Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 43. Keputusan Dika


__ADS_3

Silvya tampaknya harus mengakui Siapa dirinya sebenarnya di depan sang suami. Sebenarnya Silvya juga ingin mengatakannya, namun bukan saat ini. Silvia akan menjelaskan semuanya kepada Dika setelah mereka menikah nanti.


" Mas...aku ini adalah anggota Mafia?"


" Apa….??? Hahahaha jangan bercanda sayang. Sisi mana mungkin kau adalah anggota mafia."


Silvya membuang nafasnya kasar. Rupanya Dika tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Tapi Silvia ingin menyelesaikan semuanya hari ini. Dia tidak ingin dianggap menipu jika dia memberitahu Dika setelah pernikahan berlangsung.


" Mas aku serius… jika kamu tidak percaya lihat ini."


Silvia mengeluarkan senjatanya dan menaruhnya di meja. Dika terkejut melihat sebuah pistol yang dikeluarkan Silvya dari balik blazernya. Silvya pun memanggil anak buahnya dan mereka menunduk memberi hormat.


" Apa mas masih tidak percaya, mas boleh bertanya kepada mereka. Mereka akan menjawab apapun ynag akan mas tanyakan.?"


" Wait… otakku masih loading dengan semua ini."


" Mas… apa kamu ingat waktu kamu menyelamatkanku? Bukankah aku memiliki luka tembak? Kamu juga mengeluarkan sebuah chip dari tubuhku. Chip tersebut adalah pemberian dari organisasi saat aku pertama kali bergabung."


Silvya menjeda ucapannya. Ia mengambil nafasnya dalam dan membuang nya perlahan.


" Luka tembak itu aku dapat karena aku diserang oleh musuhku."


Dika mendengarkan semua yang diucapkan istrinya  dengan seksama. Ia berharap dirinya salah dengar. Namun tampaknya tidak. Apa yang diucapkan Silvya semua adalah benar. Dika bisa melihat tatapan mata Silvya yang tidak ada kebohongan sama sekali.


Dika terdiam. Kini dia bingung harus seperti apa.


" Mas sekarang terserah kamu. Kamu mau menerimaku menjadi istrimu atau tidak? Keputusan itu ku serahkan semuanya padamu."


Silvya bangkit dari duduknya. Ia berdiri dan akan berjalan menjauh dari Dika. Silvya ingin memberi Dika ruang untuk berpikir. 


Namun baru beberapa langkah tubuhnya dipeluk dari belakang oleh sang suami. Dika memeluk Silvya erat dan mencium pucuk kepala sang istri.


" Mas…."


" Biarkan begini dulu untuk sementara. Sungguh aku terkejut mendengar semuanya. Apakah Mommy and Daddy tahu apa yang kamu kerjakan ini?"


" Tidak mas… mereka tidak tahu."


" lalu Sejak kapan kamu bergabung."


" Tidak lama setelah kematian Zion mas."


Dika kembali terdiam. Ia membalikkan tubuh Silvya agar menghadap ke arahnya.


" Sisi… dengarkan aku. Aku sungguh tidak peduli siapa kamu. Aku ingin kita tetap menikah. Kamu adalah istri ku dan selamanya akan tetap jadi istriku."


" Jadi… apakah kamu akan menerimaku yang penuh dosa ini."

__ADS_1


Dika mengangguk dan Silvia tersenyum mendapat anggukan dari suaminya tersebut.


" Tapi aku punya satu syarat. Yakni kamu harus mengatakan apapun padaku."


" Baik mas… aku setuju."


Keduanya kembali berpelukan. Silvya merasa lega telah mengungkapkan semuanya. Tetapi Dika masih gusar sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya itu hingga memutuskan untuk bergabung di organisasi mafia. Dalam benaknya masih sangat banyak pertanyaan. Dika akan bertanya perlahan lahan kepada istrinya nanti ketika mereka sudah berada di rumah.


" Tck...tck… adegan yang romantis."


" Shut up Erik!!"


" Oke ...oke…. Baiklah dokter Apakah engkau bisa memeriksaku sekarang."


" Baiklah tuan. Jelaskan dulu bagaimana kondisimu."


Dika mengurai pelukannya terhadap istrinya, mereka kembali duduk. 


Erik membuang nafasnya kasar. Ia pun meminta Pet untuk memberikan rekam medis miliknya kepada Dika. Dika membuka dan membacanya dengan seksama ia harus teliti dan tidak boleh melewatkan satu hal pun.


" Hmmmm… tampaknya kondisimu lumayan serius tuan."


" Panggil saja aku Erik. Seperti Q memanggilku."


