Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 56. Meninggalkan Wild Eagle?


__ADS_3

Silvya mengerjapkan matanya lalu melihat seisi ruangan. Ia menemukan dirinya di kamar miliknya di markas Wild Eagle. Sejenak ia merasa benci dengan dirinya sendiri. Ia memegang kepala nya kuat. Tampaknya pusing mendera kepalanya karena banyak menangis tadi.


" Huft… sekarang apa yang harus aku lakukan. Meninggalkan Wild Eagle sekarang? Tapi aku belum membalas kematian Zion. Ya aku harus membalas kematian Zion dulu baru meninggalkan Wild Eagle."


Saat ini seperti itulah yang menguasai pikiran Silvya. Ia ingin segera meninggalkan organisasi. Berada di organisasi mafia, ia merasa seperti melindungi pembunuh sang adik. Silvya kemudian berjalan keluar kamar dengan gontai. Geoff, Drake, dan ditambah Ian sudah berada di ruang utama. Mereka lega melihat Silvya keluar kamar meski terlihat wajahnya yang pucat.


Ian hendak membantu, namun tangan Ian ditepis oleh Silvya. Geoff melihat ke arah Ian dan menggelengkan kepalanya pelan. Ian mengerti maksud Geoff ia pun mundur dengan wajah lesu.


Srek….


Silvya menarik sebuah kursi lalu menjatuhkan tubuhnya.


" Sekarang katakan kepadaku mengapa kalian semua menutupi fakta dan katakan siapa yang telah membunuh adikku. Oh tidak… Zion yang malang."


Silvya hendak menangis lagi. Namun ia berusaha untuk menguasai hati dan dirinya. Sedangkan Geoff, ia mengambil nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Apapun yang akan dihadapi nanti biarlah menjadi urusan nanti.


" Silvya, bukan maksud kami untuk menutupi semuanya darimu. Semua ini kami lakukan karena kami sayang padamu. Orang yang telah menembak Zion,adalah seseorang yang ditakuti di dunia bawah. Dia adalah putra dari pemimpin Black Wolf. Dan sekarang dia adalah pemimpin Black Wolf namanya Arduino Rodriguez. Dia seorang yang sangat kejam."


" Aku tidak peduli siapa dia, yang aku tahu aku akan membunuhnya.  Dan mengapa dia bisa menembak adikku."


" Silvya, dia hanya salah sasaran, waktu itu memang tengah terjadi baku tembak. Sasaran dia sebenarnya adalah Albern, namun saat ingin menembak Albern tiba tiba Zion melintas."


" Heh, … Aku tidak peduli. Bukankah nyawa dibayar nyawa. Itu lah yang kalian ajarkan kepadaku bukan? Baiklah… aku akan mengurus ini sendiri. Kalian tidak usah ikut campur. Aku tidak akan membawa nama Wild Eagle. Aku akan menghadapi Black Wolf dnegan namaku sendiri, Silvya Bellona Linford. Oh iya setelah aku berhasil membunuh Arduino itu aku akan keluar dari Wild Eagle. Terserah mau kalian apakan organisasi ini."


Silvya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. sedangkan ketiga orang itu sungguh terkejut mendengar ucapan Silvya.


" Q… jangan begitu…Q dengarkan kami dulu."


Ian hendak mengejar Silvya namun ditahan oleh Geoff.


" Ge.... Bagaimana ini. Silvya, apakah benar benar mau meninggalkan kita?"


" Entahlah Ian. Biarkan dulu dia. Saat ini dia sedang sangat marah. Biarkan dia sendiri, anak itu butuh waktu berpikir."


" Ge, Drake, sebenarnya apa yang terjadi waktu itu."


Geoff kembali duduk. Ian memang tidak ada di lokasi waktu itu. Dia di markas bersama ayah. Yang pergi ke taman bermain itu hanyalah Geoff, Drake, dan juga Jeff.


Sebenarnya semuanya berjalan seperti bagaimana mestinya, mereka hanya saling bertemu dan menegaskan bahwa tidak ada pertikaian sesama organisasi mafia . Namun lagi lagi Albern dari Tiger Fangs membuat semua orang murka dengan ucapannya yang seenaknya sendiri.


Terlebih Arduino, ia sangat murka saat dibilang dia hanya anak pungut. Waktu itu Arduino yang masih muda dan emosinya tidak stabil langsung ingin menembak Albern. Albern pun berlari ke sembarang arah dan kebetulan ia melintas di kerumunan.  


Saat itulah peluru melesat ke seorang remaja yang tidak lain adalah Zion adik dari Silvya. Waktu itu Arduino ingin menghampiri keluarga tersebut namun dihadang oleh ayahnya Rodriguez. 


" Ya Tuhan, cerita macam apa ini. Mengapa si tua Albern selalu jadi biang masalah." Keluh Ian.

__ADS_1


" Ge… Apakah Q juga akan 'menghampiri' Albern mengingat gara gara Albern juga peristiwa itu terjadi."


" Entahlah, aku tidak tahu jalan pikiran anak itu."


Kini ketiganya hanya bisa diam. Entah apa yang akan dilakukan Silvya. Mereka akan menunggu pergerakan Silvya dengan terus mengawasi. Bahkan sebelumnya Drake sudah bersiap, ia menaruh pelacak di ponsel milik Silvya. Berjaga jaga jika adik kecil mereka bergerak sendiri mengingat sifat keras kepalanya.


🍀🍀🍀


Silvya mengendarai mobilnya dengan limbung. Mungkin mengikuti hatinya, mobil itu menuju ke rumah sakit. Ia ingin sekali menjumpai suaminya dan meluapkan semua yang dirasakan saat ini.


