
" Baiklah semua bersiap di posisi masing masing. Disini Q and K akan selalu meminta kalian agar tetap waspada. Ingat nyawa kalian sangat berarti. Tidak ada istilah mengorbankan nyawa sendiri mengerti!"
Suara bariton Arduino terdengar ke seluruh anggota Wild Eagle dan Black Wolf melalui alat komunikasi jarak jauh yang bertengger di telinga semua orang.
" Aku ingin anggota Wild Eagle yang berjaga di garis paling luar segera memberi kabar jika kelompok mereka muncul. Aku yakin mereka akan datang secara bertahap. Biarkanlah kelompok pertama datang jangan dihadang. Apa kalian mengerti!!"
Kali ini suara milik Silvya yang melengking. Meskipun ia seorang wanita namun sebuah ketegasan begitu terdengar di setiap kata kata yang dia ucapkan.
" Ar, apa kau mengenal si Paulo ini?"
" Ya Si, aku sangat mengenalnya. Bisa dikatakan dia adalah anjing setia Rodriguez. Ia sungguh sangat setia. Bahkan jika Si tua bangka itu meminta nyawanya dia pasti akan memberikannya."
" Terus bagaimana yang lain?"
" Entahlah, aku tidak yakin dengan itu."
Silvya mengerti. Apapun dan siapapun itu mereka harus benar benar bersiap. Silvya dan Arduino mengenakan rompi anti peluru begitu juga seluruh anggota Black Wolf dan wild Eagle.
" Hallo Q."
" Yes Drake, masuk. Ada apa?"
" Dilihat dari cctv mereka mulai bergerak Q. Jumlah yang berangkat lumayan banyak Q sekitar 150 orang lebih."
" Ok Drake. Thanks for your information."
" Your welcome Q. Be careful Q."
Arduino yang juga sudah mendengar menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka pun bersiap memegang senjatanya masing masing.
Roki dan Ian sudah siap di depan pintu Villa. Entah mengapa keduanya malah terlihat antusias.
" Ian, tampaknya kau begitu bersemangat?"
" Yoi Rok, selama ini aku sungguh sibuk di perusahaan milik Q. Sudah lama aku tidak bermain jadi sungguh ini menyenangkan. Kau sendiri."
" Tidak jauh berbeda denganmu. Sebagai asisten Arduino aku lah yang mengurus semua kepentingan perusahaan milik nya jadi sungguh ini menyenangkan."
Keduanya tertawa bersama. Tidak ada rasa ketegangan sama sekali dalam diri mereka.
__ADS_1
Di dalam Villa Arduino dan Silvya menuju kamar Rodriguez. Di sana sudah ada Jason dan dua perawat.
" Jas … kau di sinilah."
Arduino melempar sebuah pistol kepada Jason. Jason pun menangkap dengan cekatan.
" Kau masih bisa menggunakannya kan? Simpanlah untuk berjaga jaga. Tapi aku pastikan mereka tidak akan bisa menyentuh kalian."
" Hahaha jangan meledekku Ar. Aku masih cukup pandai menggunakan ini. Ya aku percaya kepada kalian berdua."
" Oh iya Jas, aku juga akan menaruh beberapa orang untuk menjaga kalian di sini. Masuklah."
Ada sekitar 6 orang dengan senjata lengkap masuk ke kamar milik Rodriguez. Jason tersenyum kepada Silvya dan mengucapkan terima kasih, " Thank You Queen." Namun tidak dengan Rodriguez, ia sungguh tampak murka.
" Dasar kalian bocah tengik … kalian pasti akan kalah. Aku jamin itu. Kalian tidak tahu bagaimana kekuatan mereka."
" Ya ya ya… terserahlah kau pak tua, Sisi ayo keluar."
Arduino dan Silvya sangat acuh dengan ucapan Rodriguez.
" Sial, persiapan mereka sungguh matang. Apa bisa Paulo dan yang lainnya menerobos ke mari." Gumam Rodriguez dalam hati.
Ternyata dari tadi Rodriguez sangat gelisah. Melihat persiapan Arduino dan Silvya membuat kepercayaan dirinya sedikit menyusut. Ia tidak yakin Paulo akan dapat menerobos masuk hingga di bagian paling depan villa.
Ceklek ceklek
Jason mencoba menarik pelatuk pistol yang diberikan Arduino kepadanya.
