Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 78. Lantai 17


__ADS_3

Lantai 17 menjadi pilihan Dika untuk merawat semua orang yang terkena luka tembak. Sekaligus tempat untuk menahan Rodriguez agar tidak terendus oleh anak buahnya. 


Lantai tersebut sudah berhasil disterilkan dalam waktu 3 jam. Di lantai tersebut tidak ada pasien lain selain 4 orang kemarin dan tentunya anak buah Silvya dan Arduino. Lantai 17 tidak terlihat seperti ruang perawatan tapi lebih seperti markas mafia.


Dika juga memilih dokter, perawat, ahli gizi dan cleaning service yang akan bertugas di lantai tersebut. Bahkan Silvya dan Arduino ikut memilih namun mereka tidak berada di satu ruangan langsung. Silvya dan Arduino mengamati dari layar monitor. Memastikan tidak ada yang mencurigakan.


Lebih tepatnya mereka melihat agar tak ada penyusup yang menyamar jadi karyawan rumah sakit. Mengingat bagaimana liciknya Rodriguez pasti pengikutnya pun tak kalah licik.


" Aku yakin kabar Rodriguez disini pasti sudah terdengar ke seluruh pengikutnya."


" Apa kita perlu memindahkannya Ar? Maksudku hanya Rodriguez saja?"


Arduino terdiam sesaat, ia mencoba memikirkan pertanyaan Silvya.


" Sebenarnya aku juga berpikiran seperti itu Si, karen aku pikir jika Rodriguez berada di sini bisa mengancam nyawa Daddy dan yang lainnya."


" Apa kau punya tempat yang aman di kota J ini?"


" Tiger Fangs!"


" Maksudmu, markas Tiger Fangs?"


" Ya. Markas Tiger Fangs. Kita tidak mungkin membawa Rodriguez ke Wild Eagle itu sangat mudah dibaca oleh musuh."


" Kau benar juga Si, tapi kita tidak bisa langsung ambil keputusan itu. Kita juga tidak boleh membahayakan Albern."


" Baiklah, nanti kita cari alternatif lainnya."


Keduanya kembali melihat ke layar monitor. Merasa semuanya aman dan tidak ada yang mencurigakan Silvya mengambil ponselnya untuk memberitahu suaminya.


" Hallo Mas."


" Ya, gimana?"


" Clear…."


" Ok."


Di ruangan tersebut Dika langsung memberi arahan kepada tim yang akan bekerja di lantai 17.


" Baiklah, semua sudah mengerti job description masing masing?"


" Siap sudah dok."


" Baik kalau begitu, Pak Direktur ada yang mau disampaikan."

__ADS_1


Dika sengaja meminta Bisma berbicara dan memberikan ultimatum kepada tim medis yang dikumpulkan oleh Dika tersebut.


" Saya harap kalian bisa mengikuti peraturan yang telah disampaikan dokter Dika. Tutup mulut kalian, apapun yang kalian lihat dan dengar di lantai 17 berlagak lah buta dan tuli. Jika sampai bocor maka saya yakin kalian tidak akan pernah bisa di rumah sakit manapun lagi setelah keluar dari sini. Dan kalian tidak perlu takut gaji kalian akan kami naikkan 3x lipat dari sebelumnya."


Semua yang ada di ruangan tersebut hanya diam dan mengangguk patuh. Kenaikan gaji 3x lipat siapa yang tidak mau. Namun resiko yang mereka tanggung juga tidak main main. Mereka benar benar harus buta, tuli, dan bisu.


" Baiklah kalau kalian paham. Tugas kalian dimulai dari sekarang. Arga… kamu visit ke ruangan pasien. Semua memiliki luka yang sama. Apa kau paham."


" Paham dokter."


Dokter residen yang bernama Arga itu langsung keluar mengikuti yang lain untuk melakukan tugasnya. Dalam hatinya sungguh sangat senang bisa dipercaya dokter hebat seperti Dika.


Beberapa dari mereka langsung bekerja sesuai job desk masing masing. Memeriksa pasien, mengantarkan makanan, dan membersihkan lantai 17. Mereka semua sedikit terkejut melihat lantai 17 itu. Beberapa orang dengan badan sedikit besar dan pastinya tinggi berdiri tegak menjaga setiap pintu ruangan. Tidak hanya di pintu, namun di depan lift dan di depan jendela juga dijaga.


" Ya Tuhan…. Ini seperti drama action." Ucap salah satu perawat. 


" Stttt, jangan banyak bicara. Lebih baik kita bekerja dengan benar." Jawab Arga menanggapi omongan salah satu rekannya itu.


Mereka benar benar diam dan mulai bekerja. Meskipun sedikit tegang karena melihat orang orang itu memiliki senjata api yang ada di tubuhnya, tapi mereka berusaha tenang dan profesional.


