
Dika keluar dari gedung Kantor Urusan Agama dengan senyum mengembang. Pernikahan yang akan ia laksanakan seminggu lagi sudah ada di depan mata. Sungguh ia tidak sabar ingin segera menuju di hari H.
" Baiklah… saatnya pulang… eh.. Aku harus kembali ke rumah sakit lagi."
Dika menundukkan wajahnya, tampaknya ia tidak bisa beristirahat siang ini. Tapi beruntung tadi ia sempat tidur di rumah mertuanya meskipun ia sangat malu.
Dika pun memasuki mobilnya dan menekan pedal gasnya dalam-dalam. Ia menuju ke rumah sakit lagi. Tapi di tengah jalan dia merasa mobilnya diikuti. Dika masih bersikap tenang. Ia masih mencoba berpikir positif. Mungkin hanya kebetulan saja mereka mempunyai arah yang sama.
Ketika melewati jalan yang agak sepi, mobil tersebut menghadang mobil Dika hingga membuat kita mengerem mobilnya secara mendadak.
" Astagfirullah….."
Dika mengusap dadanya ia sungguh merasa terkejut. Tampak 4 orang bertubuh besar dan berpakaian hitam-hitam mendekati dan menggedor kaca mobilnya.
Dugh...dugh...dugh….
" Keluar." Kata seseorang dengan begitu dingin.
Dika yang mulai merasa dirinya sedang dalam bahaya mencoba membuka ponselnya dan mencari nomor darurat. Ternyata nomor darurat yang disetel adalah nomor milik Silvya.
Panggilan telepon tersebut pun tersambung. Silvya sedikit heran Dika menghubunginya siang siang begini.
" Hallo mas…. Mas…."
Hening tidak ada jawaban dari Dika. Yang terdengar adalah suara gertakan dan suara saling memukul.
Bugh… bugh… Bugh…
" Akh… Sisi … panggil polisi.. Aku di jalan….."
Hening… suara Dika hilang. Silvya terkejut mendengar suaminya merintih. Ia pun segera berlari keluar. Iyan tak kalah terkejutnya ketika Silvia tiba-tiba meninggalkan ruang rapat dan tidak mengatakan apapun.
" Drake… lacak nomor ini dimana lokasinya lalu berikan kepadaku segera!!!"
Silvya setengah berlari menuju ke tempat parkir. Ia langsung menaiki mobilnya setelah menelpon Drake.
" Mas Dika Aku mohon…. jangan terjadi apa-apa padamu. Aku mohon bertahanlah aku akan datang menyelamatkanmu."
Silvia berusaha setenang mungkin. Ia tidak mau bertindak gegabah.
Kringgg….
" Ya Drake…"
__ADS_1
" Ponsel itu berlokasi dekat dengan RS Mitra Harapan."
" Baiklah… tolong kirim beberapa orang kesana sekarang!"
" Siap Q…"
Drake sedikit terkejut dengan perintah Q. Iya bertanya-tanya siapa gerangan yang membuat Q begitu khawatir.
Hanya butuh setengah jam Silvya sudah sampai di mana mobil Dika terparkir di tepi jalan. Silvya segera turun dari mobilnya dan melihat kondisi mobil. Tidak ada tanda tanda kekerasan pada mobil tersebut. Mobil Dika masih sangat mulus cuma handphone milik Dika yang tidak ada.
Hal tersebut malah membuat Silvia tersenyum karena di ponsel milik Dika sudah dipasangi pelacak.
" Sebenarnya siapa musuh mu Mas."
***
Di markas, Drake yang menerima perintah Silvya untuk melacak sebuah ponsel lagi lagi merasa heran. Pasalnya sinyal yang ia dapat mengarah ke sebuah dermaga di pinggir Kota J.
Belum sempat Drake mengambil kesimpulan, datanglah Ian dengan sedikit tergesa gesa.
" Huft…. Drake… Q kemana sih. Tadi dia langsung pergi aja saat rapat dewan direksi. Mana nggak ada ngomong apa apa sama sekali lagi."
" Sudah ngomel nya…"
" Eh…."
" Eh… bukannya itu."
" Yups…. Ada urusan apa orang ini membawa kenalan Q ke sana."
Ian dan Drake terlihat kebingungan. Mereka merasa Silvya begitu sangat khawatir kepada orang yang diculik oleh kelompok itu.
" Drake… apakah mungkin itu adalah Daddy dan mommynya Q?"
" Maksudmu tuan Harold dan nyonya Fatimah?"
" Ya iyalah… Siapa lagi."
Drake merenungkan apa yang dikatakan Ian. Namun Drake merasa orang yang dikhawatirkan oleh Silvya bukanlah kedua orang tuanya.
