
DIM. 47
“Good morning, mom, dad.”
Sapaan hangat diberikan oleh putri Widyatama yang pagi ini sudah kembali ceria seperti sedia kala. Setelah cuti sakit dua hari, kini Duchess sudah bisa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Ia juga sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan teman-temannya.
“Cuma mommy sama daddy doang yang disapa? Tunangan Duchess nggak disapa?”
Duchess kontan menoleh ke arah sang mommy yang sedang menyajikan breakfast untuk sang suami. Sang mommy tersenyum kecil melihat keterkejutan sang putri. Ia kemudian meilirik ke arah samping Duchess, di mana seorang laki-laki tampan dengan seragam SMA Wajaya tengah berdiri. Dengan gerakan perlahan, Duchess kemudian menolehkan kepala ke arah samping.
Ternyata benar kata sang mommy, ada sang tunangan yang tengah berdiri entah sejak kapan di sana. Menatapnya dengan tatapan lembut.
“Kakak sedang apa sepagi ini di sini?”
Alih-alih menyapa, Duchess yang masih shock malah melontarkan pertanyaan yang sebenarnya terdengar mudah untuk dijawab.
“Mommy bilang ada yang ingin sarapan dengan creamy corn soup buatan Mère Evelyn Xander.”
“Apa?” lirih Duchess seraya menggelengkan kepala cepat-cepat. “Duchess cuma bercanda saat bicara seperti itu.”
Pewaris kerajaan bisnis Xander Group tampak tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang tunangan. Terlihat dari raut wajahnya.
“Duchess gelindur. Ya, ngelindur mau creamy corn soup. Seharusnya Kak Dan tidak perlu repot-repot datang ke sini.”
Si pemilik nama tampak tersenyum kecil sebelum menjawab. “Kenapa harus merasa repot? Aku datang ke sini karena kemauan ku sendiri. Lagipula aku datang ke sini bukan hanya mengantarkan creamy corn soup saja, tapi untuk menjemput kamu.”
“Duchess mau berangkat sama daddy,” tolak Duchess cepat.
Dan tentu terkejut karena tiba-tiba Duchess menolak ajakannya. Begitu pula dengan Dewita dan Damian yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya.
“Duchess hari ini pergi sama Dan aja. Kasihan Dan sudah pagi-pagi datang ke sini untuk menjemput Duchess.” Dewita yang gemas sendiri, langsung buka suara.
Melihat sang putri yang hendak buka suara lagi—sepertinya menolak usulan tersebut, Dewita langsung kembali bersuara. “Daddy harus pergi ke Semanggi dulu. Baru pergi ke kantor. Jadi tidak bisa mengantarkan Duchess ke sekolah, karena rute yang dilewati Daddy berlawanan arah.”
Duchess menatap sang mommy untuk beberapa saat, lalu beralih menatap sang daddy. “Apa benar begitu, dad?”
Damian yang tadinya sedang menikmati breakfast dengan tenang langsung mengangguk, walaupun ia tahu jika sang istri mengada-ngada soal rute yang berlawanan arah. Sepertinya sang istri ingin membuat sang putri pergi bersama Dan, mengingat baru pertama kali ini Duchess menolak ajakan Dan.
“Kalau begitu Duchess berangkat sekolah sama kak Dan,” ujar Duchess pada akhirnya. Membuat sang mommy tersenyum, sedangkan sang daddy mengangguk singkat. Lain dengan Dan yang tampak datar-datar saja, namun hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya, Dan memiliki kesempatan untuk mengantarkan Duchess berangkat sekolah setelah Duchess masuk SMA.
Dan juga jadi punya waktu untuk bicara dengan Duchess, karena semenjak kemarin Duchess cenderung mengabaikan pesan-pesan yang Dan kirim.
“Ada apa? kamu tampak tidak seperti biasa?”
Dan memulai pembicaraan saat Duchess sudah masuk ke dalam mobil. Pagi ini Dan sendiri yang akan mengantarkan Duchess ke sekolah menggunakan mobil.
“Kita harus berangkat ke sekolah, kak. Nanti telat.”
Dan mendengus tidak suka saat Duchess menghindari kontak mata dengannya.
“Hm.”
Dan kemudian merespon kecil sembari menghidupkan mesin mobil. “Jangan lupa pakai seatbelt.”
