
Silvia membawa Fatimah dan Harold ke makam Edinson. Dia harus menyelesaikan ini dulu sebelum dia pergi untuk mengintai markas Black Wolf.
Edinson dimakamkan di pemakaman umum, hal tersebut adalah wasiatnya. Sebenarnya Edison memang menginginkan hal tersebut karena ada maksud tersendiri, yakni ketika Fatimah mau memaafkannya maka Fatimah bisa berziarah ke makamnya.
Ternyata di makam tersebut ada seseorang yang tengah berdiri dan menabur bunga. Orang itu tidak lain adalah Geoff. Goff memberi kode kepada Silvia agar mereka berpura-pura tidak mengenal satu sama lain.
" Siapa Kau dan apa yang kau lakukan di sini."
" Kak Fatimah… ini aku… Geoff."
" Geoff,,Apa benar kau Geoff... ya Allaah kau sudah dewasa. Waktu itu kau masih sangat kecil. Lalu apa yang kau lakukan di sini?
Fatimah sedikit bingung dengan adanya Geoff di sana namun seketika ia terkejut melihat batu nisan dimana Geoff berdiri tepat di depannya. Pasalnya di sana bertuliskan nama sang papa dan juga tanggal lahir.
Fatimah jatuh tersungkur dan menangis. Namun ia seketika berdiri dan mencengkram kedua lengan Geoff.
" Katakan… Apakah ini papa… apa benar ini makam papa."
Geoff membisu, dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun saat melihat Fatimah menatap wajahnya.
" Jangan diam saja Geoff…. Katakan apakah ini papa!"
" Iya kak… ini ayah ku dan papa kak Fatimah."
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ya Allaah papa…"
Fatimah tidak bisa mengatakan apapun lagi ia sungguh merasa amat sangat bersalah sekarang. Namun semuanya percuma karena sang papa hanya tinggal nama.
" Pa… papa… Fatimah minta maaf pa. Sungguh Fatimah sangat menyesal. Ya Allaah… Aku sungguh anak yang durhaka. Pa.. Fatimah putri yang sangat buruk. Ya Allaah… Bagaimana meminta maaf kepada papa ya Allaah.. Hu...hu...hu…"
Silvya sesungguhnya tidak tega melihat sang ibu yang begitu terpukul. Tapi semua harus diberitahukan sekarang.
Geoff mendekati Fatimah, sedangkan Harold dan Silvya mundur sedikit menjauh. Ayah dan anak itu memberikan ruang untuk kakak beradik yang lama tidak bertemu untuk bisa saling berbicara.
Jika waktu Geoff lahir Fatimah berusia 15 tahun maka sekarang Geoff berusia 37 tahun karena usia Fatimah 52 tahun. Geoff meraih tubuh Fatimah dan mengusap punggung sang kakak.
" Sudah kak, ayah nggak marah sama kakak. Kakak jangan menyalahkan diri sendiri."
" Apakah papa sakit Ge?"
Geoff mengangguk, Edinson memang sakit sekitar setahunan sebelum meninggal.
" Astagfirullaah Ge.. Kenapa kamu nggak mencoba menghubungi kakak. "
" Ayah melarang kak.. Maafkan aku kak. Maafkan ibu dan kakekku. Gara gara mereka kakak dan ayah jadi terpisah. Kakak jadi marah sama ayah."
" Sudah lah Ge, bukan salahmu. Kakak yang terlalu egois."
Dalam hati Geoff begitu lega akhirnya bisa bertemu dengan Fatimah dan menyampaikan amanat dari ayahnya.
" Kak, sebelum ayah meninggal ayah berpesan bahwa ayah sangat menyayangimu, ia sangat mencintaimu."
Fatimah kembali menangis, ia terisak di depan pusara Edinson. Namun ia selalu menghapus air matanya agar jangan sampai menetes di atas pusara papanya.
" Hiks… Fatimah juga mencintai papa."
🍀🍀🍀
Dika yang baru keluar dari ruang operasi langsung disambut oleh Tania. Dokter cantik itu mengulurkan sebuah air jus kemasan. Karena untuk menghargai rekannya Dika pun menerima pemberian Tania.
" Terimakasih dokter Tania untuk jus nya."
