Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 36


__ADS_3

DIM. 36



“Ini Dian waktu kecil?”


Perempuan paruh baya yang baru saja menghidangkan beberapa buah muffin coklat dan keju di atas meja itu mengangguk. Ia kemudian ikut duduk dan melihat foto-foto yang tersimpan di sebuah album foto yang diberi tajuk ‘Wijaya Prince’ di sampul depan.


“Iya.”


“Dari dulu Dian pandai bermain ski dan berenang?”


Lagi, perempuan paruh baya itu mengangguk sebagai jawaban. “Dian bahkan pernah memenangkan lomba renang tingkat nasional pada saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.”


“Pantas sekali Dian memiliki tinggi badan yang ideal. Dian pandai berenang.”


Dayu—ibu dari Rahardian Adiwangsa Wijaya—tersenyum tipis menanggapi ucapan gadis cantik di sampingnya. “Begitulah. Dian pandai bermain ski dan berenang. Dia juga pandai bermain video game, tetapi tidak suka jika diganggu saat makan. Dian lebih suka makan sendirian karena tidak mau diganggu orang lain.”


“Begitu, ya? Terus bagaimana jika Dian di sekolah?”


“Dian di sekolah….” Dayu tampak berpikir untuk sejenak. “Dian rajin, suka berorganisasi, tegas seperti papanya, dan memiliki solidaritas yang tinggi. Dian punya tiga orang teman yang paling dekat dengannya.”


“Dian punya teman dekat? Aku pikir ….Dian tidak punya teman karena pendiam,” ujar gadis cantik yang duduk di samping Dayu dengan suara lebih kecil dari tadi.


Dayu tersenyum mendengarnya. “Tidak juga. Dian cukup popular walaupun terkenal pendiam. Dian juga suka makan muffin keju dan coklat seperti ini,” ujar Dayu seraya mengambil satu buah muffin untuk disodorkan ke arah lawan bicaranya.


“Coba tuan putri coba muffin keju dan coklat kesukaan Dian ini.”


“Baik,” sahut si ‘tuan putri’ yang duduk di samping Dayu. Dengan senang hati menerima muffin pemberian Dayu. “Tetapi aku penasaran akan satu hal. Boleh aku mengetahui jawabannya.”


“Tentu saja, tuan putri. Tanyakan apa yang ingin tuan putri ditanyakan.”


“Kenapa selalu ada anak perempuan ini di setiap foto Dian?” telunjuk lentik milik si ‘tuan putri’ menunjuk potret seorang gadis kecil yang selalu muncul di samping potret Dian. Gadis kecil itu tentu saja Duchess Aretha Darchelle.


“Ah, itu yang namanya Duchess. Salah satu teman dekat Dian.”


“Duchess? Namanya kenapa mirip sekali dengan gelar istri Duke pada cerita-cerita historical Britania Raya? Orang tuanya pasti pecinta historical romance?”

__ADS_1


“Tidak juga,” jawab Dayu. “Setahu saya nama itu digunakan karena memiliki arti yang bagus. Ketika dirangkai menjadi nama Duchess Aretha Darchelle, memiliki arti wanita bangsawan yang shaleh, berbudi tinggi dan bersifat tenang. Sesuai dengan pembawaan Duchess yang anggun, berbudi pekerti luhur, dan anggun.”


“Jadi Dian dan Duchess dekat?” tuan putri bertanya seraya menatap muffin pemberian Dayu. “Seberapa dekat sampai-sampai Dian selalu mengutamakan dia ketimbang aku?”


💐💐


“Ini gue beliin plester demam instan sesuai pesanan lo.”


Elang menyodorkan barang belanjaannya pada Dan. Laki-laki rupawan itu masih sibuk menatap gadis cantik yang berbaring nyenyak di singel bed miliknya saat Elang berkata demikian. Beberapa menit yang lalu putri pemilik toko kelontong depan sudah membantu menggantikan pakaian Duchess yang lembab. Jadi sekarang Duchess bisa berbaring dengan lebih nyaman, karena sudah menggunakan pakaian Dan yang tentu saja kering dan bersih. Walaupun hanya kaos polos berukuran oversize dengan celana pendek, tetapi itu lebih baik ketimbang seragam yang lembab.


“Demamnya masih belum turun, Dan?”


Dan menggeleng sebagai jawaban. Saking panasnya suhu tubuh Duchess, plester demam instan yang digunakan jadi mudah tergulung karena gel-nya sudah kering.


“Kita panggil dokter saja, Dan?” bujuk Elang. Ia juga tidak tahan melihat Duchess terbaring tidak berdaya.


“Dian masih di bawah?”


Elang kontan menggelengkan kepala. “Dian udah cabut. Tadi bokap nya ngirim dua bodyguard buat ngawal dia balik.”


“Bodyguard?”


Dan menanggapi informasi tersebut tanpa suara. Sekarang yang lebih penting adalah kondisi Duchess yang belum juga membaik. Kemungkinan besar ini adalah salah satu efek yang timbul dari ‘permen cinta’ yang tadi Duchess makan. Duchess juga kemungkinan besar sempat mengalami hipotermia saat di kamar mandi, sehingga jatuh pingsan. Jika terus dibiarkan seperti ini, Dan takut kondisi Duchess akan semakin parah.


“Siapkan mobil,” titah Dan kemudian. “Kita bawa Duchess ke rumah sakit.”


