
Ponsel Arduino berdering. Ada sebuah nama nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Ia pun menyerahkan kepada Silvya untuk mengangkatnya.
" Ini nomor Geoff Ar."
" Angkat Si buruan. Siapa tahu penting."
" Hallo Ge. Ada kabar apa."
" Aku sudah membawa kak Fatimah dan Kak Harold. Mereka aman bersamaku."
" Alhamdulillaah …"
Kata itu tiba tiba lolos dari mulut Silvya. Arduino sedikit heran namun ia tidak terlalu menggubris.
" Ge, jangan lengah Rodriguez begitu licik. Kau takut di dan orang orangnya akan menemukan kalian. Sekarang beritahu kami dimana kalian. Kami akan segera kesana."
" Baik Arduino kami akan hati hati."
Silvya mematikan ponsel milik Arduino dan tak lama sebuah pesan masuk. Pesan tersebut berisi lokasi dimana kedua orang tua mereka berada.
" Bagus… itu tidak jauh dari lokasi kita saat ini."
Silvya mengangguk, ia sungguh bersyukur kedua orang tuanya tidak apa apa. Namun berbeda dengan Arduino, pria itu tampak begitu gelisah.
" Ada apa Ar. Apa kau lelah. Sini biarkan aku menggantikanmu."
" Tidak perlu Si, aku tidak lelah. Lagian sebentar lagi kita akan sampai. Aku hanya sedikit takut."
" Takut kenapa, bukankah mommy dan daddy sudah aman bersama Geoff."
" Tidak. Ini terlalu tenang dan terlalu lancar. Aku merasa tidak semudah itu Rodriguez melepaskan barang burunanya. Aku rasa ini hanya tak tik Rodriguez. Walaupun aku tidak bisa membaca pergerakannya tapi paling tidak aku paham jalan pikirannya."
" Maksudmu Rodriguez membiarkan kita menemukan orang tua kita dulu begitu?"
" Ya.. Dan dia punya rencana lain setelahnya."
Silvya diam, ia mencoba menelaah setiap perkataan Arduino mengenai Rodriguez. Dia membuat kemungkinan kemungklinan yang akan dilakukan pria tua itu.
" Ar, apakah dia tahu aku sudah menikah?"
Tiba tiba Silvya teringat akan suaminya. Ia khawatir Dika menjadi bagian dari rencana Rodriguez.
" Tidak, aku berani menjamin itu. Pria tua itu tidak mengetahui tentang pernikahanmu?"
" Apa kau yakin Ar?"
Mendapat penegasan dari Silvya, Arduino mendadak ragu. Ia segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
" Halo awasi dokter Dika. Perhatikan keselamatannya. Jangan biarkan orang asing yang kau curigai mendekatinya. Nyawamu jadi jaminan keselamatannya. MENGERTI!!!"
__ADS_1
Arduino menghirup nafas dalam dalam dan membuangnya. Ia menatap wajah saudara kembarnya dengan raut wajah menyesal.
" Jangan menggunakan tatapan seperti itu. Kau tidak salah."
Silvya paham betul apa yang tengah dirasakan Arduino. Mungkin benar jika saudara kembar memiliki perasaan yang terkait satu sama lain. Karena Silvya bisa merasakan apa yang sedang Arduino rasakan.
" Maafkan Aku Si. Seharusnya aku menghabisi Rodriguez jauh jauh hari. Tapi aku terlalu naif."
" Jangan bicara begitu, kalau kau membunuhnya dari lama mungkin kita tidak aksn pernah bertemu. Aku yakin kau tidak akan pernah menampakkan diri mu kepada kami."
Arduino sejenak tertunduk, ia lalu kembali menatap kedepan. Tidak terasa mereka sudah sampai di sekitar daerah tempat persembunyian yang diberikan oleh Geoff.
Silvya maupun Arduino menghubungi anak buah masing masing.
" Hallo Ian"
" Syukurlah Q kau menghubungiku ada apa?'
" Ian siapkan pasukan dan kirim ke lokasi yang ku kirimkan ini."
" Baik Q laksanakan."
Kini giliran Arduino menghubungi Roki sang asisten.
" Rok, kumpulkan orang kita di kota J dan sekitarnya, bawa mereka kemari. Cepat!!!
" Baik Ar, sesuai perintahmu."
Para anggota Black Wolf dibawah Arduino memang sudah lama tidak menyukai Rodriguez yang egois. Dan sebagai pemimpin Rodriguez tidak pernah memberikan kesempatan para anak buahnya berpendapat. Berbeda dengan Arduino. Arduino sangat demokratis meskipun tetap dialah pemegang keputusan tertinggi.
Namun setiap keputusan yang diambil Arduino selalu mempertimbangkan usulan usulan dari anak buahnya. Hal itu yang membuat sebagian besar anggota Black Wolf memilih setia kepada Arduino.
