
Hari berganti, Frederik sudah sadar dari pengaruh anestesi. Pria itu terlihat baik baik saja. Dika pun melakukan pemeriksaan menyeluruh.
" Alhamdulillaah… semuanya normal. Semoga tubuhmu tidak melakukan penolakan. Kau harus beristirahat intens."
Frederik hanya mengedipkan matanya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Dalam hatinya Frederik merasa bersyukur bahwa operasinya berjalan lancar.
Dika melihat sekeliling, ia mencari seseorang yang biasanya selalu ada di samping Frederik.
" Di mana Pet. Sejak Erik masuk ruang operasi aku tidak melihatnya."
" Apa dokter mencariku?"
Pet muncul dari pintu menggunakan sebuah kursi roda. Dia di dorong oleh salah seorang anak buah Frederik.
" Ya Allaah…. Pet… kau kenapa?"
Pet hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Dika. Pet kemudian mendekat ke tempat tidur sang tuan.
" Sekarang semuanya sudah baik-baik saja Tuan. Saya harap setelah ini anda akan hidup dengan lebih baik lagi."
Frederik hanya bisa mengedipkan matanya. Sungguh ia amat berterima kasih kepada Pet. Pet secara sukarela mendonorkan hati miliknya. Dan kebetulan juga semuanya cocok. Padahal Frederick sempat menolak, namun Pet memaksa.
" Ya Allaah Pet…. Apakah kau yang mendonorkan hati untuk Erik?"
Bet mengangguk mendengar pertanyaan dari Dika.
Pantas saja kemarin saat ku tanya siapa pendonornya, Erik bilang bahwa donornya telah siap. Sungguh Aku tidak menyangka bahwa Pet adalah pendonor bagi Erik. Apakah di dunia mereka kesetiaan itu memang dijunjung tinggi?
Dika bergumam dalam hati ia masih mempelajari orang-orang seperti Erik dan juga istrinya. Banyak hal yang ingin Ia tanyakan kepada Silvyia.
" Baiklah Erik Istirahatlah aku akan di sini sampai dua hari kedepan. Oh iya Erik Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Frederick mengangguk Dika pun mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu. Frederik kembali mengedipkan matanya tanda Ia setuju dengan permintaan Dika. Dika pun tersenyum puas atas permintaan yang disetujui oleh Frederick.
" Baiklah Pet ayo aku akan mengantarmu keluar. Tuanmu butuh banyak istirahat dan kau juga kau harus banyak istirahat untuk pemulihan mu."
Dika membawa Pet keluar dari kamar Frederick. Ia mengantarkan Pet ke kamarnya dan memeriksanya sebentar.
" Kau sungguh luar biasa Pet. Bahkan kau secara suka rela mendonorkan hati untuk tuan mu."
" Loyalitas tinggi dokter. Bagi saya tuan adalah segalanya. Karena jika bukan karena beliau Saya tidak akan hidup sampai sekarang."
Dika mengerutkan keningnya Mencoba memahami setiap ucapan Pet. Tapi Dika tidak mau bertanya lebih. Ia memilih meninggalkan Pet untuk beristirahat.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Silvya tengah menatap lautan lepas. Angin laut yang berhembus menerpa wajah dan rambutnya. Saat ini ia tengah memikirkan pernikahannya yang sudah dekat. Silvia sedang menimbang Apakah dia akan memberitahu saudara-saudaranya di Wild Eagle ataukah tidak.
Jika tidak memberitahu mereka Silvia khawatir mereka akan marah, tapi jika memberitahu apakah mereka bisa menerima? Sungguh Silvia merasa dilema.
Dika yang melihat sang istri tengah melamun sambil melihat lautan langsung memeluk dari belakang.
" Apa yang kau pikirkan hmmm"
" Aku saat ini sedang bingung Mas, Apakah aku harus memberitahu saudara-saudaraku di organisasi ataukah tidak mengenai pernikahan kita."
" Jika kau menganggap mereka saudaramu maka beritahukanlah."
" Tapi …... aku takut mereka tidak menyukaimu."
" Hei… ayolah… Siapa yang tidak mengenalku. Aku yakin mereka akan menyukaiku bila mengetahui saudara perempuan mereka bisa menikah dengan dokter hebat sepertiku."
Silvia terkekeh mendengar penuturan sang suami. Iya merasa semakin hari suaminya semakin narsis.
" Astaga mas… Mengapa kamu semakin hari semakin narsis begitu."
" Hahahah…. Oh iya sayang nanti malam pakailah baju yang terbaik."
" Rahasia…."
