Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 77. My Wife Is Queen Mafia


__ADS_3

Harold, Geoff, Clark dan Rodriguez sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Semuanya telah melalui masa kritisnya. Untuk Rodriguez, Arduino dan Silvya menempatkan beberapa orang untuk menjaganya di pintu depan. Perawat dan dokter pun di bawah pengawasan Dika. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya anak buah militan Rodriguez yang akan mengambil pria tua itu dari rumah sakit.


Tidak bisa dipungkiri, sepak terjang Rodriguez sebagai ketua Black Wolf selama 35 tahun lebih itu pastilah memiliki anak buah setia. Sedangkan Arduino baru 5 tahun menjadi pengganti Rodriguez. Meskipun ¾ anak buah dari Black Wolf telah memihak kepada Arduino, namun Ar yakin diluaran sana yang tidak terlihat masih banyak pengikut setia Rodriguez.


Maka dari itu Silvya maupun Arduino harus berhati hati dalam bertindak. Tidak mau terjadi apa apa dengan orang orang tersayang, kedua saudara kembar itu pun menyebar semua anak buahnya di sekitar rumah sakit. Bahkan Ar dan Silvya menempatkan penembak jitu di atas gedung RS Mitra Harapan.


" Apakah harus seperti itu Ar?"


" Harus kakak ipar, kita tidak akan tahu apa yang terjadi kedepannya nanti."


Arduino, Dika, dan Silvya tengah berbicara di ruangan milik Dika. Silvya telah mengenalkan Arduino kepada Dika.


" Dunia kalian sungguh luar biasa ya."


" Begitulah dokter, kita harus berhati hati. Dengan kita melumpuhkan Rodriguez dikhawatirkan akan memercik api amarah kepada pengikut setianya."


" Tapi Ar bukannya katamu sebagian besar Black Wolf memihakmu?'


" Itu yang terlihat Si, yang tidak terlihat kita mana pernah tahu. Pria tua itu 35 tahun Si jadi pemimpin Black Wolf. Kau tahu lah."


Silvya terdiam, ia paham apa yang dibicarakan Arduino. Rodriguez tidak mungkin selemah itu bisa langsung dikalahkan. Apalagi dia terkenal sangat licik.


" Apakah semua bisa diatur dokter?"


" Tenang saja Ar, aku bisa mengurusnya. Urusan rumah sakit serahkan kepadaku."


Arduino mengangguk. Ia sungguh bersyukur kakak iparnya itu mendukung rencananya.


" Baiklah kalu begitu aku akan keluar dulu. Huftttt aku yakin kalian saling merindu. Aku tidak akan mengganggu sepasang suami istri ini. Daa…."


" Ar kau….!!!!"


Silvya berteriak mendengar ledekan Arduino. Sedangkan Arduino hanya tertawa sambil melambaikan tangannya serta berteriak.


" Jangan lupa kunci pintu. Takut ada yang masuk!!!"


" Astaga…. Anak itu."


Greb….


Dika langsung memeluk tubuh Silvya dari belakang. Ia menyingkirkan rambut sang istri lalu mencium tengkuk istrinya itu.


" Aku sungguh merindukanmu Si…"

__ADS_1


Dika menyusupkan tangannya ke baju Silvya lalu meremas bukit kenyal itu. Sungguh ia merindukan mainannya.


Silvya memekik saat kedua asetnya diremas lembut oleh Dika. Dika mengusap bukit itu sambil terus menciumi leher Silvya. Tangan satunya merembet turun menuju ke perut, lalu mengusapnya lembut.


" Aku harus memeriksa tubuh istriku secara menyeluruh, takut ada yang lecet."


Dika berbisik di telinga Silvya. Ia langsung membalikkan badan Silvya agar menghadap padanya.


" Emhh… " Dika meraup bibir sang istri dan melu**t nya dengan rakus. Ia menyalurkan kerinduan yang mendalam terhadap sang istri. Dika segera melepas jas dokternya lalu membimbing Silvya ke tempat tidur. Ia membuka satu persatu kancing kemeja Silvya, Dika tersenyum nakal. Tak sabar, ia pun melepas pengait penutup bukit kenyal sang istri lalu meraupnya dengan mulut. 


Suara merdu itu lolos dari mulut Silvya. Ia meremas rambut Dika. Silvya juga merindukan sentuhan sang suami. Keduanya dengan cepat melepas pakaian mereka masing masing. Kini mereka sama sama polos. Dika memindai setiap inci tubuh sang istri dan membelai nya lembut.


" Alhamdulillaah tidak ada yang luka."


" Apa benar hanya memeriksa ku mas, apa tidak mau melakukan hal yang lain... hmmm."


Dika tersenyum lebar, tampaknya sang istri juga menginginkan nya. Ia menarik tangan Silvya dan mengarahkannya.


