
Sekarang Silvya dan Arduino tengah menyusun sebuah rencana untuk mengetahui motif Rodriguez. Mereka tidak boleh gegabah mengambil sebuah tindakan.
" Apa yang akan kau lakukan Ar?"
" Aku akan berpura pura terobsesi ingin membunuhmu. Aku akan menanyakan semua hal tentang mu dan keluargamu untuk menggali motif apa yang begitu mendasarinya ingin menghancurkan keluarga kita."
" Baiklah tapi hati hati. Katanya dia pandai memanipulasi."
Arduino menyeringai, ia mengacak kepala rambut Silvya. Silvya menatap tajam sang adik.
" Hahaha jangan marah. Kau tidak perlu khawatirkan itu. Jika dia pandai memanipulasi maka aku adalah ahlinya. Dia menurunkan triknya padaku secara tidak langsung. Selama ini aku hanya berpura pura bodoh untuk mendapat kepercayaannya. Dan hampir ¾ pengikutnya sudah menjadi anak buah ku yang setia."
Prok...prok...prok…
Silvya bertepuk tangan di hadapan Arduino. Ia merasa bangga akan saudara kembarnya itu.
" Kau memang hebat Ar. Huft… andai Zion di sini."
" Sudahlah Sisi, biarkan Zion tenang di sana. Aku bersumpah akan membalas perlakuan Rodriguez kepada Zion. Terlebih jika memang itu disengaja, maka aku kan membalasnya berkali lipat."
" Ar…"
" Hmm…"
" Mommy dan daddy pasti akan sangat bahagia jika bertemu denganmu lagi."
Arduino menunduk, air mukanya berubah sendu. Dia sendiri sebenarnya begitu merindukan orang tuanya. Namun ia merasa tidak layak kembali ke keluarganya lagi.
" Entahlah Si… aku merasa tidak pantas. Aku terlalu berlumur dosa."
Pletak…
Silvya memukul kepala Arduino dengan sangat keras.
" Auch… Sisi sakit."
" Kau ini sedang mengejekku atau bagaimana. Memangnya hanya kau yang berlumur dosa. Kau memangnya tidak mengetahui sepak terjang ku."
Arduino tergelak mendengar perkataan Silvya. Ya benar kedua saudara itu adalah seorang mafia. Bukan hanya sekedar mafia melainkan pemimpin mafia yang disegani. Dua duanya terkenal kejam saat menghadapi lawan. Para kroco bahkan akan bergetar ketakutan jika mendengar nama mereka berdua.
" Entah apa yang akan mommy dan daddy katakan jika mereka mengetahui dua anaknya adalah ketua organisasi mafia yang kejam."
Keduanya termangu menatap laut. Mereka memiliki pemikiran yang sama. Sama sama tengah memikirkan kedua orang tuanya.
" Baiklah Si.. Sudah malam. Waktunya tidur. Besok kita harus syuting drama."
" Ya kau benar Ar. Besok kita harus berakting sebaik mungkin. Lalu aku tidur dimana."
" Di ranjangku lah."
" Apa… yang benar saja Ar, kita tidur seranjang berdua."
__ADS_1
" Oh ayolah Si… aku ini adikmu. Apa yang kau pikirkan. Apa kau takut tiba tiba menganggapku sebagai suami dokter mu itu."
" Shut up Ar, jangan menyebutnya, itu membuatku merindukannya."
" Hiih… orang jatuh cinta membuat mereka sedikit gila."
Arduino merasa merinding melihat wajah saudara kembarnya yang tengah senyum senyum sendiri. Ia pun meninggalkan Silvya di balkon sendirian dan berjalan masuk lalu bersiap tidur.
Sedangkan Silvya, ia masih asik menikmati hembusan angin laut malam dan melihat bintang yang bertaburan. Deburan ombak menambah syahdu dinginnya malam.
" Mom… Dad… Aku menemukan adikku. Aku menemukan Zion yang lain. Aku yakin kalian akan senang jika aku bisa membawanya pulang dan bertemu dengan kalian."
🍀🍀🍀
Markas Black Wolf keesokan harinya tampak tenang dan semua berjalan sebagaimana mestinya. Arduino berjalan keluar bersama dengan Nilam (a.k.a Silvya) menuju ke ruang pertemuan.
Cekleeek.,.
" Morning Dad…."
" Hei son, morning. Kemarilah."
Arduino menarik sebuah kursi di sana dan menghempaskan bokongnya. Ia kemudian menatap Rodriguez dengan senyuman.
" Sepertinya kau hari ini sedang dalam mood yang baik Ar."
" Hahaha, apakah begitu terlihat?"
" Semacam itulah. Ada apa memangnya?"
