Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 84. Apakah Sepadan?


__ADS_3

Pria suruhan Arduino pun membuat laporan kepada Arduino tentang apa yang terjadi di rumah sakit. Ia harus bergerak cepat khawatir mereka akan menyusul.


" Halo King."


" ya Bagaimana kondisinya."


" Aman King mereka putar balik. Kita menangkap satu anak buah mereka."


" Baik tahan jangan sampai lepas. Dan jangan biarkan dia mati."


" Siap laksanakan."


Arduino bernafas lega mendapat kabar dari orang kepercayaannya bahwa keadaan rumah sakit aman.


" Ada apa Ar?"


" Baru saja orang ku menelpon, dia mengatakan bahwa pengikut Rodriguez menyerang. Tapi beruntung mereka langsung pergi saat mengetahui Rodriguez tidak ada di sana."


" Syukurlah kalau begitu. Aku lega sekarang. Berarti mom, daddy dan Mas Dika semuanya baik-baik saja."


" Iya Si, tapi kita harus bersiap aku yakin mereka tidak akan lama datang kemari untuk menyerang."


Silvya mengangguk paham dengan ucapan saudara kembarnya. Kali ini mungkin mereka akan benar-benar berperang. Namun sebuah keyakinan dalam hati mereka bagaimanapun juga mereka tidak akan melepaskan Rodrigez.


" Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Ar?"


" Kumpulkan pasukan dan beri pengarahan."


" Sepertinya aku harus memanggil orang-orang ku juga."


" Ya..Semakin banyak semakin baik."


Silvya kemudian mencari Ian dan Arduinopppp mencari Roki. Mereka akan melakukan briefing untuk menyusun rencana pertahanan dan menyerang kembali.


Kini keempatnya berada di balkon atas. Ya hanya mereka berempat yakni Arduino, Silvya, Roki, dan Ian. Tadinya mereka akan berbicara kepada masing masing anggota mereka. Namun hal itu diurungkan. Lebih baik sekalian melakukan koordinasi bersama.


" Baiklah…. Kita bicarakan rencana kita."


Arduino memulai percakapan. Semuanya mendengarkan dengan seksama tanpa terkecuali.


" Aku nanti akan meminta Roki untuk memanggil beberapa pasukan dari Black Wolf untuk mengamankan wilayah paling luar sebelum masuk ke daerah Villa ini."


" Baiklah Ar, aku juga akan meminta Drake dan Ian untuk menyebar orang orang Wild Eagle disepanjang jalan menuju Villa. Namun mereka tidak akan melakukan pergerakan, karena khawatir membahayakan warga sekitar. Mereka hanya akan memberi informasi kepada kita."


" Baiklah Si, aku setuju dengan usulanmu.'


" Apakah kita akan membuat keamanan berlapis Ar, Q?"

__ADS_1


Silvya dan Arduino saling pandang lalu tersenyum.


" Tentu saja Ian, kita akan membuat 3 lapis pengamanan."


" Betul kata Ar, lapis pertama yakni lingkungan paling luar sebelum menuju Villa. Lapis kedua tepat di luar pagar villa, dan lapis ketiga di depan villa."


Ian dan Roki mengangguk mengerti dengan penjelasan Silvya.


" Oh iya Rok… persiapkan jaket anti peluru plus anti jarum racun milik kita dan bagikan ke seluruh anggota. Baik Black Wolf maupun Wild Eagle."


Roki mengangguk ia langsung menghubungi orangnya untuk segera mengirimkan pesanan Arduino. Mendengar jarum beracun Silvya langsung teringat suaminya. Ia pun mengambil ponsel dan menghubungi Dika.


" Hallo Mas?"


" Iya Si… Ada apa?"


" Mas… Apakah teknologi kedokteran mempunyai obat semacam penangkal racun gitu."


" Ehmmm… Ada sih. Untuk mengurangi efek racun."


" Bagus, bisakah aku mendapatkannya mas."


" Bisa butuh berapa banyak?"


" Sekitar untuk seribu orang."


" Apa? Untuk apa Si?"


" Astagfirullaah Sisi, baik baik… akan aku usahakan mendapatkannya."


" Terimakasih suamiku, i love you…"


" I love you too sayang. Jaga diri baik baik. Nanti aku akan memberimu kabar."


