
Semua orang di bawah pimpinan Rodriguez yang masih setia kepada orang tua itu sudah berkumpul. Mereka telah memilih senjata dan menyimpannya masing masing. Di sini Paulo bergerak sebagai pemimpin. Lim dan Greg mengikuti perintah Paulo namun mereka juga memimpin pasukan mereka masing-masing.
" Baiklah aku akan menjelaskan taktik kita. Kita akan membagi kelompok kita menjadi tiga. Kelompok pertama aku yang akan memimpin. Kelompok kedua akan dipimpin oleh Lim, mereka akan berangkat setelah aku. Dan kelompok ketiga akan dipimpin Greg. Greg kau kelompok penentu, maksudnya kau lah nanti yang membersihkan musuh musuh terakhir saat mereka sudah lengah."
Semua orang mengangguk paham, tidak terkecuali Lim dan Greg. Lim menepuk punggung Greg dengan pelan.
" Selamatkan aku nanti Greg, nyawaku bergantung padamu."
Lim berbisik pelan di telinga temannya itu. Bisikan itu adalah perkataan yang ia tujukan dengan sungguh sungguh dari hatinya. Sedangkan Greg, ia mengangguk pelan. Ia pun menjawab Lim dengan berbisik, " Aku akan berusaha Lim."
Setelah mengkoordinasi semua pasukannya, Paulo meminta mereka semua istirahat. Nanti malam mereka akan berangkat menyerang.
" Kalian semua istirahatlah. Kita akan berangkat malam ini juga.jangan lupakan senjata rahasia kit.kalian harus bisa menggunakan baik baik. Jangan sampai kalian sendiri yang malah terkena jarum beracun itu."
" SIAP KOMANDAN!!"
Semuanya pun membubarkan diri. Total sekitar 300 orang jumlah yang berkumpul. Sepertinya memang tidak banyak. Namun 300 orang tersebut adalah orang yang terampil. Kekuatan satu orang setara dengan 2 orang.
Paulo sungguh tersenyum lebar. Ia sangat puas dengan kelompoknya yang mau datang semua untuk mengambil Ridriguez dari tangan anak angkatnya itu.
" Hahahah, kau pasti tidak akan menyangka Ar. Aku berhasil mengumpulkan semua pengikut setia ayahmu untuk bersama sama menghancurkanmu. Tunggu kami Ar, dan tunggu kami Tuan Rodriguez malam ini kami akan menjemputmu.
🍀🍀🍀
Di villa, Rodriguez kembali membuat ulah. Ia berkali kali menolak diberi makan membuang kedua perawat rekan Jason kerepotan.
" Kenapa ini?"
" Dia tidak mau makan Dok dari pagi tadi."
" Huft… tuan Rodriguez jika anda masih ingin hidup maka makanlah Tuan."
" Cuih, aku tidak akan makan."
Jason mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingin mendengar teriakan Rodriguez kembali saat Arduino atau Silvya masuk ke kamar.
__ADS_1
" Makanlah Tuan, sebelum Ar atau Q datang."
" Tck.. Biarkan saja kedua anak sialan itu masuk. Aku tidak takut."
Ceklek….
Benar saja Arduino masuk bersama Silvya. Ia meminta Jason dan kedua perawat itu untuk keluar dengan menggunakan isyarat tangan.
Silvya duduk di sofa, sedangkan Arduino ia duduk di tepi ranjang. Keduanya membuang nafasnya kasar.
" Pak Tua, makanlah tapi kalau kau tidak mau ya tidak apa. Suatu hari kau akan hidup di panti jompo. Di sana pasti akan lebih terawat."
" Bajinan kau Ar, siapa yang sudi berada di panti jompo. Sebentar lagi aku akan terbebas dari sini. Lihat saja aku pasti bisa keluar dari sini. Setelah keluar dari sini aku akan kembali merebut Black Wolf dan menghancurkan keluarga kalian hahaha."
Silvya dan Arduino hanya menggeleng pelan. Orang tua ini sudah tidak tertolong.
" Terserah lah Rod apa yang kau katakan. Tapi yang jelas orang orang mu memang akan menjemputmu, tapi mereka tidak akan bisa mengambilmu. Kami akan menghabiskan semua pengikutmu hingga tidak tersisa lagi."