__ADS_1
Duchess mengangguk tanpa kata. Ia sudah menggunakan safety belt dengan benar. Dan yang melihat respon Duchess dari ekor mata hanya bisa menghela napas. Entah apa yang mendasari sikap Duchess yang tampak membatasi diri. Hasilnya, di sepanjang jalan menuju SMA Wijaya, keheningan menyelimuti atmosfir di antara mereka.
“Kak Dan lupa membuka lock door?” tanya Duchess saat mereka sudah tiba di parkiran SMA Wijaya. Namun, Dan tak kunjung membuka lock door mobil. Padahal Duchess akan segera mengambil langkah seribu untuk meninggalkan Dan.
“Duchess Aretha Darchell, we need to talk.”
“Bicara apa kak? Tidak bisa nanti saja? Duchess harus segera pergi ke kelas.”
Dan membuka safety belt miliknya, lantas membalik badan agar dapat menghadap Duchess sepenuhnya.
“Kamu kenapa menghindari aku?”
“Duchess tidak menghindari kakak.”
“Bohong,” balas Dan cepat. “Kamu tidak pernah mengabaikan pesan-pesan yang aku kirim. Tapi, semalam kamu melakukannya.”
Duchess tampak terdiam di tempatnya duduk.
“Ada apa, Greta? Coba bicara jujur kepadaku.”
Duchess menggigit bibir bagian dalamnya seraya meremas ujung rok yang ia gunakan. Ia bukannya ingin menghindari Dan, tetapi malu. Ya, Duchess malu, karena sering teringat insiden tidak menyenangkan saat di basecamp 4 HANDS. Setiap kali kilasan memori itu hinggap di kepala, wajah cantik Duchess langsung terasa panas. Ia ingat betul bagaimana Dan memeluknya di bawah shower yang menghujani mereka dengan air hangat.
Selama Duchess hidup di dunia yang fana ini, ia baru pertama kali merasakan perasaan aneh seperti hari itu. Perasaan menggebu untuk disentuh oleh laki-laki yang tampak berkali-kali lipat lebih menggoda di matanya. Siapa lagi jika bukan Dan yang setia menemani saat Duchess berada di ambang batas kesadaran. Oleh karena itu, Duchess malu.
Malu karena dirinya sendiri.
“Greta,” panggil Dan lagi, karena tak kunjung mendapatkan jawaban. “Ada apa?”
“Duches ….malu.”
“Malu?” bingung Dan saat Duchess pada akhirnya mau buka suara. “Malu karena apa hm?”
“Waktu di basecamp, Duchess sama kak Dan…”
Sekalipun Duchess menggantungkan kalimatnya, Dan tahu ke arah mana topik pembicaraan ini berlangsung. Kemungkinan besar Duchess malu karena insiden itu.
“Kenapa harus malu hm?” Dan membawa punggung tangan Duchess ke udara untuk ia kecup. Semerbak aroma harum khas bunga mawar langsung tercium. “Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu, karena aku tidak mau merusak kamu lebih jauh. Kamu sangat berharga untuk dirusak begitu saja.”
“….”
“Seharusnya aku yang minta maaf, karena sudah menyentuh kamu sembarangan. Padahal aku belum menjadi mahram kamu.”
Duchess menggelengkan kepala. “Kak Dan menolong Duchess. Seharusnya Duchess yang harus meminta maaf, karena sudah merepotkan Kak Dan, Kak Elang sama Kak Daru.”
Dan tersenyum tipis seraya mengelus punggung tangan Duchess. “Aku tidak pernah merasa direpotkan jika menyangkut kamu, Greta. Begitu pula dengan Elang atau Daru. Kamu berharga bagi aku. Begitu pula bagi mereka.”
“Tapi, Duchess tetap merasa tidak enak, kak. Duchess selama ini selalu merepotkan Kak Dan, Kak Dian, Kak Elang, sama Kak Daru. Duchess juga selalu membuat masalah.”
“Tidak ada yang merasa direpotkan karena kamu,” ujar Dan seraya tersenyum tipis. “Aku juga ingin meminta maaf untuk satu hal.”
“Minta maaf?” bingung Duchess. “Untuk apa, Kak?”
Dan tersenyum misterius. Tanpa laki-laki itu sadari, pagi ini ia sudah berulang kali mengumbar senyum. Suatu keajaiban yang jarang terjadi. “Minta maaf karena tidak dapat menjaga kamu dengan baik belakangan ini,” kata Dan seraya membawa tubuh Duchess mendekat agar mudah untuk ia rengkuh ke dalam dekapan. “Untuk kedepannya, aku akan berusaha lebih keras untuk menjaga kamu.”