Silvia merasa Aneh kenapa tiba-tiba Dika mintanya menggunakan pakaian yang bagus nanti malam. Namun Silvia tidak ambil pusing saat ini yang ia pikirkan adalah tentang bagaimana cara memberitahu saudara-saudaranya.
" Baiklah kalau begitu Oh iya Mas aku mau izin keluar menemui saudara-saudaraku."
" Ya lakukanlah temuilah mereka dan bicara baik-baik. Selain orang tuamu aku juga ingin mendapatkan restu dari mereka."
Silvya mengangguk, ia pun berlalu dari hadapan tiga dan segera menuju ke markas Wild Eagle. Sedangkan Dika dia tersenyum misterius. Dengan perginya Silvia berarti ia bisa melakukan rencana untuk nanti malam.
Dika mengambil ponselnya dan menghubungi orang-orang yang berkaitan dengan acara besok malam. Beruntung Pet memberikan ponselnya yang dibawa oleh para anak buah Frederik waktu itu saat penculikan. Jadi dia tidak kesulitan berhubungan dengan orang-orang.
***
Silvya telah sampai di markas Wild Eagle tepat pukul 4 sore. Semua tampak sedang berkumpul di sana. Drake dengan komputer dan monitor monitornya. Geoff dengan ponselnya dan Ian, Ian dengan kepalanya yang ia telungkupkan di atas meja.
Silvya sedikit geli melihat Ian. Dia tahu Ian pasti sangat kesal luar biasa karena dirinya yang kembali absen dari perusahaan.
" Hay brothers…. Pada lapar nggak… Aku bawa makanan nih."
__ADS_1
Kedatangan Silvia dengan membawa dua kantong kresek penuh makanan membuat Geoff dan Drake saling pandang. Gadis itu tidak biasanya membawa makanan seperti itu. Apalagi senyum manisnya itu sungguh mencurigakan. Berbeda dengan Geoff dan Drake, Ian begitu senang mendapatkan banyak makanan. Iya Pun menyambut Silvia dengan tangan terbuka.
" Makanlah yang banyak brother… Aku tahu kau pasti sangat lelah bekerja seharian, bukan begitu."
" Yoi Q… you are the best sister."
Ian sibuk membuka kotak demi kotak makanan yang Silvya bawa.
" Apa yang sedang direncanakan oleh gadis ini? Aku curiga dengan kebaikannya yang tiba-tiba." Batin Geoff.
" Woaaah… ada angin apa Q membelikan kita makanan yang begitu banyak."
" Jangan selalu berburuk sangka Drake. Kemari dan makanlah, aku membelikanmu empek-empek khusus dari penjual asli Palembang."
Drake antusias makanan favoritnya disebut oleh Silvya. Ia pun segera mendekat, dan benar di sana ada empek-empek kesukaannya.
" Ge… kau tidak makan?"
" Aku nanti saja. Oh iya ada apa Q kemari apakah ada tugas penting?"
" Oohh bukan… Aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa empat hari lagi aku akan menikah."
" Apa…." Geoff sangat terkejut hingga ia menjatuhkan ponselnya ke lantai.
Sedangkan Ian dan Drake, mereka berdua menyembuhkan makanan yang berada di mulut mereka lalu terbatuk-batuk. Silvia mengulurkan air mineral kepada kedua saudaranya. Ian dan Drake mengambil dengan buru-buru lalu meminumnya hingga habis.
" Kalian kalau makan hati hati. Aku nggak akan minta makanan kalian. Dan kau Ge… kalau pegang ponsel ynag bener… kan jadi jatuh."
Ketiga pria itu membuang nafas mereka dengan kasar. Dengan tanpa rasa bersalah Silvya berbicara tanpa rasa beban karena dialah yang membuat mereka seperti itu. Silvya memanglah gadis yang tidak bisa berbasa basi. Ia akan mengutarakan maksud dan keinginan secara langsung. Dan kali ini apa yang ia ucapkan membuat ketiga saudaranya itu seperti sedang disambar petir.
" Q… kau bercanda ya?" Ucap Drake
" Iya…kau… siapa pria yang sial mendapatkanmu itu.
" Ian… mulutmu… awas kau. Aku akan lebih lama cuti dari LT."
Ian menutup mulutnya dengan rapat. Iya tidak ingin jadi penunggu perusahaan.
" Sudah… jangan ribut. Baiklah Q.. Kau akan menikah dengan siapa? Siapa pria yang akan menikahimu. Apakah di tahu siapa kau. Dan apakah dia menerima side job mu ini?"
Silvya terdiam, semua menatap Silvya dengan rasa penasaran. Mereka penasaran siapa pria yang mau menerima status Silvia sebagai Ratu mafia.
" Pria itu adalah Radika Tara Dwilaga."
__ADS_1
TBC