
Dika tidak akan melakukan cara-cara yang frontal seperti menghampiri Tania dan memarah-marahinya atas apa yang wanita itu lakukan. Dika akan membuat cara yang lebih elegan untuk menyingkirkan Tania dari kehidupan rumah tangganya.
Namun sebelumnya ia menghampiri direktur Rumah Sakit terlebih dahulu di ruangannya.
Tok...tok...tok…
"Masuk…"
" Pak direktur. Bolehkah saya masuk?"
" Ooh dokter Dika, Silahkan masuk. Ada angin apa dokter hebat seperti anda mendatangi saya di ruangan saya."
" Oh Ayolah Om Bisma, jangan bicara seperti itu kepada ponakan yang ganteng baik hati ini."
Bisma curiga, ia yakin pasti Dika akan meminta sesuatu yang aneh-aneh.
" Jangan kebanyakan drama dan basa-basi cepat kau mau apa?"
" Woaaah…. Memang Om ku ini luar biasa baiknya. Begini, besok siang aku mau memberikan makan siang gratis untuk seluruh karyawan Rumah Sakit Mitra Harapan dalam rangka tasyakuran pernikahanku."
Bisma yang mendengar ucapan ponakannya itu terdiam lalu tertawa terbahak-bahak. Dia tidak percaya ponakannya yang datar, dingin, dan mempunyai julukan kulkas 12 pintu itu telah menikah.
" Hahaha jangan bercanda kamu Dika wanita mana yang mau sama kamu. Gandengan aja nggak punya tiba-tiba menikah. Jangan halu."
Dika membuang nafasnya kasar. Lagi lagi dia mendapat perlakuan seperti itu, tidak dipercayai saat berkata bahwa dirinya telah menikah.
" Om… Benar aku sudah menikah apa Om ingat beberapa hari yang lalu kak Radi menelpon Om untuk membangunkan aku."
Bisma memutar ingatannya kembali, memang benar waktu itu Radi menelponnya agar membangunkan Dita supaya tidak terlambat ke KUA.
" Ya Allaah, Apakah benar kamu telah menikah? Wanita mana yang mau sama kamu?"
" Tuh orangnya di luar, sayang…. Masuk, Om Bisma ingin ketemu."
Silvya yang menunggu di luar pun akhirnya masuk ke ruangan direktur rumah sakit tersebut.
" Selamat sore Pak Direktur. Saya Silvya istri dari dokter Dika."
Bisma terperanjat melihat Silvya. Silvya Bellona Linford, CEO dari LT tersebut berada di depannya dan ternyata adalah istri dari keponakannya.
" Eh… Silahkan duduk. Panggil om aja. Ya Allaah, ternyata beneran Dika udah nikah. Dasar ponakan durhakim, kenapa nikah nggak ngasih tahu. Oh iya Silvya mengapa kamu mau sama dokter dingin 12 pintu ini yang kalau dideketin cewek kayak alergi obat?"
Dika memberengut mendengar ucapan sang paman. Sungguh dia ingin membungkam mulut om nya itu.
" Eh… mas Dika nggak dingin kok Om. Dulu sih emang dingin. Tapi sekarang Mas Dika anget kok."
Uhuk...uhuk...uhuk…
Bisma seketika terbatuk batuk mendengar ucapan istri dari ponakannya tersebut.
" Uhuk… ya Allaah bagaimana bisa kalian sama sama absurd. Kalian memang jodoh."
" Mas… emang ada yang salah ya sama jawabanku?"
" Enggak kok sayang, nggak ada yang salah. Om Bisma aja yang otaknya bermasalah. Maklum kelamaan jomblo. Kurang belaian dan kehangatan. Ya sudah om gitu aja. Kami permisi mau ngangetin badan."
Dika langsung menuntut Silvya ke luar ruangan. Sedangkan Bisma wajahnya memerah menahan kesal terhadap ponakannya.
__ADS_1
" Dika….. Awas kau ya!!"
Di luar Dika yang mendengar teriakan Bisma hanya terkekeh geli.
" Mas… kau ternyata usil juga."
" Hanya terhadap keluargaku aku begini."
Mereka berdua menuju ruang perawatan Fatimah. Dika telah menyerahkan perawatan Fatimah kepada dokter yang ahli dibidang penyakit yang diderita ibu mertuanya itu.
" Bagaimana keadaan mommy, apa yang sekarang dirasakan?"
" Mommy sudah baikan kok nak Dika, Alhamdulillaah."
" Alhamdulillaah kalau seperti itu. Tapi mommy harus berada di sini sampai dinyatakan baik kondisinya."
Fatimah tersenyum dan mengangguk. Dika menempatkan Fatimah di ruang terbaik di RS Mitra Harapan tersebut sehingga Harold pun juga bisa beristirahat dengan nyaman saat menunggui Fatimah.
" Dad mom,,, apakah tidak apa apa jika Sisi pergi untuk perjalanan bisnis."
" Tidak apa nak. Pergilah Sisi. Mommy biar Daddy yang jaga."
" Terimakasih Dad, kalau begitu Sisi akan bersiap. Besok pagi pagi sekali Sisi harus berangkat."
🍀🍀🍀
Malam ini Silvya menginap di ruangan Dika. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang milik Dika saat suaminya masih melakukan tugasnya.
" Hallo Q."