🍀🍀🍀


Fatimah, Silvya, dan Arduino berada di sebuah ruangan tempat Harold dirawat. Harold sudah sadar dari pengaruh anestesi.


" Dad…. Kau sudah sadar."


" Yes Dad, aku Zola putra daddy."


Harold menangis saat itu juga. Kemarin saat melihat Arduino berdiri di sebelah Silvya, ia pikir itu adalah mimpi. Namun ternyata tidak, putranya itu benar benar kembali. Bahkan dia dapat menggenggam tangannya.


" Jangan menangis Dad, aku sudah disini. Kita sudah berkumpul kembali."


" Mana Sisi."


" I'm here Dad."


" Apa kau baik baik saja nak?"


" yes Dad, i'm oke. Maafkan kami yang datang terlambat hingga membuat daddy seperti ini."


" Kemarilah nak,... Daddy tidak apa apa. Terlebih bisa melihat kalian bersama disini. Tampaknya semua ini sepadan."


Sisi berkaca kaca mendengar penuturan daddy-nya.


" Apa ada yang akan kalian jelaskan kepada kami?"

__ADS_1


Ucapan sang mommy membuat Silvya dan Arduino terdiam. Mereka saling pandang seperti bisa melakukan telepati, keduanya berbicara melalui tatapan mereka.


Apa yang harus kita katakan Ar?


Entahlah Si, aku sendiri bingung.


Apa kita harus mengaku?


Huft,, sepertinya.


Melihat tingkah kedua anak kembarnya , Fatimah mengerutkan dahi. Ia merasa dejavu dengan kejadian ini. Dulu Silvya dan Zion sering berlaku demikian.


" Jangan hanya diam dan saling menatap. Mommy tahu kalian sedang saling bicara."


Huft … Silvya dan Arduino membuang nafas mereka bersamaan. Fatimah dan Harold memperhatikan anak kembar mereka. Sepasang suami istri itu telah siap dengan apa yang akan mereka dengar dari putra putrinya.


" Baiklah, mungkin Sisi dulu. Tapi intinya apa yang dikatakan Rodriguez adalah benar. Sisi merupakan Queen mafia, Sisi adalah pemimpin Mafia saat ini. Sisi bergabung di organisasi sesaat Zion meninggal. Semua karena satu tujuan yakni mencari tahu penyebab kematian Zion. Dan…. Mom, selama ini Sisi dekat dengan kakek. Karena organisasi yang Sisi ikuti adalah milik kakek. Sisi memanggilnya Ayah."


"Apa… Ya Allaah."


Fatimah terkejut mendengar fakta itu. Ternyata putrinya begitu dekat dengan sang papa. Fatimah kembali terisak. Tidak hanya Fatimah, Harold pun tampak terkejut mendengar penuturan Silvya.


" Tapi Sisi juga tidak tau mom, dad. Sisi tahu juga belum lama diberi tahu oleh Uncle Geoff. Dan menurut cerita uncle, Kakek juga tidak tahu dari awak Sisi bergabung. Kakek tahu setelah setengah tahun Sisi bergabung."


" Mengapa Sisi tidak cerita ke mommy dan daddy?"


Harold mengusap lembut tangan Fatimah. Ia tahu istrinya begitu syok.


" I'm sorry mom, mommy sangat terpukul dengan kepergian Zion. Sisi tidak mau membebani mommy sehingga Sisi memutuskan sendiri."


Fatimah bangkit dari duduknya lalu menghampiri Silvya. Ia mendekap tubuh putrinya itu. Air matanya terus berlinangan.


" Maafkan mommy nak, sungguh maafkan mommy. Mommy selalu mengabaikanmu. Mommy yang bersalah, mommy yang berdosa Sisi. Mommy bukanlah ibu yang baik."


Silvya ikut menangis, dekapan lembut Fatimah membuat dinding pertahanannya runtuh juga. 


" No. Mom….hiks… mommy tidak salah mom. Mommy ibu yang luar biasa buat kami. Kami bangga dengan mommy. Bahkan mommy bisa menyembunyikan penyakit mommy dari kami dengan baik. Sisi sayang mommy."


Arduino ikut terharu melihat ibu dan saudaranya itu. 


" Ternyata kehidupan Silvya juga tidaklah mudah. Semua menjadi sulit bagi kami gara gara si brengsek Rodriguez itu. Lihat saja kau tua bangka. Aku akan menghancurkan semua pengikutmu sampai ke akar akarnya. Tidak akan kubiarkan kau bertunas." Batin Arduino sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Fatimah merenggangkan pelukannya. Tatapan matanya beralih kepada sang putra.


" Ada yang ingin kau ceritakan Arduino Rodriguez atau Zola Aaron Linford?

__ADS_1


" Eh….?"


TBC


__ADS_2