Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 50. Rencana Dika


__ADS_3

Mendengar ucapan Silvya bahwa dia akan menikah membuat ketiga saudara Silvya di Wild Eagle sangat terkejut. Mereka pun bertanya siapa pria yang bersedia menikahi Silvya dengan statusnya sebagai Ratu Mafia.


Setelah terdiam sejenak akhirnya Silvya menyebutkan sebuah nama.


" Pria itu adalah Radika Tara Dwilaga."


Drake yang mendengar nama yang menurutnya tidak asing itu langsung menuju ke komputernya. Ia mencari nama tersebut di laman pencarian. Tidak butuh waktu lama, Drake langsung mendapatkan data mengenai pria yang disebutkan oleh Silvia.


" Radika Tara Dwilaga, putra kedua dari Aryo Dwi laga seorang pemilik Yayasan Universitas Nusantara merupakan universitas terbaik di negeri ini. Radika atau yang biasa disapa Dika merupakan seorang dokter yang memiliki banyak lisensi medis mulai dari dokter umum lalu dokter spesialis penyakit dalam dan terakhir dokter bedah spesialis. Namun dia lebih menonjol sebagai seorang dokter ahli bedah. Bahkan dia adalah dokter ahli bedah terbaik di negara ini."


Drake membaca sekelumit informasi dari pria yang disebutkan oleh Silvya. Ia sungguh terkejut Silvya akan menikah dengan dokter hebat itu.


Geoff dan Ian pun ikut ternganga mendengar informasi yang disampaikan Drake. Bagaimana Silvya bisa mengenal pria yang begitu hebat. Dan anehnya lagi mengapa pria itu mau menerima Silvya.


" Q… kau mengguna-guna i dokter itu."


" Brengsek kau Ian… itu perbuatan syirik tahu."


Ian terkekeh mendapat jawaban dari Silvya.


" Oh ya, kemarin saat aku meminta Drake melacak seseorang itu dia adalah dokter Dika. Frederik menculiknya untuk meminta dokter Dika melakukan operasi transplantasi hati terhadapnya."


Drake dan Iyan lagi-lagi terkejut. Mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa pria itu memang hebat sampai Frederick pun meminta dokter itu untuk melakukan operasi terhadap dirinya.


" Lalu Q… bagaimana kalian bisa bertemu."


" Dia yang menolongku saat penyerangan tiba tiba malam itu. Jika bukan karenanya mungkin aku sudah mati ditengah jalan."


Geoff terdiam. Ternyata dokter Dika lah yang telah menolong Silvya saat mereka tidak ada bersamanya. Geoff merasa Dika adalah orang yang pantas mendampingi Silvya. Dalam hati kecil Geoff bahkan ia berharap pria itu bisa membawa Silvya keluar dari dunia bawah yang hitam dna gelap ini.


" Jadi bagaimana, apakah kalian akan merestuiku."


" Menikahlah Q, kau juga berhak bahagia. Aku merestuimu."


" Kami juga, apa yang diucapkan Geoff benar. Berbahagia lah Q. Kami selalu mendukungmu."


Silvya terharu mendengar ucapan ketiga saudaranya. Geoff, Drake, dan Ian mendekat ke arah Silvya dan memeluk gadis kecil mereka bersama sama.


Mereka sama-sama tidak menyangka bahwa gadis ABG yang mereka temui kemarin sekarang sudah menjadi seorang wanita yang siap menjadi seorang istri.


" Terimakasih... kalian memang saudara terbaikku. Meskipun aku sudah tidak memiliki saudara tapi kalian membuatku merasa memiliki kakak yang bisa selalu aku andalkan."


Geoff mengusap lembut kepala Silvya. Tak terasa air matanya menetes. Ia merasa tugasnya melindungi Silvya kini semakin berkurang. Karena Silvya akan menjadi seorang istri.


🍀🍀🍀


Di kapal pesiar mewah itu Dika meminta beberapa pelayan untuk membantunya membuat dekorasi di salah satu dek kapal. Ia memilih lokasi outdoor agar bisa melihat laut lepas dan langit berbintang. Tapi Dika juga memanggil orang yang memang ahli dalam mendekorasi ruang. Malam ini Dika akan membuat kejutan untuk Silvya.