Tapi bukan berarti Rodriguez tidak memiliki apapun. Anak buah yang militan masih tetap membela Rodriguez hingga mau mendatangi mereka.
🍀🍀🍀
Di dalam sebuah rumah di tengah hutan itu, Geoff meminta orang orang Wild Eagle untuk menjaga dengan ketat. Dia tidak mau ambil resiko kebobolan oleh Rodriguez. Rumah yang dikelilingi tembok tinggi itu diberi keamanan berlapis oleh Geoff.
" Bagaimana Ge apakah semuanya aman?"
" Aku rasa iya, tapi aku tidak berani menjamin. Kau tahu kekuatan Rodriguez Clark. Meskipun dia sudah tidak lagi di puncak kepemimpinan aku yakin dia masih memiliki kekuatan tersembunyi."
" Kau benar Ge. Aku sependapat denganmu."
" Oh iya Clark, maafkan kami telah melibatkanmu dengan urusan keluarga kami."
" Tidak masalah Ge. Tuan Albern sudah menugaskan aku untuk membantu kalian. Asal kau tahu Ge, tuan Albern sudah membubarkan Tiger Fangs."
" Benarkah begitu?"
__ADS_1
Clark menceritakan mengapa Albern membubarkan Tiger fangs. Pria tua itu ingin hidup biasa dan menemani Putra semata wayangnya Darius. Ia cukup lelah dengan kegiatan mafia yang menurutnya tidak mendapatkan hasil apapun. Apalagi saat ini Tiger Fangs sudah tidak lagi tenar seperti dulu.
Tiger Fangs seperti macan yang kehilangan gigi taringnya, ia tak lagi bisa memakan mangsanya. Cakar-cakarnya pun sekarang tumpul dan sudah tidak mampu lagi untuk mencabik mangsa.
" Tampaknya Tuanmu itu memilih keputusan yang tepat Clark."
" Ya aku rasa begitu Ge. Terus bagaimana dengan kalian?"
" Entahlah, Setelah semua ini selesai mau dibawa kemana Wild Eagle akupun masih tidak tahu. Kemarin Silvia mengatakan ingin pergi, tapi entah aku pun juga tidak tahu."
Clark menepuk bahu Geoff dengan pelan. Mereka mengobrol sambil tetap waspada.
" Temuilah kedua kakakmu dulu. Jelaskan kepada mereka agar mereka tidak syok. Harold sudah sedikit mengerti namun tidak dengan kakak perempuanmu."
Geoff mengangguk, ia pun menemui Fatimah dan Harold. Kedua orang tua itu masih kebingungan, terutama Fatimah.
" Apa kalian baik baik saja?"
" Ge, sebenarnya apa yang terjadi?"
" Apa kak Harold tidak bercerita kepada kak Fat?"
" Sudah, tapi kakak tetap saja bingung. Ini ada apa sebenarnya."
Fatimah sudah mendengar cerita dari Harold. Namun dia tetap merasa kebingungan. Orang yang namanya sudah tidak ia dengar tiba tiba muncul dan hendak menculiknya, Fatimah sungguh tidak habis pikir.
" Intinya Kak, Rodriguez ingin membawa Kak Fatimah pergi. Sakit hatinya terhadap Kak Fatimah dan Kak Harold dibawa sampai saat ini. Dan yang perlu kak Fatimah dan Kak Harold tau orang yang menembak Zion adalah Rodriguez."
" APA!!!"
Fatimah terjatuh lemah. Ia tergugu mendengarkan fakta yang sungguh menyakitkan.
" Ya Allaah, pantas saja kami tidak bisa menemukan pelakunya."
" Ya Allaah Kak, berarti Zion tewas karena sakit hati pria itu terhadapku. Secara tidak langsung aku penyebab kematian Zion."
Fatimah terisak, ia sungguh merasa amat bersalah.
" Bukan Sayang, bukan begitu. Orang itu memang sudah tidak waras Fat. Dia melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya."
" Apa yang dibilang kak Harold benar Kak. Rodriguez memang sudah tidak waras. Obsesinya mengalahkan akal sehatnya."
Dor….
Sebuah suara tembakan terdengar begitu nyaring dari luar. Fatimah begitu terkejut. Ia lalu meraih tangan Harold dengan kencang. Harold pun langsung memeluk sang istri.
" Aku akan periksa di luar. Kak peganglah ini untuk jaga jaga."
Geoff segera pergi dari tempat itu. Ia melemparkan sebuah pistol kepada Harold. Harold mau tidak mau mengambilnya. Nyawa mereka saat ini tengah terancam. Jadi Harold harus bisa melindungi dirinya sendiri dan juga sang istri.
__ADS_1
TBC