" Baiklah… anda sudah menderita Sirosis hati ini sudah lumayan lama. Seharusnya beberapa bulan yang lalu masih bisa diselamatkan dengan operasi. Yakni menyelamatkan bagian hati yang masih berfungsi dengan baik. Tapi sepertinya organ hati anda sudah rusak dan Anda memang membutuhkan transplantasi hati untuk menyelamatkan hidup anda."


" Tapi kita tetap harus melakukan pemeriksaan menyeluruh agar lebih tahu kondisi Anda saat ini."


" Baiklah dokter… ikuti saja pengaturan darimu."


Silvya terpesona dengan Dika saat dalam mode serius seperti itu. Kali ini dia bisa melihat betapa suaminya sungguh keren.


" Oh iya Erik… aku hampir lupa. Apakah kamu sudah mendapatkan donor yang sesuai?"


" Anda tidak perlu khawatir dokter. Aku sudah menemukannya."


Dika hanya mengangguk. Sebagai dokter dia berharap bisa melakukan operasi ini dengan baik dan meminimalisir kesalahan.


Aku berharap banyak padamu dokter. Aku masih ingin hidup. Banyak hal yang harus aku selesaikan. Gumam Frederik di sela sela pembicaraannya dengan Dika.


🍀🍀🍀


Di rumah sakit  terjadi sedikit kekacauan. Pasalnya Dika yang memiliki jadwal operasi mendadak hilang tanpa kabar. Semua orang berspekulasi dengan hilangnya dokter terbaik mereka.


Kabar tersebut pun sampai di keluarga besar Dwilaga. Padahal baru sekitar 3 jam Dika tidak muncul. Penemuan mobil Dika yang berada di samping rumah sakit oleh salah seorang karyawan RS Mitra Harapan membuat berita hilangnya Dika mencuat. Terlebih mobil tersebut dibiarkan begitu saja di sana dan barang barang Dika pun tidak ada di dalam mobil.


Beberapa orang beranggapan Dika tengah dirampok atau di culik.

__ADS_1


" Bagaimana ini… dokter Dika hilang. Tapi mobilnya ada di dekat rumah sakit."


Tania tampak panik. Ia merasa khawatir dengan hilangnya Dika.


" Sudah… Nggak usah panik gitu. Pihak rumah sakit dan keluarga tengah mencari. Siapa tahu dokter Dika lagi berada di suatu tempat." Ucap Lisa sahabat dari Tania.


" Tapi mobilnya baik baik saja. Takutnya diculik gitu. Kalau dirampok mobilnya dia dibawa pasti."


" Sudahlah Tania, jangan mikir aneh aneh. Doain aja semoga dokter Dika nggak kenapa napa."


Sedangkan dokter Andre yang sudah mengubur rasa sukanya terhadap Tania hanya bisa mendengus. Ia merasa Tania ini bukan lagi menyukai rekan dokternya itu, tapi seperti obsesi.


Tania seakan buta dan tuli dengan gosip yang beredar di rumah sakit mengenai kedekatan dokter Dika dengan CEO LT.


" Aku khawatir wanita itu bisa diluar kendali dengan obsesinya." Gumam dokter Andre pelan.


Sedangkan di kediaman Dwilaga tampak Sekar tengah menangis sesenggukan. Ia dari tadi menghubungi ponsel snag putra keduanya namun sama sekali tidak terhubung.


" Bund… tenang dulu. Mas Dika pasti nggak papa. Soalnya melihat kondisi mobilnya itu bukanlah perampokan."


Andra mencoba menenangkan sang bunda. Setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit tentang menghilangnya Dika, seluruh anggota keluarga langsung pulang ke rumah mereka semua menghentikan aktivitas mereka. 


" Iya bund… bunda yang tenang dulu ya." Imbuh Jani sambil mengusap punggung sang bunda.


" Padahal tadi pagi bunda masih telponan sama Dika."


Aryo yang mendengar ucapan istrinya langsung mendekat.


" Bunda ngobrol apa?"


" Bunda minta Dika buat ke KUA untuk mengurus pendaftaran pernikahan minggu depan."


Aryo berpikir sejenak. Ia pun lalu berdiri dan mengambil kunci mobil."


" Lho ayah mau kemana?"


" Radi… ikut ayah ke rumah orang tua Silvya. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk."


Radi mengangguk, pasalnya mereka juga tidak tahu nomor ponsel Silvya. Lebih tepatnya semua orang di kediaman Dwilaga tersebut lupa meminta nomor ponsel menantunya.


" Tapi yah… apa ayah tahu rumah orang tua Silvya." 


" Googling… pasti ada. Silvya orang yang terkenal pasti data seperti itu ada. Jika tidak ada kita ke perusahaan Linford Transportation."


Radi mengangguk mendengar ucapan sang ayah. Keduanya langsung menuju mobil dan bergegas menuju rumah Silvya. Dalam hati mereka berharap akan ada petunjuk tentang keberadaan Dika.


TBC

__ADS_1


__ADS_2