
DIM. 42
Angin sore yang bersahabat ditemani sinar jingga sang surya, menjadi pemandangan bagi seorang gadis yang tengah duduk di sebuah saung bambu. Di hadapannya hamparan bunga matahari yang berdiri tegak begitu tinggi tampak cantik saat bergerak kesana-kemari. Sepanjang mata memandang, hamparan bunga dengan kelopak besar berwarna cerah itu menghiasi pandangan.
Bunga matahari memang menjadi salah satu komoditi desa ini. Bunga dengan biji yang bisa dimakan itu sangat banyak dikembangkan biakkan. Desa tempatnya tinggal memang subur dan mahsyur.
Ia memang sengaja menepi ke sini, supaya tidak mudah dicari. Apalagi saat ini ia tengah sibuk menerima telepon dari seseorang di seberang. Butuh tempat persembunyian yang sepi dan sunyi.
“Memang bisa? Capella ‘kan di sini sekolah, kak. Capella juga nggak bisa pergi gitu aja.”
“Memangnya lo nggak bisa ngeles atau gimana, gitu?”
Suara milik anak laki-laki di seberang terdengar cukup jelas, walaupun dilatar belakangi suara kendaraan yang tengah berlalu lalang.
“Ini kakak lagi di mana sih? Kok berisik. Jangan bilang kakak lagi di jalan?”
“Lah, memang gue lagi di jalan. Kenapa memangnya? Masalah buat lo?”
Si gadis memutar bola mata gemas. “Ih, bukan gitu. Masa berkendara di jalan sambil teleponan? Itu tindakan yang bahaya, kak.”
“Kata siapa sih gue lagi berkendara? Orang gue lagi jalan sore kok. Sambil beli-beli jajanan gitu. Lo jangan seduzon, cantik.”
Gadis dengan terusan berwarna plum itu menerbitkan senyum kecil. Tidak ada bosan-bosannya ia bicara dengan laki-laki di seberang, sekalipun ia harus mengeluarkan modal cukup mahal untuk membeli pulsa. Mengingat nomer mereka berbeda provider, ditambah lagi terkadang jaringan yang kerap bermasalah saat mereka tengah berkomunikasi.
Pembawaan laki-laki di seberang yang easy to talk membuat Capella mudah berkomunikasi dengannya. Ditambah lagi laki-laki itu juga selau punya topik obrolan yang menarik untuk dibahas. Plus suka memuji dirinya cantik. Siapa sih yang tidak suka dipuji di dunia ini?
“Gue lagi jajan kerak telor nih. Lo mau nggak?” tanya seseorang di seberang.
“Kerak telor??”
“Jangan bilang lo nggak tahu kerak telor?” suara Elang di seberang tampak horor. Tidak percaya lebih tepatnya.
“Capella memang nggak tahu apa itu kerak telor, kak.” Si pemilik nama kemudian menjawab dengan suara kecil. Ia memang kurang up to date soal makanan. Apalagi makanan yang tidak ada di sekitar tempat tinggalnya.
“Wah, payah lo. Nggak kayak Duchess. Dia mah jagonya kalau soal makanan. Apalagi jajanan street food alias kaki lima.”
“M-emang Duchess suka jajan begituan, kak?” capella tampak mengigit bibir dalamnya dengan gelisah.
“Suka dong. Dia mah no jam-jaim club kalau mau jajan. Kalau suka, terus mau, ya dibeli sama Duchess. Nanti yang kena getahnya buat habisin belanjaan Duchess, pasti gue atau Daru."
“Begitu, ya?”
“Hmm. Duchess bahkan punya keinginan buat buka akun yout*be untuk mengunggah konten seputar acara makan, seperti mukbang, blusukan untuk mencari makanan legendaris, dan sebagainya. Tapi belum kesampaian juga sampai saat ini, soalnya dia sibuk.”
__ADS_1
Duchess tampak mednghela napas gusar saat mendengar nama Duchess kembali jadi topik pembicaraan. Rasa benci di hati sudah mengakar begitu kuat, sampai-sampai Capella sebenci itu pada Duches. Padahal jika ditelisik lebih dalam, apa sih kesalahan yang pernah diperbuat Duchess kepada Capella? Apa sampai bersifat merugikan? Tidak ada. Jawabannya tentu saja tidak ada, karena Duchess tidak pernah berbuat salah.