" Sama sama dokter Dika. Baguslah kalau dokter Dika suka. Silahkan diminum."
Tania pun langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Ia tersenyum smirk.
__ADS_1
" Setelah ini kamu akan jadi milikku Dika. Aku menjamin itu."
Dika yang masih begitu lelah tidak langsung meminum jus pemberian Tania. Ia hanya menentengnya dan membawanya ke ruangan.
Namun belum juga masuk ke ruangannya ia mendengar suara Silvya.
" Dokter… please help my mom."
" Silvya, mengapa ada di sini? Katanya mau mengurus sesuatu beberapa hari kedepan."
Dika pun berlari ke arah sumber suara. Ternyata di sana ada Fatimah yang sedang digendong oleh seseorang tapi bukan Harold. Harold hanya berdiri di samping orang yang menggendong Fatimah.
" Silvya… dad… ada apa ini."
" Alhamdulillaah nak Dika. Tolong mommy mu tadi tiba tiba dia pingsan."
Beberapa perawat mendorong brankar ke arah mereka. Dika pun meminta orang tersebut membaringkan sang ibu mertua.
" Baiklah semua tunggu di sini. Mommy biar diperiksa dulu."
Dika memberikan botol jus pemberian Tania kepada Silvya lalu membawa mommy Fatimah ke dalam ruang pemeriksaan.
Semua orang tampak khawatir. Geoff apa lagi berulang kali kata maaf terucap dari bibirnya.
" Sudah Ge… InsyaaAllaah kakakmu tidak apa apa. Doakan saja. Semua ini bukan salahmu."
Harold menenangkan adik iparnya itu. Tadi setelah dari makam Edinson, baru berjalan beberapa langkah Fatimah jatuh pingsan. Geoff yang berada paling dekat dengan Fatimah langsung menggendong Fatimah.
Sedangkan Silvya yang melihat Geoff begitu khawatir hanya diam. Dia tidak berbicara dengan Geoff sedari tadi. Kedua orang itu benar benar berpura pura seakan tidak mengenal.
Setelah 15 menit berlalu, Dika pun keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Fatimah untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
" Mas… bagaimana kondisi mommy?"
" Emangnya kenapa kak Fatimah?"
" Iya kenapa nak."
Dika terdiam sejenak. Ia mengambil nafasnya dalam dalam.
"Mommy ada sesuatu di paru paru nya. Tampak seperti bronkitis tapi harus diperiksa lebih lanjut. Agar dipastikan apa penyakit sebenarnya."
" Astagfirullah…"
" Mommy…"
" Ya Tuhan."
Harold, Silvya, dan Geoff terkejut mendengar pernyataan Dika. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit. Silvya juga memutuskan untuk menunda pergi ke Black Wolf sambil menunggu kabar dari Mr. Sun.
" Sisi… kenapa wajahmu merah begitu?"
" Nggak tau mas. Tiba tiba tubuhku terasa panas."
Dika sedikit aneh melihat perubahan istrinya yang tadinya baik baik saja sekarang wajahnya memerah.
" Dad… aku akan periksa Sisi dulu. Dady temanilah mommy. Sebentar lagi pasti mommy sadar."
" Baiklah nak."
Harold dan Geoff masuk ke ruang rawat Fatimah. Sedangkan Silvya dibawa Dika ke ruangannya.
" Mas… panas banget. Ini gerah banget."
" Tunggu… ada yang salah. Apa yang kau makan atau apa yang kau minum."
__ADS_1
Silvya menunjukkan botol jus yang dititipkan kepadanya. Dika langsung meraih botol tersebut dan menciumnya. Namun tidak berbau.
" Pasti ini ada yang salah. Awas kau Tania berani beraninya kau menggunakan cara murahan seperti ini."
Dika yang melihat Silvya sudah diluar kendali langsung menggendong ke ruangannya. Silvya yang sudah sangat kepanasan hendak membuka bajunya di koridor rumah sakit.
Ceklek… Brak… Dika langsung mengunci ruangannya.
" Mas… kau sangat tampan… aku mau kamu…"
" Astagfirullaa Sisi… Sadar…"
Silvya membuka bajunya satu persatu hingga menyisakan dalam*nnya saja. Ia langsung menarik Dika dan meraup bibi Dika dengan sangat rakus.
