
Silvya kembali ke rumah sakit bersama dengan Arduino. Sedangkan Rodriguez benar benar dikirim ke panti jompo oleh Arduino. Roki dan Jason yang diminta untuk mengantar. Sedangkan Ian, disuruh Silvya kembali ke perusahaan. Sungguh hal yang sangat Ian tidak suka namun tetap ia lakukan.
" Semuanya benar benar berakhir Ar."
" Iya Si… kali ini sungguh berakhir."
" Oh iya kedua orang yang lari itu?"
" Biarkan Si, mereka memilih pergi berarti mereka tidak ingin melanjutkan semuanya. Dan aku yakin mereka ingin berhenti karena ingin hidup dengan lebih baik."
Silvya mengangguk, Arduino pun menginjak pedal gas nya dalam dalam. Ia ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya.
Di rumah sakit Dika masuk ke ruangan mertuanya tersebut untuk menyampaikan hal menggembirakan.
" Assalamualaikum Mom, Dad, uncle ,dan Clark. Ada kabar baik untuk semua. Hari ini semuanya sudah boleh kembali ke rumah masing masing."
" Alhamdulillaah."
Harold mengucap syukur. Ia sungguh senang, pasalnya ia begitu bosan dengan rumah sakit.
Setelah membereskan Paulo Silvya segera memberi kabar kepada Dika bahwa semuanya sudah berakhir. Dengan begitu sudah aman bagi semuanya untuk pulang ke rumah.
" Ge… kau ikutlah kami pulang ke rumah."
" Tapi kak…"
" Kau adikku Ge, kau akan kemana setelah pulang dan siapa yang akan merawat mu hmmm?"
Geoff terkejut, ia sungguh tidak menyangka kakaknya Fatimah akan meminta dia pulang ke rumah. Ya Rumah, sebuah kata yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Sebuah kata yang sejujurnya ia sangat merindukannya, kini kata itu ia dengar.
Akhirnya aku memiliki tempat pulang. Batin Geoff
" Baiklah kak, aku akan ikut. Kak Harold tidak keberatan kan aku ikut?"
" Ya Allaah Ge, apakah aku terlihat seperti kakak ipar yang kejam."
Semua tergelak mendengar ucapan Harold. Dika sungguh senang bisa melihat tawa kedua mertuanya setelah banyak hal yang mereka lalui.
Alhamdulillaah ya Allaah semuanya sudah berakhir. Aku harap semuanya benar benar berakhir dan kami bisa kembali hidup dengan normal. Monolog Dika dalam hati.
Clark tampak diam saja saat semua orang tengah tertawa. Ia baru menyadari bahwa ia tidak punya keluarga. Saat ini ia menyadari betapa berharganya sebuah keluarga itu. Tiger Fangs sudah dibubarkan dan kegundahan memenuhi hatinya. Sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya, kemana aku akan pergi setelah ini.
Tok ... Tok ... Tok …
__ADS_1
" Selamat siang Dokter, kata daddy orang di ruangan ini sudah boleh pulang. Aku ingin menjemput paman Clark."
" Oooh anda tuan Darrius, putra dari Tuan Albern? Ya … sudah… Silahkan masuk Tuan."
Darrius masuk dan mendekat ke arah Clark.
" Paman, daddy memintaku untuk menjemputmu. Mari pulang bersamaku dan tinggallah bersama kami."
Kedatangan Darrius bagai oase di tengah gersangnya hati Clark. Ia sungguh bersyukur, tuannya masih mengingat keberadaan dirinya. Clark pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
" Terimakasih Darrius,"
" Jangan sungkan, bukankah kita ini keluarga?"
Clark tergugu, ia sungguh bersyukur dengan apa yang diucapkan Darrius kepadanya.
Tak...tak...tak...ceklek…
" Mom… Dad…."
Silvya dan Arduino menghambur memeluk kedua orang tua mereka. Harold dan Fatimah sungguh terkejut dengan perilaku putra putrinya itu. Namun keduanya sungguh bersyukur Arduino dan Silvya kembali dengan selamat.
" Kau tidak ingin memeluk suami mu Si?"
Ucapan sang mommy menyadarkan Silvya. Ia bahkan tadi tidak melihat Dika ada di dalam saat masuk. Silvya pun melepaskan pelukannya dari sang mommy dan beralih ke Dika yang berdiri di sana.
" Alhamdulillaah kamu pulang dengan selamat sayang."