Dika menghubungi keluarganya dan keluarga Silvya untuk datang ke kapal pesiar tersebut. Dika secara khusus meminta seseorang untuk menjemput mereka.


" Hallo Bund…"


" Iya mas… Ada apa?"


" Bund… malam ini Mas mau membuat lamaran resmi kepada Silvya. Bisakah bunda menolong mas menyiapkan sedikit seserahan."


" Ya Allaah mas… kanapa dadakan begini. Ini udah sore lho apa nggak bisa besok aja."

__ADS_1


" Nggak bisa bund, waktu yang pas untuk saat ini. Tidak usah banyak banyak. Dirasa cukup dan pantas saja. Nanti habis magrib akan ada orang yang menjemput bunda dan semuanya."


" Ya ya… baiklah."


Sekar kalang kabut menerima permintaan sang putra keduanya. Bagaimana bisa ia menyiapkan seserahan dalam hitungan jam saja.


Jani yang melihat sang bunda mondar mandir sedikit merasa heran.


" Bunda… ada apa kok bingung gitu."


" Itu lho mas mu minta bunda nyiapin seserahan. Nanti malam mau ngelamar Silvya secara resmi."


" Apa… dasar mas Dika ini. Tapi tenang bund. Aku akan bantu bunda… Ayok sekarang kita lets go."


Sekar tenang, beruntung ia masih punya anak perempuan. Meskipun Jani adalah tipe gadis yang cuek tapi ternyata ia bisa memberi jalan keluar juga di saat saat genting. 


Sekar dan Jani pergi untuk mencari seserahan. Sebelumnya ia sudah berkirim pesan kepada suami dan kedua putranya yang lain agar mengosongkan jadwal malam ini karena Dika akan melakukan lamaran. Mereka pun ikutan syok mendengar apa yang diucapkan oleh sekarang. Terlebih lagi Andra, Andra yang seorang public figure yang mempunyai jadwal lumayan padat namun tidak mau harus mengundurkan jadwalnya malam ini.


Sedangkan Fatimah dan Harold yang terlebih dulu di datangi oleh orang suruhan Dika jiga sedikit terkejut. Meskipun Dika telah memberitahu mereka namun siapa sangka mereka akan dijemput secepat ini.


" Baik mas… tapi nanti mampir di Sky butik dulu ya."


" Baik nyonya."


" Untuk apa mom?"


" Nyari baju untuk Silvya. Aku takut dia tidak punya baju untuk acara seperti ini. Jika ada mau nyari baju yang couple an sama nak Dika sekalian."


" Tapi kan kita nggak tahu ukuran nak Dika."


" Iya ya… terakhir waktu aku ngelamar kamu. Nggak kerasa ya, waktu cepet banget berlalu. Sekarang kita yang menikahkan anak kita."


" Iya kak… Andai Zion masih ada. Dia pasti seneng banget ngeliat Sisi menikah."


" Iya mom… yaudah ayo siap siap. Kasian mas nya nunggu." 


Setelah 15 menit bersiap mereka pun berada di mobil yang sudah disiapkan Dika. Mereka tidak tahu ada dimana tempat yang dipilih Dika untuk melakukan pertemuan keluarga. Ya … kepada mertuanya Dika mengatakan bahwa malam ini akan mempertemukan keluarganya dengan keluarga Silvya.


***


Pukul 7 tepat kedua mobil jemputan Dika sampai bersamaan di dermaga. Aryo dan keluarganya bertemu dengan Harold dan Fatimah di sana. Mereka pun saling menyapa dan berkenalan. Karena selain Aryo dan Radi mereka baru pertama bertemu.


Fatima dan Sekat langsung  terlihat akrab. Fatimah terkejut dengan barang bawaan Keluarga Dika yang menurutnya begitu banyak.


" Maaf ya mbak… kami belum sempat berkunjung ke rumah."


