Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 80. Pemindahan


__ADS_3

Malam di rumah sakit Mitra Harapan begitu sangat sibuk. Bukan karena banyak pasien yang datang. Tetapi proses pemindahan Rodriguez yang dilakukan oleh Arduino dan Silvya.


Bisma yang diberitahu rencana tersebut sesaat hanya bisa terbengong-bengong saja. Otaknya tengah memproses informasi yang baru disampaikan sang keponakan dengan cermat.


" Baiklah, jadi Arduino dan Silvya akan membawa pergi Rodriguez. Lalu memindahkan Om Harold dan dua orang lainnya ke bangsal vip biasa. Begitu?"


" Yups, cerdas. Sekarang ayo Om bantu kami dan jangan banyak tanya."


" Huft… dasar keponakan durjana. Heran aku seneng banget kamu memerintahku."


" Tck… ayolah om jangan pake ngedumel gitu nanti jodohnya jauh."


Pletak….


" Auch… sakit om."


Bisma memukul kepala Dika dengan pena yang ada di sakunya. Omongan keponakannya itu sungguh menggelitik hatinya.


Huft… Dasar keponakan kurang ajar. Bisa bisa nya doain jodoh om nya jauh. Dasar. Gumam Bisma lirih.


Tangan Bisma ditarik oleh Dika menuju ruangan Rodriguez. Bisma hanya bisa pasrah.


" Bagaimana Si apakah sudah siap?"


Silvya mengangguk. Disana ada Roki, Ian, Arduino, dan Silvya serta beberapa orang yang lainnya yang siap mengawal Arduino keluar.


" No… dandanan kalian sungguh mencolok!" Teriak Bisma tiba tiba.


" Maksud om."


" Oh ayolah Dika… mereka para pengawal memakai pakaian hitam hitam begini. Itu Terlihat tidak natural dan mudah dikenali. Berpakaian lah seperti warga biasa. Dan Rod… jangan memakai kursi roda. Beri suntikan obat tidur saja lalu bawa dia menggunakan brankar layaknya orang meninggal."


Rodriguez melotot mendengarkan perkataan Bisma.


" Kalian semua memang brengsek!"


" Tck.... Om Bisma apakah kau sudah menyiapkan obat tidurnya?"


Bisma pergi keluar sebentar lalu kembali dengan membawa sebuah suntikan dan menunjukkan kepada semua orang.


Dika menatap ke arah Silvya dan Arduino, saudara kembar itu mengangguk setuju dengan usul Bisma.


" Baiklah Om. Tolong lakukan segera."


Bisma segera mendekat ke arah Rodriguez lalu menyuntikan obat tidur tersebut. Tak lama Rodriguez pun tertidur.


" Rok… hubungi orang kita, suruh mereka untuk membeli pakaian."


" Siap Ar…"


Selama menunggu pakaian pakaian dari orang suruhan Roki. Bisma dan Dika memindahkan Geoff dan Clark dibantu oleh Arduino dan Silvya.


" Berhati hatilah kalian berdua. Sepertinya ini tidak akan mudah. Merdeka pasti buka lah orang bodoh yang mudah untuk di tipu."

__ADS_1


" Iya Ge… kami tahu. Ini hanya agar tidak mengancam membahayakan nyawa orang banyak."


" Baiklah Ar. Berhati hatilah kalian."


Arduino dan Silvya mengangguk mendengarkan semua ucapan Geoff. Rasanya Geoff pun ingin membantu namun sungguh sial kondisinya tidak memungkinkan. Luka dalam tubuhnya lumayan membuat dirinya tidak bergerak bebas.


Setelah semua berhasil dipindahkan kini giliran membawa Rodriguez. Ia yang sedari tadi sudah dibuat tidur tidak akan tahu akan dibawa kemana oleh bocah kembar itu.


" Baiklah… beberapa dari kalian keluar lah dulu dan ambil mobil. Kalian berkendaralah dulu ke jalan agar kita tidak terlihat bergerombol."


Perintah Arduino langsung dipatuhi oleh orang orangnya.


" Si… kamu dan Ian satu mobil. Aku Rodriguez dan Roki akan satu mobil."


" Tapi Ar…."


Silvya tampak protes dengan pengaturan Arduino.


" Harus Si, kita harus terpisah mobil. Jadi kalau ada apa apa dengan salah satu mobil kita yang lain bisa membantu."


" Apa yang dikatakan Arduino benar Q."


Ian ikut menambahkan. Ia tahu, Silvya khawatir dengan saudaranya itu.


" Baiklah kalau begitu. Tapi hati hatilah. Aku merasa pengikut setia pria tua itu pasti memiliki mata mata di rumah sakit ini."


Feeling keduanya memang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai Queen dan King Mafia, mereka memiliki feeling yang kuat terhadap musuh.


