
Silvya memasuki gedung perusahaan dengan langkah tegap. Semua karyawannya merasa senang sang Bos kembali lagi ke perusahaan. Beberapa diantaranya memberi selamat datang untuk Silvya.
Ian yang melihat Silvia datang bersorak senang pasalnya tugas sebagai pemimpin perusahaan akan usai hari ini.
" Oooooh My Queen syukurlah kau ingat akan perusahaanmu." Ucap Ian mendramatisir.
Silvya hanya menanggapi Ian dengan senyuman. Ia pun terus berjalan menuju ruangannya. Ian mengekor dan ikut masuk ke ruangan Silvia.
" Bagaimana perusahaan. Apakah semua baik-baik saja saat aku tidak ada?"
" Oh tentu saja semuanya aman terkendali Ian gitu loh."
" Good ... good ... berarti jika suatu hari aku tidak bisa ke perusahaan kau bisa menghandle semuanya."
Ian terkejut dan menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tidak sanggup untuk mengurusi perusahaan. Lebih baik dia diperintahkan untuk membasmi sekelompok pencuri daripada mengurusi perusahaan Silvya.
" No…. Don't do that …. Aku menyerah. Sudah cukup hampir 2 bulan ini aku dibuat pusing oleh urusan perusahaan belum yang menangani klien, belum yang minta inilah itulah. Belum lagi dewan direksi yang selalu bertanya di mana keberadaanmu."
Silvya terkekeh geli mendengar setiap yang Ian ucapkan. Dia cukup tahu bagaimana repotnya mengurusi perusahaan. Dulu saat pertama kali dia baru masuk dia pun sungguh kerepotan.
" Ya… ya… aku tahu. Sudah jangan merengek, sekarang lebih baik kau minta sekretaris untuk menyiapkan rapat."
Ian pun segera berlari keluar ruangan untuk melakukan apa yang Silvya perintahkan.
" Huft…. Kembali lagi ke rutinitas semula. Tampaknya aku akan rindu dengan kegiatanku di rumah Mas Dika."
Silvia pun kembali fokus pada pekerjaannya dia memeriksa dokumen - dokumen yang sudah menumpuk rapi di atas meja kerjanya.
🍀🍀🍀
Setelah memakan sarapan yang diberikan oleh Silvia tadi Dika kini bisa berbaring sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Pagi ini sampai nanti siang dia tidak ada jadwal operasi sama sekali.
Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi Ia pun segera melihat ponselnya tersebut untuk melihta siapa gerangan yang menelpon. Ternyata yang menelpon adalah sang Bunda, Dika pun menekan tombol hijau untuk mengangkat teleponnya.
" Assalamualaikum bunda ada apa?"
" Waalaikumsalam Mas Mas kamu sudah ke KUA belum buat ngurus persyaratan nikahmu seminggu lagi."
" Astagfirullah Mas lupa Bun ya udah pagi ini mas akan urus."
" Hmmm untung Bunda ingetin kalau nggak kamu nggak bakalan jadi nikah minggu depan."
" hehehe iya Bunda. Terima kasih Bundaku sayang."
" ya Sudah buruan jalan jangan lupa ke rumahnya Silvia untuk meminta kelengkapan surat-suratnya."
" Siap bunda."
__ADS_1
Dika akhirnya tidak jadi membaringkan tubuhnya ia segera berganti pakaian segera pergi melakukan apa yang diperintahkan bundanya.
" Untung diingetin Bunda kalau nggak aku nggak jadi nikah sama Silvya. Mengapa aku bisa lupa ya…."
Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hanya butuh satu jam untuk Dika sampai di rumah Silvya. Ia pun megetuk rumah Silvya dan memberi salam.
Tok….tok...tok…
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam…."
Ceklek…
" Loh nak Dika, ada apa pagi pagi begini kemari Silvya sudah pergi ke kantor."
" Ini Dad… saya mau meminta dokumen kelengkapan untuk mendaftarkan pernikahan ke KUA."
" Astagfirullaah...daddy lupa. Iya iya… ayo masuk dulu."
Dika dan Harold berjalan beriringan memasuki rumah. Harold meminta Dika untuk duduk terlebih dahulu.
" Bentar ya Daddy ambilin."
Harold meninggalkan Dika di ruang tamu sendirian. Mungkin karena semalaman tidak tidur akhirnya Dika tertidur di sofa.
" Eh… Ada nak Dika. MasyaaAllaah… tidur ternyata."
Fatimah tersenyum melihat Dika yang tampak pulas tertidur. Harold yang baru turun dengan membawa berkas berkas yang diminta pun ikut tersenyum.