" Tck … tampaknya aku masih bisa menggunakan benda ini."
Jason bergumam pelan. Dokter itu melirik Rodriguez sesaat.
" Tuan Rod, entah apa yang kau lakukan kepada Ar. Tapi kau beruntung Ar masih membiarkanmu hidup."
" Apa maksudmu?"
" Mengingat bagaimana kejamnya Ar. Seharusnya pasti kau sudah dibuat sangat menderita. Tapi aku lihat dia masih memiliki rasa simpati kepadamu. Saran ku hiduplah dengan baik tuan Rod. Seharusnya kau lebih pahan dariku tuan."
Rodriguez termenung, ia setuju dengan ucapan Jason baru saja itu. Meskipun Arduino terlihat begitu santai, di aadalah seorang pemimpin Black Wolf yang kejam. Dan saat ini dia masih bisa hidup dan bernafas dengan baik setelah apa yang dilakukannya maka itu adalah sebuah hal yang luar biasa.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Di dapur Silvya masih sempat membuat sandwich. Wanita itu sungguh terlihat begitu santai. Padahal musuh sudah mulai mendekat.
" Kau buat sandwich lagi Si?"
" He em. Kau tahu Ar, dulu Zion sangat suka sandwich buatan ku."
Silvya tersenyum saat mengingat saudaranya yang telah tiada itu.
" Sisi, ceritakan lah lebih banyak tentangnya."
Silvya memandang lekat wajah Arduino. Semua yang ada di Arduino sama persis dengan Zion. Mereka benar benar seperti pinang dibelah dua. Jika Zion masih hidup pasti akan sulit untuk membedakannya.
" Apa kau tahu Ar, wajahmu sama persis dengan Zion. Mungkin kalau aku pria kita bertiga memiliki wajah yang sulit dibedakan. Melihatmu seperti melihat Zion. Dia adalah orang yang menyenangkan, meskipun sakit Zion tidak pernah mengeluh. Zion selalu ingin menjadi orang yang sehat dan melakukan banyak hal. Karena penyakitnya apa yang dilakukan sangatlah terbatas."
Arduino merasakan nyeri di hati nya saat Sylvia menceritakan mengenai saudara kembarnya. Ya, ia pernah melihat Zion sepintas saat di taman bermain. Saat itu ia sungguh terkejut melihat wajahnya yang begitu mirip.
Tetapi karena usianya masih sangat muda, Arduino mudah untuk dimanipulasi oleh Rodriguez. Secepat nya pula Rodriguez menghalangi pandangannya terhadap Zion dan mengatakan dirinya lah yang membunuh Zion.
" Apa kau tahu Si, saat Zion meninggal aku benar benar terguncang. Ada rasa sakit dan sedih di dadaku tapi waktu itu aku tidak tahu apa. Setiap malam bahkan aku merasa kesakitan. Apa mungkin ini yang dinamakan feeling orang kembar berkaitan satu sama lain."
" Benarkah Ar, soalnya aku juga merasakan itu."
Keduanya saling menatap satu sama lain. Menelusuri apa yang ada dalam mata dan hati saudara serahim yang ada di depan mereka.
" Jika Zion masih hidup mungkin akan sangat seru ya Si."
" Iya kau benar Ar. Kita akan bermain bersama. Rumah akan sangat ramai dan mommy pasti akan sangat pusing melihat kerusuhan kita."
Air mata Silvya luruh juga. Sungguh ia merindukan Zion. Arduino mendekat lalu memeluk sang kakak yang hanya lahir beberapa menit sebelum dirinya itu.
" Menangis lah Si. Aku tahu waktu itu pasti begitu menyakitkan. Namun kita telah memberi keadilan pada saudara kita. Sekarang ikhlaskan dia dan doakan lah dia. Jika kau rindu padanya kau bisa melihat wajahku sepuasnya."
Silvya mengangguk di dekapan Arduino. Ia bahkan mengeratkan pelukannya. Roki dan Ian yang hendak memberikan laporan urung melihat kakak beradik itu sedang meluapkan kesedihan.
Sampai beberapa saat akhirnya Sylvia mengendurkan pelukannya. Arduino penghapus air mata sang kakak dengan tangannya.
" Ekhem… Q, Ar… mereka mulai masuk ke lokasi."
__ADS_1
" Baiklah. Ayo kita tunggu mereka di luar."
TBC