" Ya aku akan kirimkan sekarang juga, sekalian informasi yang berhasil aku dapatkan tentang Black Wolf. Tapi informasi itu tidak banyak."
" Tidak apa apa mr. Sun. Itu sudah lebih dari cukup. Baiklah aku akan melihatnya dulu. Terimakasih sekali lagi."
" Sama sama Q, semoga kau bisa segera menyelesaikan permasalahan ini."
Setelah menutup panggilan teleponnya, Silvya langsung membuka informasi yang dikirimkan oleh Mr Sun. Ia membaca satu persatu beberapa data milik Black Wolf. Memang tidaklah banyak namun itu cukup di sana terdapat nama Arduino Rodriguez sebagai pemimpin Black Wolf lengkap dengan sepak terjangnya.
Jika dilihat memanglah Black Wolf tidak pernah bersitegang dengan Wild Eagle. Hal ini semakin memantapkan Silvia untuk tidak membawa ketiga saudaranya ikut campur dalam urusan pribadinya.
Setelah melihat informasi milik Black Wolf, Silvia lalu membuka CCTV yang diberikan oleh Mr. Sun. Ia melihat dengan seksama setiap kejadian yang terekam. Air mata Silvya kembali luruh saat Zion tertembak persis di depan matanya. Silvya menangis sesenggukan.
" Sayang…."
" Eh mas… kamu sudah selesai, kamu kapan masuknya?"
Tanpa Silvya sadari, suaminya itu sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuhnya. Secara tidak sengaja Dika pun melihat cctv tersebut.
" Astagfirullaah… innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
Dika mengeratkan pelukannya kepada Silvya. Ia bahkan membalikkan tubuh Silvya agar berhadapan dengannya.
Dika melihat Zion di tembak, darah bercucuran di dadanya. Bahkan baju yang semula putih seketika menjadi merah. Meskipun tidak terdengar namun Dika bisa melihat bagaimana histerisnya satu keluarga itu menyaksikan Zion meninggal di hadapan dan di pangkuan mereka.
" Ya Allaah Sisi, pantas saja lukamu begitu dalam. Kejadian itu sungguh mengerikan. Trauma mu sungguh berat. Aku kagum kau sungguh hebat bisa menghadapi semuanya sendiri. Kau sungguh hebat sayang." Dika membatin. Ia hanya terus mengusap rambut dan punggung Silvya untuk menenangkan istrinya.
Dika masih melihat cctv yang sepertinya telah dirangkum menjadi sebuah video panjang tersebut. Hingga ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
__ADS_1
" Si… Sisi… coba lihat itu."
Dika menepuk nepuk kedua lengan Silvya agar berbalik menatap rekaman cctv kembali.
" Apa mas… udah kosong gitu."
Dika kemudian maju ke layar laptop dan memundurkan rekaman tersebut beberapa saat.
" Coba lihat, setelah kalian pergi ada seseorang yang mau mendekat tapi nggak jadi karena dihalangi oleh orang lain."
Silvya memicingkan matanya dan menajamkan penglihatan nya. Ia bahkan mem pause rekaman tersebut agar bisa melihat wajah kedua orang tersebut.
" Ini…. Ya Allah… mengapa bisa."
" Ya kan, aku bilang apa. Ada yang aneh Si."
Silvya kembali memutar video tersebut hingga selesai. Namun nihil setelah itu tidak terlihat apapun.
Sepasang suami istri itu saling pandang, mereka memikirkan hal yang sama. Akhirnya Silvya pun menghubungi teman nya kembali.
" Hallo Mr. Sun."
" Ya Q… ini sudah malam. Kenapa kau selalu menggangguku malam malam. Apa suamimu tidak mencurigai mu kau menghubungi pria lain di malam hari begini."
Dika menatap sang istri dengan penuh tanya. Pasalnya Dika mendengar percakapan Silvya dan Mr. Sun yang ternyata di mode loudspeaker oleh Silvya.
" Hati hati bicaramu suamiku sedang ada disampingku sekarang."
" Woaaah...hallo dokter Radika. Perkenalkan aku selingkuhan istrimu."
" Oh shut up Mr.Sun kau sungguh argh…."
" Hahaha Oke oke… jangan diambil hati dokter Dika. Aku hanya bercanda. Oke.. Apa yang kau inginkan lagi?"
" Aku ingin cctv di sekitar bianglala lagi kalau bisa seluruh arena bermain hingga ke area parkir."
" Oke… mau bayar berapa kali ini."
" Oh ayolah Mr. Sun."
" Hahaha baiklah baik. Tunggu aku akan memberikannya."
Tut…
Panggilan Silvya langsung diputus oleh Mr Sun. Dika pun menatap istrinya dengan penuh tanya.
" Dia adalah Mr. Sun. Hacker terkenal yang banyak ditakuti oleh organisasi mafia juga intelijen negara negara luar."
" Woaaah… kau berteman dengan orang hebat itu?"
" Ya… kami saling membantu."
Keduanya kini terdiam. Silvya kembali melihat cctv tersebut dan memfokuskan dua orang yang salah satunya penembak Zion.
Apakah itu Arduino Rodriguez, dan yang menghalangi untuk menemui kami adalah Rodriguez? Tapi mengapa wajah Arduino seperti…. Ah tidak tidak… mana bisa seperti itu. Aku harus memastikan sendiri. Aku akan mendatangi Black Wolf.
TBC
__ADS_1