Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 63. Dewi Kekejaman Datang


__ADS_3

Silvya kembali melajukan mobilnya setelah sampai di pulau S. Ia segera menuju ke tempat dimana Albern berada. Meskipun ia sangat malas untuk mendatangi tempat seperti itu namun ia harus melakukannya demi mencapai tujuannya.


" Huft… sepertinya perutku sudah mulai terasa lapar."


Silvya melihat kanan dan kiri mencoba mencari tempat makan untuk mengisi perut nya yang mulai protes karena belum juga diisi.


" Baiklah… waktunya untuk mengisi tenaga sebelum menghadapi kenyataan hidup."


Silvya berhenti di sebuah warung makan. Ia akan makan dulu sebelum ke tujuan pertama. Silvya tidak banyak memilih, yang penting ia harus segera mengisi perutnya. Namun tampaknya tidak akan sesederhana itu. Saat Silvya masuk ke warung makan itu, banyak pasang yang sudah tidak sabar untuk mengacaukan makan malamnya.


" Huft apakah tidak bisa membiarkanku maka dulu."


Bugh… bugh…


Silvya yang hendak akan duduk sudah mendapat serangan bertubi tubi. Namun secepat kilat ia bisa menahannya.


Klak….klak…


Silvya menodongkan sebuah senjata ke arah mereka.


" Siapa yang menyuruh kalian ?"


Semuanya bungkam namun pandangan mata mereka terlihat begitu sinis.


Hah…. Silvya membuang nafasnya kasar.


Dor…..


Silvya melepaskan sebuah tembakan. Dari luar muncullah seseorang yang lari sekuat tenaga menghampiri Silvya.


" Q… kau tidak apa apa?"


Silvya mengerutkan kedua alisnya. Ia memindai seseorang yang menyebut namanya itu.


" Kau… Nico?"


" Ya Q… Aku Nico."


" Lalu siapa mereka semua?"


Nico mendekatkan bibirnya ke telinga Q dan membisikkan sesuatu.


" Haish… sebegitu takutnya kah tuan kalian hingga mengutus kalian sebanyak ini hanya untuk melumpuhkan satu wanita. Tck...tck..tck… dasar si brengsek Albern itu."


" Nic… pesankan, jangan jangan … kelamaan. Ambilkan seporsi makan malam. Sungguh aku sangat lapar."


Nico tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Silvya namun Nico patuh dengan perintah Silvya. Dia lupa bahwa misinya melindungi Silvya haruslah dilakukan diam diam.


Sedangkan kelompok yang ternyata adalah orang orang Albern ini hanya bisa terdiam. Pasalnya seorang dari mereka menjadi sandera Silvya. Silvya bahkan menodongkan pistol di kepala salah seorang dari mereka karena tadi menyerangnya tiba tiba.


" Bagaimana ini?"


" Sudah diam saja. Tunggu apa yang dia akan lakukan."


Nico membawa seporsi makan malam. Silvya langsung memakan makanannya dengan begitu lahap tanpa beban sama sekali.


15 menit berlalu Silvya akhirnya selesai juga. Dia pun kembali menghadap ke sekelompok orang yang berjumlah 10 orang tersebut. Silvya sedikit heran mengapa mereka tidak menyerang, kalau cuma satu orang yang ia jadikan sandera pastinya tidak akan membuat mereka berhenti melakukan penyerangan.

__ADS_1


" Hahahah…. Aku tahu kenapa kalian diam saja. Orang ini pasti pemimpin kalian. Kau… katakan apa perintah tuan mu?"


" Cuih .. Tidak akan ku katakan."


Dor….


Silvya langsung menembak kepala pria tersebut saat itu juga. Silvya saat ini tengah di mode kejam yang sesungguhnya.


sekelompok orang tersebut yang melihat ketua kelompok mereka hilang nyawanya seketika langsung lemas. Wajah mereka pucat pasi.


" Apakah ada yang mau mengatakan padaku, apa yang tuan kalian perintahkan kepada kalian?"


" Cepat katakan sebelum nyawa kalian melayang."


" Tuan Albern menyuruh kami menahan anda agar dia bisa pergi dulu dari kota ini."


" Sial."


Silvya langsung melompat dan berlari menuju mobil. Ia menekan pedal mobilnya dalam dalam dan melesatkan Rubicon birunya menuju rumah bordil tempat dimana Albern berada.


" Ya Tuhan wanita itu."


Nico hanya membuang nafasnya kasar. Ia pun segera masuk mobil dan menyusul Silvya yang sudah tidak terlihat lagi.


Di dalam mobil Silvya mencengkeram kemudi mobilnya dengan sangat kuat.


" Sialan… Dasar tua bangka brengsek. Lihat saja aku tidak akan melepaskanmu. Sialan. Mengapa dia bisa tahu kedatanganku. Brengsek… pelabuhan ya… pasti ada beberapa orang milik pria tua bajingan itu di pelabuhan. Awas kau Albern."


Brummmmm…..


