Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 50


__ADS_3

DIM. 50


Laki-laki yang menggunakan oversized hoodie dengan baseball cap dan bawahan celana jeans itu tampak happy saat memasuki kawasan Mall Taman Anggrek. Ia sudah janji akan bertemu dengan seseorang di gedung ini. Maka tanpa acara tengok kanan dan kiri seperti kebiasa ketika main ke Mall, kali ini ia langsung tancap gas ke lantai atas. Tempat di mana seseorang itu menunggu.


Padahal janji mereka untuk bertemu adalah besok—akhir pekan lebih tepatnya. Namun, tiba-tiba ia dihubungi untuk datang ke sini. Menemani menonton, karena seseorang itu menonton sendiri. Awalnya hendak menonton bersama teman-teman, namun satu per satu temannya harus kembali dikarenakan ada urusan mendadak.


Tiba di lantai yang dituju, ia langsung mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Ketika tengah sibuk mencari, tiba-tiba instrumen familiar terdengar. Disambung suara merdu milik member Stray Kids yang membawakan lagu berjudul SLUMP versi Japanese.


“Hallo, Darl. Kamu di mana?” tanyanya to the point. Masih dengan langkah mencari sang kekasih.


“Di bioskop,” jawab suara familiar di seberang.


“Okay, aku on the way ke sana,” katanya kemudian, sembari berjalan lurus. “Jangan dimatikan dulu teleponnya.”


“Iya, iya. Bawel.” Terdengar suara protes dari seberang sana. “Buruan ke sini. Film nya udah mau dimulai.”


“Iya, Darl. Ini sudah kelihatan bioskop nya.”


“Kamu pakai baju apa memang?”


“Tadi aku udah pap kamu, Darl. Masa masih nanya?”


“Please deh, Lang. Tinggal jawab aja susah.”


Pemilik nama lengkap Elang Gaharu itu memutar bola mata. “Oversized hoodie yang kita beli coupel-an, baseball cap putih, sama bawahan celana jeans dongker.”


“Ok. Aku berdiri di dekap pintu. Pakai Oversized hoodie yang kita beli coupel-an, sama bawahan denim hot pants.”


“WHAT?!” protes Elang saat mendengar penuturan sang kekasih. “Kenapa nggak pakai long jeans? Kenapa harus denim hot pants? Kamu mau pamer aset aku??”


Terdengar suara decakan dari seberang. “Aku nggak sempat ganti. So please, jangan lebay. Aku tunggu kamu di sini.”


“Iya, tapi ‘kan kamu—“


TUT TUT TUT


“Asfghjdhklnm?!”


Hampir saja Elang mengumpat. Sadar tengah berada di tengah keramaian, mengumpat begitu saja akan merusak image serta citra baiknya yang tidak seberapa. Jadi, ia lebih memilih komat-kamit tidak jelas saat sambungan telepon dimatikan begitu saja. Salah satu kebiasaan sang kekasih, jika menelpon suka ditutup tanpa permisi. Heran, kenapa bisa Elang jatuh cinta setengah mati pada gadis yang lebih tua darinya itu?


Tiba di bioskop, Elang langsung bisa menemukan sang kekasih yang di matanya tampak sebagai perempuan paling cantik se-dunia. Ralat, urutan kedua tercantik se-dunia, setelah posisi pertama diisi oleh sang mamih. Bagaimana dengan Duchess? Ia memiliki tempat tersendiri bagi Elang, namun bukan berarti Elang akan selalu mengutamakan Duchess ketimbang kekasih sendiri.


“Aku udah beli caramel pop corn sama minuman. Ayo masuk, sebentar lagi film-nya dimulai,” ajak Elina seraya menggandeng lengan Elang.

__ADS_1


Elang mengangguk setelah mengambil alih cup berisi caramel pop corn dan minuman. Ia datang ke sini memang menemani sang kekasih nonton disela-sela jam kosongnya—sebelum jadwal koas Elina. Tadinya Elina sempat pergi ke kampus, lalu hangout sebentar dengan teman-temannya. Karena satu per satu teman Elina izin pulang karena urusan mendesak, jadi Elina memanggil Elang untuk menemani nonton film dokumenter yang ia tunggu-tunggu.


Di sinilah mereka sekarang. Menonton film dokumenter berdua, walaupun tidak direncanakan sama sekali. Elang tetap merasa senang, karena setidaknya ia punya waktu bersama sang kekasih. Plus tidak ada yang akan mengenali mereka di sini. Bay the way, di sini Elang sedang mode menyamar. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama setelah suara familiar milik Princess Duchess terdengar menyapa indra telinga.


“Perasaan ada yang manggil-manggil kamu deh?” ujar Elina seraya menoleh ke kanan dan kiri. Telinganya sempat menangkap suara seseorang memanggil nama Elang.


“Kamu salah dengar.”


Elang berkata seraya memeluk bahu sang kekasih. Film yang mereka tonton baru saja selesai. Saat ini mereka tengah berjalan ke luar dari bioskop, saat mendengar suara familiar memanggil nama Elang.


“Aku nggak tuli. Tadi ada yang manggil nama kamu kok.”


“Salah dengar, Darl,” ujar Elang meyakinkan sang kekasih. Padahal ia sendiri yakin jika itu suara milik siapa.