Ckiit…. Silvya memarkirkan mobilnya dan berjalan ke dalam gedung rumah sakit. Wajahnya tampak pucat, langkahnya pun sempoyongan.


Bruk….


Akhirnya Silvya jatuh tak sadarkan diri. Beberapa pengunjung berteriak dan akhirnya para perawat langsung membawa Silvya ke ruang perawatan.


" Dokter… Dokter Dika..itu...kekasih anda jatuh pingsan di lobby."


" Kekasihku?"


" Itu yang tempo hari datang. Wanita cantik yang agak bule rambutnya coklat."


" Ya Allaah… Silvya."


Brak…


Dika membuka ruang perawatan yang ditempati Silvya dengan sangat keras.


" Sayang…. Kau kenapa?"


Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut melihat kepanikan Dika. Dokter yang terkenal dingin itu sungguh sangat berbeda. Dika tampak begitu khawatir. Raut wajahnya bahkan seperti hendak menangis melihat wanita yang dikenal sebagai kekasihnya oleh seluruh rumah sakit itu terbaring lemah.


" Dia hanya kelelahan dan sedikit stress dokter."


" Terimakasih dokter Andre."


Dika menepuk rekan dokternya itu dengan pelan. Dokter Andre pun segera keluar, ia memberikan kode kepada perawat yang ada di dalam agar ikut keluar. Memberikan waktu kepada sepasang kekasih tersebut.


Dika mendekati Silvya. Duduk di kursi yang ada di sebelah brankar dimana Silvya terbaring di sana. 


" Sayang,... Kamu kenapa hmm… tadi pagi masih baik baik saja."


Dika menggenggam erat tangan istrinya dan membelai wajah Silvya dengan lembut..


" Sayang,....."

__ADS_1


" Mas…."


" Alhamdulillaah, apa yang kamu rasakan hmmm…."


Dika memeriksa denyut nadi sang istri. Semuanya normal, memang hanya sedikit lemah saja.


" Aku cuma sedikit pusing mas." 


" Baiklah, istirahatlah. Aku akan memberimu satu infusan. Nanti kalau sudah habis kita baru pulang."


Silvya mengangguk pelan. Ia pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Dika. Kepalanya sangat berat, Silvya pun kembali tertidur.


" Sebenarnya apa yang jadi beban pikiranmu? Apakah kamu sudah mengetahui faktanya sehingga kamu seperti ini? Begitu beratkah bebanmu Sisi?"


Dika ikut naik ke ranjang tersebut dan merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri. Ia mendekap erat istrinya itu. Terbesit rasa khawatir dalam diri Dika terhadap istrinya itu. Silvya yang biasanya kuat, mandiri dan tegas itu kini terlihat lemah dan pucat.


Dika mencium lembut kening sang istri. Beruntung sampai nanti sore Dika tidak ada jadwal operasi. Jadi dia bisa menemani Silvya beristirahat di ruang perawatan.


Tania yang mendengar kabar yang beredar mengenai pingsannya Silvya langsung mencari ruangan Silvya. 


Tania mengepalkan tangannya dengan sangat erat saat sampai di depan ruang rawat wanita yang menurutnya adalah rivalnya itu.  Ia begitu marah melihat Dika memeluk Silvya dengan penuh cinta. Rasanya Tania ingin mendobrak pintu ruang rawat Silvya dan memisahkan kedua orang itu. Ia ingin sekali bisa menarik Silvya dan menjambak rambut wanita itu.


" Brengseeeek… Sialan. Dasar wanita jal*ng. Berani beraninya dia merebut dokter Dika dariku. Heh… jangan mentang mentang kau seorang CEO terus aku akan takut padamu. Tidak akan, aku pastikan Dika hanya menjadi milikku seorang."


Tania menggertakkan gigi giginya hingga terdengar suara gemeretak darinya. Seorang perawat tampak heran melihat Tania berada di luar ruang rawat Silvya. Pasalnya Tania hanya diam mematung sembari menatap lurus ke dalam ruangan.


" Eh dokter Tania, mau besuk pacarnya dokter Dika ya. Kok tidak masuk?"


Mendengar suara seseorang yang menyapanya, Tania langsung melepaskan kepalan tangannya. Ia pun secepat kilat mengubah ekspresinya. Dari marah menjadi lembut dan sopan.


" Ah iya… tadi aku mendengar nona Silvya pingsan. Aku sedikit khawatir jadi ingin menjenguknya. Tapi sepertinya nona Silvya sedang istirahat. Aku takut mengganggunya."


" Ya Tuhan, anda sangat baik dokter  Tania. Pantas saja banyak pasien menyukaimu. Kamu selalu ramah. Sungguh paket komplit, sudah cantik, baik, ramah, pintar lagi. Kamu juga begitu peduli terhadap sesama."


Tania tersipu mendapat semua pujian tersebut.


" Oh ya ampun, jangan memujiku terlalu tinggi. Nanti aku bisa melayang lho hehehe.'


" Hahaha dokter bisa saja. Ya sudah saya permisi ya dokter Tania. Mari dok...."


Tania membalas senyum perawat tersebut. Tetapi saat perawat itu sudah menjauh Tania kembali ke ekspresi marahnya. Ia masih sangat murka dengan dua orang yang ada di dalam itu. 


Akhirnya  ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan Silvya sebelum emosinya berada di puncaknya. Ia pergi sambil menghentakkan kakinya dengan sangat kesal. 


TBC

__ADS_1


__ADS_2