" Tidur dia Dad."
" Iya… biarkan saja. Sepertinya dia sangat capek. Biar dia bangun sendiri."
Harold dan Fatimah membiarkan menantunya itu tidur di sofa. Bahlan Harold pun membenarkan posisi Dik aagar lebih nyaman.
" MasyaaAllaah nggak gerak sama sekali. Kayaknya menantu kita ini benar benar kelelahan sepertinya ya mom."
" Iya… apakah jadi dokter secapek itu ya Dad."
" Entahlah, mungkin saja. Ya sudah kita tinggal saja."
Fatimah melenggang ke dapur dan Harold ke halaman belakang. Selama pensiun dari perusahaan karena masalah kesehatan, Harold menghabiskan waktunya di halaman belakang untuk berkebun. Pria paruh baya itu menanam berbagai tanaman herbal dan sayur s aturan. Mungkin istilah populernya adalah warung hidup dan apotik hidup.
Sedangkan Fatimah yang memang ibu rumah tangga melakukan kegiatan rumah tangga nya sendiri tanpa bantuan art. Hanya dia memiliki seseorang yang datang untuk membantunya 2x dalam seminggu untuk menyetrika baju.
__ADS_1
Mereka menikmati kehidupan rumah tangga yang sederhana. Meskipun mereka tergolong orang kaya tapi mereka memilih gaya hidup yang tidak berlebihan.
***
Dika menggeliat di sofa lalu mengerjapkan matanya. Sesaat dia merasa asing dengan tempat dimana ia tidur sampai dia menyadari bahwa di tidur di ruang tamu rumah Silvya.
" Astagfirullaah… aku ketiduran."
Dika pun bangkit dari tidurnya. Ia melihat jam tangannya.
" Ya Allah udah jam 11.00 siang."
Dika melihat sekeliling rumah tapi dia tidak menemukan Fatimah dan Harold. Dika pun merutuki kebodohannya yang tertidur tanpa melihat tempat.
" Eh… nak Dika sudah bangun?"
" Maaf Mom tadi saya ketiduran."
" Nggak pa pa. Yuk makan siang dulu kamu pasti lapar."
Dika tersenyum kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dika pun mengangguk dan mengikuti mertuanya ke meja makan. Di sana sudah ada Harold.
" Duduklah nak… "
" Sebentar Dad, saya mau izin ke kamar mandi dulu."
" Ya pergilah."
Harold tersenyum melihat menantunya itu. Ada rasa bangga menyentuh hatinya mengingat Dika adalah dokter yang hebat. Namun bukan itu sebenarnya poin penting nya. Yang Harold tau Dika adalah anak yang sopan dan baik serta bertanggung jawab.
" Sudah… Duduklah… apakah menjadi dokter begitu capek nak."
Dika terkejut mendengar pertanyaan Harold. Ia sebenarnya malu karena tidak menyangka akan tertidur tadi. Namun karena memang semalaman tidak tidur jadi rasa kantuk tersebut benar benar menyerang tanpa ampun yang akhirnya membuat Dika kalah.
" Sebenarnya setiap pekerjaan itu capek Dad. Tapi ya kembali lagi pada diri kita, ketika kita sudah mengambil sebuah profesi pekerjaan maka bertanggung jawablah terhadapnya. Saya senang melakukan pekerjaan saya namun memang ada kalanya tubuh kita terforsir. Maaf dad tadi saya ketiduran. Memang semalaman saya tidak tidur. Ada sekitar 2 operasi besar, dan masing masing operasi berjalan sekitar 8-9 jam."
" MasyaaAllaah… selama itukah, apakah setiap operasi memang durasi waktunya lama." Kini Fatimah yang bertanya.
" Tidak mom, semua tergantung dari penyakit pasien. Kadang usia pasien juga mempengaruhi. Tapi fokusnya adalah penyakit pasien."
" Pekerjaanmu sangat mulia nak."
" Terimakasih Dad, jadi dokter adalah cita cita saya sejak kecil. Dan Alhamdulillah semuanya bisa terwujud sekarang."
Dalam hati Fatimah ia benar benar merasa bersyukur putrinya mendapatkan pria yang baik dan tulus seperti Dika. Ia harap Dika mampu membimbing putrinya itu menjadi lebih baik lagi.
TBC
__ADS_1
Hay hay readers... Selamat tahun baru dari Dika dan Silvya ya....
Terimkasih sudah mendukung othor selama ini, semoga para readers selalu sehat dan bahagia,. Aamiin