Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 53. Pengantin Absurd


__ADS_3

" Jagalah Silvya Ge, seperti kau menjaga nyawamu sendiri?"


" Oh ayolah ayah, dia cuma gadis bau kencur. Hanya karena dia pintar bela diri saja masa ayah segitunya."


" Ge… kau tidak akan bicara begitu jika tahu siapa Silvya."


" Siapa memangnya?"


" Silvya itu putrinya Fatimah Ge, kakak mu. Berarti dia keponakanmu?"


" Hahahah, ayah jangan bercanda. Mana mungkin dia putrinya kak Fatimah."


" Aku tidak berbohong, Fatimah sangat membenciku kamu tahu itu. Dan aku tidak pernah melihat dan mendengar kabarnya. Aku hanya tau dia menikah untuk meminta ku menjadi walinya. Setelah itu aku tidak tahu kehidupannya seperti apa dan seperti apa rupa cucuku. Aku hanya sedikit penasaran karena melihat wajahnya yang begitu mirip Fatimah saat dia masih remaja. Aku menyuruh Ian untuk mengikuti Silvya. Dan tebakanku benar Silvya adalah putri dari Fatimah."


" Ya Tuhan, ayah…  terus gimana ini. Jika kak Fatimah tahu putrinya terjun ke dunia seperti ini… pasti… "


Geoff limbung. Ia tahu kakaknya itu tidak menyukai apa yang dikerjakan sang oleh sang ayah. 


" Maka dari itu, jagalah dia. Aku juga menyesal telah membawanya masuk ke dunia hitam ini. Entah berapa banyak kebencian yang akan Fatimah berikan kepadaku jika ia tahu."


Geoff yang mengingat semua kejadian saat sang ayah masih hidup itu hanya bisa tertunduk lesu. Rasanya ia sangat ingin menemui kakak nya dan mengatakan bahwa sang ayah sudah meninggal. Dia pun ingin meminta maaf karena adanya dia menjadikan sang ayah seorang mafia.


Edinson, nama ayah Geoff adalah seorang pengusaha yang tidak banyak neko neko. Suatu hari dia tengah dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Di tengah jalan ia menolong seorang wanita yang ternyata adalah seorang anak pemimpin Wild Eagle. Wanita itu pun menyukai Edinson.


Namun Edinson menolak karena dia sudah memiliki istri dan seorang putri. Waktu itu usia Fatimah 15 tahun. Namun wanita itu yang tidak lain ibu dari Geoff pun tidak menyerah. Ia menjebak Edinson hingga lahirlah Geoff. Sang pemimpin Mafia murka dan meminta Edinson menikahi anak perempuannya. Bahkan Edinson diancam kalau tidak mau ia akan membunuh Fatimah dan ibunya.


Edinson pun mengalah dan menuruti kemauan sang pemimpin Wild Eagle. Akhirnya Edinson dilatih untuk jadi penerus Wild Eagle. Fatimah dewasa akhirnya tahu sang papa menikah lagi, tapi ia mencoba menerimanya. Lagi pula mamanya memang sudah tidak ada karena sakit menahun. Namun yang Fatimah tidak terima yakni pekerjaan  papanya itu. 


Semenjak itulah Fatimah membenci Edinson, hanya saat akan menikah saja ia meminta Edinson untuk menjadi wali.


Geoff menangis di kamarnya. Ia sungguh seperti menjadi penyebab semua kekacauan yang ada.


Tidak ada yang tahu jika setiap malam Geoff larut dalam kesedihan dan rasa bersalahnya. Walaupun semua itu bukanlah dia yang salah. Kesalahan sebenarnya ada di ibu dan kakeknya.


🍀🍀🍀


Hari Senin adalah hari yang sibuk begitu juga dengan Dika dan Silvya. Keduanya sedari pagi sudah ditelepon oleh keluarga masing masing. Kedua keluarga tersebut sudah berada di KUA sejak pukul 6 tadi sedangkan Silvya dan Dika sampai pukul 7 belum juga sampai.