Dika memeluk erat istrinya itu, begitu juga dengan Silvya. Silvya bahkan berkali kali mencium pipi Dika membuat sang dokter malu setengah mati.
" Sayang, banyak orang malu."
" Halah, biarin ah mas. Udah halal kok."
Blush
Muka Dika sungguh memerah mendengar pernyataan sang istri yang begitu lantang di depan semua orang.
" Ya Tuhan Mom, Dad, lihatlah kelakuan anak perempuan kalian. Astaga sepertinya sebentar lagi aku akan punya ponakan."
Ucapan Arduino sukses membuat seisi ruang perawatan itu tergelak. Bahkan Darrius pun tersenyum. Ia juga ikut merasa bahagia saat orang yang dicintainya menemukan kebahagiaan.
" Syukurlah Silvya, kau menemukan orang yang tepat. Aku sungguh bahagia melihatmu begitu bahagia. Aku melihat sisi lain dari dirimu saat kau bersama dengan dokter Dika."
__ADS_1
Ya, sebelumnya Albern sudah memberitahu Darrius bahwa dokter di rumah sakit tempat Clark dirawat adalah suami Silvya. Sebenarnya Darrius sangat terkejut, pasalnya dokter Radika Tara Dwilaga merupakan dokter hebat yang dikenal banyak orang. Namun sejurus kemudian ia tersenyum karena menurutnya Silvya sungguh pantas mendapatkan dokter Dika. Mereka akan menjadi pasangan yang sama hebatnya.
Sesaat tadi Darrius juga terkejut saat melihat Arduino. Ia memperhatikan wajah pemimpin Black Wolf itu dengan seksama. Dan benar, pria itu memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Silvya. Selama ini tidak ada yang menyadari akan hal itu.
Dan entah bagaimana bisa keduanya tidak pernah saling bertemu saat menjadi pemimpin Black Wolf dan Wild Eagle. Mungkin semuanya sudah diatur Rodriguez agar keduanya tidak saling jumpa mengingat Rodriguez begitu licik.
🍀🍀🍀
Kediaman Harold tampak ramai. Rumah yang tadinya hanya ada dua orang itu kini ada enam orang di dalam nya. Ya Dika, ikut mengantar Harold dan Geoff pulang. Kebetulan juga dia tidak ada jadwal operasi sampai besok pagi.
" Baiklah. Hari ini Sisi yang akan masak."
" No! Aku mau makan masakan mommy."
Usulan dari Silvya ditolak mentah mentah oleh Arduino. Fatimah hanya tertawa melihat kelakuan kedua anaknya itu. Jika dulu Silvya tidak pernah ribut sama sekali dengan Zion, tampaknya kali ini akan berbeda. Silvya dan Arduino memiliki sifat yang sama sama keras. Rumahnya akan ramai jika keduanya tengah bersama.
" Baiklah mommy akan memasak. Tapi bahan makanan di kulkas sudah tidak bisa dipakai. Bisakah membantu mommy belanja."
" Dika saja mom."
Dika berdiri menawarkan diri untuk berbelanja. Tentu saja diikuti oleh Silvya.
Keduanya keluar dari rumah menuju market terdekat untuk mencari bahan makanan.
" Baiklah sudah sampai. Ayo mas turun."
Ketika Silvya hendak turun, tangannya ditarik oleh Dika.
Cup, Dika mencium bibir Silvya sekilas.
" Apa kau tahu aku sungguh merindukanmu."
Mendapat pernyataan kerinduan dari sang suami, Silvya langsung menyambar bibir Dika dan ******* nya dengan begitu lembut. Mereka pun saling menyesap dan bertukar Saliva melepaskan kerinduan yang mendalam.
" Cukup mas. Kita sudah ditunggu oleh semua orang di rumah. Nanti kita lanjutkan di rumah oke."
" Benarkah? Ayo segera berbelanja dan pulang."
Dengan penuh semangat Dika segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke market. Silvya yang tertinggal di belakang hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat kelakuan sang suami yang menurutnya begitu absurd.
TBC
Hollaa Readers kesayangan... Sepertinya udah mau bau bau end ya hehehe... Biasa novel othor sat set wes kelar lah ... Terimakasih ya untuk semua reader yang sudah memberikan dukungan.
__ADS_1
Yuk untuk Silent readers harap tinggalkan jejak minimal Like, tidak akan rugi jika menekan Like di setiap bab nya hehehe. Karena satu Like dari pembaca sungguh merupakan dukungan yang berarti untuk readers.
Terimakasih, matursuwun sanget