Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 58. Mengatakan Kepada Fatimah


__ADS_3

Pagi hari Silvya sudah kembali segar seperti biasa. Dika senang melihat sang istri yang sudah terlihat lebih baik daripada hari kemarin. Silvya juga menyiapkan sarapan seperti pagi pagi yang lalu.


" Mas…. Makan sarapanmu. Oh iya mas aku mau minta izin untuk pergi beberapa hari ke depan."


Dika yang hendak menyendok kan nasi ke mulut pun berhenti. Ia menaruh kembali sendoknya di atas piring. Dika pun menatap mata istrinya dengan lekat.


" Emangnya mau ke mana kamu sayang, memangnya kamu sudah baik baik saja. Aku nggak mau ya lihat kamu kayak kemarin lagi. Aku khawatir setengah mati Si?"


" Mas aku harus menyelidiki sendiri kasus itu"


" Sendirian? Tanpa bantuan saudara-saudaramu di organisasi?"


Silvia mengangguk lalu menunduk. Kali ini dia tidak ingin melibatkan saudara-saudaranya.


" Mengapa tidak meminta bantuan saudaramu?"


Huft…. Silvya membuang nafasnya kasar.


" Aku tidak ingin melibatkan mereka mas. Ini adalah hal pribadi yang harus aku urus sendiri. Mereka tidak ada hubungannya dengan kasus kematian Zion. Aku juga berencana untuk meninggalkan organisasi setelah kasus yang selesai?"


Dika terkejut mendengar perkataan istrinya yang terakhir. Ia tidak percaya Silvia akan mengambil keputusan seperti itu. Meskipun Dika tidak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Silvia sebelumnya, namun meninggalkan orang-orang terdekat nya selama ini itu pasti akan berat.


" Apakah kamu merasa yakin dan benar-benar yakin untuk meninggalkan Wild Eagle. Organisasi yang telah membesarkan namamu? Orang-orang yang begitu menyayangimu? Pikirkanlah baik-baik dulu. Jangan mengambil keputusan di saat kamu tengah emosi."


" Apakah mas tidak senang Aku meninggalkan dunia hitam itu?"


Dika beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Silvya. Iya menggenggam tangan erat istrinya tersebut lalu tersenyum.


" Tentu aku senang jika kamu benar-benar meninggalkan organisasi mu dengan kemantapan hati bukan hanya sekedar emosi sesaat. Namun aku tidak ingin kamu merasa tersiksa nanti saat telah benar benar pergi dari organisasimu. Aku tidak mau melihatmu kehilangan arah. Sisi meninggalkan rumah yang sudah kita diami sekian lama akan sangat sulit, terlebih di dalam rumah tersebut ada orang orang yang kita sayangi. Mengapa kau tidak berpikir untuk merubah arah pandangan organisasi mu?"


" Maksud Mas Dika?"


" Nanti saja kita bahas itu yang jelas kau selesaikan dulu permasalahan Zion. Aku izinkan kau pergi tapi tetap harus berhati-hati. Ingat kau punya orang-orang yang menyayangimu termasuk aku jangan lupakan itu."


Silvia tersenyum, ia sungguh bersyukur mendapatkan suami seperti Dika. Silvya lalu memeluk Dika dengan erat sambil mengucapkan terima kasih.


" Terimakasih mas, terimakasih. Kamu sungguh mengerti aku. Aku tidak mengekang aoa yang aku lakukan. Terimakasih atas semua pengertian mu terhadap semua hal yang kulakukan."


Dika mengangguk lalu tersenyum. Ia membelai lembut rambut sang istri. Mereka pun kembali sarapan lalu setelahnya Dika berangkat ke rumah sakit.


Beberapa waktu ini saat Rumah Sakit tengah ramai Dika memang sengaja menutup kliniknya. Lagi pula para karyawannya yang kemarin telah mendapatkan pekerjaan sesuai kemauan mereka. Dika bersyukur mengetahui mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Kini Silvia duduk sendiri di ruang makan. Ia kembali menghubungi temannya itu, teman hacker yang selalu bisa ia andalkan.

__ADS_1


" Hallo mr. Sun."


" Apa Q?"


" Ya Tuhan kau begitu galak Mr. Sun"


" Ya ya ya… aku memang tidak semanis suamimu."


" Hahahah…. Mr. Sun… apakah kau bisa melihat cctv 5 tahun silam."


" Tentu bisa, memangnya kenapa."


" CCTV ini masih ada sangkut pautnya dengan kematian saudaraku Mister Sun. Aku ingin mencari lebih dalam penyebabnya."


" Baiklah jika itu masih berhubungan. Di mana lokasinya?"


" Taman bermain Gembira Ria. Tepatnya di dekat bianglala."


" Baiklah… Aku akan mencoba untuk mencarinya. 5 tahun yang lalu bukan waktu yang lama. Mungkin akan lebih mudah daripada membobol informasi Black Wolf."


" Terimakasih Mr. Sun. Aku sungguh banyak berhutang padamu."


" Sama sama Q. Aku senang bisa membantumu."


