Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 76. Apakah Benar Sudah Berakhir??


__ADS_3

Nih... Othor tambahin satu bab lagi ya... Tapi jangan lupa sawerannya oke hehehheh


Happy Reading readers kesayangan.


...****************...


Di rumah sakit Dika langsung mengumpulkan tim medis. Bisma yang melihat Dika begitu panik akhirnya bertanya tentang apa yang Dika lakukan.


" Ada apa ini Dika. Kenapa begitu ramai?"


" Oh om Bisma, pas banget. Ayo bantu Dika. Silvya mau membawa 4 pasien dengan luka tembak. Mereka sedang berjalan kemari menggunakan helikopter."


" Apa 4 pasien dengan luka tembak? Memang mereka habis ngapain?"


" Habis main polisi polisi an om. Ya mana Dika tahu. Udah deh om jangan banyak tanya. Nyawa orang ini."


" Ya ya … Ayo."


Bisma bukan hanya sekedar direktur rumah sakit. Dia juga merupakan salah satu dokter bedah dan dokter penyakit dalam terbaik. Bisma akhirnya mengikuti Dika ke atap. Sedangkan ruang operasi sudah disiapkan 4 ruang untuk langsung menangani masing masing pasien.


Sebelumnya Dika juga sudah melakukan briefing kepada tim untuk langsung siap di posisi nya masing masing. Jadi saat para pasien di bawah mereka bisa langsung melakukan tindakan.


Bug...ubug….ubug...ubug…..


Suara helikopter terdengar begitu jelas dan mulai terbang rendah laku mendarat di helipad. Dika langsung lari mendekat diikuti beberapa perawat membawa brankar.


" Ya Allaah Mom, Dad…."


Dika terkejut melihat baju Fatimah berlumur darah. Namun ia lebih terkejut melihat kondisi Harold. Dika langsung menggendong Harold dan meletakkannya di brankar. Ia memeriksa sejenak sambil menanyakan kondisi Fatimah.


" Mommy dimana yang terluka."


" Mommy baik baik saja, ini darah Daddy mu. Selamatkan dady mu nak."


Dika mengangguk lalu mendorong brankar menuju lift.


" Om… tolong yang lain. Aku akan membawa daddy terlebih dahulu."


" Oke"


Bisma pun mengeluarkan Geoff dan Clark. Bisma terkejut melihat luka luka tembak itu. Pasalnya di tubuh Geoff dan Clark tidak hanya satu. Namun Bisma segera mengatasi keterkejutannya itu. Direktur rumah sakit itu juga langsung membawa w pasien tersebut menuju lift secara bergantian.


" Kalian tunggu di sini. Kata dokter Dika ada satu pasien lagi di heli yang lainnya."


Para perawat dan dua orang dokter lainnya mengangguk patuh. Sebelumnya mereka sudah diultimatum oleh Dika, siapa yang  menjadi tim medis untuk pasien pasien kali ini tidak boleh menceritakan apapun yang mereka lihat. Jika melanggar mereka akan mendapat konsekuensinya.


" Sebenarnya ini ada apa ya dok."


" Sudah kita lakukan tugas saja. Utusan atasan kita tidak berhak tahu."


Mereka yang masih di atas mengangguk patuh dengan ucapan salah satu dokter. Tak lama sebuah helikopter mendekat. Roki keluar dari sana sambil menggendong Rodriguez. 


Tim medis begitu terkejut melihat kondisi Rodriguez. Tangan dan kakinya banyak mendapat tembakan. Masing masing sekitar ada 4-5  tembakan. Namun lagi lagi mereka harus diam dan hanya menjalankan tugasnya.

__ADS_1


" Ayo langsung bawa ke ruang operasi!" Perintah seorang dokter.


***


Empat tim medis berada di ruang operasi masing masing dengan satu pasien mereka. Dika di ruang pertama menangani sang ayah mertua. 


" Kita harus hati hati, pasien kekurangan banyak darah dan golongan darahnya adalah A- apakah stok cukup?"


" Hanya ada 3 kantok dok, bagian bank darah sedang mencari ke tempat lain."


" Huft baiklah. Kita keluarkan di bagian kaki dan lengan dulu. Setelah itu baru di bagian perut. Kau keluarkan bagian kaki."


" Siap dokter."


Dika meminta asisten nya untuk mengeluarkan peluru yang ada di kaki kanan Harold. Dokter residen tahu keempat tersebut sudah sering menjadi asisten Dika dan juga sudah sering melakukan operasi kecil. Dan kebetulan peluru di bagian kaki tidak berada ditempat yang berbahaya.