Mobil itu melaju dengan sangat cepat. Sungguh Silvya tidak akan melepaskan Albern kali ini. Jika Albern mencoba lari darinya berarti ada yang Albern ketahui.


Silvya menekan mobilnya untuk menghubungi Geoff.


" Ge… berikan keamanan untuk suami serta ayah dan ibuku. Nampaknya si brengsek Albern meretas keamanan rumah sakit untuk memata mataiku."


" Baiklah Q."


Silvya menutup panggilan teleponnya. Ia mendesahkan nafasnya berat.


" Aku tetap tidak bisa lepas dari Wild Eagle. Huft…"


🍀🍀🍀


Di sebuah rumah bordil pria berusia 55 tahun itu tengah bermain main dengan beberapa gadis. Ia lupa bahwa kroco kroconya itu bukanlah tandingan sang Queen.


" Apakah anda masih ingin minum tuan?"


" Tentu saja sayang, tuangkan lagi untukku."


Albern kembali menenggak wine yang dituangkan oleh seorang wanita, wanita itu bahkan membantunya minum. Sedangkan tangan Albern tengah sibuk meraba tubuh wanita yang berada di pangkuannya. Ia memainkan tangannya di benda kenyal itu dan mulai menciumi leher si wanita.


Clark sang asisten hanya bisa membuang nafasnya kasar. Kelakuan tuannya sama sekali tidak berubah. Seorang wanita menghadiri Clark.


" Apakah anda ingin minum tuan."


Melihat Albern asik bermain membuat Clark menyetujui tawaran si wanita.

__ADS_1


" Sini duduklah di pangkuanku."


Wanita itu pun mengangguk patuh lalu duduk di pangkuan Clark dan menuangkan minuman. Clark sebagai pria normal pun mulai menyentuh tubuh si wanita yang berada di pangkuannya.


" Tubuhmu begitu wangi cantik. Aku menyukai aroma tubuhmu."


Si wanita tidak memberikan gelas yang berisi wine untuk Clark namun ia malah menuangkan wine tersebut di tubuhnya.


Clark menyeringai melihat tindakan si wanita. Clark pun mulai menjilati wine yang dituangkan di tubuh wanita itu.


Akh… wanita itu memekik saat Clark mulai menghisap benda kenyalnya. Wanita itu juga mengarahkan tangan Clark ke area intinya yang sudah basah.


" Waah kau sudah sangat basah sayang."


Tanpa aba aba lagi Clark menurunkan celananya lalu menghunuskan pedangnya di lembah basah itu. Wanita itu menaik turunkan tubuhnya di pangkuan Clark.


Argh… Clark memekik saat ia mencapai puncaknya. Namun ia membiarkan pedangnya bersemayam di sarungnya sejenak sambil terus menikmati benda kenyal di depannya.


Albern dan Clark yang terbuai oleh nikmat dunia itu tidak tahu jika Dewi kekejaman tengah mendekat ke arah mereka.


Dor… Dor… dor…


Beberapa suara tembakan dilepaskan oleh Silvya. Ia dengan santai melenggang masuk ke bar sekaligus rumah bordil itu. Tangan kanannya membawa sebuah pistol dan tangan kirinya memanggul sebuah senjata laras panjang.


Beberapa orang berlarian mendengar suara tembakan. Bahkan diantara mereka berlari tanpa berpakaian.


"Cuih… menjijikkan."


Silvya terus melangkah dengan tenang menuju ruangan utama yang dia sangat yakin Albern berada di sana.


Dor… bruak…


Suara tembakan dan gebrakan pintu membuat semua orang di dalam terkejut. Para wanita berteriak histeris. Albern dan Calrk yang tengah berada di posisi telanj*ng langsung mengangkat senjata mereka dan melempar wanita yang berada diatas tubuh mereka.


" Sial!!" Umpat Clark yang secepat kilat memakai celananya kembali.


" Tck...tck… tck… jangan buru buru. Aku masih ingin melihat kalian bermain. Ayo teruskan."


" Queen… bagaimana bisa kau?"


" Oh pak tua Albern, agaknya kau memang sudah pikun. Apa kau pikir para curut milikmu itu bisa menahanku?"


" Dasar wanita sampah…"


Silvya mendekat ke arah Albern. Ia mengacungkan senjatanya ke kepala Albern. Clark yang hendak mendekat juga diacungi senjata oleh Silvya.


" Berhenti atau kepala tuanmu akan hancur sekarang juga. Kau tahu kan kekuatan senjata yang ku pegang."


Clark mau tidak mau akhirnya mundur. Ia tidak mau ambil resiko dengan keselamatan tuannya.


" Nah sekarang tuan Albern yang terhormat. Ceritakan kejadian 8 tahun silam di taman bermain Gembira Ria. Apa saja yang kamu lihat di sana. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun."


" Taman bermain Gembira Ria, 8 tahun yang lalu, bagaimana kau tahu kejadian itu?!


" Karena aku ada di sana. Dan pemuda yang tertembak adalah saudara kembarku Zion."


" Apa??? Bagaimana mungkin???!!!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2