Sebelum pergi Silvia pun akan mampir ke rumah terlebih dahulu. Sepertinya ia harus mengungkapkan tentang kematian sang kakek. Iya tidak ingin ibunya berlarut dalam kebencian terlebih kakeknya telah meninggal.


🍀🍀🍀


" Assalamualaikum mom… dad… "


" Waalaikumsalam sayang…"


Silvya mencium pipi Harold dan Fatimah bergantian. Kedua orang tua tersebut pun tersenyum


" Lho sayang, kamu tidak ke perusahaan?"


" Sisi ada hal yang harus diurus di luar kota Dad, mungkin selama seminggu."


" Subhanallah lama sekali. Sudah minta izin sama suami mu nak?"


" Sudah mom, dan Mas Dika memberikan izin."


Fatimah tersenyum, menikah dengan Dika, Silvya terlihat banyak berubah. Fatimah bersyukur atas hal tersebut. Wanita paruh baya dengan hijab lebarnya itu tersenyum ke arah sang putri sambil membelai lembut rambut putrinya.

__ADS_1


" Maafkan Mommy ya nak, selama ini Mommy tidak perhatian dengan Sisi. Mommy minta maaf sudah menjadi Ibu yang buruk buatmu."


" No mom… jangan bicara seperti itu. Sisi tahu waktu itu posisi Mommy juga tidak bagus. Mami selalu merawat Zion, bolak-balik ke rumah sakit memperhatikan kesehatan Zion. Masih ingat waktu itu mommy di tengah malam berlarian menuju rumah sakit saat Daddy tengah berada luar kota. Dan waktu itu Sisi sedih karena Sisi tidak bisa membantu mommy."


Tes…. Air mata Fatimah luruh. Meskipun memang saat itu Zion sakit tapi bukanlah sebuah alasan untu tidak menghiraukan putrinya. Bagaimanapun mereka sama sama adalah anaknya yang butuh kasih sayang.


Harold yang melihat istrinya tampak merasa sangat bersalah hanya bisa tersenyum sendu. Dulu sering kali Harold meminta Fatimah untuk lebih memperhatikan Silvya. Dan saat ini Fatimah menyadari semua kesalahannya. Memang terkesan telat namun bagi Silvya tidak. Ia sungguh merasa bahagia mendapat limpahan kasih sayang dari sang ibu yang sangat ia rindukan.


" Sempat mommy berfikir, mungkin Allaah mengambil Zion lebih cepat ada maksud tersendiri. Allaah sedang menegur mommy bahwa anak mommy masih ada lagi yakni kamu Sisi sayang. Allaah mengingatkan mommy bahwa mommy harus adil membagi kasih sayang ibu kepada anak anak nya."


Greb…


Silvya langsung memeluk sang ibu. Ia menangis di sana. Fatimah juga, ibu dan anak itu menangis bersama. Harold sangat bersyukur melihat anak dan istrinya tersebut sudah bisa dekat.


Silvya mengurai pelukannya lalu menghapus air matanya. Ia mengambil nafasnya dalam dalam sebelum membicarakan mengenai Edinson sang kakek.


" Dad… mom… apakah mommy dan daddy tahu seorang pria yang bernama Edinson?"


Deg…


Fatimah sangat terkejut mendengar nama tersebut keluar dari bibir sang putri. Jelas Fatimah tahu bahkan sangat tahu nama Edinson tersebut karena itu adalah nama papa nya.


" Da-dari mana Sisi mendengar nama Edinson?"


" Tanya saja, apakah benar dia kakekku mom. Sekarang dia dimana mom?"


Fatimah bungkam. Ia bingung mau menjawab apa, terlebih sudah lebih dari 20 tahun dia tidak tahu keberadaan sang papa.


" Ada apa sayang?mengapa Sisi tiba tiba bertanya tentang kakek Sisi?"


" Tidak ada apa apa Dad. Hanya saja sisi sempat melihat foto nikahan mommy dna buku nikah mommy saat Sisi dan mas Dika mendaftar pernikahan kemarin. Dan saat Sisi tengah mengunjungi suatu tempat Sisi melihat batu nisan bertuliskan nama Edinson dimana tanggal lahirnya sama dengan papa Mommy."


" Apa….!!"


Fatimah terjatuh ke lantai mendengar penuturan putrinya. Hatinya tiba tiba terasa sakit. Dadanya sangat sesak. Air matanya pun luruh. Ada rasa sesal dalam hatinya sekarang. Meskipun apa yang dikatakan Silvya belum tentu benar adalah papa nya tapi Fatimah merasa itu benar.


" Kak… apakah papa benar sudah meninggal. Ya Allaah kak… Aku sangat berdosa kak… Aku anak yang durhaka pasti. Allaah pasti sedang menghukumku."


" Tenang dulu sayang, kita harus kroscek kebenarannya. Sisi bisa bawa mommy dan daddy ke tempat yang kau katakan."


Silvya mengangguk, ia merasa kasihan kepada ibunya. Namun dia harus mengatakannya, agar ibunya tahu bahwa sang Papa telah tiada untuk selamanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2