" Arga, meskipun bukan organ vital tapi kau harus tetap hati hati."


" Mengerti dokter."


Dika sudah siap dengan atribut operasinya. Kali ini dia dan Arga akan bersama sama mengeluarkan peluru di tempat yang berbeda.


" Nest…  Tetap fokus. Lakukan dengan perlahan tapi tepat. Irrigation…. Aku minta sebelah situ. Ya… pinset…"


Kluntang….


Sebuah peluru berhasil Dikeluarkan.


Kluntang, Arga pun berhasil mengeluarkan peluru yang berada di kaki. 


Dika  berpindah ke bagian luka di perut. Arga pun mengikuti Dika.


" Arga, apa hasil CT Scan dari pasien?"


Arga mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.


" Hasil CT Scan pasien menunjukkan peluru bersarang di dekat limpa dan dekat dengan splenic artery jadi kita harus harus hati hati agar tidak mengenai arteri juga limpa nya."


" Baik kita mulai. Nest…. "


Operasi berjalan dengan lancar hingga sesuatu terjadi.


" Dok pendarahan."


" Tenang, berikan kasa… cepat! Dokter  Anetesi bagaimana keadaan pasien?" 


"Masih aman dok. Organ vital normal."


Dika bernafas lega. Ia pun melanjutkan operasi terhadap ayah mertuanya.


" Transfusi aman? Aman dok. Baru saja ada dua orang donor, sepertinya putra putrinya."


Dika tersenyum, artinya Silvya kembali dengan selamat.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Di luar ruang operasi Fatimah menunggu dengan cemas. Dua orang keluarganya ada di dalam, suami dan adiknya. Fatimah bahkan lupa dirinya juga tengah sakit. Bahkan Fatimah belum mengganti bajunya yang berlumuran darah.


Silvya dan Arduino mendekat ke arah sang ibu. Mereka berjalan perlahan. Ada rasa takut dalam diri mereka.


Fatimah yang melihat putra putrinya berjalan pelan seketika langsung berlari dan memeluk keduanya.


" Alhamdulillaah, syukurlah… syukurlah… kalian berdua baik baik saja. Sisi, Zola,  syukurlah hu...hu….hu…."


Fatimah tergugu memeluk erat kedua anaknya. Silvya dan Arduino pun tak kalah erat membalas pelukan Fatimah. Terlebih Arduino, kerinduannya selama ini tercurahkan ia pun menangis di pelukan sang ibu.


Fatimah merenggangkan pelukannya. Ia mencium pipi Silvya lalu berpindah menciumi wajah Arduino.


" Masya Allah anakku Zola….Zola Aaron Linford putraku. Alhamdulillah nak kamu masih hidup. Mommy masih bisa bertemu denganmu. Sisi dia adikmu juga nak.."


Silvya mengangguk saat Fatimah menatap nya. Fatimah masih memeluk Arduino dengan sangat erat keduanya menangis bersama. 


Dika yang baru keluar dari ruang operasi ikut haru menyaksikan pemandangan itu. Melihat sang suami Silvya sedikit berlari lalu memeluk suaminya.


" Mas…."


" Alhamdulilllah sayang, kamu selamat."


" Bagaimana daddy mas?"


" Alhamdulillaah operasi daddy berjalan lancar. Kita tinggal pantau saja."


" Alhamdulillaah, terimakasih mas."


Silvya kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia mencari ketenangan di sana.


Dika lalu mengajak Silvya ke ruangannya agar sang mommy bisa melepaskan kerinduan kepada putra yang baru ditemuinya setelah 25 tahun tidak bertemu.


Cekleek… brak….


Dika langsung meraup bibir Silvya dengan rakus hingga sang istri kesulitan bernafas oleh ulah Dika.


" Mas…."


" Aku sungguh merindukanmu. Kau tahu betapa gilanya aku tidak bisa menghubungimu."


" Maaf mas, saat aku menyusup ke markas Black Wolf aku meninggalkan ponselku."


" Dan aku tambah frustasi saat mommy dan daddy hilang."


Dika menjatuhkan dirinya ke sofa. Baru kali ini dia merasa lelah setelah melakukan operasi.


" Sekarang semuanya sudah berakhir mas. Teka teki yang selama ini begitu rumit akhirnya telah terpecahkan."


" Apakah benar sudah berakhir???"


Pertanyaan Dika sejenak membuat Silvya terdiam. Ia sendiri tidak tahu apakah semuanya sudah benar benar berakhir atau belum. Hanya yang dia tahu saat ini dalang dibalik kematian Zion sudah terungkap dan Zola kembali lagi ke keluarga mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2