
DIM. 52
Seorang gadis cantik dengan wajah oriental tanpa pulasan make up sedikitpun, terlihat berdiri di depan minimarket seraya menyangga telepon di telinga. Ia baru saja mengisi pulsa supaya bisa menghubungi nomer seseorang di seberang sana, berhubung belakang ini sulit berkomunikasi dengannya.
“Halo.”
Senyum manis langsung tercipta di bibir tipis milik si gadis saat sambungan telepon terhubung.
“Halo, Kak. Apa kabar—“
“Nanti kita bicara lagi, ya. Gue lagi sibuk,” potong suara di seberang.
Padahal sambungan telepon baru saja terhubung, dan laki-laki pemilik suara di seberang sana sudah ingin menyudahinya. Apa benar laki-laki itu sesibuk itu?
“Tunggu dulu sebentar, Kak. Capella cuma mau bilang kalau—“
“Gue tutup dulu ya, cantik. Jangan marah, nanti cantiknya hilang.” Suara dari seberang kembali memotong ucapan Capella. Membuat gadis cantik yang menggunakan dress motif kotak-kotak yang jatuh di atas lutut itu hanya bisa terpaku di tepatnya berdiri.
Tidak sampai dua detik, sambungan telepon tersebut sudah kembali diputuskan oleh sebelah pihak. Hanya bunyi khas yang terdengar setelah nya.
“Apa susahnya sih dengerin Capella bicara sampai selesai dulu?” celotehnya kemudian. Ia menatap sebal nama kontak yang terpampang di layar monitor.
Siapa sih yang tidak sebal jika menelpon diputuskan begitu saja?
“Kamu kenapa?”
Gadis itu mengerjapkan mata. “Eh, Capella nggak papa, kok.”
Gadis lain yang baru saja keluar dari minimarket itu menatap lawan bicaranya lekat. Mereka memang datang ke minimarket tersebut bersama-sama. Lebih tepatnya Capella yang nebeng kepada gadis berambut coklat sebahu yang baru saja menyapa.
“Hari ini kamu aneh banget, loh.”
“Em, Maksud Siha aneh gimana, ya? Perasaan Capella biasa aja.”
“Pertama, kenapa tiba-tiba kamu mau ikut aku sama Ayah ke Jakarta buat belanja. Padahal biasanya kamu juga pergi ke Jakarta atau ke luar kota bersama Ayah dan Ibu kamu. Kedua, kenapa kamu bohong sama Ibu kamu soal alasan kita pergi ke Jakarta. Kita pergi buat belanja pupuk organik sama pupuk kandang kebutuhan perkebunan milik Ayah aku, bukan mau cari cat akrilik dan kanvas buat bahan praktek seni.”
Gadis bernama Capella itu tersenyum congkak seraya menatap lawan bicaranya. Ia memang sudah menjadikan Siha kambing hitam.
“Siha kayaknya terlalu curiga sama Capella deh. Capella mau ikut sama Siha dan ayah Siha, karena Capella mau cari pengalaman saja, sekali-kali mau tau rasanya pergi sendiri sama orang lain. Bukan sama Ayah dan Ibu terus.”
“Iya juga sih. Soalnya selama ini kamu terlalu dikekang. Kemana-mana harus sama orang tua. Kenapa sih?”
“Capella juga kurang tahu,” jawab si pemilik nama seraya menggelengkan kepala. “Selain itu Capella pergi ke Jakarta juga karena mau menagih janji sama seseorang.”
“Nagih janji? Sama siapa?”
__ADS_1
“Ada deh.” Capella berkata seraya tersenyum tipis. Membuat si lawan bicara tampak menyipitkan mata. Penasaran.
“Jangan-jangan kamu pergi karena udah ada janji ketemu sama pacar kamu yang ganteng itu, ya?” tebak Siha. Ia memang salah satu bestie Capella di sekolah.
“Siapa sih namanya, kasih tahu dong. Aku ‘kan penasaran sama pacar kamu yang ganteng itu.”
Capella tampak menunduk seraya mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya, namun nihil. Rona itu masih bisa dilihat oleh Siha. Capella memang sengaja tidak terlalu mengeluarkan effort untuk menutupi rona merah tersebut.
“Siapa Capella? Kasih tahu dong. Aku penasaran nih,” desak Siha. Ia pernah melihat room chat antara Capella dan si pacar yang katanya memiliki rupa sangat rupawan. Bahkan Siha mudah saja percaya, karena pernah sekilas melihat foto profil pacar Capella. Ganteng sih orangnya, pakai banget.
“Namanya….”
“Iya, namanya?”
Capella mendongkrak, memperlihatkan wajahnya yang tampak malu-malu. “….Rahardian Adiwangsa Wijaya.”
“Oh, jadi itu nama pacar kamu,” sahut Siha antusias. “Bagus banget namanya. Cocok sama orangnya, ganteng.”
Capella tersenyum seraya menggelengkan kepala.
“Kenapa kamu geleng-geleng kepala? Pusing ya, punya pacar kelewat ganteng?”
