Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 57. Dilema Silvya


__ADS_3

Silvya berbaring ditempat tidur. Mereka baru pulang di rumah sakit karena Silvia bersikukuh untuk pulang. Dia tidak  menginap di rumah sakit meskipun hanya semalam, padahal Dika ingin memastikan kondisi Silvya tidak apa apa. Mau tidak mau Dika menuruti apa yang diinginkan istrinya dengan satu syarat besok Silvya tidak boleh berangkat ke perusahaan.


" Sayang, makan malam dulu yuk."


" Tapi Mas, aku tidak berselera."


" Sedikit saja paksain. Biar ada tenaga untuk menghadapi kenyataan."


Ucapan Dika sukses membuat Silvya tersenyum. Suaminya itu selalu mempunyai cara untuk menyenangkan hatinya. 


Akhirnya Silvia mau makan meskipun hanya beberapa suap. Dika mengambil sisa makanan tersebut dan memberikan beberapa butir obat untuk diminum Silvya.


" Sudah, sekarang mau bercerita?"


Setelah menaruh nampan tersebut di meja, Dika langsung naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Silvya.


" Mas.. Mereka bukan penyebab kematian Zion. Tapi mereka menutupi apa yang sebenarnya terjadi waktu itu."


Silvya mulai membuka pembicaraan yang langsung pada inti permasalahan.


" Mungkin mereka punya alasan tersendiri sayang."


" Kata mereka semua itu untuk melindungi ku tapi…."


" Tapi apa?"


" Aku kecewa dengan sikap mereka. Dan mas… ternyata orang yang merekrut ku , yang selama ini aku panggil Ayah dia adalah kakekku." 


" Maksudmu?"


" Iya pemimpin Wild Eagle sebelumnya adalah kakekku. Ayah dari mommy, dan di Wild Eagle ada adik dari Mommy yang tidak lain adalah pamanku. Kakekku itu telah meninggal 3 tahun yang lalu, dan mommy sama sekali tidak mengetahuinya."


" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ya Allah Sisi… terus apakah kamu mau mengatakan kepada mommy?"


Sillvya diam. Ia sungguh bingung saat ini harus melakukan apa. Jika mengatakan kepada mommy nya harus mulai dari mana dan harus bicara seperti apa. Tidak mungkin dia mengetahui semua itu karena bergabung dengan sang kakek di organisasi mafia.


" Sisi… apa yang kau inginkan saat ini?"


" Balas dendam."


" Astagfirullah sayang… apa kamu benar benar sudah tahu faktor dibalik kejadian itu? Balas dendam bukan hal yang baik "


" Katanya mereka salah sasaran."


" Nah berarti mereka tidak sengaja kan sayang."


Silvya terdiam, memang kejadian tersebut tidaklah karena kesengajaan. Tapi mengingat peristiwa itu membuat Silvya dilanda kesedihan dan amarah.


" Sayang… coba pikirkan baik baik apa yang akan kamu lakukan. Jangan bertindak saat kita sedang emosi. Sayang… apakah mau menjalankan ibadah bersamaku?"

__ADS_1


" Tapi mas… a-aku…."


" Baiklah kalau kamu belum siap. Aku mau sholat isya dulu ya kamu istirahatlah."


Dika berdiri menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Silvya hanya menunduk dalam sisi hatinya ia ingin mengikuti suaminya namun sisi yang lain ia merasa belum siap. Apalagi mengingat apa yang sudah diperbuat selama ini.


Sedangkan Dika, ia tidak akan memaksa Silvya. Ia ingin Silvya melakukan kewajiban agamanya atas dasar keinginannya sendiri bukan melalui paksaan. Dika yakin saat itu akan tiba, namun Dika akan berusaha untuk mengajak Silvya. Dika kembali dari kamar mandi dan membentangkan sajadahnya.


" Allahuakbar…" 


Dika memulai ibadah sholat Isya. Lantunan bacaan sholat yang merdu keluar dari mulut Dika membuat Silvya merasa tenang. Kegundahan dan kemarahannya seolah menguap. Dan tiba tiba air matanya luruh. Silvya pun terisak.


Dika yang sudah selesai sholat pun mendengar isakan sang istri. Namun Dika membiarkannya. Dika membiarkan Silvya untuk meluapkan rasa hatinya. Dika tahu istrinya itu telah berada dalam dilema.


10 menit berlalu, Silvia sudah terlihat tenang. Bahkan Silvia sudah terlelap. Dika membenarkan selimut lalu ikut masuk dan memeluk sang istri. Ia berharap Silvya bisa berdamai dengan masa lalunya dan kembali memulai hidupnya tanpa adanya dendam.


***


Lewat tengah malam Silvya terbangun, ia sejenak melihat suaminya yang berada di sampingnya.  Membelai lembut wajah sang suami dengan lembut lalu mencium pipi nya.


" Terimakasih… dan maaf mas. Maafkan aku yang belum bisa jadi istri yang baik untukmu."


Silvya kemudian bangkit dari tidurnya lalu membenarkan selimut Dika.


Ia berjalan menuruni tangga dan memasuki kamar lamanya. Silvya duduk di sana sejenak lalu mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang."


" Hoaaaam,,,, oh Q, apakah kau tidak bisa menghubungiku di jam normal hah?"


" Sorry…. But please….. mr. Sun aku membutuhkan ini sekarang juga."


