
Berada di meja makan kini semuanya berada. Kali ini Fatimah membuat soto surabaya dilengkapi dengan perkedel dan bahan pelengkap lainnya. Mata Arduino tampak berbinar menyaksikan semua masakan sang mommy.
Fatimah yang melihat wajah antusias putranya itu pun langsung mengambilkan makanan yang sudah tersaji.
" Ini… Makanlah Ar."
Arduino mengangguk, ia segera menyendok makanan dan memasukkan ke mulutnya. Ia mengunyah perlahan. Namun tiba tiba air mata nya luruh.
" Ar… kenapa?"
Arduino segera menyapu air matanya dan menggeleng perlahan.
" Tidak apa apa. Hanya saja ini sangat enak. Baru kali ini aku makan makanan seenak ini."
Fatimah mengusap punggung Arduino dengan perlahan. Fatimah paham dengan ucapan Arduino. Semua tampak haru melihat Arduino yang makan sambil menangis itu.
Sebenarnya bukan hanya Arduino, tetapi Geoff pun merasakan hal yang sama. Ia merasakan sebuah keluarga di rumah ini.
" Ar… apa kau akan tetap akan menggunakan nama Arduino Rodriguez apa Zola Aaron Linford."
Pertanyaan tersebut membuat Arduino terdiam. Iya menarik nafasnya perlahan dan membuangnya.
" Mom,dad, bisakah aku tetap menggunakan nama Arduino. Namun aku tetap akan menggunakan nama Linford di belakangku. Arduino Aaron Linford."
" Begitu juga bagus Ar. Daddy senang mendengarnya."
Arduino senang orang tuanya mengizinkan dia untuk menggunakan nama tersebut. Nama yang sudah lama ia pakai itu tidak mungkin bisa diganti. Karena banyak orang yang sudah mengenal namun ia akan menggunakan nama keluarga di belakang nama Arduino.
" Ar, apa kau akan kembali ke kota P?"
" Sepertinya Si, karena aku harus menyelesaikan semuanya yang ada di sana. Sebenarnya aku bisa saja menghandle perusahaan dari sini namun Black Wolf harus diselesaikan juga."
Silvya mengangguk. Ia pun juga harus segera menyelesaikan urusan Wild Eagle.
" Terus apa yang akan kau lakukan pada Wild Eagle Silvya."
Kali ini Geoff yang bertanya, ya saat ini Silvya tenga berbicara dengan Geoff, Arduino dan ia juga mengikutsertakan sang suami dalam pembicaraan. Sedangkan Fatimah dan Harold, mereka berdua sudah beristirahat di kamar mereka.
" Aku akan mengubah Wild Eagle Ge. Bukan lagi menjadi organisasi mafia. Wild Eagle akan ku jadikan sebuah agensi penyedia jasa keamanan seperti bodyguard dan security. Aku juga akan membuat agency tersebut berbadan hukum. Tapi entah mereka akan setuju atau tidak."
Geoff terdiam mendengar penuturan Silvya. Tampaknya itu adalah ide yang bagus, namun mungkin akan terjadi pro dan kontra.
" Tidak apa Silvya, coba nanti kita sampaikan saja. Jika ada yang menolak itu sudah menjadi hal yang biasa."
__ADS_1
" Kau benar Ge, nanti aku akan minta Drake untuk menyiapkan zoom meeting ke semua anggota."
Dika tersenyum dengan ide sang istri. Sebelumnya ia akan mengusulkan ide tersebut, tapi tampaknya Sylvia sudah lebih dulu berpikiran ke depan.
" Memanglah seorang CEO yang hebat. Pantas saja dia menjadi seorang CEO muda yang berbakat dan banyak dikagumi milenial muda." Dika bergumam dalam hati mengagumi sang istri.
🍀🍀🍀
Di sebuah panti, dimana banyak orang tua dari berbagai usia dan kondisi terlihat berkumpul di sana. Beberapa diantaranya ada yang sudah pikun. Dan berada di sini lah Rodriguez saat ini berada.
Ia membaur menjadi satu bersama dengan para orang tua lain di sana. Rodriguez tersenyum miris dengan nasibnya saat ini. Ia merasa dunia ini sedikit tidak adil kepadanya, atau mungkin malah semua ini adalah balasan dari Tuhan untuk semua perbuatannya.
Rodriguez yang duduk di kursi roda menatap nanar ke depan. Arduino dan Silvya benar benar membuat kedua tangan dan kakinya tak lagi bisa digunakan.
