Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 71. Dibawa Kemana?


__ADS_3

Dika begitu terlihat rungsing. Ia sedari tadi merasakan perasaan yang tidak enak. Pikirannya selalu tertuju kepada Silvya.


" Ada apa ini ya Allaah, mengapa aku begitu gelisah. Sisi… aku harap kamu baik baik saja."


Dika kemudian keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang rawat ibu mertuanya.


" Assalamualaikum mom, dad. Bagaimana keadaan mommy hari ini."


" Waalaikumsalam nak, alhamdulillah mommy sudah jauh lebih baik."


" Loh, daddy mana mom."


" Tadi bilangnya mau ke keluar cari sarapan. Katanya bosen makanan kantin hehehe."


" Ya Allaah moms, kenapa tidak minta Dika saja yang membelikan."


Dika sungguh merasa tidak enak. Karena saking sibuknya ia dengan jadwal operasi, membuatnya sedikit abai dengan kedua mertuanya itu.


" Tidak apa apa, kamu sangat sibuk. Kami tidak mau merepotkanmu."


" Jangan begitu mom, aku juga anak mommy."


Fatimah tersentuh dengan semua yang diucapkan Dika. Mereka pun banyak berbincang, membicarakan bagaimana masa kecil Silvya. Fatmah bercerita tentang Silvya yang mandiri, kuat, tidak mudah menangis, dan pastinya tidak mudah mengeluh. Cairan bening tiba tiba keluar dari mata Fatimah. Wanita paruh baya itu langsung mengusapnya dengan cepat.


" Mommy sungguh merasa amat sangat bersalah kepada Sisi. Mommy terlalu banyak mengabaikannya. Kalau mengingat apa yang mommy lakukan ke Sisi sungguh mommy sangat sakit."


" Sudah mom, jangan diingat kembali. Mommy tahu betapa sayangnya Sisi ke mommy."


" Mommy tahu Dika, itulah mengapa mommy merasa sangat bersalah kepadanya. Jaga Sisi untuk mommy ya nak. Mommy sungguh tahu Sisi begitu bahagia saat bersamamu."


Dika mengangguk, ia pun menggenggam erat tangan ibu mertuanya tersebut.


" Oh iya, ini sudah lumayan lama lho mom daddy perginya."


" Ah.. Iya benar juga. Coba mommy telepon dulu."


Fatimah meraih ponsel miliknya dan menghubungi nomor suaminya.


Kring… kring…. Tuuut…. Tuuut…. Tuut….


Ponsel milik Harold tersambung namun seketika langsung di reject.


" Apa artinya sungguh banyak ya?"


" Bisa jadi mom, soalnya sekarang memasuki jam makan siang. Tapi sebaiknya Dika menyusul daddy saja."


" Terimakasih nak."


" Jangan sungkan mom. Mommy boleh minta apapun kepada Dika. Ingat, Dika juga anak mommy sekarang."


Dika segera keluar dari ruang rawat Fatimah dan keluar rumah sakit menuju food court dimana Harold mencari makan siang. Dika berkeliling dari satu stand ke stand namun ia tidak menemukan dimana Harold berada.


Dika pun mencoba bertanya ke salah seorang pelayan di sana, namun jawaban pelayan tersebut malam membuat Dika begitu khawatir.


" Ooh bapak ini sudah pergi sekitar 30 menit yang lalu dok."


" Apakah mas nya tidak salah?"

__ADS_1


" Tidak dok saya sungguh ingat kok."


Jantung Dika berdegup kencang. Ia mendadak memiliki pikiran buruk.


" Daddy Harold, anda kemana. Jangan membuatku takut."


Dika berjalan cepat menuju rumah sakit. Ia langsung menuju ke ruang kontrol cctv.


" Pak coba putarkan rekaman cctv luar rumah sakit sekitar 30 menit yang lalu."


" Baik dokter."


Tidak terdapat apa apa di sana. Semuanya normal, orang berlalu lalang seperti biasamya.


" Pak coba majukan sedikit ke 10 sampai 15 menit kemudian."


Petugas itu pun mengangguk. Dika melihat dengan seksama. Ia tidak melewatkan sedikitpun wajah wajah orang yang lewat.


" Pak stop."


Dika menghentikan cctv nya saat ia melihat Harold di sana.


" Itu bukannya daddy, tapi dia bersama dengan siapa?"


Dika meminta melanjutkan pemutaran cctv tersebut. Disana nampak Harold tengah menolong seseorang yang terjatuh dan memapahnya ke dalam mobil. Namun yang jadi pertanyaan Dika mengapa Harold ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah mobil itu pergi beberpa orang tampak mengejarnya.