“Kalau aja lo bisa dateng ke sini, gue bakal bawa lo main ke basecamp. Tempat nongkrong gue, Dan, Dian, Daru, sama anak-anak yang lain.”
Capella tampak tertarik medengar penawaran tersebut.
“Kak Dan beneran ada?”
“Ada dong! Kenapa memang? Mau minta foto sama Dan? Atau mau pendekatan sama Dan?”
“Mau ngobrol aja,” dalih Capella. “Itu pun kalau kak Dan nya mau.”
“Agak susah sih kayaknya. Soalnya Dan udah ada pawing. Kalau ada Duchess, nempel teros kayak lem dan perangko.”
Suara Elang tampak mengecil untuk beberapa waktu. Ia sepertinya sedang berkomunikasi dengan si penjual kerak telor.
"Kerak telor udah di kantong. Sekarang, tinggal berburu apa lagi. Eh, ada asinan betawi legend. Kayaknya menarik buat diicip-icip.”
Capella yang mendengarkan ikut dibuat tergelitik. Sepertinya Elang seru sekali berburu kulineran. Jika mereka memiliki kesempatan untuk jalan berdua, sepertinya juga akan seru.
“Kak.”
“Eh, iya. Kirain udah mati teleponnya, soalnya lo nggak bersuara.”
“Kota tua? Lah, itu mah landmark yang gampang dikunjungi. Makanya sini, main sama gue.”
“Hmm, nanti kalau Capella ke Jakarta lagi, kakak mau nggak jalan sama Capella ke kota tua?”
“Bahasa lo ambigu banget, njir. Kayak lagi ngajak cowok kencan secara soft.”
“Kaka Elang, serius ih,” rengek Capella sebal.
Terdengar tawa renyah pecah di seberang. “Iya, iya. Maaf, barusan terbawa suasana. Lo barusan bilang apa, ya?”
“Aku mau ke kota tua ditemenin kakak,” ungkap Capella.
“Ok. Nanti sekalian gue ajak lo ke museum Fatahillah.”
“Museum? Buat apa?”
“MERDEKA!”
Capella menjauhkan teleponnya dari telinga, karena tiba-tiba suara Elang terdengar sangat kencang.
__ADS_1
“Maaf, maaf. Refleks. Ingat museum Fatahillah jadi ingat kata merdeka.”
“Hmm. Dimaafin.”
“Ok. Jadi gimana? Lo jadi ngajak gue kencan ….maksudnya ditemenin ke kota tua kalau ada di Jakarta.”
“Iya.”
“Ok. Kalau gitu lo harus cepat ke Jakarta lagi. Gue nggak sabar pergi nemenin lo.”
Capella langsung menjauhkan teleponnya lagi. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang hanya karena ungakan Elang yang picisan.
“Apaan, sih,” gumamnya seraya menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas.
💐💐
“Njirrrrr. Anak perawan orang pasti baper brutal di belahan bumi sana.”
Laki-laki dengan hoodie putih itu tertawa ngakak saat panggilan telepon berakhir. Ia kemudian segera membuka bingkisan berisi kerak telor yang tadi dibeli, sambil duduk di samping partner jalan-jalan sorenya.
“Nggak mau kerak telor?”
“Hm.”
“Hm apaan njirr? Nggak ngerti gue. Masih loading, nih. Habis digodain anak perawan desa,” canda Elang.
“Makan aja. Udah kenyang,” sahut sang partner, membebarkan kalimatnya.
Elang manggut-manggut, kemudian menggigit satu bagian kerak telor yang tadi ia beli dengan uang cash terakhirnya. Mungkin nanti ia harus segera Tarik uang tunai di bank terdekat.
“Lo denger sendiri ‘kan gimana munafiknya cewek itu? gaya bicaranya yang manja aja udah bikin gue mual.”
Sang lawan bicara tampak tidak merespon banyak, namun tetap mendengarkan. Sepasang bola mata gelap miliknya masih sibuk menatap keramaian.
“Gue pasti bisa taklukin dia. Lo santai aja.”
Laki-laki di samping Elang beranjak, lalu menoleh sebelum benar-benar pergi dan tak akan kembali lagi.
“Hm. Asalkan lo jangan ikut jatuh hati. Ini cuma permainan. Remember it well.”
💐💐
Sukabumi 17-08-23
__ADS_1