Mendengar kalimat terakhir ynag diucapkan Silvya membuat Arduino memutar bola matanya dengan malas.


" Haish… ya ya… yang sudah punya suami mah beda. Bisa love love an gitu."


" Makanya kawin Ar."


" Eh… kawin mah udah Si.. Nikah yang belum."


" Astaga mulut mu Ar."


Ian dan Roki hanya menggelengkan kepala mereka mendengar perdebatan dua saudara itu namun mereka sungguh senang. Setidaknya setelah kehadiran satu sama lain membuat Arduino maupun Silvya lebih manusiawi. Mereka terlihat sering bercanda dan tertawa meski hanya kepada keduanya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


" Argh….. Brengsek. Arduino sungguh licik. Aku tidak menyangka mereka bisa memprediksi Apa yang akan kita lakukan. Argh….. Sialan."


Paulo tampak kesal dengan apa yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan lem dan Greg. Wajah mereka merah padam menahan amarah yang sudah di umbun umbun.


" Ayo hubungi semua rekan kita di seluruh penjuru untuk berkumpul dan menyerang Arduino serta Q."


" Tunggu Lim… kita harus mencari tahu dulu dimana dua bedebah kecil itu membawa pimpinan. Coba kau cari melalui cctv sepanjang jalan keluar rumah sakit."


Lim mengangguk, ia langsung membuka laptopnya dan mencari apa yang ingin mereka temukan.


" Sial…. Ini agak susah Paulo."


" Brengsek, mereka benar benar sudah mempersiapkan ini semua. Greg… Sebarkan orang kita. Cari jejak pimpinan sekecil apapun itu bisa kita gunakan sebagai petunjuk."


Greg mengangguk. Ia kemudian berlalu dan menemui semua anggota yang berada di gedung terbengkalai yang mereka jadikan markas sementara itu.


" Perhatian!!!! Aku ingin kalian menyebar ke seluruh wilayah ini temukan jejak pimpinan. Jangan kembali jika kalian belum temukan apapun atau kalian hanya mengantar nyawa saja."


" SIAP LAKSANAKAN!!"


Greg menghembuskan nafasnya kasar. Kali ini mungkin mereka benar benar akan bertarung sampai ada yang kalah di antara mereka. Dalam hati Greg sejenak bertanya, apakah ini semua sepadan. Memgingat apa yang dilakukan Rodriguez untuk mereka.


Greg pun berjalan kembali kepada rekan rekannya dengan gontai. Lim yang melihat sang teman nampak murung sedikit merasa curiga.


" Kenapa Greg, apa kau ragu dengan apa yang kita lakukan?"


Lim terdiam, sejenak ia berpikir mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh temannya itu.


" Apa kau berpikir sama dengan ku Lim?"


" Entahlah Greg, aku juga tidak tahu. Tapi pimpinan sudah banyak membantuku untuk tetap hidup."


" Tapi dia sengaja merekrut kita, jadi tidak ada istilah menolong. Kau tahu bagaimana dia mengancamku saat aku ingin keluar dari organisasi."


Lagi lagi Lim terdiam apa yang dikatakan Greg benar. Saat usia Greg 30 tahun, Greg pernah ingin keluar dari organisasi. Namun dengan tegas Rodriguez menolak. Bahkan Rodriguez mengancam akan membunuh semua keluarga Greg jika dia bersikeras keluar dari organisasi.


Hal tersebut juga berlaku kepada Lim. Lim yang ingin kembali ke negaranya di tentang keras oleh Rodriguez. Akhirnya Lim selamanya menetap di sini dan hanya sesekali pulang ke negaranya untuk berkunjung.


Keduanya mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.


Baiklah, ini adalah yang terakhir. Ku harap kami masih bisa hidup setelah berhadapan dengan King. Batin Greg.


Entah ini sepadan atau tidak, tapi aku harus menyelesaikan sampai akhir. Kalau aku masih bernafas setelah pertempuran ini aku akan kembali ke negaraku dan tidak akan kembali, monolog Lim dalam hati.


Greg dan Lim saling pandang. Mereka merasa memiliki pikiran yang sama.


" Jangan sampai pembicaraan kita didengar Paulo."

__ADS_1


" Baiklah Greg aku mengerti."


TBC


__ADS_2