
Dika sedikit gemetaran dengar suara tembakan yang ia dengar. Terlebih sang istri tengah berada di belakang dengan senjatanya. Dika menjadi hilang fokus dan hampir saja mobil mereka ke luar jalan.
Silvya yang mengetahui hal tersebut sebenarnya sedikit kasihan kepada sang suami. Pasti suaminya begitu syok dan terkejut di situasi saat ini.
" Mas!!! Tetap tenang oke… aku baik baik saja! Percaya lah padaku!!"
Silvya sedikit berteriak untuk kembali meyakinkan sang suami bahwa semuanya baik baik saja.
"Ya… baiklah. Fokuslah. Aku akan fokus mengemudi."
Dika mencengkeram erat stir kemudinya. Ia menatap lurus ke depan dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak oleng.
" Aku harus tenang ya… aku harus bisa tenang menghadapi ini. Ayo Dika kamu bisa melakukannya."
Dor...dor….dor….
Brummmm……
Dor…
Dor….
Dor...drt….drrrrrt
Silvya memberondong mobil lawan dengan tembakan laras panjangnya.
Bsssss…. Bruak….bruaak…. Duaarrrr….
Sebuah mobil berhasil disingkirkan oleh Silvya. Sebuah ledakan dari mobil itu begitu menggelegar. Api terlihat merah menyala.
" Sayang… apakah sudah selesai?"
" Belum mas… muncul dua mobil lagi. Mengemudilah dengan santai bila perlu nyalakanlah musik."
Dika terkejut mendengar perkataan sang istri. Namun ia tahu istrinya tengah berusaha membuatnya santai.
Dor….
Sebuah tbalam mengenai kaca pintu di samping Dika. " Astagfirullaah…." Dika terlonjak kaget.
Silvya meminta Dika menutup kaca mobil belakang lalu ia kembali ke bangku depan. Silvya meminta Dika untuk sedikit menunduk, lalu ia menurunkan kaca mobil sedikit dan mengacungkan pistolnya ke mobil yang ada di sebelah mereka.
Dor….
Bruak...bruak…. Brak….
Tembakan Silvya berhasil menembus kaca mobil lawan dan mengenai kepala musuh. Mobil tersebut pun oleh ke kanan dan terpelanting. Beberapa orang yang ada di dalam mobil tersebut keluar dengan mengacungkan senjata mereka ke mobil Silvya dan menembak membabi buta.
Dor….
Dor….
Dor….
Silvya menyeringai, " Butuh sepuluh tahun lagi kalian para kroco untuk mengalahkanku."
Silvya kembali menutup kaca mobil di samping Dika lalu kembali duduk dengan tenang. Ia kemudian menyimpan senjatanya.
" A-apakah sudah selesai?"
" Ya mas… Sudah … Sekarang kita kembali ke villa."
__ADS_1
" Bagaimana jika mereka masih mengejar?"
" Tenang saja, setelah dari sini mereka akan dibereskan oleh orang orangku."
Hah….
Dika membuang nafasnya dengan kasar. Mungkin malam ini akan menjadi sebuah peristiwa yang tidak pernah dilupakan.
" Maaf mas, membuatmu berada di dalam situasi seperti ini."
" Ti-tidak apa apa. Ya tidak apa apa. Meskipun jujur, aku sungguh terkejut namun aku sungguh tidak menyangka kau begitu profesional."
" Hahaha mas, aku sungguh terlatih jadi kau tidak perlu meragukanmu. Untuk situasi seperti ini aku bisa menjamin bahwa kau akan aman."
Silvya tergelak dengan ucapan sang suami.
Ya Allaah istriku, sungguh dia seperti orang yang berbeda saat beraksi dengan senjata senjatanya itu. Aku sempat merinding melihatnya tadi. Batin Dika.
Dika menepikan mobilnya. Ia berkali kali mengambil nafasnya dalam dalam. Silvya meraih tangan sang suami lalu mengusapnya lembut. Lalu ia memajukan tubuhnya dan mencium bibir Dika.
Dika sedikit terkejut mendapat ciuman dari Silvya, " Maaf … aku tahu kamu takut."
Dika membelai wajah sang istri, ia kemudian menarik Silvya ke pangkuannya dan memeluknya erat.
" Ya, aku memang begitu takut tadi sayang. Tapi melihatmu yang sangat profesional itu aku sungguh tidak tahu harus berkata apa. Baru kali ini aku mendapati situasi yang seperti ini."
" Maaf mas."
Dika meraih tengkuk sang istri dan menyesap bibirnya dengan lembut. Silvya mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Mereka saling menyesap dan melu**t. Dika menerobos rongga mulut Silvya dengan lidahnya. Tangannya sudah berada di benda kesayangannya dan meremasnya lembut. Ia memilin puncak daging kenyal itu hingga membuat nafas Silvya tersengal.
" Mas…."
