Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 51. One Step Closer


__ADS_3

Silvya yang masih terkejut dengan perbuatan ibu dan juga ibu mertuanya hanya bisa pasrah dirinya dibentuk sedemikian rupa oleh mereka. 


30 menit berlalu, Fatimah dan Sekar lebih tepatnya Sekar sangat puas melihat tampilan Silvya.


" Kak.. Kamu cantik banget." Celetuk Jani.


Silvya hanya tersenyum kaku. Pasalnya selama ini dia tidak pernah berpenampilan seperti sekarang.


" Ayo mbak… kita bawa putri kita ini ke sana."


" Bund… mom… sebenarnya kita mau apa kok aku dijadikan begini? Dan kita mau kemana?"


Fatimah dan Sekar tidak menjawab. Mereka hanya tersenyum dan menggandeng lengan  Silvya. Di sebelah kanan ada Fatimah dan di sebelah kiri Sekar. 


Dika yang sedari tadi menunggu di lokasi hanya bisa bertanya tanya mengapa para wanita itu lama sekali.


Plak….


" Santai bro, istrimu nggak akan diapa apain sama ibu ibu itu." Ucap Andra spontan.


Dika hanya mendengus mendengar ucapan sang adik.


Tak...tak...tak…


Suara langkah kaki mendekat ke arah para pria tersebut. Dika dan Silvya sama sama terkejut. Bahkan Dika langsung berdiri melihat Silvya. Sungguh Silvya sangat cantik dengan balutan kebaya warna tosca dengan riasan sederhana. Rambut Silvya di gelung ke atas dan di sisi kanan dan kiri telinganya disisakan juntaian. Manik mata coklat itu sungguh cantik saat terkena pantulan lampu lampu bohlam.


Sedangkan Silvya, betapa terkejutnya dia melihat semua keluarga berada di sana. Ditambah dengan dekorasi cantik yang menghiasi dek kapal malam itu. Silvya berpikir pasti ini semua Dika yang membuatnya.


Di sisi sebelah kiri ternyata ada live musik band yang sudah Dika persiapkan. Sempat bengong sebentar namun Dika kembali bisa menguasai dirinya kembali. Ia pun menjentikkan tangannya lalu Para pemain band tersebut pun mulai memainkan sebuah  lagu.


Heart beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?


But watching you stand alone


All of my doubt suddenly goes away somehow


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


Sebuah Lagu dari Christina Perri yang berjudul A Thousand Years mengalun dengan indah, dan Dika mulai mengucapkan kata katanya.


" Silvya, maaf jika aku tidak pernah memintamu dengan layak. Di hadapan kedua keluarga kita malam ini seperti lagu yang dinyanyikan bahwa kamu adalah One Step Closer dari Allaah untukku. Dengan izin dan restu dari Allaah aku ingin meminangmu menjadikanmu istriku saat ini esok dan selamanya hingga Allah memisahkan kita berdua dengan maut. Silvya Bellona Linford apakah kau bersedia menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak anakku dan menemaniku hingga kita menua nanti?"


Dika berlutut di depan Silvya. Sungguh Silvya tidak percaya Dika bisa berbuat hal yang seromantis ini. Air mata Silvya seketika luruh. Ia merasa baru kali ini begitu dicintai. Walau kata kata cinta itu tidak diutarakan namun ia bisa merasakan bahwa cinta Dika kepadanya begitu dalam. 

__ADS_1


" Aku bersedia mas, aku bersedia menjadi istri dan ibu dari anak anakmu. Aku bersedia menemanimu hingga rambut kita sama sama memutih."


"Alhamdulillaah…. Bismillaahirohmnairohim…"


Dika berdiri dan menyematkan cincin ke jari Silvya. Semua mengucapkan Syukur. Silvya langsung memeluk Dika dengan erat di depan semua keluarga.


" Terimakasih mas…. Terimakasih sudah mau menerimaku yang penuh dengan lumuran dosa ini."


Silvya berbisik di telinga Dika. Berbisik dengan sangat pelan sehingga hanya Dika yang mendengarkan.


" Jangan bicara begitu. Aku sungguh menerimamu dengan semua kelebihan dan kekuranganmu. Kau juga bukan manusia sempurna yang luput dari dosa."


Aryo, Harold, Sekar, dan Fatimah terharu dengan apa yang dikatakan Dika. Sekar sendiri tidak menyangka, putra kulkas nya itu benar benar berubah menjadi jely kenyal yang begitu lembut di hadapan Silvya. 


Kini mereka semua kembali ke meja dan menikmati makan malam mereka.


" Dika… dari mana kamu punya ide begini. Di kapal pesiar lagi." Tanya Aryo.


" Eh… tiba tiba aja yah. Hehehe." Dika tertawa kikuk sedangkan Silvya hanya mengulum senyum.


Radi dan Andra juga heran sejak kapan saudara laki lakinya bisa berbuat manis begitu.


" Kak… kamu nggak mau gitu cepet cepet bisa kayak mas Dika."


" Maksudmu?"


" Nikah gitu…"


Pletak…


" Aduk kak… Sakit."


" Laah aku kan cuma nanya. Kok jadi ngomong sembarangan sih. Kak Radi kapan mau nikah. Jangan kencan sama buku buku mulu. Buka nggak bisa disayang sayang kak. Tuh lihat mas Dika bisa nyayang nyayang mbak Silvya."