Dika buru buru mengambil ponsel dan menghubungi Silvya.


" Sisi, daddy dibawa mobil tidak dikenal."


" Apakah benar begitu, apakah saya perlu lapor polisi."


" Tidak perlu dokter kami akan mengatasinya. Saya minta bantuan anda untuk membuat alasan yang tepat kepada nyonya Fatimah."


" Baik kalau begitu. Saya harap daddy segera bisa dibawa kembali ke sinj."


Dika segera menutup panggilan teleponnya. Ia tetap masih merasa tidak tenang. Dika kembali berpikir mengapa ponsel Silvya bisa berada di tangan Geoff.


Ia mengenyampingkan hal tersebut dulu, yang jadi fokus utamanya adalah menemui Fatimah dan mengatakan kemana Harold.


" Mom…" Dika kembali terkejut mendapati kamar Fatimah yang kosong. Dika mencari ke kamar mandi, di sana juga kosong. Dika kemudian berlari kembali menuju ruang kontrol cctv.


Naas, cctv ternyata telah dimatikan. Dan Dika tidak dapat melihat apapun. Ia berteriak frustasi. " Arghhh…. Ada apa ini sebenarnya."


Dika kembali meraih ponselnya dan menghubungi nomor Silvya lagi.


" Geoff, mommy hilang. Cctv mati. Apa kau yang membawa mommy."


" Apa??? Kak Fatimah hilang!!"


Kini Geoff benar benar merasa panik. Ia langsung menutup panggilan Dika lalu keluar dari markas dan mengendarai mobilnya.


🍀🍀🍀


Sepanjang perjalanan Arduino dan Silvya terus berdoa agar tidak terjadi apapun terhadap kedua orang tuanya.


" Ar… pinjam ponselmu. Aku harus menghubungi Geoff."

__ADS_1


Arduino memberikan ponsel miliknya kepada Silvya. Silvya lalu menekan nomor Geoff.


" Bagaimana?"


" Tidak dijawab Ar. Sebentar aku akan menghubungi Drake."


Silvya lalu menekan nomor Drake, dan syukurlah tersambung.


" Drake, kemana Geoff mengapa tidak mengangkat panggilanku?"


" Itu Q, itu… mommy dan daddy mu menghilang."


" Apa… mommy dan daddy hilang!"


Ckiiiit…… bruk


Arduino mengerem mendadak hingga kepala keduanya terbentur dashboard mobil.


" Apa maksudmu Si."


" Bentar Ar Ar, aku juga tidak tahu. Drake bicaralah. Kami akan mendengarkan."


Drake sedikit bingung bagaimana bisa Silvya dan Arduino pemimpin dari Black Wolf itu begitu akrab. Tapi ia mengesampingkan hal itu dulu, ada hal yang penting yang ia harus smapaikan.


" Tadi dokter Dika menelpon ke nomormu Q, tapi Geoff yang mengangkat. Ia mengatakan Daddy mu dibawa oleh sebuah mobil asing. Namun kami mencoba mengejarnya. Setelah itu tak lama dokter Dika menelpon lagi mengatakan mommy mu tidak ada di ruangannya dan cctv rumah sakit dimatikan di beberapa tempat."


" Ya Tuhan…" Arduino dan Silvya berteriak bersamaan.


" Ar… Apakah ini perbuatan Rodriguez?"


" Entahlah Si, aku juga tidak tahu. Tapi aku sudah meminta anak buahku menemukan dimana pria tua itu sekarang berada."


" Aku takut terjadi apa apa dengan orang tua kita Ar."


" Akupun begitu Si. Terlebih aku sama sekali belum pernah bertemu mereka."


Arduino kembali menekan pedal gasnya untuk melesatkan mobil mereka dan kembali melakukan pengejaran.


Di suatu tempat yang tidak diketahui Harold mencoba membuka matanya. Ia merasa sudah terlalu lama tertidur.


" Dimana ini, ada apa sebenarnya?"


" Tenang , kau aman di sini."


" K-kau… apa yang kau lakukan!"


" Sttt…. Jangan berteriak atau kau akan membangunkan istrimu."


Harold melihat ke samping, disana terdapat Fatimah yang masih tertidur lengkap dengan infus yang masih melekat di tangannya.


" Sebenarnya apa maumu?"


TBC


Hayo… Siapa yang bawa mommy Fat sama daddy Harold??


Terus dukung othor ya readers kesayangan.

__ADS_1


__ADS_2