
Rodriguez tengah berada di kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Matanya menatap ke langit langit namun pikirannya menerawang entah kemana.
Haaaah …. Pria berusia 60 tahun itu membuang nafasnya dengan kasar. Bayang bayang seorang wanita cantik berhijab itu selalu muncul di pelupuk matanya.
" Sial… kenapa kau selalu menghantuiku."
Rodriguez langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Ia lalu membuka nakas untuk mengambil obat tidur yang sudah lama ia konsumsi untuk mengatasi gangguan tidurnya.
Namun bukanlah botol obat yang ia ambil melainkan sebuah foto yang dikeluarkan dari dalam nakas. Seorang foto wanita berhijab yang begitu cantik. Rodriguez mengapa foto tersebut dengan begitu lembut.
" Jangan salahkan aku Fat, aku melakukan semua ini juga karenamu. Karena kau sudah menyakitiku. Kau tahu aku menyukaimu setelah sekian lama tapi kau malah memilih pria lemah itu. Kau menolakku hanya gara gara aku adalah seorang mafia, dan kau malah memilih si Harold itu."
Rodriguez kembali mengingat masa lalunya. Saat dia bertemu gadis berhijab di sebuah kafe saat itu ia tengah ada janji bertemu dengan rekannya. Lalu seorang pelayan datang. Gadis berhijab yang cantik dan sangat ceria. Gadis itu adalah Fatimah, seorang pelayan kafe yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah pertemuan pertama itu Rodriguez selalu datang kembali ke kafe tersebut untuk sekedar menemui Fatimah. Tak jarang Rodriguez juga mengantarkan Fatimah pulang. Lama kelamaan mereka pun sangat dekat. Rodriguez memiliki rasa cinta terhadap Fatimah namun tidak dengan gadis itu. Fatimah menganggap Rodriguez hanya sebatas kakak.
Rodriguez tidak menyerah ia berusaha terus mendekati Fatimah. Hingga suatu saat Fatimah memergoki Rodriguez tengah menembak salah satu musuhnya. Fatimah sungguh ketakutan. Tubuhnya bergetar.
" Fat… itu… itu…"
" Stop… jangan mendekatiku!"
" Tapi Fat, aku hanya melindungi diriku. Please jangan menjauhiku aku mohon."
" Kak… aku sudah tahu kau ikut dalam organisasi Mafia. Aku mendengar pembicaraanmu dengan rekanmu di kafe. Dan asal kau tahu kak aku sangat membenci mafia."
" Jangan Fat.. Jangan benci aku. Aku mohon aku mencintaimu Fat."
" Tidak Kak. Jangankan kamu, bahkan ayahku sendiri pun aku tidak menerimanya. Apa kau tahu gara gara organisasi itu aku kehilangan papa ku. Papaku yang sangat menyayangiku menjadi bagian dari mereka. Aku sungguh benci kalian!!"
" Fatimah tunggu…"
" Jangan mendekat kak. Kalau kau mendekat aku akan melemparkan tubuhku ke jalan."
__ADS_1
" Baiklah Fatimah baiklah… a-aku akan tetap diam."
Karena cinta yang begitu besar Rodriguez membiarkan Fatimah pergi menjauhinya. Namun semuanya berubah menjadi amarah saat Fatimah dekat dengan Harold. Dia pun semakin membenci saat Fatimah menikah. Semenjak itu Rodriguez berjanji akan menghancurkan kehidupan bahagia Fatimah.
Puncak kebenciannya saat mengetahui Fatimah melahirkan. Siapa sangka Fatimah hamil anak kembar 3, dengan kekuatan Black Wolf Rodriguez berhasil membawa salah satu anak Fatimah. Dia tersenyum puas saat Fatimah dan Harold begitu frustasi kehilangan salah satu putranya.
Rodriguez pun membesarkan putra Fatimah dan Harold seperti anak kandungnya sendiri. Arduino, ia memberi nama tersebut kepada putra wanita yang pernah dicintainya. Ia bahkan menyematkan nama nya dibelakang nama Arduino. Namun ternyata ada maksud tersendiri ia membesarkan Arduino, ia berusaha menjadikan Ar alat untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Penembakan terhadap Zion juga adalah hal yang ia sengaja. Sebelumnya ia sudah menyelidiki bahwa Fatimah akan merayakan ulang tahun anak kembarnya di taman bermain Gembira Ria. Jadi dia sengaja mengusulkan pertemuan para mafia di sana. Ia juga sengaja mengompori Albern agar membuat keributan. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tembakan ke arah anak anak Fatimah.
Sebenarnya sasarannya adalah Silvya, karena Silvya adalah anak yang kuat dan dia tidak peduli dengan Zion yang lemah. Tapi nasib baik masih melindungi Silvya, karena yang terkena tembakan adalah Zion.
