Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 82. Rompi Anti Peluru


__ADS_3

Kedua perawat itu sungguh bergidik melihat hasil perbuatan king and queen mafia. Mendengar cerita Jason bahwa pasien di depannya itu sebenarnya adalah Ayah angkat dari King mafia membuat mereka tambah terperangah. Pasalnya King tersebut pun tega terhadap Ayah angkatnya apalagi kepada mereka yang bukan siapa-siapanya.


" Sudah jangan bengong sekarang selesaikan tugas kalian. Bantu aku membalas luka pria ini."


Keduanya mengangguk patuh mereka Langsung menjalankan tugas mereka untuk merawat luka pria tua tersebut.


" Setelah selesai ayo kita pindahkan dan ganti spreinya sprei ini sudah tidak layak digunakan."


" Baik dokter." Ucap kedua perawat tersebut bersamaan.


Di luar Roki dan Ian tengah menuju ke dapur. Mereka merasa begitu lapar. Namun ternyata di sana sudah ada Silvia dan Arduino. Silvia tampak sedang memasak sesuatu.


" Q, Apakah kami boleh bergabung?"


" Tentu saja kenapa tidak Ayo duduklah."


Silvia sedang membuat sandwich dia membuat sangat banyak.


" Sisi mengapa begitu banyak?"


" Ini untuk semua orang Ar. Aku yakin mereka semua lapar. Oh iya Ian, bawakan beberapa untuk dokter dan perawatnya. Lalu minta salah satu perawat untuk menyuapi Rodriguez."


Ian mengangguk patuh dan mengambil senampan sandwich untuk dibawakan kepada dokter Jason dan perawatnya. Sedangkan Roki dia diminta untuk membagikan semua sandwich tersebut kepada para anak buahnya.


Arduino makan dengan hikmat, ia bahkan menghabiskan 3 sandwich.


" Woaaah Si, ini enak sekali. Dari mana kau belajar memasak."


" Tentu dari mommy lah."


" Huft… Aku juga ingin merasakan masakan mommy."


" Nanti Ar kalau semuanya sudah beres. Kau bisa sepuasnya memakan masakan mommy."


Arduino mengangguk, Ia menantikan saat itu tiba. Silvia pun ikut makan dia meninggalkan beberapa sandwich di meja untuk Ian dan Roki.


" Baiklah Ar tampaknya Aku harus pergi tidur."


" Ya, Tidurlah Si Aku akan menyusul nanti. Aku akan memeriksa keadaan sekitar dulu memastikan bahwa semuanya aman."


Silvia mengangguk lalu ia berlalu menuju ke kamarnya. Sedangkan Arduino dia mengelilingi Villa dan memberikan perintah untuk setiap orang waspada. Arduino juga meminta mereka untuk bergantian berjaga. Agar stamina semua orang terjaga.

__ADS_1


Sampai di kamarnya Silvia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.


" Assalamualaikum Mas."


" Waalaikumsalam Si . Apakah kalian sudah sampai?"


" Sudah dari tadi Mas maaf baru menghubungimu."


" Tak apa yang penting kalian sampai dengan selamat. Bagaimana apakah tempatnya sesuai dengan yang diinginkan oleh Arduino?"


" Iya Mas Ini sungguh sempurna."


" Syukurlah kalau begitu. Lalu rencana Apa selanjutnya."


Silvia terdiam sesaat biar aku ingin menyampaikan sesuatu kepada suaminya. Dika yang mengetahui istrinya diam saja tahu bahwa Silvia ragu ingin mengatakan sesuatu.


" Ada apa katakan saja."


" Mas di ruangan mu di dalam laci mejamu Aku meninggalkan dua jaket anti peluru. Satu pakailah dan yang satu mintalah Om Bisma untuk memakainya."


Dika mengernyitkan keningnya. Dengan masih memegang ponsel Dika membuka laci mejanya. Benar saja di sana ada 2 buah jaket anti peluru yang dikatakan Silvya.


" Sisi ini untuk apa?"


" Mas, Arduino punya keyakinan bahwa lantai 17 akan diserang entah esok entah besoknya lagi. Aku ingin kamu dan Om Bisma memakainya untuk berjaga-jaga. Walaupun sungguh aku berharap kalian berdua tidak terlibat."