" Mbak Fatimah, gimana Silvya mengangkat teleponnya nggak?"


" Enggak mbak Sekar. Nak Dika gimana?"


" Sama… Aduh ini anak anak pada kemana sih. Radi, Andra coba tanya ke temen temen Dika, apa dia di rumah sakit."


" Bentar bund, Radi telpon Om Bisma aja deh. Mungkin Om tahu dimana Dika?"


Sekar mengangguk, sedangkan Aryo dan Harold berada di depan gedung KUA siapa tahu kedua anak itu muncul di sana.


" Assalamualaikum om.. Apa Dika di rumah sakit."


" Oh Dika, ada tadi dia habis ada operasi mungkin ketiduran di ruangannya. Kenapa?"

__ADS_1


" Astagfirullaah Dika… om Radi minta tolong bangunin Dika. Harus bangun ya Om.. Udah ditungguin di KUA. Cepet."


" KUA emang siapa yang mau nikah."


" Udah deh om tanya tanya nya entar aja. Bangunin Dika lebih penting."


" Iya iya…. Dasar ponakan lucknut semua."


Bisma pun berlari ke ruangan Dika. Seorang direktur rumah sakit harus berlari larian untuk membangunkan karyawan yang notabene nya adalah ponakannya.


Huft, kalau bukan takut dipecat jadi adik udah ku biarin tuh Dika. Haish.. Tahta tertinggi memang milik kakak pertama, Bisma bergumam sepanjang jalan menuju ruangan Dika.


" Dika… Dika… bangun… ya beneran molor nih bocah. Bangun…!!!??"


" Apa sih pak direktur, berisik deh."


" Astagfirullaah, kalau bukan ponakan udha aku pecat nih bocah. Bangun woi....katanya udah ditungguin di KUA."


" Eh KUA?? … Astagfirullaah… Asem... Aku kesiangan."


Dika mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar masih menggunakan baju untuk operasi dan Jas dokternya. Dika sungguh lupa hari ini akan menikah. Hari yang sudah ditunggu dan dan begitu dinanti malah ia kupakan. Semua itu gara gara Om Bisma, direktur rumah sakit Mitra Harapan. Dini hari tadi sang direktur memintanya ke rumah sakit untuk melakukan operasi darurat.


" Dasar Om durhakim. Hari spesialku huhuhu. Ya Allaah… Silvya."


Dika mengambil ponselnya dan menghubungi Silvya. Ia teringat Silvya pasti juga kesiangan.


" Hallo sayang, kamu udah otw."


" Iya udah di mobil untung mobilku di rumah sini. Aku juga kesiangan mas."


" Baik mas."


Dengan menggunakan mobil masing masing Dika dan Silvya menuju ke KUA.


Semua orang yang ada di sana berjalan mondar mandir. Pihak KUA pun bertanya berkali kali dimana calon pengantinnya.


Aryo dan Harold sampai malu, mereka berdua pun dibuat pusing dengan tingkah anak anak mereka.


Ckiiitt….


Setelah 30 menit Dika dan Silvya akhirnya sampai secara bersamaan di gedung KUA. Fatimah dan Harold terkejut melihat Silvya. Begitu juga Aryo, Sekar, dan ketiga anaknya yang lain terkejut melihat Dika. Pasalnya Silvya menggunakan Setelan baju kantor dan Dika masih menggunakan baju operasi serta jas dokternya. Ketujuh orang tersebut rasanya ingin menghilang. Disaat mereka berpakaian batik rapi dan para wanita memakai kebaya yang cantik Fatimah menggunakan gamis yang indah, ini pengantinnya malah di luar nalar.


" Kak… aku ingin bilang dia bukanlah saudaraku." Ucap Andra.


" Aku setuju sama bang Andra, aseli aku malu melihat mas Dika begitu." Jani menambahkan.


" Hust… jangan begitu. Emang kelakuan mas mu luar biasa absurd. Gitu gitu dia dokter terbaik negri ini."


Harold dan Aryo hanya menepuk jidat mereka pelan, sedangkan Fatimah dan Sekar rasanya ingin pingsan saat ini juga.


