Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 45. Istriku Jagoan


__ADS_3

Dika menggenggam erat tangan Silvya. Mencoba untuk tetap tenang dan menerima semua yang terjadi. Ada rasa takut dan khawatir dalam diri Dika mengenai istrinya. Disisi lain Silvya sepertinya paham dengan kegundahan hati Dika. Wanita cantik itu pun mengusap lembut lengan suaminya seakan akan mengatakan semua akan baik baik saja.


Tapi kini keduanya tiba tiba saling tatap. Mereka seperti melupakan sesuatu. Dika dan Silvya melihat arloji di tangan mereka masing masing. Waktu menunjukkan tepat pukul 8 malam.


" Mas… aku rasa kita melupakan sesuatu?"


" Ho oh… ada yang mengganjal tapi apa ya."


Keduanya terdiam lalu Dika terlonjak sampai ia bangkit dari duduknya.


" Astagfirullaah… aku siang tadi kan ada jadwal operasi. Ya Allaah… pasti semua orang sibuk mencari ku. Ponsel ku kan diambil sama orang orang nya Erik. Duuh…. Gawat ini. Pasti dikiranya aku kemana."


Silvya yang mendengar ucapan Dika langsung memeriksa ponselnya. Ternyata ponsel miliknya mati.


" Mas… mereka pasti panik. Ponselku mati ternyata."


" Terus bagaimana? Apa Erik akan mengizinkan kita untuk pulang dulu?"


Silvya terdiam, ia sendiri tidak tahu apakah Frederik akan melepaskan suaminya atau tidak. Namun tidak ada salahnya mencoba memintanya dulu.


" Ayo kita tanya dulu."


Silvya menarik tangan Dika menuju ke tempat Frederik berada. Silvya akan meminta Orang tua itu untuk membiarkan mereka pulang malam ini.


" Pet…. Dimana tuan mu?"


" Ada di dalam Q."


" Sampaikan padanya aku ingin mengatakan sesuatu."


Pet mengangguk lalu dia mengetuk dan masuk ke dalam sebuah ruangan tempat dimana Frederik berada.


Tak lama Pet membukakan pintu dan mempersilahkan Silvya dan Dika untuk masuk.


" Ada pa Queen….sepertinya ini penting."


" Huft… bisakah kami pulang dulu Erik… kau yakin keluarga kami tengah pusing mencari dimana keberadaan kami."


Frederik mengerutkan keningnya. Ia sepertinya tidak setuju dengan permintaan Silvya. Silvya yang paham dengan tatapan temannya itupun mencoba meyakinkan Frederik bahwa Dika akan kembali kesini besok.


" Oh ayolah Erik… apa kau meragukan kata kataku? Aku akan membawa mas Dika lagi esok. Apa aku harus memberitahu putrimu tentang kondisimu saat ini?"


" Ya… ya… baiklah. Kau menang Q..dasar licik."


" Hahahha kau tahu aku Erik."


Tampaknya ancaman Silvya berhasil. Frederik pun membiarkan Dika pulang terlebih dahulu.


***


Kini Silvya dan Dika sudah berada di mobil Silvya. Sebelumnya Silvya telah menyuruh anak buahnya untuk kembali ke markas.


" Terus… kira kira, alasan apa yang harus diberikan kepada pihak rumah sakit."


Dika bergumam pelan sambil mengemudikan mobilnya. Gumaman itu masih terdengar jelas oleh sang istri. Silvya pun ikut memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


" Sepertinya kita harus pulang sendiri sendiri mas."


" Ya… aku setuju. Tapi aku masih bingung harus ngomong apa ke rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke rumah. Orang-orang Rumah Sakit pasti mencari keberadaan ku."


Silvya mengangguk. Jika ia begitu mudah mencari alasan, tapi berbeda dengan suaminya itu. Dika terkenal sebagai dokter yang disiplin. Dia tidak pernah absen atau menghilang tanpa kabar. Dan kali ini dia menghilang dan juga mangkir dari pekerjaannya.


" Terus gimana mas?"


" Udah nggak apa apa. Nanti di persimpangan menuju rumah sakit aku turun. Lalu mobilnya kamu bawa."


" Baik kalau begitu."


Dika masih memikirkan sebuah ide untuk membuat alasan. Ckiiiiittttt….. Dika menepikan mobilnya tiba- tiba hingga membuat Silvya  hampir terjerembab ke dashboard mobil.


" Mas….. Ada apa?!!"


" Maaf sayang… aku nggak sengaja. Aku lagi dapat ide?"


Dika tersenyum memikirkan ide itu sekaligus meringis, membayangkan rasanya akan seperti apa.


" Ide apa… mengapa kamu senyum terus meringis begitu."


" Bisakah kau memukulku?"


" Apa….????... Oh ayolah mas jangan bercanda. Aku nggak mau melakukan itu."


