Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 85 . Kita Diikuti


__ADS_3

Lim kembali melakukan pekerjaannya. Ia mencoba mengakses setiap CCTV jalan yang berada di luar rumah sakit. Lim melakukan pengawasan sejauh 1 km dari Rumah Sakit Mitra Harapan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Mereka ingin segera tahu dibawa kemana pimpinan nya.


Sedangkan Greg masih terus berusaha untuk menghubungi semua anak buahnya yang sudah disebar di kota J dan di sekitarnya.


" Bagaimana apakah sudah ada hasilnya Lim, Greg?"


" Belum Paulo. Aku masih terus mengawasi."


" Lim, Apakah kau tidak memundurkan waktunya Lim misalnya beberapa saat sebelum penyerangan yang kita lakukan atau sehari sebelumnya?"


" Astaga Paulo kau benar aku melupakan hal itu."


Paulo hanya menggelengkan kepalanya. Lim memang terkadang suka telat dalam berpikir tapi dia cerdas.


Lim pun mengikuti saran Paulo untuk melihat CCTV sehari sebelum mereka melakukan penyerangan. Pria bermata sipit itu memicingkan matanya lekat-lekat melihat layar monitor.


" Apakah ini rombongannya?"


" Apa yang kau lihat Lim?"


" Coba kau lihat ini Paulo ini ada beberapa mobil yang keluar dari rumah sakit memang sih tidak bersamaan tapi terlihat mereka bergerombol. Sebentar aku perluaskan penglihatannya CCTV yang lain."


Paulo melihat layar laptop yang diperlihatkan oleh Lim. Di sana nampak beberapa mobil keluar dari rumah sakit. Meskipun tidak bersamaan Namun sepertinya mereka tengah mengawal sesuatu.


" Sial. Aku yakin pimpinan di salah satu mobil itu. Coba kau periksa mobil itu berjalan ke arah mana!"


Lim mengangguk, dan Greg hanya menunggu hasil dari Lim. Pasalnya orang orangnya sampai sekarang belum juga memberi kabar.


" Apakah kita perlu memanggil semua orang Paulo?"


" Ya Greg. Lakukan itu."


Greg tersenyum Ia pun segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seluruh anggota Black Wolf yang setia kepada Rodriguez.


" Ketemu!!! Paulo lihatlah. Mereka sepertinya keluar dari kota J menuju sebuah daerah pedesaan."


" Bagus….. Awas kalian bocah bocah tengik aku akan menghabisi kalian semua."


Greg yang sudah paham langsung menghubungi orang orangnya untuk menuju tempat yang disebutkan oleh Lim.


" Paulo aku sudah menyuruh orang orangku untuk menuju kesana."


" Baiklah, sekarang ayo kita persiapkan persenjataan. Tapi kita tidak boleh terburu buru. Aku yakin mereka sudah memiliki sebuah rencana. Maka dari itu kita juga harus menyusun rencana kita."


Greg dan Lim mengangguk. Mereka juga tidak mau mati konyol. Melihat bagaimana Arduino membawa Rodriguezmereka sudah memiliki pemikiran bahwa Arduino memiliki rencana yang sangat matang. Apalagi mendengar kabar bahwa Arduino bersatu bersama dengan Queen. Maka kekuatan tempur mereka pasti dua kali lebih kuat.


🍀🍀🍀


Dika yang sedang sibuk mempersiapkan serum penangkal racun yang diminta istrinya terlihat begitu sangat lelah. Namun demi permintaan sang istri ia harus kuat menyelesaikannya malam ini juga.


" Aku harap ini tepat waktu."


Tak… tak… tak…


Sebuah langkah kaki mendekat ke arah Dika. Ia pun segera membalikkan tubuhnya.


" Astagfirullah sayang. Ku pikir siapa?"

__ADS_1


" Maaf mas, apa aku mengejutkanmu?"


" Sedikit, tapi … mengapa kau di sini.


" Apakah ingin mengambil semua ini?"


Silvya mengangguk. Dika hanya tersenyum melihat istrinya itu. Ia kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan.


Setelah beberapa saat akhirnya ia dapat menyelesaikannya juga.


" Alhamdulillaah… akhirnya selesai juga."


" Apakah ini harus menggunakan suntikan untuk memasukkan ke dalam tubuh.


" Yup… kau benar sayang."


" Baiklah aku mengerti mas, aku harus kembali sekarang juga."