Capella kembali menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, tetapi mengandung banyak makna. “Bukan.”
“Rahardian Adiwangsa Wijaya bukan pacar Capella, tapi pacar Capella itu Palacidio Daniel Adhitama Xander.”
💐💐
Hatchim.
“Alhamdulillah,” kata gadis cantik yang sedang membuka sebotol air mineral. “Duchess mewakili Kak Dan mengucapkan hamdalah karena bersin terus.”
Ucapan polos gadis cantik dengan baby hair yang menjadi ciri khas nya itu, berhasil membuat lawan bicaranya mengulas senyum.
“Terima kasih karena sudah melakukan kebaikan atas namaku.”
“Kembali kasih.”
Dan kian mempertahankan senyum di bibir miliknya. Sungguh, setiap tindakan kecil yang dilakukan oleh sang kekasih hati selalu berhasil membuatnya terhibur. Ia memang terserang bersin terus dalam perjalanan pulang dari kedai ice cream.
Dan dan Duchess juga sudah berpisah dengan Elang. Tadi Elang juga sempat menawarkan ajakan untuk pergi ke basecamp 4 HANDS, namun ditolak oleh Dan, karena ia harus membawa Duchess kembali.
Setelah bermain ice skating di Sky Rink by Mall Taman Anggrek, menonton bioskop, lalu bertemu dengan Elang dan Elina, berujung kongkow di kedai ice cream, Dan memutuskan untuk segera pulang bersama Duchess. Berhubung Duchess akan menginap, Mère Ev secara khusus sudah menyiapkan makan malam istimewa di kediaman Xander. Jadi mereka diminta pulang lebih cepat.
“Kak Dan bersin terus dari tadi. Flu, ya?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Tapi, Kakak bersin terus sepulang dari kedai ice cream. Padahal tadi Kakak enggak terlalu banyak makan ice cream,” komentar Duchess seraya menatap sang kekasih yang tengah memanuver perseneling mobil.
“Mungkin karena debu,” respon Dan. Ia memang bersin-bersin beberapa kali, tetapi bukan karena flu. Ia merasa sehat-sehat saja. Mungkin benar, karena debu.
“Atau mungkin ada yang sedang membicarakan Kakak di luar sana,” monolog Duchess.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Dan berkata seraya mengeluarkan mobil yang mereka kendarai dari parkiran Mall. “Apa yang kamu pikirkan barusan cuma kepercayaan segelintir orang. Secara ilmiah bersin bisa diakibatkan oleh banyak hal.”
“Mitos?”
“Hmm.”
“Tapi, bisa jadi ada yang sedang membicarakan Kak Dan. Soalnya Duchess jug suka bicarain Kak Dan sama Mommy. Upss!”
Jika saja posisinya tidak sedang menyetir, mungkin Dan akan segera membawa wajah gadisnya untuk dijatuhi kecupan. Sungguh, ekspresi polos Duchess jika sedang jujur memang sangat aegyo alias menggemaskan. Pantas saja jika banyak sekali kaum Adam di luar sana yang mudah kepincut. Mengingat Duchess dan pesona adalah satu kesatuan yang komplit dan saling melengkapi.
“Tidak apa-apa kalau kamu dan Mommy Dewita yang membicarakan aku. Asalkan bukan membicarakan sesuatu yang buruk.”
Duchess tertawa kecil. “Kapan sih Mommy pernah bicara buruk soal Kak Dan? Perasaan tidak pernah. Bahkan, mungkin Kak Dan itu di mata Mommy tidak akan pernah membuat kesalahan, kecuali jika Mommy sendiri yang melihatnya.”
Dan terkekeh. Begitulah orang-orang jika sudah mempercayai dirinya. Ia diibaratkan malaikat yang tidak memiliki cela, padahal Dan hanya orang biasa yang tidak pernah luput dari lupa dan dosa.
“Malam ini sebelum tidur, tunggu aku.” Dan tiba-tiba berkata demikian.
“Eh? Maksud Kak Dan?” bingung Duchess. “Jangan bilang kalau…. Duchess nggak mau!”
“Jangan gunakan otak cantik kamu untuk berpikir yang tidak-tidak,” sahut Dan cepat. “Kamu punya hutang hafalan surat-surat pendek di zuz tiga puluh. Lupa?”
Duchess mengangguk seraya tersenyum canggung. Jadi maksud Dan adalah hafalan toh.
“Duchess ‘kan waktu itu sibuk MOPDB. Jadi belum setor hafalan.”
“Hm.”
“Ok, nanti malam Duchess setor hafalan sama Kak Dan.” Duchess berkata seraya tersenyum lebar. Perkara hafalan mah mudah, apalagi jika di dibantu oleh Dan.
Dan tersenyum seraya menoleh sebentar. “Bagus. Calon ibu dari anak-anakku bukan saja harus memiliki bekal untuk duniawi, tetapi juga bekal untuk di surgawi.”
💐💐
TBC
Tanggerang 08-09-22
__ADS_1