Radi semakin geram dengan tingkah Andra. Ingin rasanya ia melempar adik keduanya itu ke laut dalam.


🍀🍀🍀


Acara lamaran yang dipersiapkan Dika pun selesai. Kedua keluarga memilih kembali ke rumah masing masing karena esok pagi mereka akan beraktivitas kembali. Padahal Dika menginginkan mereka untuk menginap. Tapi mereka tidak bisa. Dika pun pasrah. Ia kembali meminta beberapa orang untuk mengantar semuanya kembali ke kediaman masing masing.


Harold dan Fatimah tadi sempat bertanya. Mengenai tugas luar kota Silvya.


" Si… katanya kamu ada pekerjaan luar kota. Kok malah di sini?"


" Iya mom… soalnya klien Sisi emang lagi berlibur di kapal pesiar ini. Makanya bahas bisnisnya di sini."


Harold dan Fatimah percaya saja apa yang dikatakan sang putri.


Setelah semua kembali. Kini keduanya masih duduk di sana. Dika meminta live band memainkan sebuah lagu milik Shane Filan, Beautiful in White.


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn't speak


In that very moment

__ADS_1


I found the one and


My life had found its missing piece


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


" Meskipun malam ini kamu tidak memakai pakaian berwarna putih kamu tetap cantik Si… seperti lagu itu. Will you dance with me?"


Silvya mengangguk dan menerima uluran tangan Dika.


Keduanya berdansa di bawah langit malam berbintang dan hembusan angin laut yang tidak terlalu kencang.


" Mas… apa kau tahu, aku baru kali ini merasa begitu bahagia selama hidupku."


Dika menghentikan dansanya lalu menatap lekat manik mata Silvya.


" Maksudmu??"


" Dari kecil aku sudah terbiasa mandiri, mommy selalu mengurus Zion karena memang Zion memiliki penyakit jantung bawaan. Mommy harus ekstra dalam menjaga Zion sehingga aku tumbuh menjadi anak yang sehat mandiri. Aku tidak pernah merasa iri sedikitpun kepada zion, aku sangat menyayanginya… sungguh… Aku benar benar menyayangi Zion."


Silvya menangis,Dika membimbing Silvya untuk duduk dan meminta band menyudahi pertunjukannya. Kini hanya mereka berdua saja di sana. Malam semakin larut, udara bertambah dingin namun Silvya masih enggan diajak kembali ke kamar. Akhirnya Dika meminta seorang pelayan memberikan selimut untuk mereka.


" Tapi.. Tak dapat dipungkiri aku kesepian. Akhirnya aku ikut berbagai cabang bela diri dan memenangkan banyak penghargaan untuk mengusir sepi ku. Puncaknya saat Zion meninggal. Zion meninggal tertembak saat kami merayakan ulang tahun kami yang ke 17 tahun di taman bermain. Aku dan Zion sama sama sangat senang waktu itu namun takdir berkata lain. Zion meninggal di hadapan kami semua. Semua hancur… bahkan aku pun. Lalu ada seorang kakek tua mengajakku bergabung di dunia mafia. Menawariku membantu mencari penyebab Zion meninggal, namun hingga sekarang belum ada titik temu."


Dika sedikit heran dengan hal tersebut. Dia merasa ada hal yang janggal dengan apa yang diceritakan oleh istrinya.


" Si… maaf jika aku agak lancang. Apa kamu tidak mencurigai organisasimu sendiri?"


" Maksud mas Wild Eagle ada sangkut pautnya dengan  kematian Zion?"


" siapa tahu, katanya kakek tua itu akan membantumu untuk menemukan siapa dalang dibalik kematian Zion. Ini sudah hampir 8 tahun masa iya kamu sekalipun kamu tidak mendapatkan petunjuk. Kecuali semuanya ditutupi dengan rapat."


Silvya terdiam mendengar ucapan Dika. Apa yang diutarakan Dika ada benarnya juga. Dan selama ini dia selalu disibukkan dengan misi jadi abai dengan tujuan utamanya.


" Sisi maaf, bukannya aku memintamu mencurigai organisasimu. Tapi tidak ada salahnya kamu mulai melakukan penyelidikan secara pribadi dan tersembunyi."


" Iya mas… mas nggak salah kok. Apa yang mas ucapkan semua benar. Setelah ku pikir pikir memang ada yang janggal. Terimakasih mas, sudah membuka pikiranku."


Dika tersenyum ia mengangguk dan membelai lembut kepala Silvya.


" Aku percaya kau akan bisa menemukan kebenaran."


Cup…. Dika mencium sekilas bibir Silvya namun Silvya menahannya ia menginginkan ciuman yang lebih. 


Aku akan menemukan kebenaran itu. Jika Wild Eagle ternyata ada dibalik kematian Zion maka aku tidak segan menghancurkannya.

__ADS_1


TBC


Happy Reading Readers... Othor akan berusaha update 2 Bab setiap harinya ya. semoga readers masih setia menunggu up hari selanjutnya. Terus berikna dukungan kepada karya othor ya. Biar othor semangat terus nulisnya. Terimakasih. Matursuwun.


__ADS_2