Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 74. Queen and King


__ADS_3

Meskipun dengan tangan gemetar Harold tetap memegang pistol pemberian Geoff dengan kuat. Ia harus berani menghadapi apapun saat ini.


" Kak…."


" Sttt tenang lah. Kita pasti akan baik baik saja."


" Kenapa jadi begini kak. Ya Allaah, apakah aku berdosa menolak pria itu?"


" Tidak Fat, kita bebas memilih dimana hati kita akan berlabuh. Sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Kita harus kuat dan berani demi anak kita. Demi Sisi."


Disaat Harold masih menguatkan istrinya dan memberanikan dirinya. Diluar suara tembakan masih terdengar bahkan masih saling saut menyaut.


Dor… Dor… Dor…


Pletak …. Boom….


Dordordor...drtttttdrttttt.drttttt


Tak…. Tak….tak…


Suara langkah kaki seseorang setengah berlari menghampiri Harold dan Fatimah. Harold berdiri dengan mengacungkan pistol menggunakan kedua tangannya. Sedangkan Fatimah berdiri di belakang sang suami.


" Kalian tidak apa - apa?"


" Ya Allaah Clark. Kau mengagetkanku. Di mana Geoff."


" Geoff masih di depan. Aku akan di sini bersama kalian."


Sedangkan di luar Gedung Geoff dengan senjata laras panjangnya terus menembaki musuh. Ia tahu itu adalah kelompok dari Black Wolf yang dipimpin Rodriguez.


" Sial… orang orang ku banyak yang kena. Dan mereka mulai menerobos masuk."


Ciuuuuuu blooooom….


Sebuah granat di lempatkan di gerbang besi nbagunan itu dan bruk…. bruk ..bruk… gerbang besi dan tembok tinggi bagian depan runtuh seketika.


" Sial… mereka bisa membobol masuk."


Geoff hendak mengambil ponsel miliknya namun tangannya berhenti saat orang orang Black Wolf yang masuk itu terjatuh ke tanah. Mereka terkena tembakan.


" Apa itu Silvya."


Geoff mengambil ponsel dan menghubungi nomor yang tadi digunakan Silvya untuk menghubunginya.


" Hallo Q? Apa kalian sudah sampai. Kami terkepung."


" Iya Ge… kami tengah berusaha untuk melumpuhkan lawan yang di sini dan kami juga mulai masuk."


Silvya, Arduino, dan Ian serta kedua pasukan terus melancarkan tembakan ke depan mereka.


" Kalian hati hati. Terkadang Rodriguez menggunakan tembakan jarum yang sudah diracuni."


Silvya dan Ian mengangguk paham dengan ucapan Arduino. Beruntung tadi Roki membawakan jaket anti peluru khusus untuk mereka semua.

__ADS_1


Arduino yang sudah tahu dengan persenjataan Black Wolf memang telah menyiapkan hal tersebut sedari lama. Namun meskipun begitu mereka harus hati hati karena dari pinggang ke bawah tidak berpelindung.


Dor… Dor… dor….


Cyuuuuuuuuu blooommmmm


Sebuah granat kembali di ledakkan. Mereka semua berlari terus mendekat ke arah gedung.


" Sial… Dimana pria tua itu."


" Kenapa Ar…"


" Rodriguez tidak ada di sini. Dia hanya mengirim kroco kroconya."


" Q, Ar, jangan jangan ini pengalihan saja. Dia hanya ingin membuat kalian panik dan sibuk di sini."


Mendengar ucapan Ian, keduanya saling pandang.


" BAJINGAN!!!!"


" BRENGSEK!!!!"


" MATI KAU RODRIGUEZ…!!!


Kedua saudara kembar itu berteriak bersamaan saat sebuah helikopter berada di atas gedung tersebut.


Bug ubug...ubug..ubug….ubug….ubug …


Silvya dan Arduino langsung berlari memasuki gedung dan menaiki tangga. Keduanya lari tanpa merasa lelah barang sedikitpun. Yang ada dipikiran keduanya adalah mommy dan daddy-nya.


Entah dapat kekuatan dari mana, Silvya dan Ar bisa sampai ke atas dalam waktu singkat. Sedangkan Ian yang mengekor di belakang masih mengatur nafasnya yang ngos ngosan.


Di atas gedung tersebut memang tidak ada helipad. Helikopter tadi hanya terbang rendah dan berada tepat di sanping bibir gedung.


Clark dan geoff sudah tergeletak.Namun keduanya masih sadar. Sedangkan Harold yang sudah berdarah tubuhnya mencoba untuk merangkak ingin menghampiri istrinya yang ditahan oleh Rodriguez.


