Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 10


__ADS_3

DIM. 10


Gugusan bintang yang sangat indah tampak menghiasi langit yang terlihat berwarna sangat pekat malam itu. Sekali pun dilihat dengan mata telanjang, taburan benda bercahaya di angkasa itu sangat memukau mata. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Hijr ayat 16 yang membicarakan soal keindahan diciptakannya gugusan bintang di langit yang begitu indah. “Dan sungguh, kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi yang memandang (nya).”


Malam ini, para tamu undangan yang hadir ke acara brithday party putra pertama dari pasangan Darren Aryasatya Xander dan Evelyn Xander bisa menikmati keindahan itu secara nyata. Padahal hari belum terlalu malam, namun keindahan taburan bintang-bintang itu sudah tampak sangat indah. Acara brithday party yang mengusung tema outdoor, jadi sangat sempurna dengan kondisi cuaca yang mendukung malam ini.


Acara yang malam ini digelar juga dijadikan sebagai ajang batu loncatan untuk menjalin tali silaturahmi. Para tamu undangan yang sebagian besar adalah keluarga dekat, kerabat, sahabat, kenalan, dan rekan bisnis dijamu dengan sangat baik. Meja-meja panjang berjajar dengan rapih, di atasnya tersedia berbagai jenis jamuan, mulai dari asin hingga manis. Seorang master Chief dari restoran bintang lima juga dihadirkan untuk menjamu para tamu. Ada area bermain indoor juga yang dibuat secara khusus agar para anak tidak bosan saat para orang tua sibuk mengobrol.


“Malam ini bintangnya cantik, ya?” gadis imut yang tampak cantik menggunakan gaun berwarna baby blue seperti gaun milik princess Cinderella di film kartun besutan Disney's itu berkata seraya menengadahkan wajah ke langit. Di usianya yang masih dini, ia memang sudah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.


“Iya,” jawab anak laki-laki yang malam ini jadi bintang di acara yang didedikasikan khusus untuknya.


“Eh, ini kenapa bunganya miring?” gadis kecil itu bergumam lirih seraya menatap ke arah sekuntum bunga yang tersemat di jas anak laki-laki di sampingnya. “Kak Dan diam dulu, biar Duchess benerin.”


“Hm.”


Dengan telaten gadis kecil itu membantu membenarkan letak bunga yang tersemat di jas anak laki-laki bermarga Xander itu.


“Kakak tahu nggak nama bunga ini?”


Anak laki-laki itu menggelengkan kepala. Ia memang tidak tahu nama bunga yang memiliki kelopak berwarna putih dengan aroma harum yang cukup menyengat itu.


“Ini namanya bunga Gardenia atau kaca piring. Di samping rumah kaca punya mommy, ada labirin besar yang dibuat dari tanaman bunga ini. Kalau sedang waktunya berbunga, Duchess suka bantu mommy metik bunga ini.”


“Oh, ya? Makanya kamu juga bawa bunga ini untuk aku?”


Gadis kecil itu mengangguk, ia kemudian berkata seraya tersenyum manis. “Bunga Gardenia, kan, cantik.”


“Iya, cantik,” jawab anak laki-laki bernama Dan itu seraya mengelus pucuk kepala Duchess. Gadis kecil yang kata Perè dan Mère-nya harus Dan jaga dan sayangi sepenuh hati. Gadis kecil yang kelak akan Dan nikahi. Padahal Dan juga belum tahu apa itu menikah, yang Dan tahu, menikah itu artinya tinggal berdua untuk selamanya. Seperti orang tuanya.


“Kata mommy, bunga ini juga punya banyak arti. Mulai dari lambang kesucian, kesetiaan, cinta, dan persahabatan,” ujar gadis kecil bernama Duchess itu, cerewet.


Ia memang sangat suka belajar dengan sesuatu yang berkaitan dengan bunga. Namun, Dan tidak keberatan jika Duchess terus mengomel membicarakan soal bunga. Soalnya Dan suka. Suka saat Duchess antusias menjabarkan pengetahuannya soal bunga ia sering ia temukan di lingkungan sekitar.