Dika meraih pinggang ramping sang istri lalu mencium bahunya. Dika menghirup dalam dalam aroma tubuh istrinya. Ia merasa tidak rela istrinya yang baru datang itu langsung pergi.


" Mas…."


" Biarkan seperti ini sebentar Si… huft… aku merindukanmu."


Silvya membelai lembut rambut sang suami. Bukan hanya Dika, ia pun merasakan sebuah kerinduan yang mendalam. Namun lagi lagi semuanya ini belum selesai dan Silvya harus segera kembali sebelum pengikut Rodriguez keluar.


" Mas…"


" Iya aku tahu."


Dika melepaskan pelukannya dari sang istri lalu ia meraih tangan istrinya.


Sebuah suntikan didaratkan Dika di lengan Silvya.


" Aku harap ini bisa melindungimu sayang. Oh iya aku libur malam ini, biarkan aku menemnaimu."


" Tapi mas."


" Please…."


Silvya pasrah dengan permintaan sang suami. Ia pun mengangguk menyetujui permintaan Dika.


Dika dan Silvya keluar rumah sakit dengan membawa sebuah troli yang berisi seribu serum anti racun dan tentunya seribu jarum suntik. Mengingat saran dari Bisma soal berpakaian, mereka pun menyamar untuk mengelabui para mata mata yang dikhawatirkan berada di mana mana.


" Woaah… ini keren Si."


" Astaga mas. Kita tidak sedang bermain."


" Maaf…"


Dika mengenakan setelan seragam anak SMA lengkap dengan kacamata dan masker, sedangkan Silvya berperan seperti ibu ibu yang tengah mengantarkan anaknya berobat.


Dika tersenyum sepanjang koridor menuju tempat dimana mobil Silvya terparkir.


" Biarkan aku yang menyetir Si."


Silvya mengangguk. Dika kemudian menyalakan mesin mobilnya dan menekan pedal gas. Mereka siap untuk kembali ke villa.

__ADS_1


Kring…….


Suara panggilan telepon masuk ke ponsel Silvya.


" Ya Drake ada apa?"


" Hati hati… kalian diikuti."


" Oh oke…"


Silvya menutup panggilannya lalu menyentuh lengan suaminya dnegan lembut.


" Mas… kita pindah jalan. Cari jalan yang sepi saat keluar dari kota J. Kita sedang diikuti."


Glek… Dika menelan salivanya dengan susah payah. Tiba tiba tangannya berkeringat dingin.


" Jangan tegang, santai saja. Beberapa anak buahku dan Ar juga berjaga kok. Kita tidak sendiri."


Dika mengangguk tanpa bersuara. Kali ini ia menyerahkan semuanya kepada Silvya. Dika pun mengemudikan mobilnya ke tempat sepi sesuai keinginan sang istri.


Drake yang memang memasang pelacak di mobil Silvya langsung memberi kabar kepada anggota Wild Eagle tentang keberadaan sang Queen dan meminta mereka melindungi sang Queen.


" Sayang… apakah di sini cukup sepi. Ya Allaah sisi…."


Dika terkejut saat menoleh ke arah Silvya. Istrinya itu tengah memegang pistol dan dipangkuannya ada senjata laras panjang. Baru kali itu Dika melihat istrinya memegang senjata.


" Ya… cukup mas. Yang penting tidak di pemukiman warga karena takutnya mereka akan terkena peluru nyasar."


Ya Allaah apa yang akan terjadi dengan kami. Lindungi kami ya Allaah. Dika berdoa dalam hati.


Dor….


Sebuah suara tembakan mengenai mobil yang mereka tumpangi. Dika terjingkat, Silvya memegang tangan sang suami lalu tersenyum.


" Semua akan baik baik saja. Percayalah padaku."


Dor….


Lagi, sebuah tembakan melesat ke mobil mereka. Namun tampaknya mobil yang dipakai Silvya sudah didesain dengan anti peluru.


" Mas… terus mengemudi ok."


Dika mengangguk, Silvya melepaskan seat belt nya dan berpindah ke belakang.


" Mas… tekan tombol warna biru."


" Ya.."


Klik…..


Kaca mobil belakang terbuka, Silvya mengarahkan senjata laras panjangnya ke arah musuh yang ada di belakang.


Dor…


Dor…


Dor…

__ADS_1


Silvya melepaskan tembakannya. Ia sangat fokus membidik musuhnya.


TBC


__ADS_2