" Dasar sial, mengapa gadis itu selalu beruntung. Sasaran utamaku sebenarnya adalah Silvya tapi malah yang kena anak yang penyakitan sungguh sial. Tapi tenang saja Fatimah kau akan menangis sampai air matamu kering saat melihat kedua putra putrimu saling membunuh nanti. Hahahahaa."
Rodriguez tertawa terbahak bahak membayangkan sebuah kemenangan yang hampir didapatkan. Ia yakin Arduino akan berusaha membunuh Silvya. Selama ini dia sudah memupuk sebuah keyakinan didalam diri Ar bahwa jika ingin menjadi orang yang terkuat maka harus menyingkirkan lawan lawan. Dan Silvya adalah salah satu lawan yang harus ia singkirkan.
🍀🍀🍀
" Alhamdulillah mbak sekar sudah lebih baik. Berkat nak Dika. Maaf lho malah jadi ngrepoti."
" Haish, jangan ngomong begitu mbak kita ini kan sudah jadi keluarga. Sudah sepatutnya saling menjaga dan membantu."
Fatimah sungguh tersentuh. Kedua orang tua Dika memang sangat baik. Pantas saja Dika juga sangat perhatian kepadanya. Semua tidak luput dari ajaran kedua orang tuanya pasti.
Di luar ruangan Aryo dan Harold tengah mengobrol di kursi tunggu.
" Sejak kapan Fatimah sakit Har?"
" Entahlah Yo, dia sangat pandai menyembunyikan sakitnya dariku."
" Wanita memang selalu begitu Har, kita lah yang harus lebih sensitif terhadap mereka. Oh iya Har aku dengar saudara kembar Silvya telah meninggal. Maaf bukannya…"
" Tidak mengapa Yo, ia saat mereka masih berumur 17 tahun. Zion tertembak dan meninggal ditempat Yo."
__ADS_1
" Innalillahi, kenapa tidak kasusnya tidak dibawa ke pihak berwajib Har?"
Harold membuang nafasnya kasar. Semua cara sudah ditempuh waktu itu tapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya kasus tersebut ditutup karena kekurangan bukti.
" Sudah Yo, tapi tidak menghasilkan apapun. Sepertinya pelakunya bukan orang biasa. Entahlah. Tapi kami sudah berusaha ikhlas melepaskan Zion."
Aryo menepuk pelan punggung besannya itu. Ia mencoba memberi kekuatan. Tidak mudah kehilangan seorang anak.
" Kau hebat Har, kalian hebat sudah bisa melewati ini semua. Jika itu terjadi padaku aku belum tentu bisa sepertimu."
Andai kau tahu Aryo, kami tidak hanya kehilangan satu putra. Kami kehilangan dua putra kami. Dan sungguh itu merupakan trauma berat untuk Fatimah. Harold bermonolog dalam hati.
Setelah sejenak berbincang akhirnya Sekar dan Aryo pamit undur diri. Sekali lagi Fatimah dan Harold mengucapkan terimakasih untuk kunjungan besan mereka tersebut.
Kini tinggal Fatimah dan Harold di ruang VIP ruang rawat rumah sakit Mitra Harapan. Harold menggenggam erat tangan sang istri.
" Apa kamu merasa lebih baik sayang."
" Iya kak, aku hanya khawatir dengan Sisi. Aku terlalu takut Sisi tidak akan kembali seperti kedua anak kita sebelumnya. Hiks…"
" Jangan berburuk sangka. Ingat Allaah itu sesuai dengan prasangka hambanya. Doakan Sisi selalu baik baik saja."
Fatimah mengangguk, hatinya sungguh merasa tidak karuan. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
" Andaikan Zola masih disini, Ya Allaah anakku Zola Aaron Linford. Kak apakah dia masih hidup atau sudah tiada kita sungguh tidak tahu."
Harold mengingat kembali, dimana sesaat setelah Fatimah melahirkan mereka kehilangan satu putra mereka. Seisi rumah sakit dicari tapi juga tidak ditemukan. Cctv pun tidak merekam pelaku. Kejadian tersebut sungguh membuat mental Harold dan Fatimah jatuh sejatuh jatuhnya. Belum reda kabar putranya yang hilang mental mereka kembali terjatuh saat mngetahui putra mereka yang lain menderita kelainan jantung bawaan.
Fatimah bahkan sampai depresi untuk sementara waktu. Beruntung tawa anak perempuan mereka sedikit mengobati semua kemalangan yang mereka alami.
" Sudahlah sayang, semua telah jadi takdir Allaah. Kita ikhlaskan dan sekarang selalu berdoa untuk keselamatan putri kita satu satunya. Silvya Bellona Linford."
TBC
__ADS_1