“Tapi, Duchess tidak tadi apa artinya kesucian, kesetiaan, cinta. Yang Duchess tahu cuma persahabatan. Persahabatan itu kayak kak Dan sama Duchess, ‘kan?”


Dan mengangguk meng-iyakan. “Nanti kita tanya Perè atau Mère soal arti kata-kata itu.”

__ADS_1


Duchess mengangguk dengan gembira. Kedua anak manusia itu tengah menikmati keindahan bintang-bintang di dekat kolam, jauh dari keramaian. Padahal beberapa menit yang lalu mereka masih bermain dengan anak-anak sebaya yang ada di area playground. Namun, keduanya lepas pengawasan karena ingin melihat bintang.


“Hey, kamu sedang apa di sana?” tanya Duchess saat melihat gadis kecil yang sebaya dengannya tengah berjongkok sambil menangis.


Dan dan Duchess baru saja hendak kembali, karena takut orang tua mereka mencari. Sembari bergandengan, dua anak kecil itu melewati pinggiran kolam renang, tempat di mana mereka mendengar suara tangis yang cukup pelan. Suara tangis itu ternyata berasal dari seorang gadis yang tengah menangis di dekat kolam.


“Kamu kenapa?” tanya Duchess seraya mengulurkan tangan, membantu gadis kecil bergaun putih itu berdiri.


“Ibu ….hiks ….Capella kehilangan ibu.”


“Oh, kamu kehilangan ibu kamu? nama kamu Capella, ya?” Duchess dengan riang bertanya, seraya membantu menghilangkan dauh-daun kering yang menempel di gaun lawan bicaranya. Sepertinya gadis itu sempat terjatuh.


“Kamu kehilangan ibu kamu?” Dan juga ikut bertanya. “Kenapa tidak dicari? kenapa malah menangis di sini.”


“Capella ….sudah mencari ibu kemana-mana. Tadi Ibu ….pergi sebentar untuk mengambil kue, tapi tidak kembali-kembali.”


“Sudah, Capella jangan menangis. Kata mommy-nya Duchess tidak baik nangis terus. Kita, kan, sudah besar.”


Capella tersenyum seraya membantu menyeka air mata gadis kecil bernama Capella itu. “Ayo kita pergi ke mommy sama daddy-nya Duchess. Siapa tahu ada ibu Capella di sana.”


“Hm. Ayo ikut bersama kita.”


Dan kecil yang melihat itu langsung membelalakkan mata kaget.


“DUCHESS?!”


Panggil Dan lantang saat gadis kecil dengan gaun baby blue itu tenggelam ke dasar kolam dengan cepat. Menyisakan gelombang air di area bekas jatuhnya Duchess.


Melihat Duchess yang dari kecil sudah Dan jaga dengan baik jatuh begitu saja di depan matanya, benar-benar meninggalkan jejak yang sulit dilupakan, berupa ingatan buruk. Sampai Duchess dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, Dan tak mau menjauh barang sedikitpun. Namun, yang membuat Dan kecil memendam benci hingga dewasa, pada keesokan harinya gadis kecil bernama Capella yang menjadi penyebab tenggelamnya Duchess datang menjenguk dengan sikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa. Keluarga gadis kecil itu bahkan langsung pamit pulang pasca menjenguk Duchess, tanpa meninggalkan permintaan maaf sedikit pun.


Padahal ada satu nyawa yang hampir melayang karena tindakan ceroboh putri mereka.


“Semoga Perè dan Mère masih bisa mengerti, kenapa Dan enggan melihat dia,” kata Dan penuh penegasan.


Hingga bertahun-tahun berlalu sekali pun, rasa amarah yang begitu besar itu masih ada setiap kali melihat gadis bernama Capella yang selalu menampilkan raut sok polos. Dan muak. Dan benci. Dan jijik. Dan tak peduli.