" Ini milikmu sayang, kau bebas menyentuhnya."


Silvya menurut mengikuti kemana tangannya di bawa oleh sang suami. Merasa semuanya sudah diluar kendali, Dika pun segera mencium bibir Silvya kembali. Ciuman kali ini lebih bertenaga dan lebih dalam. Tangan Dika bergerilya ke seluruh inci tubuh istrinya. Ia memainkan tempat tempat favoritnya, dan Dika tersenyum istrinya menyukai itu.


" Kau siap sayang? Bismillah."


Dika mulai melancarkan aksinya. Melepaskan hal selama ini tertahan, menyalurkan rindu yang selama ini membelenggu hati dan pikirannya. Silvya memekik saat sesuatu itu menerobos dinding pertahanannya. Ia merasa penuh sesak di bawah sana. Dika pun memulai aksinya, Silvya mengikuti irama permainan sang suami. Ia pun merasa rindu dengan kebersamaannya bersama sang suami.


" Aku juga mas.. aku sungguh sangat rindu."


" Aku mencintaimu Sisi."


" Aku juga mencintaimu Mas Dika."


Keduanya melakukan pelepasan bersama. Dika memeluk sang istri membiarkan tombaknya sejenak bersarang di sana. 


" Terimakasih sayang. Apa kau tahu Si… Aku sungguh takut. Aku takut kau tidak kembali."


Silvya membelai wajah Dika. Ia tersenyum melihat manik mata suaminya.


" Aku akan kembali mas. Bagaimanapun caranya aku akan tetap kembali ke sisimu."


Dika tergugu, ia membenamkan wajahnya di dada Silvya. Selama hidupnya baru kali ini ia takut. Ia sungguh takut kehilangan wanita yang begitu dicintainya itu.


Mengetahui Silvya adalah seorang mafia saja membuatnya sudah takut. Dan ketakutannya bertambah saat ia mengetahui bahwa istrinya itu adalah seorang pemimpin organisasi besar Mafia Wild Eagle. Setelah ia tahu akan hal itu, Dika langsung melakukan riset. Ia sebenarnya syok saat tahu sepak terjak Wild Eagle terlebih sang Queen.

__ADS_1


Queen Wild Eagle terkenal begitu kejam saat berhadapan dengan musuh dan tidak berbelas asih. Queen juga disegani, bahkan beberapa gangster di negeri ini tunduk dibawahnya. 


Dika kembali menatap wajah ayu sang istri. Ia sangat tidak menyangka, wanita cantik nan lembut di pelukannya saat ini adalah Queen Mafia kenamaan.


🍀🍀🍀


Tok…. Tok….. Tok…..


" Assalamualaikum Om…"


" Walaaikumsalam… masuk Dika."


Ceklek….


Dika membuka ruangan milik direktur rumah sakit Mitra Harapan yang seklaigus om nya itu. Ia menarik sebuah kursi dan menghempaskan bokongnya di sana. Bisma meletakkan berkas yang ia baca lalu melepaskan kacamatanya menaruh di atas meja. 


" Ada apa?"


" No police no media."


" Tau… aku ngerti Ka…"


" Thanks Om. Dan satu lagi. Aku minta satu lantai di sterilkan."


Bisma memicingkan matanya menatap sang keponakan.


" Lantai mana?"


" Lantai yang sekarang ditempati oleh ayah mertuaku."


" Oke… no problemo. Lagian itu Lantai vvip kok nggak terlalu ngaruh banget."


" Makasih om. Rahasiakan ini dari orang rumah ya."


" Rebes… apakah begitu bahaya."


" Sangat om. Semua sekarang dalam pengawasan Silvya dan saudara kembarnya. Salah satu pasien yang kita rawat adalah seorang pemimpin mafia berbahaya. Bahkan di atap kita ada beberapa penembak jitu yang disiapkan."


Mulut Bisma menganga mendengar penjelasan Dika. Mau tidak mau Dika harus memberitahu kondisi tersebut dengan Bisma, karena Bisma pemegang kekuasaan di rumah sakit sekarang. Jadi Bisma sangat berperan juga dalam situasi saat ini karena Bisma bisa mengontrol apapun dengan kekuasaannya. Namun Dika sudah mengultimatum Bisma untuk mengunci mulutnya rapat rapat.


" Kau tahu Ka, aku merasa sedang syuting film action medis. Sungguh aku tidak menyangka akan ada di situasi saat ini."


" Sama om, aku pun begitu. Oh iya untuk semua yang berhubungan dengan lantai 17 aku harus memilihnya. Om harus bantu dan membuat mereka menutup mulut."

__ADS_1


" Tidak masalah, lakukan yang menurutmu baik."


TBC


__ADS_2