" Maka dari itu kita harus berakting senatural mungkin. Kalian berlakulah sebagai suami istri yang kehilangan orang terdekat kalian. Aku dan Roki akan berperan sebagai perawat."


" Tidak Rok… itu terlalu mencolok. Ambulan dapat memancing mereka. Oke… are you ready guys. Let's go!!!"


Silvya bersama Ian berjalan beriringan di belakang brankar yang didorong oleh Roki dan Arduino yang sudah mengenakan pakaian perawat. Dika hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia tidak ambil peran kali ini.


Silvya mengatakan ini terlalu beresiko kalau Dika ikut dan takutnya malah memancing perhatian.


Bisma yang melihat akting mereka sungguh geleng geleng kepala. Disana terlihat Sivia yang menangis dan ditenangkan oleh Ian dengan merangkul bahu Silvya. Sesekali Silvya menyentuh orang yang sudah tertutup sempurna seluruh tubuhnya dengan kain menandakan orang tersebut telah meninggal.


" Keren Dik… istrimu pantas mendapatkan piala citra. Aktingnya natural banget."


" Ya begitulah Om. Banyak sekali kejutan yang kudapatkan setelah menikahinya."


" Apa kau tidak memintanya berhenti?"


Dika menggeleng, ia sudah memberikan hak tersebut kepada Silvya.


" Jika ia ingin berhenti dari apa yang dia kerjakan saat ini maka itu atas dasar kemauannya Om. Bukan karena permintaanku. Alu ingin dia sudah benar benar ikhlas saat meninggalkan dunianya."


Bisma menepuk bahu keponakannya sambil tersenyum. Ia sungguh bangga dengan pemikiran Dika.


" Hebat kau Dik. Kalau aku di posisi mu belum tentu aku bisa melakukannya. Oh iya untuk dokter dan perawat Rodriguez bagaimana?"


" Arduino sudah menyiapkannya om."

__ADS_1


Bisma mengangguk paham. Untuk kelas Arduino dan Silvya pastilah mereka sudah menyiapkan semuanya dengan hati hati dan sempurna.


" Baiklah Om… mari kembali bekerja. Dan kita harus bersiap siap dengan kejutan selanjutnya."


Dika dan Bisma menuju ruangan masing masing. Dika kembali melihat jadwal operasi yang akan dilakukan dan Bisma kembali memeriksa beberapa administrasi yang harus ia tandatangani. Ya dua jenis pekerjaan yang berbeda namun memiliki tanggung jawab yang tak kalah pentingnya.


*


*


*


Cekleeek….


Brak…


Semua sudah berada di mobil masing masing dan di posisi masing masing.


" Si… kita berangkat!"


" Baik Ar."


Mobil Silvya melesat di depan dan diikuti oleh mobil Arduino. Keduanya berjalan berurutan. Sesampainya di jalan raya beberapa mobil langsung mengitari mereka untuk membuat blokade perlindungan.


Jumlah total ada 8 mobil. Namun mereka membuat senatural mungkin agar tidak menarik perhatian. Mobil yang digunakan pun berbeda beda jenis, warna, dan merk.


" Ingat… jangan mencolok. Berkendara senatural mungkin. Terkadang beri jarak jangan terlalu dekat."


" SIAP!!!"


Arduino memberi perintah melalui alat komunikasi yang sudah mereka kenakan di telinga mereka. Black Wolf dan Wild Eagle memang sudah memutuskan bergabung. Sehingga apapun perintah Silvya dan Arduino mereka akan patuh.


" Ian… hubungi Drake."


" Siap."


Ian mengambil ponselnya dan menekan nomor panggilan cepat. Jika Ian menomori Silvya dengan nomor 1, Geoff di nomor 2, maka Drake di nomor 3.


" Drake… masuk…"


" Siap menerima perintah Q."


" Baik Drake, dengarkan. Retas seluruh cctv menuju Villa yang sudah aku berikan lokasinya padamu. Awasi dengan seksama jika ada kendaraan yang mencurigakan."


" Siap Q. Laksanakan."


" Baiklah Drake. Berhati hatilah. Aku sudah meminta pengawalan ketat sekitar markas."


" Baik Q. Kalian juga berhati hatilah. Selalu waspada dan jangan lengah."


Ian menyudahi panggilan teleponnya dan Silvya kembali fokus dengan mobil Arduino yang berada tepat di belakangnya.


Di markas Wild Eagle Drake langsung melaksanakan apa yang diperintahkan. "Baiklah, meskipun aku tidak selihai Mr. Sun dalam hal retas meretas namun keahlianku perlu di apresiasi lho. Mr. Sun andaikan aku bisa bertemu denganmu."

__ADS_1


Drake terus menarikan kesepuluh jarinya di atas keyboard sambil terus bergumam. Drake memanglah pengagum dari hacker terkenal itu, meskipun Drake sendiri belum pernah melihatnya.


TBC


__ADS_2