__ADS_1
💐💐
“Udahan dulu calling-nya, darl. Aku mau otw ke kelas. Kamu jangan kangen.”
Elang Gaharu yang baru saja menurunkan standar motor Honda CBR 250RR warna merah hitam miliknya. Sembari menyimpan helm full face yang baru saja dibuka, ia tetap mendengarkan suara sang kekasih yang masih terdengar. Mungkin jika ada Gilang—teman satu tongkrongan—di dekat Elang, serta mengetahui jika Elang sudah dating dengan anak koas sejak tahun lalu, Gilang akan memaki Elang habis-habisan. Yups, Elang memang menjilat ludah sendiri. Ia jatuh hati pada perempuan yang usianya lebih tua.
Habisnya kalau sudah cinta, usia cuma sebatas angka.
“Nanti aku calling lagi. Kamu semangat ya koas-nya. Love you.”
Setelah panggilan telepon terputus, Elang langsung memasukkan telepon miliknya ke dalam saku. Turun dari motor, laki-laki dengan ransel hitam di punggung itu kemudian bersiul kecil seraya membawa helm full face miliknya. Karena sedang dalam mode good mood, hari ini Elang absen dari kebiasaan buruknya. Punya pacar cantik, baik, dan pintar, kok dia masih jadi berandalan. Malu dong.
“Eh.”
Elang dibuat terkejut saat ia melewati sebuah mobil yang tampak bergerak-gerak tanpa alasan.
“Njir, pagi-pagi begini masa ada yang mantab-mantab. Di parkiran sekolah pula,” monolog Elang ngeri. “Mata gue yang suci jadi langsung terkalibrasi dengan pikiran kotor deh lihat mobil goyang-goyang.”
Baru saja hendak melanjutkan langkah, meninggalkan mobil hitam tersebut, pintu penumpang di bagian depan tiba-tiba terbuka. Keluar seorang perempuan dengan seragam SMA Wijaya yang menggunakan tas punggung berwarna merah jambu yang sangat Elang kenali. Tidak lama kemudian, keluar seorang laki-laki dari kursi kemudi dengan ransel hitam yang disampirkan pada sebelah bahu.
“Dih, jangan-jangan Dan barusan habis gr*pe-gr*pe Duchess?” pikirnya negatif. Ia mengenali keduanya sebagai Dan dan Duchess.
“Masa sih? Tapi ‘kan Dan itu imannya lebih kuat dari gue sama Daru. Dia juga punya komitmen untuk menjaga Duchess sampai mereka resmi menikah.”
“Kamu nggak minum obat anti depresan sebelum berangkat sekolah, ya?”
Elang kontan menoleh saat mendengar suara familiar dari samping kiri. “Lo berencana buat gue kena serangan jantung, Ru? gue kaget njir.”
Daru yang terlihat baru saja tiba tampak mengedipkan baru acuh. “Lagian kamu pagi-pagi udah bicara sendiri kayak ODGJ.”
Elang menatap Daru galak. Masa ganteng gini dibilang mirip ODGJ?
“Barusan gue lihat mobil bergoyang, cuy. Auto bikin nething nggak tuh? Pagi-pagi disuguhi yang kayak gitu.”
“Terus?”
“Terus, tahu nggak siapa yang baru turun dari mobil itu?”
“Siapa?”
“Dan sama Duchess, njir. Mereka ngapain coba sampai mobil bergoyang-goyang gitu?” ungkap Elang dramatis.
Daru mengangkat bahu acuh seraya melewati Elang begitu saja. Tak mau ambil pusing. “Mereka sudah sama-sama dewasa. Mereka tidak akan melakukan tindakan yang melanggar norma dan agama,” katanya sebelum benar-benar meninggalkan Elang yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Jika dipikir-pikir benar juga kata Daru. Dan sudah dewasa, jauh lebih dewasa dari Elang, Daru, ataupun Dian. Dan juga tidak melulu mengutamakan skin ship sebagai bentuk love language dalam hubungannya dengan Duchess. Malah mereka jarang sekali melakukan kontan fisik berlebih, akan tetapi selalu harmonis hingga saat ini.
Elang sepertinya harus berguru pada Dan yang sudah suhu.
💐💐
TBC
Sukabumi 23-08-22
__ADS_1