" Hah… benar benar jauh dari perkiraan."
Kalimat itu lah yang keluar dari mulutnya seolah menegaskan bahwa semuanya yang terjadi dalam hidupnya tidak ada yang sesuai dengan apa yang diinginkannya.
" Kau masih beruntung tuan Rod, mereka tidak membuang mu ke jalan dan menjadikanmu gelandangan."
" Kau… Mengapa kau di sini."
" Jelas saja aku di sini, panti ini milikku."
" Heh … ternyata semua ini sudah direncanakan."
" Bertaubatlah tuan, meskipun semuanya tidak bisa kembali seperti keadaan semula namun setidaknya hati anda akan tenang."
Setelah mengatakan hal tersebut, Jason meninggalkan Rodriguez sendiri di tempatnya menatap danau yang berada di depannya.
" Hahahaha … jika aku pikirkan lagi, semua yang terjadi dalam hidupku ini hancur karena cinta. Cinta yang salah. Hanya karena sebuah cinta yang tak tersampaikan membuatku begitu bodoh hingga menculik seorang bayi dan memisahkannya dari keluarganya. Bahkan dengan tega berniat untuk membuat saudara saling membunuh. Haah, cinta yang bodoh."
Rodriguez kembali termenung, ia menelisik setiap perjalanan hidupnya yang dilandasi dengan dendam. Sebuah dendam yang sebenarnya malah menghancurkan dirinya sendiri.
*
*
*
Silvya pagi ini berangkat ke perusahaan Linford Transportation. Ia sudah disambut oleh sekretarisnya dengan senyum merekah.
" Mengapa kau begitu bahagia?"
__ADS_1
" Tentu saja, anda sudah datang jadi saya pun bahagia."
Silvya memicingkan matanya, ia sungguh merasa aneh dengan tingkah sekretarisnya itu. Silvya pun masuk ke ruangannya, di sana sudah ada Ian yang tengah berkutat dengan tumpukan berkas.
" Woaah apa semua ini adalah pekerjaan?"
" Menurutmu?"
Ian menatap sewot ke arah Silvya. Dan wanita bermata coklat itu hanya tersenyum simpul.
" Big Bos. I'm coming."
Sekretaris Silvya masuk dengan sebuah troli yang berisi tumpukan berkas berkas yang mesti diperiksa Silvya.
" Gauri ... Apa ini?"
Sekretaris Silvya yang bernama Gauri itu tersenyum simpul lalu memindahkan berkas berkas yang ada di troli ke meja kerja Silvya.
" Ini adalah pekerjaan Big Boss. Semua klien, laporan per divisi dan pastinya beberapa tender harus segera diperiksa oleh anda. My boss."
Silvya melotot, ia sungguh terkejut dengan tumpukkan pekerjaan yang harus dikerjakannya.
" Gauri… kenapa bisa sebanyak ini."
Gauri tidak menjawab, ia hanya melirik kan matanya ke arah Ian. Silvya pun membuang nafasnya kasar, ia juga tidak bisa menyalahkan Ian sepenuhnya. Selama ini Ian sudah bekerja sangat baik, dan kasus Rodriguez kemarin perusahaan tidak ada yang menghandle.
" Ya kan Big Boss lama absen, ya jelas jadi numpuk puk puk. Itu saja para klien sudah mendesak meminta jawaban."
" Ya Allaah kalau begini caranya aku tidak akan bisa melakukan bulan madu dalam waktu dekat."
Ian yang mendengar ucapan Silvya langsung berdiri tegak.
" Apa? Kau akan bulan madu? Jadi kau akan absen lagi dari perusahaan. Ya Tuhan Silvya apa kau akan menjadikan jomblo seumur hidup karena mengurusi perusahaan mu ini."
" Oh ayolah Ian, apa kau tidak ingin menggendong keponakan yang lucu."
Gauri hanya menggeleng pelan menyaksikan kedua orang tersebut berdebat.
" Ekhem … Maaf big bos dan bos, sepertinya anda semua harus segera menyelesaikan pekerjaan. Jika tidak para klien akan kembali bernyanyi dan pastinya big boss tidak akan bisa pergi ber honeymoon. Permisi."
Silvya dan Ian terdiam mendengarkan ucapan Gauri. Keduanya akhirnya kembali melihat tumpukan pekerjaan dan mulai mengerjakannya.
TBC
__ADS_1