" Baiklah kalau begitu. Aku akan memakainya."


" tapi jika ada kerusuhan Jangan pernah keluar menunjukkan diri. Bersembunyilah Mas Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu."


" Iya sayang… aku tahu. Baiklah kalau begitu aku harus menyampaikan ini kepada Om Bisma dulu. Oh iya sayang jaga dirimu untukku ok...i love you."


" Iya mas… i love you too"


Silvia menaruh ponselnya dia kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Sungguh dia sangat khawatir terhadap suaminya. Silvia berharap apa yang ditakutkannya tidak pernah terjadi.


" Mas Dika, apapun yang terjadi berjanjilah kau akan selalu berada disisi ku. Jangan tinggalkan aku mas… tunggu… tunggu aku menyelesaikan semua ini. Jangan bosan menungguku mas.. Bertemu denganmu adalah hal luar biasa yang terjadi dalam hidupku.


🍀🍀🍀


Di rumah sakit Dika langsung menuju ke ruangan direktur Rumah Sakit Mitra Harapan. Ia harus segera menyampaikan pesan dari Silvya kepada sang Om.

__ADS_1


Tok tok tok


" Masuk."


" Om... Apa kau sibuk?"


" Tidak… Huft… sekarang setiap kau mencariku aku merasa cemas. Pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan dan itu di luar dari kebiasaan normal."


" Hahahaha…. Feeling mu memang bagus Om. Aku memang ingin menyampaikan sesuatu. Ini…"


Dika menyerahkan rompi anti peluru kepada Bisma. Seketika Bisma melotot melihat apa yang diberikan oleh sang keponakannya itu.


" ya Allah, apa ini Dika. Bukankah ini rompi anti peluru?"


Dika mengangguk, dia sangat tahu bahwa Om nya terkejut.


" Lalu ini untuk apa Dika!."


" Kata Silvia satu untuk Om dan satu untukku. Untuk kita berjaga-jaga jika ada yang menyerang lantai 17."


" Astagfirullah Dika… apa kita akan seperti di film film action yang para anak buah mengambil ketua mafia itu. Mereka menerobos dan menembaki semua orang begitu?"


" Entahlah Om… aku tidak tahu. Tapi yang jelas lantai 17 sekarang isinya adalah orang orang Silvya dan Arduino. Mereka sengaja disiapkan di sana untuk enghalau hal hal tersebut."


Bisma terdiam sesaat. Semua yang terjadi akhir akhir ini seperti cerita fiksi baginya. Semua seperti sebuah karangan. Namun ini nyata adanya dan bahkan dia mengalami sendiri. Selama ini menjadi dokter baru kemarin ia mengoperasi seseorang dengan luka tembak. Dan baru kali itu dia melihat peluru dikeluarkan dari tubuh seseorang.


" Dika, apakah dalam hidupmu kamu pernah berpikir akan ada di situasi saat ini?"


" Tidak Om… tidak pernah terbesit dalam pikiranku aku akan berada di situasi sekarang. Dan tidak pernah terbesit dalam pikiranku juga aku akan mempunyai istri yang nyawanya kadang-kadang bisa melayang tanpa aku bisa melindunginya."


Dika menjadi sendu mengingat Silvia, pasalnya ia tidak bisa tahu bagaimana keadaan Silvia saat ini. Dia hanya menyerahkan dan yakin terhadap istrinya itu akan bisa mengatasi segala hal.


" Ya sudah Dik… semua ada garis takdirnya masing masing. Percayalah kepada istrimu."


" Iya Om… kita juga harus bersiap. Tapi Silvya berpesan kepadaku agar kita bisa bersembunyi sebaik mungkin saat terjadi hal yang tidak diinginkan."


" Baiklah Dika… Semoga semua berjalan baik baik saja."


Setelah berbicara banyak kepada Om sekaligus direktur rumah sakit itu, Dika kembali ke ruangannya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap foto istrinya yang ada di ponsel miliknya.


" Sisi… entah kapan kamu akan berhenti. Tapi yang aku mau kau selalu berada dekat denganku. Jangan pernah meninggalkanku sendiri. Entah apa yang akan terjadi padaku jika kau pergi meninggalkanku Si…"

__ADS_1


TBC


__ADS_2