" Sisi… stop…. Kamu dalam pengaruh obat perangsang."
" Akuh… tahu.. Tapi kita kan sudah halal mas… apa salahnya."
Dika baru ingat mereka kan sudah menikah.
" Mas… Aku ingin itu… sungguh sudah tak tahan lagi."
Silvya merengek sambil membuka paksa baju Dika. Dika merasa sedikit bingung dengan tingkah Silvya. Apakah ini yang dinamakan jebakan membawa nikmat? Tak mau melihat istrinya berlama lama tersiksa, Dika pun langsung melucuti pakaiannya sendiri. Melihat Dika dalam keadaan polos membuat Silvya semakin berhasrat. Ia pun langsung menerjang sang suami.
Bahkan Silvya tidak memberi kesempatan Dika istirahat barang sejenak. Percintaan mereka kali ini benar benar panas. Silvya lah yang mendominasi. Silvya menciumi setiap inci tubuh Dika dan menari di atas tubuh Dika dengan indah. Dan Dika menikmatinya, berkali kali Dika memekik saat Silvya melakukan aksinya berada di atas tubuhnya.
Dika menikmati setiap sentuhan Silvya, ia menikmati setiap permainan yang Silvya buat.
Mereka bahkan tidak hanya melakukan sekali saja namun beberapa kali. Tidak hanya di ranjang namun di tempat tempat lain yang bisa mereka pakai.
Tampaknya obat perangsang yang ada di jus kemasan tersebut memiliki dosis yang tinggi. Mereka sudah melakukan di banyak tempat dan membuat banyak gaya namun Silvya tetap masih ingin melakukannya lagi. Khawatir terjadi apa apa dengan istrinya Dika langsung membawa Silvya ke kamar mandi dan mengguyur tubuh Silvya dengan air dingin.
Brrr..... Silvya kedinginan saat air dingin tersebut mengenai tubuhnya. Ia sedikit merasa ngilu di bagian intinya. Dika pun membuka kaki Silvya dan memeriksanya.
Huft.... Dika membuang nafasnya kasar.
Terlebih dulu Dika membersihkan tubuhnya. Ia juga mengguyur badannya untuk menghilangkan peluh yang membasahi tubuhnya. Lalu dengan segera berganti pakaian. Kemudian ia baru membantu Silvya membersihkan tubuh istrinya itu.
Dika membalut tubuh Silvya yang sudah tampak kedinginan dengan handuk lalu menggendongnya keluar. Dika mendudukkan Silvya di tepi ranjang lalu mengeringkan rambut Silvya dengan handuk lain. Ia juga memberi salep di bagian inti Silvya. Silvya hanya pasrah karena ia merasa tubuhnya amat lelah.
" Mas… aku… kenapa bisa begitu."
" Ada yang ingin menjebakku dengan obat perangsang."
" Apa?? Siapa yang melakukan ini di rumah sakit?"
" Huft… Tania."
" Apa…. Waah… dasar wanita gila… bisa bisanya dia berbuat begitu."
" Aku akan mengurusnya, istirahatlah.. Kau pasti sangat lelah. Apa kau tahu sisi kau sungguh luar biasa tadi. Terlepas itu dari pengaruh obat perangsang atau tidak, aku menyukaimu yang begitu agresif."
" Mas…"
Wajah Silvya merona, ia sungguh malu mengingat apa yang ia lakukan kepada suaminya tadi.
" Mas.. Sebenarnya, Tania adalah putri dari Erik."
" Apa?? Pantas saja wajah mereka sedikit mirip. Hmmm baiklah, aku sudah tahu apa permintaanku kepada Erik. Tapi sebelum itu aku akan membuat sebuah kejutan."
Dika menyeringai, ia memiliki sebuah rencana bagus untuk menjauhkan Tania dari kehidupan rumah tangganya. Ia tidak ingin orang orang seperti Tania merusak hubungannya bersama sang istri.
" Tidak akan ku berikan kesempatan bagi para pengganggu untuk sedikitpun masuk di kehidupan rumah tanggaku, tidak untuk hari ini, esok, ataupun yang akan datang."
TBC
__ADS_1