Sekali pun kata orang, tidak baik terlalu membenci. Nanti jatuhnya bisa cinta setengah mati. Namun, bagi Dan itu tidak akan pernah berlaku. Baginya cuma Duchess yang mampu membuatnya jatuh cinta sampai mati. Hati Dan sudah terikat pada Duchess sejak lama. Mungkin semenjak mereka belum lahir ke dunia. Entahlah. Dan cuma punya feeling bagus soal keyakinan itu.

__ADS_1


“Ayo,” ajak Dan seraya menarik pergelangan tangan Duchess cukup erat supaya mengikuti langkahnya.


Dan membawa Duchess kembali ke kamar, lantas mengunci pintu pasca mereka sudah berada di dalam.


“Kakak kenapa sih? Kakak jadi kasar, Duchess gak suka,” keluh Duchess saat pegangan tangan Dan di pergelangannya terlepas. Meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih gadis itu.


Sadar tindakannya telah menyakiti sang pujaan hati, Dan langsung sadar dan meminta maaf dengan raut frustasi. “Maaf, Greta. I’am out of control,” katanya seraya membawa pergelangan Duchess ke atas, kemudian ia meniup pergelangan tangan itu dengan perlahan.


“Akan aku obati menggunakan salep. Tunggu sebentar.”


Duchess hanya diam saja melihat laki-laki itu kelimpungan mencari kotak kecil berisi obat-obatan. Sudah tidak marah-marah lagi rupanya, pikir Duchess.


“Kotak P3K ada di dalam laci sebelah kiri, dekat buku-buku anatomi,” kata Duchess memberitahu. Ketimbang Dan, ia yang lebih tahu soal barang-barang di kamar ini.


Jika menginap di mansion ini, Duchess tidak pernah diizinkan tidur di kamar tamu. Ia akan tidur di kamar Dan atau kamar Dyra. Nanti Dan yang akan tidur di tempat lain, saking perhatiannya laki-laki itu. maka tak heran jika Duchess sudah paham betul letak perabotan dan barang-barang di dalam kamar Dan.


“Kakak kenapa kelihatan marah sekali sama Capella?” tanya Duchess tiba-tiba.


Laki-laki yang tengah mengoleskan salep itu langsung terdiam mendengarnya.


“Apa ada sesuatu di antara kakak dan Capella yang Duchess tidak tahu?”


Dan menggeleng tanpa suara.


“Terus apa yang mendasari sikap kakak yang kasar itu? kakak nggak mungkin marah tanpa sebab, kan?”


Dan mengalah. Ia menutup tub salep, lantas menatap sang kekasih yang kerap ia panggil dengan sebutan sayang ‘Greta’. Panggilan yang memiliki arti istimewa tentunya. Panggilan Greta diambil dari nama sebuah kupu-kupu cantik. Greta Oto. Si cantik bersayap kaca. Greta oto adalah kupu-kupu berkaki empat yang merupakan anggota dari subfamili Danainae, suku Ithomiini, subsuku Godyridina. Sayapnya tembus pandang, dengan lebar antara 5,6 sampai 6,1 cm. Nama umumnya dalam bahasa Inggrisnya yaitu Glasswinged butterfly, sedangkan dalam bahasa Spanyolnya adalah Espejitos



Greta Oto, kupu-kupu yang cantik. Iya, seperti Duchess yang cantik dan memiliki sayap tak kasat mata. Gadis itu selalu bisa menjadi malaikat di mana pun ia berada. Pun dapat menjadi kupu-kupu yang cantik dan sedap di pandang, di mana pun ia hinggap.


“Satu yang perlu kamu tahu, Greta. Jauhi dia, karena dia bukan seperti yang kamu bayangkan. Kamu terlalu baik untuk dekat dengan mahluk berbahaya seperti dia.”


💐💐


TBC

__ADS_1


DON'T FORGET TO LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 08-07-22


__ADS_2