" Please sayang… ini satu satunya cara yang bisa terpikirkan olehku. Nggak mungkin kan aku ngomong yang sejujurnya bahwa aku diculik oleh pengusaha kasino dan istri mafia ku juga berada di sana."


Silvya terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Dika seutuhnya benar. Silvya tahu suaminya tidak akan bisa berbohong.


" Nggak apa apa… nih coba aja ayo… Sebelum kelewat malam."


Plak….


Silvya menampar Dika dengan telapak tangannya namun sangat pelan. Bahkan jika dibandingkan dengan memukul nyamuk pun masih keras memukul nyamuk.


" Ya Allaah Silvya… ini mah bukan mukul tapi ngelus elus. Yang keras."


Silvya pasrah dengan permintaan sang suami.


Bugh… plak...plak…


" Auch…. Shhhhh…."


Dika mengaduh kesakitan dan mendesis . Di sudut bibir Dika sampai keluar darah akibat tamparan Silvya. Mata sebelah kanan Dika pun sedikit membiru.


" Mas….. Hiks… "


Silvya menangis melihat wajah Dika yang terlihat lebam dan berdarah atas ulahnya.


" Cup...cup...cup…. Jangan nangis… aku nggak pa pa sayang."


" Nggak apa apa gimana… hiks… itu lebam…"


Dika terkekeh melihat Silvya menangis sesenggukan setelah melihat hasil karyanya. Dika pun mengusap lembut kepala sang istri untuk menenangkan.

__ADS_1


" Sudah ya… nggak apa apa… wajah tampan suami mu ini tidak akan berkurang sedikitpun walau lebam."


" Mas….."


Silvya tersenyum mendengar ucapan sang suami. Ia pun menghapus air matanya.


" Baiklah… kita berpisah di sini saja. Sayang apa kau membawa uang?"


" Eh… buat apa…?"


" Buat ongkos taksi sayang. Dompetku berada di dalam mobil. Jadi aku nggak punya uang sama sekali."


" Ya ampun mas… kau ini."


Silvya mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang kepada Dika. Dika lalu turun dari mobil Silvya dan mencegat sebuah taksi. Silvya melambaikan tangannya ke arah Dika. Lalu ia pun kembali ke dalam mobilnya dan menuju rumah.


Di dalam taksi Dika melihat wajahnya melalui kaca spion lalu menyentuhnya dengan tangan.


" Ya Allaah… tenaga Silvya benar benar luar biasa. Ini hanya dipukul tanpa kekuatan penuh aja bisa biru begini… auch… sakit juga. Istriku memang jagoan."


Dika bergumam pelan. Sang supir taksi sedikit heran dengan penumpangnya itu. Dika yang wajahnya lebam lebam malah tersenyum. Orang ini sungguh aneh, begitulah pemikiran sang supir taksi.


Ckiiit… taksi yang ditumpangi Dika sampai tepat di depan lobby rumah sakit. Dika menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada sang sopir lalu dia turun dari taksi.


" Huft…. It's time to show time."


Dika berjalan sedikit tertatih, bajunya dan rambutnya ia buat sedikit berantakan agar mendukung lebam di wajahnya. Ia berjalan perlahan masuk ke dalam. Dan berhasil, semua orang menatap dengan tatapan terkejut  bahkan direktur rumah sakit pun langsung turun ke lobby mendengar kabar kedatangan Dika.


Tania yang melihat Dika datang langsung berlari dan menghampiri Dika. Tania spontan memeluk Dika. Dika merasa risih, di apun melepaskan pelukan Tania.


" Jaga sikap anda dokter Tania." Ucap Dika dingin.


" Maaf dokter Dika… Saya hanya spontan. Sungguh saya khawatir."


Lisa yang melihat sahabatnya bertindak seperti itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia bergumam pelan, " Dasar Tania, selalu saja sembrono."


Lisa pun menghampiri Tania dan membisikkan sesuatu di telinga sang sahabat.


" Tania jaga sikapmu, kau tahu kan siapa dokter Dika."


Glek... Tania menelan saliva nya dengan susah payah. Karena kekhawatirannya ia melupakan fakta penting tentang siapa Dika sebenarnya. Tania pun merutuki kebodohannya sendiri yang begitu ceroboh bersikap.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Lisa berkata seperti itu, pasalnya direktur rumah sakit juga tengah berjalan mendekat ke arah Dika. Dan semua orang tahu Dika adalah dokter kebanggaan rumah sakit ini dan Dika juga bukan dokter biasa.


" Ya Tuhan dokter Dika… apa yang terjadi?"


Direktur rumah sakit langsung memeluk Dika. Dika pun mendesis untuk meyakinkan bahwa dia benar benar terluka.


" Maaf pak… Saya pasti sudah membuat keributan."


" Tidak masalah yang penting kamu baik baik saja. Mari keruangan ku dan ceritakan kejadiannya kepadaku."


" Baik pak."


TBC

__ADS_1


__ADS_2