🍀🍀🍀
Di sebuah dermaga pinggir Kota J, Dika dibawa masuk ke sebuah tempat yang tidak diketahui karena mata dan mulutnya ditutup. Namun dari angin yang berhembus dan suara deburan ombak, Dika bisa menebak ia tengah dibawa ke daerah perairan. Mungkin ke sebuah kapal.
__ADS_1
"Duuuh…. Ini dimana ya. Aku mau diapain juga nih. Terus mereka teh saha… kie sopo to yo… hey .. Who are you….!!"
Dika hanya bisa berbicara dalam hati karena mulutnya dibungkam.
Ternyata orang berbadan besar itu bukanlah kawan yang sepadan untuknya. Ilmu karate yang hanya sebatas BAN I tidak mampu melumpuhkan keempat orang yang telah berhasil menculiknya. Selain kalah jumlah tentunya ia juga kalah dalam ukuran tubuhnya. Dika hanya bisa pasrah.
Dika didudukkan di sebuah kursi. Bau minuman keras dan asap rokok langsung menusuk hidungnya. Sebagai dokter pembenci segala hal yang tidak sehat itu, ia sangatlah sensitif.
" Buka penutup matanya dan mulutnya!!" Perintah seseorang yang merupakan pemimpin dari kelompok itu.
Dika mengerjapkan matanya mencoba mengenali lokasi dimana dia dibawa. Dan benar saja dia berada di sebuah kapal. Tepatnya kapal pesiar. Dekorasi dalam ruangan tersebut begitu mewah layaknya hotel bintang 5.
" Selamat datang dokter Radika Tara Dwilaga. Maafkan saya yang mengundang anda dengan cara yang kurang sopan."
Hei… kau itu bukannya mengundangku dengan cara yang kurang sopan. Tapi kau sudah menculik ku dengan paksa. Dika bersungut sungut di dalam hati.
" Maaf… sebenarnya anda siapa? Mengapa bisa tahu tentang saya. Dan apa mau anda."
" Hahahha… seperti rumor yang beredar. Anda memang apa adanya dan tidak suka basa basi."
Seorang pria paruh baya berusia sekitar 58 tahun tersebut terkekeh dengan pertanyaan Dika. Rambutnya tampak memutih dan kulitnya sudah sedikit keriput. Namun Aura pemimpin yang mendominasi masih melekat kuat dalam dirinya.
" Maaf tuan… Sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya?"
" Tidak banyak dokter. Saya hanya ingin anda melakukan operasi di sini?"
" Oh… operasi… eh disini??? mengapa tidak ke rumah sakit saja tuan. Di sana pasti lebih lengkap alat alatnya."
Pria tua itu memberi isyarat tangan kepada anak buahnya. Orang yang dibelakang Dika pun membantu Dika berdiri dan menuntunnya ke sebuah ruangan. Dika sungguh terkejut melihat ruangan tersebut. Pasalnya ruangan itu sebuah ruangan operasi komplit dengan alat yang sangat komplit. Bahkan mungkin lebih komplit ketimbang ruang operasinya di rumah sakit Mitra Harapan.
" Woaaah… Apa kalian memindahkan isi rumah sakit kemari? Ini sangat lengkap. Oh iya tuan, apa anda tidak bisa menyuruh anak buah anda untuk melepaskan ikatan di tangan saya. Untuk seorang dokter tangan adalah aset yang sangat berharga."
" Hahahaha…. Kau orang yang menarik dokter. Pet… buka ikatannya."
" Tapi tuan… baiklah."
Akhirnya Dika bisa menggerakkan tangannya kembali. Ia memutar-mutarkan tangannya lagi yang merasa sedikit sakit.
" Maaf tuan... Terus siapa yang harus saya operasi? Tapi saya membutuhkan tim saya. Saya tidak bisa melakukan operasi sendirian."
" Tenang saja dokter untuk tim, saya akan persiapkan. Anda tidak perlu khawatir yang perlu Anda fokuskan hanyalah mengoperasi."
Dika masih memutar otaknya, sebenarnya siapa orang ini mengapa dia bisa menculiknya. Dan kira-kira siapa gerangan orang yang harus dioperasi olehnya. Mengapa Tuan ini tidak membawa pasien tersebut ke rumah sakit dan malah menculik dirinya ke sini.
__ADS_1
"Huft… sungguh aku bingung. Aku ini bukanlah dokter seperti di film film yang punya keahlian tangan tuhan dalam menyelamatkan pasien. Aku hanya manusia real biasa yang juga bisa salah. Entah apa yang terjadi padaku nanti. Aku hanya kepikiran Silvya saat ini. Aku takut dia mengkhawatirkan aku. Haish…."
TBC