" Tidak apa apa mbak Sekar. Semua memang serba mendadak. Tapi ini mengapa mbak dan keluarga bawa banyak barang."


" Ini atas permintaan Dika. Katanya ia ingin membuat lamaran yang layak untuk Silvya."


" MasyaaAllaah.. Nak Dika nggak ngomong apa apa ke saya. Cuma bilang mau membuat pertemuan keluarga saja."


" Haish.. Anak itu benar benar. Maaf ya mbak Fatimah. Kelakuan putar keduaku itu kadang kadang suka nyeleneh."


" Nggak apa apa mbak. Eh si cantik ini…"


" Bungsu ku mbak, namanya Jani."

__ADS_1


" Hallo tante…"


" MasyaAllah cantiknya. Panggil mommy aja biar mommy berasa punya anak perempuan satu lagi."


Jani pun mengangguk dengan senyum.


" Tuan tuan dan nyonya nyonya… mari silahkan naik ke speedboat untuk menuju ke lokasi acara."


Ucap seorang pria yang sudah ditugaskan Dika untuk mengantarkan mereka semua ke kapal pesiar Frederik.


" Ya Allaah anak itu beneran ngerjain orang tua. Masa malam malam gini suruh naik speedboat awas aja nanti kalau ketemu ya."


Sekar mengomel namun ia tetap naik ke speedboat. Fatimah tersenyum, ternyata besannya ini bukan orang yang kaku.


Perjalanan dengan speedboat hanya butuh waktu 15 menit menuju ke sebuah kapal pesiar. Sesampainya disana semua orang sungguh terkejut melihat kemewahan kapal tersebut.


Mereka pun sudah disambut dan diarahkan oleh seseorang menuju lokasi yang disiapkan oleh Dika. 


Ketika sampai semua tercengang melihat penampakan dek kapal yang sangat cantik itu sebuah meja panjang sudah lengkap dengan banyak hidangan. Dihiasi beberapa bunga bunga. Lampu lampu bohlam terlihat menawan sangat kontras dengan langit malam. Laut yang tenang dan angin yang berhembus tidak terlalu kuat sedikit menambah kesyahduan.


" MasyaaAllaah canytik, mbak putramu luar biasa menyiapkan tempat seindah ini di sebuah kapal."


" Iya mbak.. Aku juga nggak nyangka dia bisa buat tempat yang bernuansa romantis. Biasanya dia kan kaku kayak es"


Fatimah menggeleng pelan mendengar celotehan sang besan.


Mereka semua dipersilahkan duduk, lalu tidak lama Dika keluar. Ia menghampiri kedua orang tuanya dan kedua orang tua Silvya lalu menyalaminya bergantian.


" Dimana Silvya nak?"


" Belum datang mom, mungkin sebentar lagi."


Sekar dan Fatimah saling pandang, mereka memahami maksud satu sama lain.


" Antar kan kami ke kamar Silvya." Ucap sekar.


" Mau apa bund?"


" Udah mas nggak usah kebanyakan nanya."


Dika pasrah, ia mengantarkan bunda dan mommy nya ke kamar. Diikuti Jani juga pastinya. 


" Oke… gih pergi. Oh iya pakai baju ini. Tadi mommy Fatimah yang membawakannya untukmu." 


Sekar memberikan sebuah paper bag kepada Dika. Sebelumnya Fatimah sudah mengatakan bahwa ia membelikan baju sarimbit untuk Dika dan Silvya.


" Terimakasih mom."


" Sama sama nak."


Tak berselang lama, Silvya pun kembali ke kapal. Ia tidak merasa ada yang aneh sedikitpun. Karena memang jalan menuju kamar tidak melewati tempat yang disediakan oleh Dika. Silvya yang ingin berganti pakaian sangat terkejut melihat mommy dan mertua nya berada di dalam kamarnya.


" Lho… mom… bunda… ada Jani juga. Kok bisa di sini."


Tanpa banyak berkata dua orang ibu itu sudah menarik Sylvia dan melakukan apa yang sudah mereka rencanakan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2