang. Ia pun berkacak pinggang dan berkata congkak.
" Lihat lah, mereka sudah berhasil aku lumpuhkan. Ternyata King dan Queen itu hanyalah julukan mereka sungguh tidak ada apa apanya."
Mendengar perkataan Paulo Lim dan Greg malah tidak sependapat. Ia merasa semua ini ada yang janggal. Tidak mungkin orang-orang Arduino dan Silvia mudah ditumbuhkan. Keduanya pun lebih waspada.
" Paulo, aku merasa ini terlalu mudah. Apa kau tidak merasa ada yang aneh. Mungkin ini semacam jebakan."
" Kau meragukan analisaku Lim?"
" Bukan begitu, ya sudah baiklah. Terus apakah sekarang kita akan langsung menerobos masuk?"
Tidak mau berdebat saat situasi yang tidak pasti, Lim memilih mengikuti apa yang diinginkan Paulo. Sedangkan Greg dari tadi ia hanya diam dan mengawasi keadaan sekitar.
" Ya… tunggu apa lagi."
Lim mendesah kan nafasnya dengan sangat berat. Sungguh ia memiliki firasat yang buruk.
" Jika Paulo masuk aku akan lari. Kau mau ikut tidak Greg."
Greg memicingkan matanya mendengar bisikan dari Lim.
" Apa kau yakin?"
Greg mempertimbangkan ucapan Lim. Namun sesaat kemudian Greg mengangguk. Ia setuju dengan usul Lim. Biarlah dibilang pengecut namun mereka bisa selamat dan kembali ke keluarga mereka.
*
*
*
Di dalam villa Arduino dan Silvya tengah santai duduk di teras dengan menikmati susu hangat dan sandwich buatan Silvya. Namun tetap, beberapa orang berada di sekeliling mereka untuk berjaga. Padahal mereka sudah menolak, namun Roki dan Ian kukuh memerintahkan para anak buahnya menjaga King dan Queen mereka.
" Queen, mereka semua sudah berkumpul di luar Villa."
" Bagus… lalu orang kita?"
" Sesuai dengan perintah mu. Mereka rebahan di depan Vila."
Arduino tersenyum mendengar laporan seorang anggotanya.
" Kau benar benar Si. Bagaimana bisa berpikir untuk meminta mereka berakting mati. Tck...tck...tck… Aku yakin Paulo akan sangat terkejut mengetahui mereka masih hidup."
Silvya hanya menyeringai sambil minum susu hangatnya. Sedangkan Roki dan Ian mereka hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Queen Wild Eagle tersebut.
Kembali melihat keadaan di luar villa. Paulo segera memberi kode untuk anak buahnya mendekat dan menyerbu. Jarak mereka berdiri dengan villa sekitar 50 meter. Meskipun dia sudah yakin bahwa semua penjaga di depan tembok villa sudah mati namun ia tetap meminta anak buahnya untuk berhati hati.
" Ayo kita mendekat perlahan, dan tembak saja jika ada pergerakan."
__ADS_1
Semuanya mengangguk, lalu berjalan maju dengan perlahan. Namun mereka tidak menyadari bahwa Lim dan Greg tidak bergerak maju. Bahkan mereka berdua tampak berjalan mundur, hingga akhirnya mereka berdua menaiki mobil dan pergi dari sana.
Paulo yang melihat kedua rekannya pergi sungguh sangat marah. Ia pun secara tidak terduga menembak mobil yang ditumpangi Greg dan Lim.
Dor…
Dor…
Dor…
" Sial… Mereka kabur. Dasar bajingan pengecut."
" Apa kita perlu mengejarnya Paulo?"
" Tidak perlu, kita akan membereskannya saat kita sudah selesai. Lihat saja kalian, kalian tidak akan kubiarkan hidup."
Paulo mencengkeram senjata laras panjang nya dengan erat meluapkan kemarahannya. Ia pun menggertak kan gigi giginya karena saking marahnya.
Di sisi lain Lim melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Beberapa kali Greg yang berada kursi samping kemudi menoleh kebelakang memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
" Apa ada yang mengikuti Greg."
" Tidak Lim, sejauh ini tidak ada dan ku harap tidak akan ada yang mengikuti kita."
Hah hah hah hah
Nafas kedua orang tersebut tersengal. Padahal mereka pergi menggunakan mobil dan bukannya berlari memakai kaki mereka. Namun jantung mereka seakan cepat memompa darah sehingga suara detak nya begitu terdengar.
" Aku akan segera pulang ke negaraku Greg, sebenarnya semalam aku sudah memesan tiket. Dan ini."
Lim menyerahkan selembar tiket pesawat untuk Greg agar rekannya itu juga bisa pulang ke negara asalnya. Greg sungguh terkejut, ternyata Lim menyiapkan semuanya dengan matang.
" Terimakasih Lim. Oh iya kawan setelah kita sampai di tempat asal kita masing masing sebaiknya kita mengganti identitas kita. Itu akan lebih aman."
Lim mengangguk, ia juga punya rencana untuk melakukan hal tersebut. Mereka pun benar benar pergi dari pertempuran itu. Namun lagi lagi, apa yang mereka lakukan tidak lepas dari penglihatan anak buah Silvya.
" Q, ada yang kabur. Dua orang."
" Biarkan saja. Biar mereka hidup dengan baik. Jika ada orang orang Paulo yang mengejar habisi saja langsung."
Mendapat jawaban dari Silvya, para anggota Wild Eagle pun membiarkan mereka untuk pergi. Bahkan Silvya memerintahkan untuk menyingkirkan anak buah Paulo jika ada yang menghalangi dua orang itu pergi.
Paulo yang sangat marah dengan kelakuan Lim dan Greg harus mengenyampingkan perasaannya. Ia harus kembali fokus untuk penyerangannya.
" Persetan dengan kedua banci itu. Perhatikan semuanya. Aku hitung sampai tiga di hitungan ke tiga angkat senjata kalian dan mulai lah menyerang. 1 ... 2 ... 3 ... SERANG!!!"
Dor!
Dor!
Dor!
TBC
__ADS_1