" Lihatlah Dad, ini bukannya keluarga Q?"
Sret….
Arduino memberikan sebuah foto yang diserahkan Silvya kepada Rodriguez. Pria itu pun dengan cepat mengambilnya. Pandangan matanya tentu saja langsung terarah pada wanita berhijab yang masih ia kenali.
" Kau masih cantik Fat." Gumam Rodriguez lirih namun masih bisa didengar oleh Silvya dan Arduino. Kedua saudara kembar itu pun saling pandang dan mengerutkan alisnya.
" Apa Daddy mengenal mereka?"
Rodriguez langsung meletakkan foto tersebut saat mendengar pertanyaan Arduino. Ia kemudian mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
" Haish… tidak lah. Mana mungkin aku mengenal mereka."
" Oh, Ar pikir daddy mengenal mereka."
Bohong, kau jelas mengenal mereka, aku bis amengetahui ekspresi terkejut saat pertama kali melihat foto itu, batin Arduino.
Tck, dasar tua bangka. Sudah sangat jelas kau mengenal orang tua kami, batin Silvya.
" Mengapa kau memberikan foto itu kepada daddy Ar?"
__ADS_1
" Ar hanya ingin tahu seluk beluk keluarga target Ar. Oh iya kata daddy, Q adalah salah satu orang yang harus Ar singkirkan bukan?"
Rodriguez tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Ia begitu antusias saat Arduino mengatakan hal mengenai ingin menyingkirkan Silvya.
" Ya tentu. Dia adalah hambatan bagimu Ar. Kau harus melenyapknanya. Jika kau berhasil maka Black Wolf akan berada di puncak rantai makanan. Kita akan jadi yang tak tertandingi di organisasi dunia bawah."
" Mengapa harus Q dad. Bukankah masih ada banyak yang lebih hebat dari dia yang layak kita jadikan target?"
Rodriguez tergagap mendengar pertanyaan Arduino. Ekspresi bingung yang halus itu tetap saja tak luput dari pengawasan Silvya dan Arduino.
" Huft… son, kita harus membunuh Q agar kita tidak dihina terus oleh kelompok lain karena selalu di bawah wanita. Ya itu alasannya."
" Apakah hanya itu dad?"
" Ya hanya itu. Baiklah son daddy akan ke kamar sebentar. Kau pikirkanlah rencana yang baik untuk menghadapi Q lalu segera beritahu padaku."
Rodriguez bangkit dari duduknya dan berlalu dengan cepat. Hal yang disadari oleh Silvya dan Ar bahwa pria tua itu membawa foto keluarga Silvya.
" Nilam, mari kembali ke kamar."
" Baik tuan."
Ar dan Silvya pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke kamar.
Ceklek… brakk…
" Ar aku yakin si tua itu mengenal kedua orang tua kita."
Stttt…
Ar segera membungkam mulut Silvya dengan satu tangannya.
" Jangan keras keras Sisi. Nanti ada yang mendengar. Disini dinding pun mempunyai telinga."
Arduino berkata dengan sedikit berbisik. Silvya pun menganggukkan kepalanya paham.
" Saat siang begini kita tidak bisa berbicara bebas seperti di malam hari. Rodriguez itu terlalu parno terhadapku. Ia bahkan menempatkan seseorang untuk mengawasiku."
" Baiklah aku mengerti, tapi dilihat dari ekspresinya melihat foto yang kita berikan ia mengenal baik salah satu dari orangtua kita. Entah mommy entah daddy. Tapi saat dia berkata pelan bahwa mommy masih tetap cantik bahkan tahu nama mommy mungkin dia mengenal mommy dengan baik."
" Sisi, apakah dia memiliki dendam dengan mommy, aah… sepertinya ini masuk akal Si."
Silvya mengerutkan kedua alisnya masih belum paham maksud pembicaraan Arduino.
" Tck… Dasar kau ini. Mungkin dia itu ada dendam dengan mommy makanya dia mau menghancurkan mommy melalui anak anaknya. Pertama dia menculik ku lalu menembak Zion dan sekarang mengadu domba kita."
Silvya terdiam mendengar analisa Arduino. Hal tersebut sedikit ada benarnya juga.
" Mungkin ada benarnya juga. Tapi kita tidak bisa mengambil kesimpulan tersebut dengan buru buru. Ar, apakah di kamarnya tidak ada cctv?"
" Tidak ada Si, di kamar tidak ada cctv sama sekali."
__ADS_1
Huft…. Sylvia membuang nafasnya kasar. Pria kesepian seperti Rodriguez ini pasti akan senang bermonolog di kamar. Dan andaikan ada cctv pasti akan lebih mudah menganalisanya meski tidak bisa mendengar suaranya.
TBC