Elang mengangguk sebagai jawaban. Ia kemudian meletakkan barang bawaannya ke atas nakas, kemudian berbalik badan. Hendak meninggalkan ruangan, namun Daru sudah terlebih dahulu muncul di ambang pintu kamar milik Dan.


“Mobil sudah siap,” ujar Daru, seolah-olah tahu perintah Dan barusan.


“Hm.”


Dan dengan segera bergerak meraih tubuh mungil Duchess ke dalam gendongan ala bridal style. Ditemani oleh Daru dan Elang, pada akhirnya Dan membawa Duchess ke rumah sakit. Urusan para orang tua, nanti biar Dan yang mengurus. Sekarang yang paling utama adalah kondisi kesehatan Duchess. Setidaknya ada dua puluh anak dengan menggunakan sepuluh motor gede yang ikut mengawal mobil yang membawa Dan, Duchess, Daru serta Elang di dalamnya.


Tiba di rumah sakit terdekat, Duchess langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Dan selalu setia menemani Duchess kemana pun Duchess dibawa. Sedangkan Daru bertugas untuk mengurus administrasi, dan Elang bertugas untuk memberitahu para orang tua mengenai kondisi kesehatan Duchess.


“Dian gue kasih tahu nggak, ya?” monolog Elang kala usai menghubungi orang tua Duchess dan orang tua Dan.

__ADS_1


Ia tahu betul seberapa penting Duchess bagi Dian. Namun, saat ini kondisi Dian juga sepertinya sedang tidak dapat diganggu. Namun, jika tidak diberitahu kasihan Dian, jadi orang terakhir yang tahu soal kondisi Duchess. Padahal ia selalu jadi yang pertama atau kedua pasang badan untuk Duchess di setiap kesempatan. Pada akhirnya, Elang memilih memberitahukan informasi ini kepada Dian lewat pesan singkat.


“Kenapa Duchess bisa sampai sakit begini? Kalian beri makan apa putri Perè saat main ke basecamp gembel kalian itu?”


Dua puluh anggota geng bentukan Dan dan kawan-kawan menjadi saksi introgasi dadakan yang dilakukan oleh Darren Aryasatya Xander. Sebagian dari mereka sudah tahu kalau Duchess adalah milik Dan seorang. Namun, mereka juga dituntun untuk menjaga rahasia tersebut, sampai Dan sendiri yang memberitahu dunia. Sekarang mereka tahu betul seberapa penting Duchess bagi keluarga Dan.


“Elang izin menjawab, om.” Elang beringsek maju. “Basecamp kami nggak gembel-gembel amat kok, om. Sampai-sampai buat Duchess sakit seketika itu juga. Kondisinya terawat, fasilitas juga memadai, persediaan makanan juga mencukupi. Lantas dari mana om mengatakan basecamp kami yang nyaman sebagai basecamp gembel?”


“Om pernah berkunjung ke basecamp gembel yang kamu bilang kondisinya terawat, fasilitas juga memadai, persediaan makanan juga mencukupi itu ya, Lang. waktu om datang, kondisi basecamp berantakan, sampah bekas makanan cepat saji dimana-mana, di tambah ada hewan pengerat yang berkeliaran di bawah sofa.”


Elang hampir menjatuhkan rahang mendengar pengakuan Perè Dan. “Om, waktu itu basecamp memang belum ditata setelah direnovasi. Sekarang mah, sudah kayak hotel bintang empat atuh.”


“Masa?”


“Iya, om. Dilengkapi air conditioner juga di setiap ruangan.”


“Awas ya kalau kamu bohong, Lang. Nanti om cek basecamp kalian itu. Kalau ketahuan bohong, om suruh papi kamu iyu menyumbangkan ½ dari harta kekayaannya.”


“Eh, kok jadi bawa-bawa papi, om?” bingung Elang.


“Biar papi kamu mendonasikan sebagian hartanya,” tambah Darren seraya bersikap dada. “Back to topic, ini Duchess kenapa bisa sakit?”


Orang tua mana yang tidak terkejut saat mendengar kabar buah hatinya tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit. Begitu pula yang terjadi pada pasangan Damian dan Dewita. Mereka tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa Duchess dilarikan ke rumah sakit, padahal pagi tadi putri mereka baik-baik saja. Darren juga Ev tak kalah terkejut serta risau kalau mendapat telepon dari Elang mengenai kodisi Duchess. Jadi mereka langsung tancap gas datang ke alamat rumah sakit yang Elang kirimkan. Tiba di lokasi, Duchess baru saja mendapatkan perawatan dan akan segera dipindahkan. Orang pertama yang diintrogasi tentu sama Dan selaku tunangan Duchess.


“Hei, my son. Mana jawaban kamu? Perè menunggu?” tanya Darren Aryasatya Xander pada sang putra yang sejak tadi tampak bungkam dengan pandangan kosong. “Perè tahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.”


Dan mengangguk lemas sebagai jawaban. Ia kemudian menyuruh anak-anak yang lain kembali ke basecamp, serta menyuruh Daru dan Elang pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


“Jadi kenapa Duchess bisa tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit?”


Dan mendongkrak, menatap sang Perè lekat. Sepersekian detik berikutnya, ia menjawab dengan suara tenang. “Duchess tidak sengaja memakan permen cinta.”


“Permen cinta?”


“Permen yang mengandung senyawa Senyawa afrodisiak yang dapat meningkatkan gairah s*ksual.”


💐💐

__ADS_1


Sukabumi 10-08-23


__ADS_2