Kali ini Silvya yang berbicara. Ia sungguh tidak suka kata kata Rodriguez yang selalu mengancam keluarganya.
Brak…
Silvya dan Arduino keluar dari kamar Rodriguez. Pria itu menatap sinis pintu yang baru saja tertutup. Ia berteriak penuh dengan kemarahan.
" Sial… brengsek… huh… tangan tidak berguna, kaki tidak berguna. Argh…..!!!"
Di luar kamar kedua saudara kembar itu masih bisa mendengarkan teriakan Rodriguez. Sekilas Silvya melirik ke Arduino. Namun wajah datar Arduino sudah bisa menjelaskan apa yang dirasakan. Meskipun begitu Silvya tetaplah penasaran dengan apa yang sedang dirasakan Arduino.
" Ar… Apa kau tidak sedikitpun merasa iba dengannya. Bagaimanapun dia sudah merawatmu dari bayi."
" Tidak Si. Tidak sedikitpun. Karena tidak ada kasih sayang yang dia berikan kepadaku. Selama dia merawatku aku hanya dijadikan mesin tempur olehnya. Aku disuruh berlatih dengan keras, jika aku menolak dia akan mencambuk ku. Seperti itu terus."
" Ya Tuhan."
Silvya terperangah dengar perkataan Arduino. Ternyata hidup Arduino pun tidak mudah.
__ADS_1
" Ar… ternyata hidup kita semua tidak mudah. Andai kau tetap bersama kami mungkin aku dan kau tidak akan kesepian. Mungkin kita tidak akan menjadi pembunuh seperti ini, dan mungkin Zion akan tetap hidup.
" Iya… kau benar Si. Namun hidup adalah hidup tidak berdasar dari pengandaian. Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Saat ini kita lihat ke depan."
Silvya mengangguk, ia pun membalikkan kata katanya sendiri. Jika dia tidak menjadi mafia, maka ia pun tidak akan bertemu dengan Dika suami yang dicintainya saat ini. Benar apa yang diucapkan Arduino, yang lalu biarlah berlalu.
" Ar…"
" Hmmmm…"
" Setelah semua ini selesai apa kau akan membubarkan Black Wolf?"
Arduino terdiam dengan pertanyaan Silvya. Sebenarnya selama di Villa ia memikirkan hal itu juga.
" Kalau kamu bagaimana Si?"
" Aku ingin mengubah Black Wolf menjadi jasa keamanan Ar. Seperti security, Bodyguard, dan sejenisnya. Tapi aku akan tetap menawarkan kepada semua anggota. Jika mereka setuju maka aku akan mengesahkannya melalui jalur hukum agar resmi tapi jika mereka tidak setuju aku akan membubarkannya."
" Itu ide yang luar biasa Si, aku sebenarnya masih bingung. Aku juga memiliki perusahaan pengolahan kelapa sawit dan aku ingin mengembangkan usaha itu. Tapi untuk Black Wolf aku masih memikirkannya. Tapi yang pasti aku juga ingin berhenti Si. Sepertinya sudah cukup tangan ini berlumuran darah dan mengambil nyawa orang."
Silvya mengangguk setuju, sudah saatnya mereka berhenti melakukan pekerjaan hitam dan gelap itu.
" Baiklah Ar, nanti pelan pelan kita bicarakan itu. Sekarang ayo fokus melakukan pekerjaan berdarah ini untuk terakhir kali. Puaskan rasa haus berburu kita nanti, dan akhiri semuanya."
" Ya Si kau benar. Ayo kita habiskan semuanya dan berhenti. Puaskan hasrat membunuh kita di medan pertempuran nanti malam. Aku yakin mereka akan menyerang kita malam ini."
Silvya tersenyum simpul ia pun mengajak saudara untuk melakukan tos dengan tinjuan tangan.
Semuanya sudah bersiap, bahkan Roki dan Ian sudah meminta orang orangnya untuk mensterilkan sekitar jalan ke villa dari warga sipil. Hal tersebut untuk meminimalisasi adanya warga yang terluka akibat pertempuran dua kelompok tersebut.
" Aku sudah tidak sabar nanti malam. Kalian akan tahu siapa itu King Black Wolf."
" Mari menikmati permainan yang sudah diciptakan, Queen Wild Eagle siap untuk menemani kalian semua bermain."
TBC
__ADS_1