Elang hanya belum siap bertemu dengan si pemilik suara. Elang juga sangat yakin, jika itu benar memang benar suara Princess Duchess, ia pasti tidak datang seorang diri. Pasti ada antek-antek 4 HANDS, terutama Palacidio Daniel Adhitama Xander. Tidak mungkin seorang Duchess Aretha Darchell berkeliaran seorang diri di Mall Taman Anggrek


“Kamu nengok dulu deh. Kali aja ada seseorang yang kamu kenal.”


“Nggak ada, Yang.”


“Atau jangan-jangan itu salah satu mantan pacar kamu. Kamu ‘kan playboy. Mantan pacarnya segudang,” sindir Elina seraya melipat kedua tangan di dada.


“Apaan dih. Ngawur kamu mah.”


Elang terus berdalih seraya memboyong sang kekasih ke luar bioskop. Namun, sayang seribu sayang karena pada akhirnya Elang harus tetap berpapasan dengan mereka.


“Benarkan kata Duchess. Ini kak Elang.” Katanya lagi seraya menoleh pada sang kekasih.


Sedangkan Elang tampak sudah mengeras jadi batu di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka jika benar, hari ini ada dua orang yang akan memergoki dirinya tengah dating bersama sang kekasih.


“Masih tidak mau bicara?”


Kali ini Dan yang angkat suara. Tatapan onyx hitam miliknya tertuju lurus ke arah Elang.


“Kalau kamu memang tidak mau menjawab pertanyaan Duchess, jangan pernah bicara lagi dengannya,” kata Dan seraya memeluk bahu sang kekasih posesif. Ia paling tidak suka jika Duchess merasa tidak nyaman.


“Sorry.” Elang akkhirnya berkata. Ia tidak pernah berpikiran untuk pura-pura tidak mengenal Duchess yang sejak kecil dekat dengannya. “Kita ngobrol di caffe ice cream langganan Duchess gimana?”


Elina tampak menatap Elang dalam diam. Sedangkan Dan menatap Duchess. Mencaritahu apa jawaban yang akan diberikan oleh sang kekasih.


“Duchess juga mau ice cream coklat mint. Jadi, ayo pergi ke sana.”


💐💐

__ADS_1


Warna kulit putih bersih, shining dan pembawaan aegyo alias menggemaskan, membuat Duchess selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Termasuk di kedai ice cream tempat biasa Duchess membeli ice cream coklat mint—kesukaannya.


“Jadi kak Elang masih tidak mau kenalin pacar barunya?” sindir Duchess dengan etika dan gaya.


Elang yang mendapatkan sindiran itu meringis kecil. Ia kemudian menoleh pada sang kekasih yang tampak biasa saja, plus tengah asik menikmati nut ice cream. Tidak ada niatan bantu menjawab sama sekali.


“Nggak usah basa-basi lagi deh. Gue yakin lo berdua udah paham sam hubungan kita.”


Elang akhirnya buka suara.


“Ini Elina. Alumni SMA Wijaya. Angkatan beberapa tahun sebelum kita. Dia ini ….pacar gue.”


“Pacar baru?” tanya Duchess tanpa dosa.


Elina sampai-sampai tersedak ice cream nut miliknya. Pacar baru? pacar lama sih iya.


“Bukan,” bantah Elang cepat. “Kita udah pacaran dari tahun kemarin. Tapi, memang sengaja backstreet.”


“Backstreet? Tapi kenapa?” Duchess menatap Elang dan Elina bergantian. “Kalau boleh tahu, sekarang kak Elina kuliah atau gimana?”


“Iya. Aku kuliah di universitas dengan almamater kuning. You know-lah,” sahut Elina. “Aku ambil jurusan kedokteran, lebih tepatnya dokter forensik. Sekarang sedang menjalani koas.”


Duchess tampak terkesima mendengarnya. “Wah, calon dokter!”


Elang tampak was-was melihat keantusiasan Duchess. Sedangkan Dan hanya menyunggingkan senyum setipis kertas. Biar saja Duchess mengintrogasi Elang dan kekasihnya. Toh, memang Duchess yang penasaran akan keduanya.


“Duchess boleh bertanya lagi?”


Elina mengangguk tanpa keraguan. Siapa sih yang tidak mau lama-lama bicara dengan mahluk berparas cantik jelita seperti Duchess?


Sedangkan Elang sendiri tampak menahan diri dari tindakan gila, yaitu kabur dari interogasi Duchess sekarang juga. Feeling-nya tidak enak, bro.


“Kalau kak Elina sedang koas, apalagi kalau koas di rumah sakit mitra Family Wijaya dan Xander, pasti tahu dokter Daelyn—Mamih kak Elang.”


“Iya, kenapa?”


“Onty Daelyn itu paling nggak suka dibohongi sama orang-orang terdekatnya. Jadi, saran dari Duchess, kalau Kak Elina sama Kak Elang masih sembunyi-sembunyi, mendingan segera jujur.”


“Maksud kamu?” bingung Elina. Ia memang kenal dokter Daelyn. Bahkan orang tuanya dengan orang tua Elang berteman dekat.


“Soalnya bakal susah kalau hubungan kalian ketahuan belakangan.”


💐💐

__ADS_1


TBC


Tanggerang 01-09-22


__ADS_2