" Ya...ya...ya… kau menang Q. Apa yang kau inginkan."


" Semua informasi mengenai Black Wolf."


Di seberang sana Mr. Sun terdiam sesaat ketika mendengar nama Black Wolf. Pasalnya Black Wolf adalah salah satu organisasi bawah yang terkenal begitu kejam. 


" Apa yang ingin kau lakukan Q?"


" Kematian saudaraku ada hubungannya dengan mereka Mr. Sun."


" Ya Tuhan, are you seriously?"


" Ya.. Makanya aku butuh informasi mengenai mereka secepatnya."


" Baiklah… tapi tidak bisa secepat biasanya… Sistem keamanan mereka sangat ketat. Butuh lumayan banyak waktu untukku menembusnya."


" Baiklah Mr. Sun. Aku akan menunggu. Ku ucapkan banyak terimakasih. Sebelumnya."


" Tidak masalah."

__ADS_1


Silvya mengakhiri panggilan telepon. Ia sedikit merasa lega karena temannya itu mau membantunya. Silvya kemudian memasukkan beberapa baju ke dalam tas carrier miliknya dan  memasukkan semua senjata yang disimpan juga.


Besok ia akan pergi menuju daerah dimana markas Black Wolf berada. Ya, Silvya sudah memutuskan untuk menyelidiki secara langsung sambil menunggu informasi lengkapnya dari Mr. Sun.


Namun sebelumnya ia harus meminta izin dari suaminya. Ia sadar, kini dia adalah wanita bersuami. Kemana ia pergi dia harus meminta izin terlebih dahulu. Soal diizinkan atau tidak oleh Dika, Silvya akan berusaha untuk mendapatkan izin tersebut.


"Huft…. Aku harus melakukan ini. Aku harus benar benar mengetahui fakta yang sesungguhnya. Aku tidak mau hidup dalam dendam yang tidak jelas seperti ini."


Silvya kembali ke kamar dan naik ke ranjangnya. Ia memeluk suaminya yang tengah tertidur. Silvya menghirup aroma Dika yang membuatnya merasa tenang dan ikut kembali memejamkan matanya.


🍀🍀🍀


Tania yang baru saja sampai rumah karena hari ini dia masuk shift siang langsung melemparkan tas dan jas dokternya ke sembarang arah. Ia melepaskan semua bajunya dan hanya meninggalkan pakaian dalamnya. 


Tania memutar sebuah lagu milik Shawn Mendes dan Camila Cabello yang berjudul Senorita.


I love it when you call me señorita


I wish I could pretend I didn't need ya


But every touch is ooh, la-la-la


It's true, la-la-la


Ooh, I should be running


Ooh, you keep me coming for ya


Tania kemudian menari mengikuti lagu yang diputar. Tariannya bahkan begitu sensual. Ia menari sambil menatap ke cermin, di sana ada sebuah foto Dika yang ia tempel. Kini Tania menyeringai.


" Lihatlah tubuhku ini Dika, apakah tubuhku ini tidak pernah membuatmu tertarik?" 


Tania masih terus menari, ia lalu membuka br*nya sehingga dua asetnya itu jelas terlihat terpantul melalui cermin.


" Dika… lihatlah, bukankah mereka indah. Apakah kau tidak ingin menyentuhnya, aku yakin kau akan senang memainkan nya. Apakah kau tahu aku menjaganya selama ini hanya untukmu. Aku membuatnya indah agar kau puas."


Kini di tubuh Tania tinggal kain segitiga pembungkus aset inti bawahnya. Ia ingin melepaskannya namun urung. Tania lalu mematikan musiknya dan memakai pakaian tidurnya. Ia menangis tersedu. Tangisan yang jika didengar sungguh menyayat hati.


" Dika… Aku sungguh mencintaimu. Apakah kau tidak tahu itu. Mengapa… mengapa kau malah memilih wanita itu. Apa kurangnya aku. Dika… lihatlah aku meski hanya sejenak."


Tania tergugu ia merebahkan tubuhnya di ranjang besar miliknya sambil memegang foto Dika. Kini tangisnya sudah berhenti dan diganti dengan senyuman.


" Dika sayang… aku akan datang untukmu. Tunggulah aku. Aku akan menyingkirkan wanita jahat yang telah merebutmu dariku. Tenang saja aku yakin kita akan bersama nanti. Tapi jika kamu tak mau denganku jangan harap wanita jahat itu juga bisa memilikimu."


Tania terus bergumam seorang diri. Sampai ia lupa kapan dia tertidur. Tania menciptakan dua pribadi yang berbeda dalam dirinya. Tania yang sebenarnya ambisius, arogan, dan emosional bisa berubah menjadi lembut, ramah, dan menyenangkan bila berhadapan dengan orang lain. Dan hal tersebut sudah ia lakukan sejak masih remaja.


Tania semasa sekolah selalu berkeinginan menjadi yang terbaik dalam hal apapun sehingga ia berusaha keras mendapatkannya. Namun di hadapan teman temannya ia bersikap seolah olah gadis yang menyenangkan dan tidak berkeinginan untuk melakukan hal hal tersebut. Sehingga saat Tania berhasil mencapai apa yang diinginkan pujian dan sanjungan selalu didapatkannya. Dia menjelma menjadi gadis manis yang penuh keberuntungan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2