Dika acuh dengan panggilan sang istri, ia terus memainkan bulatan kenyal itu dan sekarang dia sudah berhasil menaikkan baju istrinya. Daging kenyal bulat itu tampak menantang di depan mata Dika. Tanpa pikir panjang Dika langsung menghisap keduanya bergantian. Silvya hanya bisa pasrah sambil mencengkram rambut suaminya dengan kedua tangannya.
" M-mas…."
" Hmm…."
" A-apa kita akan melakukannya disinih." Hhhhh…."
Silvya menggigit bibir bawahnya merasakan sebuah sensasi yang diperbuat suaminya itu. Dika hanya menyeringai mendengar pertanyaan istrinya.
" Kau harus dapat hukuman sayang, karena telah berhasil membuatku ketakutan."
Dika memindahkan istrinya ke kursi samping dan mengatur kursi tersebut agar membuat istrinya lebih nyaman.
" Mas… hukuman macam apa ini."
Dika tergelak mendengar protes sang istri namun tangannya tak berhenti berkegiatan. Silvya hanya menggeleng pelan dengan tingkah suaminya.
" Astaga mas Dika. Kenapa kau sungguh mesum. Dulu sepertinya kau begitu dingin. Tapi tak apa aku suka kemesumanmu itu."
Akhhhh…. Silvya tiba tiba sudah merasa dirinya diterobos oleh Dika. Mereka benar benar melakukannya di dalam mobil. Mobil tersebut bergerak sesuai dengan irama yang dihasilkan oleh orang yang berada di dalamnya.
🍀🍀🍀
Arduino berlari saat mengetahui mobil Silvya telah sampai di villa. Ia sungguh khawatir terlebih Silvya bersama dengan sang kakak ipar. Ia yakin dokter Dika akan syok dengan kejadian yang batu saja di alami.
Namun ternyata dugaannya salah. Sepasang suami istri itu datang dengan senyum mengembang.
__ADS_1
" Sepertinya ada yang kulewatkan."
" Halo Ar, ini kubawakan pesanan kalian."
" Apa ini kakak ipar?'
" Serum anti racun untuk menangkal racun. Meskipun tidak bisa menangkal 100% racun. Tapi serum itu bisa mengurangi hingga 70% racun yang akan masuk ke dalam tubuh."
Arduino tersenyum, kabar bahwa kakak iparnya adalah seorang dokter yang hebat bukanlah kabar burung semata.
" Terimakasih kak… kau sungguh luar biasa."
" Haish, mengapa kau memanggilnya kakak sedangkan padaku tidak."
" Woaaah… kakakku yang cantik. Ini penghargaan tertinggi kepada kakak ipar, masa kau cemburu."
" Terserah padamu lah Ar."
Dika tersenyum melihat interaksi kedua saudara kembar ini. Sekilas ia melihat kondisi villa nya. Begitu banyak penjagaan dan semuanya memegang senjata.
Sepertinya mereka telah siap menerima penyerangan, gumam Dika.
Silvya langsung menarik lengan sang suami untuk mengikuti masuk. Dika meminta agar serum tersebut segera di suntikan kepada semua orang. Namun sebelumnya ia mengambil satu terlebih dahulu untuk diberikan kepada Arduino.
" Ar… kemarilah."
Arduino menurut mendengar panggilan Dika.
" Berikan tangan mu."
Cussss….
Serum tersebut berhasil masuk ke tubuh Arduino. King mafia itu tersenyum. Perlakuan sederhana Dika membuat hatinya menghangat. Ia benar benar merasa menemukan sebuah keluarga.
" Ar… berikan ini kepada yang lain juga."
Arduino mengangguk, ia lalu meminta Roki untuk memanggil Jason agar membantu menyuntikkan serum tersebut kepada semua orang di sini."
" Ada apa Ar?"
" Berikan ini ke semua orang termasuk dirimu dan dua perawat itu."
Jason mengangguk mengerti saat hendak pergi tiba tiba ia menghentikan langkahnya.
" Dika!"
" Jason!"
Dika menghampiri Jason, mereka lalu berpelukan.
" Apa yang kau lakukan di sini?"
" Lalu kau, mengapa kau bisa di sini?"
Silvya dan Arduino saling tatap melihat interaksi Jason dan Dika.
" Aku dokter pribadi Arduino. Sekarang dia memintaku merawat Tuan Rod."
" Ya Allah… betapa sempit dunia ini. Aku suami Silvya."
Jason menelan salivanya dengan susah payah. Kata suami yang diucapkan oleh teman lamanya itu berhasil membuatnya terpaku.
__ADS_1
" Ya Tuhan, kau memang luar biasa mengatur semua ini. Bagaimana mungkin dokter hebat ini adalah suami mafia yang ditakuti dan iparnya juga mafia yang ditakuti. Semuanya terlihat sangat sempurna. Sudahlah tak akan ada yang bisa menyentuh mereka." Monolog Jason dalam hati.
TBC