Rodrigues mendekap Fatimah sambil mengacungkan pistol ke kepala wanita yang pernah dicintainya itu. Atau mungkin sampai sekarang dia masih mencintainya.


Silvya dan Arduino mengacungkan pistol mereka ke arah Rodriguez.


" Rod… lepaskan mommy?"


Kedua saudara kembar itu menatap nyalang ke arah Rodriguez terlebih saat merek melihat daddy mereka yang telah tumbang di lantai. Hati mereka sungguh sakit.


" Dad, are you ok?"


Harold hanya mengangguk, sesaat pria paruh baya itu melihat Arduino. Air matanya pun luruh, ia sangat yakin itu adalah putranya.


" Tck..tck…tck...keluarga yang harmonis rupanya telah berkumpul."


" Zion… apakah itu zion kak?"


" Jangan bodoh Fat. Zion mu sudah mati karena aku yang membunuhnya hahaha."

__ADS_1


"Apa. Kau yang membunuh Zion. Kau keterlaluan kak. Kau keterlaluan !!!"


" Tck… Sebenarnya aku tidak peduli dengan bocah penyakitan itu yang ingin aku bunuh adalah anak perempuanmu. Haish… nasib baik memang ada padanya. Bukannya dia yang mati malah anak penyakitan itu yang mati. Dan lihatlah sebelah putimu itu. Di adalah anakmu yang lain."


" Zola… oh tidak… kau Zola. Putraku."


" Mom…"


Air mata Arduino menetes. Ia hendak mendekat. Namun sebuah tembakan melesat mengenai lantai di depannya.


" Akh......!!!!" Fatimah berteriak sambil memejamkan matanya.


" Berhenti di sana dan jangan mendekat atau kupecahkan kepala ibu kalian. Dan kau Fat patuhlah terhadap kata kataku. Kalian lemparkan senjata kalian sekarang juga."


Silvya dan Arduino mau tidak mau melemparkan pistol mereka di kaki Rodriguez.


" Hahah Queen Wild Eagle and King Black Wolf ternyata hanya lah sampah di depan orang tua sepertiku."


" Queen, King… apa maksudmu Kak Rod?"


Rodriguez tertawa sangat puas. Jika dulu wanita di depannya ini sangat membenci organisasi mafia kini karenanya kedua anaknya malah menjadi ketua mafia yang disegani.


" Kau memang naif Fat. Dulu kau begitu membenciku dan ayahmu karena kami adalah seorang mafia bukan? Lihatlah kedua anakmu, asal kau tahu Fat putra putrimu adalah ketua Mafia yang sangat disegani di negeri ini bahkan di luar negri hahahah. Dan kau tahu Fat, mereka berdua adalah Mafia yang sangat kejam."


" Tidak… tidak mungkin… bagaimana bisa… Sisi, Zola ini tidak benar kan?"


Silvya dan Arduino hanya membisu. Mereka tidak bisa berkata apapun. Namun tangan mereka mengepal kuat. Rasanya mereka ingin segera mencabik cabik tubuh Rodriguez hingga hancur.


" Baiklah sudah basa basinya. Sekarang kau ikutlah bersamaku. Aku akan membiarkanmu hidup, dan tentu saja mereka juga akan hidup."


Fatimah diam, ia bingung harus bagaimana sekarang.


Ian yang berada di belakang memang sengaja tidak muncul ia tengah mengintip dan mencari celah agar bisa melumpuhkan Rodriguez.


Fatimah yang melihat Ian ada di belakang sedikit terkejut. Ia memberi tanda kepada kedua anaknya untuk terus membuat Rodriguez berbicara agar bisa mengulur waktu.


Silvya dan Arduino yang paham gerak bibir sang ibu dan arti tatapan mata ibunya terus berusaha mengulur waktu.


" Dad, apa kau sama sekali tidak sayang padaku?"


" Arduino, tentu saja aku sayang padamu. Kau adalah anak yang dibesarkan dari bayi. Namun kebencianku pada ayahmu membuatku merasa ada yang tidak pas di hati."


Berhasil, Rodriguez terpancing dengan omongan Arduino. Ian lalu memberi kode agar mommy Fatimah membuka kaki nya lebar. Ian akan menembak kaki rodriguez atau tangan bahunya. Perbedaan tinggi badan Fatimah dan Rodriguez lumayan kentara jadi Ian bisa menambah bahu tanpa melukai Fatimah.


Ian berani mengambil keputusan itu karena ia termasuk penembak jitu milik Wild Eagle. Dan situasi saat ini bukan hanya sekali dua kali dialaminya.


" Baiklah, aku rasa kalian sudah puas. Sekarang saatnya aku harus pergi. Ayo Fat."


" Se… ka...rang…."


Dor…..


TBC

__ADS_1


__ADS_2