" Maaf sudah waktunya ijab qobul, mana calon pengantinnya?"

__ADS_1


" Saya!"


" Saya!"


Seperti sedang di panggil absen oleh guru,Silvya dan Dika pun mengangkat jari telunjuk mereka ke atas.


Lagi lagi hal itu membuat semua keluarga membuang nafasnya kasar.


"Astaga…. Kelakuan CEO LT sama absurdnya dengan Dokter Bedah yang dikatakan terbaik. Aku penasaran bagaimana jika publik tahu kelakuan mereka ini." Gumam Andra pelan.


Silvya dan Dika pun masuk kedalam gedung disusul semua orang. Mereka berkali kali melihat jam tangan.


" Apakah benar kalian yang akan menikah?"


" Benar pak!" Jawab Dika dan Silvya bersamaan.


Pak penghulu nampak heran dengan penampilan calon pengantin kali ini. Biasanya yang akan menikah itu akan berpenampilan rapi, anggun, gagah dengan busana adat atau jas dan kebaya. Tapi ini mereka menggunakan pakaian kerja formal dan jas dokter. Pak penghulu tersebut hanya menggeleng pelan. Baru kali ini ia mendapati calon pengantin yang out of the box.


" Baiklah kita mulai saja karena semua sudah ada.  Ayah calon pengantin wanita silahkan kesini. Anda mau meng ijabkan sendiri atau diwakilkan saya?"


" Bisakah saya sendiri Pak?"


" Bisa.. Anda tinggal mengucapkan ini…"


Harold mengambil nafasnya dalam. Ia menggenggam tangan Dika. Meski bukan yang pertama tapi rasa berdebar tetap ada di dalam dada Dika, terlebih ini berhadapan dengan ayah Silvya secara langsung.


" Ananda Radika Tara Dwilaga aku nikahkan dan kawinkan Engkau dengan putriku Silvya Bellona Linford binti Harold Linford dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua ribu dua puluh tiga rupiah dibayar tunai!"


" Saya terima nikah dan kawinnya Silvya Bellona Linford dengan mas kawin tersebut tunai!"


" Bagaimana saksi sah…"


" Sah….!!!"


Semua bahagia, Fatimah terlebih lagi. Dia sangat bahagia bisa menyaksikan putrinya menikah. Sekar pun juga dia merasa senang akhirnya satu diantara anaknya bisa menikah juga.


Setelah semua surat surat selesai ditandatangani Silvya dan Dika meminta restu kepada orang tua mereka. Ucapan selamat pun mereka terima. 


" Baiklah, ayah, bunda, daddy, dan mommy. Dika harus kembali ke rumah sakit karena jam 9 ada operasi lagi. Jadi tolong simpankan buku nikah nya dulu. Takut hilang kalau dibawa. Asslaamualaikum…."


" Maaf semuanya Sisi juga harus pamit karena Sisi ada rapat penting. Asslamaualaikum…."


Semuanya bingung melihat kelakuan kedua pengantin baru itu. Benar benar pernikahan yang kilat. Tidak ada sungkeman, tidak ada pesta tidak ada apapun.


" Mbak… kalau mereka sibuk terus kapan kita punya cucu ya." Keluh sekar.


" Iya mbak, ya Allaah. Ini mereka habis nikah langsung kabur kerja gitu. Astagfirullah."


Kedua ibu itu tertunduk lesu. Para suami yang melihat istrinya tampak bersedih itu pun membuat sebuah ide.


" Bagaimana kalau kita makan saja di luar. Biarkan lah mereka menikmati pekerjaannya. Sayang sudah ambil cuti juga." Usul Aryo.

__ADS_1


" Setuju mas, lagi pula pasti sudah pada  lapar kan?" Harold menyetujui usul Aryo dan semuanya pun mengangguk setuju. Akhirnya mereka mencari restoran terdekat dan menghabiskan waktu untuk makan dan berbincang. Sungguh mereka melupakan kedua pengantin itu.


TBC


__ADS_2